Keselarasan Alam Semesta dalam Peradaban Nusantara
Oleh Tania Rahayu*
Apabila melihat berbagai kerusakan dan masalah yang terjadi di bumi masa kini, alih-alih merasakan kemajuan peradaban, manusia justru dapat dikatakan mengalami sedikit kemunduran. Hal ini sangat mungkin terjadi disebabkan karena masyarakat masa kini terlalu menggunakan gaya hidup modern atau kebanyakan orang menyebut sebagai modern lifestyle. Kecanggihan dan serba instan dari teknologi modern yang berlebihan membuat masyarakat lupa alam semesta memerlukan keseimbangan untuk tetap terjaga.
Pentingnya Keseimbangan
Banyak teknologi modern yang populer dan dibanggakan justru membawa dampak yang merusak. Industrialisasi besar-besaran, eksploitasi sumber daya alam, hingga penggunaan bahan kimia berlebih telah menjadi ancaman nyata bagi keseimbangan ekosistem dan keselamatan manusia. Dalam hal ini, modernitas sering kali menghilangan satu hal penting lainnya yakni kesadaran akan batas.
Menariknya, seorang profesor dan antropolog University of California, Prof. Anna L. Tsing, dalam wawancara National Geographic Indonesia menyatakan bahwa konsep alternatif untuk memperbaiki alam justru ada pada masyarakat adat atau dalam pembahasan ini masyarakat tradisional(Netgeoindonesia 2026). Bukan hanya menjelaskan bagaimana masyarakat adat mampu menjadi jawaban permasalahan bumi, ia bahkan dengan jelas menyebut indigeneus people dalam Bahasa Indonesia, yakni masyarakat adat.
Menurut Prof. Anna, masyarakat adat memiliki pemahaman yang jauh lebih mumpuni dalam menjalin relasi dengan alam. Mereka memiliki keyakinan yang bijaksana dalam caranya mencari nafkah, menjalani hidup berkualitas, mengkonsumsi pangan yang sehat serta hubungan keluarga yang harmonis tanpa harus terikat pada sudut pandang ekoteologi politik tertentu.
Jika melihat kembali berbagai gaya hidup masyarakat tradisional di Nusantara, banyak sekali konsep yang cenderung memiliki dampak bermanfaat bagi keseimbangan alam semesta. Misalnya, bagaimana cara orang Indonesia mengolah pangan. Sebelum konsep Comfort Food atau Real Food eksis untuk mengurangi resiko penyakit kronis, Masyarakat tradisional mengolah makanan menggunakan teknik kukus, panggang, dan lalap serta menggunakan bahan-bahan alami tanpa plastik dan zat kimia.
Selain itu, di bidang kesehatan mental, konsep Meditasi Transendental, neuroplastisitas, Mindfullnes dan Terapi Gelombang Otak yang belakangan populer untuk mengatasi kesehatan mental memiliki konsep yang sama dengan konsep Bertapa atau Semedi. Begitu juga dengan konsep Detoksifikasi atau pembatasan asupan nutrisi agar tubuh bisa mengeluarkan racun juga memiliki konsep yang sama dengan Puasa Mutih.
Terhapusnya Pengetahuan Nusantara
Menurut seorang ahli geografi manusia, geologi politik, dan dosen di University of Goslow yang ahli dalam sejarah ilmu geologi dan budaya Asia Tenggara, Adam Bobbette, meyakini bahwa masyarakat Jawa memiliki perpaduan keyakinan spiritualitas dan ilmu geologi khususnya tentang lempeng tektonik yang begitu menarik(Gamechanger.id 2025). Perpaduan ini bahkan memiliki peran besar dalam membentuk ilmu kebumian modern. Mengejutkannya pengetahuan dan keyakinan spiritualitas masyarakat Jawa itu disebut telah dihapus oleh ilmuan Eropa dan Amerika Utara yang kemudian di klaim sebagai revolusi dalam pemikiran Ilmiah.
