Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.

PUISI-PUISI CINTA MAWADDAH

 

SETELAH AKAD, KITA BERDUA

Setelah akad,
kita menjadi dua nama
yang bersujud dalam satu sajadah