Jika menelaah konsep Sedekah Bumi dan Sesajen dalam budaya Jawa, khususnya di lereng gunung api seperti Merapi, konsep ini bukan sekadar ritual mistis, melainkan kearifan lokal (local wisdom). Kurniawan dan Setyawan dalam jurnal ilmiahnya menyebut konsep Sedekah Bumi dan Sesajen berfungsi sebagai Early Warning System (EWS) tradisional. Sesajen biasanya dikaitkan dengan hal-hal berbau mistis(Kurniawan and Setyawan 2021).
Selama ini, Sesajen kerap dipahami dalam kerangka mistis. Misalnya anggapan bahwa sesajen yang tetap utuh akan mendatangkan kemarahan roh. Namun, jika ditelaah lebih jauh, terdapat logika ekologis yang tersembunyi di balik kepercayaan tersebut. Hewan-hewan liar memiliki sensitivitas tinggi terhadap perubahan alam dan potensi bencana. Ketika sesajen yang diletakkan di alam tidak disentuh atau tidak habis, hal itu dapat menjadi pertanda bahwa hewan-hewan menjauh karena mendeteksi adanya ancaman, seperti aktivitas vulkanik atau perubahan lingkungan.
Tidak hanya di Jawa, di Bali terdapat konsep Tri Hita Karana yang menekankan keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan. Di Kalimantan, masyarakat Dayak memiliki hukum adat yang ketat terkait hutan, bahkan menentukan wilayah mana yang boleh dan tidak boleh dieksploitasi. Di Maluku dan Papua, dikenal praktik Sasi, sebuah sistem larangan mengambil hasil alam dalam periode tertentu untuk menjaga regenerasi ekosistem. Semua ini, jika dilihat dari perspektif modern, adalah bentuk regulasi lingkungan yang sangat maju, meski dikemas dalam bahasa adat dan spiritual.
Bagaimana Manusia Memandang Alam Semesta
Keseluruhan praktik dan pandangan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Nusantara sejatinya telah lama memiliki cara tersendiri dalam membaca, memahami, dan merawat alam. Apa yang sering dianggap sebagai mitos atau tradisi yang ketinggalan zaman, justru menyimpan sistem pengetahuan yang teruji oleh waktu. Pengetahuan ini tidak selalu hadir dalam bentuk rumus atau teori ilmiah modern, melainkan melalui pengalaman kolektif, simbol, serta hubungan yang intim antara manusia dan lingkungannya.
Kondisi ini sekaligus menjadi refleksi bahwa krisis yang dihadapi dunia hari ini bukan semata-mata disebabkan oleh keterbatasan teknologi, melainkan oleh cara pandang manusia itu sendiri. Ketika alam diposisikan hanya sebagai objek eksploitasi, maka kerusakan menjadi konsekuensi yang tak terhindarkan. Sebaliknya, ketika alam dipahami sebagai bagian dari kehidupan yang harus dijaga keseimbangannya, maka harmoni akan lebih mungkin tercapai.
Oleh karena itu, upaya memperbaiki kondisi bumi tidak selalu harus dimulai dari inovasi yang sepenuhnya baru. Menghidupkan kembali nilai-nilai kearifan lokal, membaca ulang tradisi dengan sudut pandang yang lebih terbuka, serta mengintegrasikannya dengan ilmu pengetahuan modern dapat menjadi langkah yang lebih bijaksana. Tradisi tidak harus ditinggalkan untuk menjadi maju, justru dapat dijadikan fondasi untuk menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan.
Referensi
Gamechanger.id. 2025. “Bukan Hanya Spiritualitas Yang Ditawarkan Di Tanah Jawa.” Instagram. https://www.instagram.com/reel/DPoBRllkzMe/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==.
Kurniawan, Husni Cahyadi, and Bagus Wahyu Setyawan. 2021. “Upacara Adat Sedekah Gunung Sebagai Sarana Mitigasi Bencana Letusan Gunung Merapi Berbasis Local Wisdom.” Al Kawnu : Science and Local Wisdom Journal 1(1): 6–16.
Netgeoindonesia. 2026. “Jawaban Atas Kerusakan Alam Sudut Pandang Masyarakat Adat.” Instagram. https://www.instagram.com/reel/DXbuNkbTBhv/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==.
—–
*Tania Rahayu adalah seorang penyair, cerpenis, dan peneliti pada Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Ia dapat dijumpai melalui Instagram/Facebook @tanya.rahayu.





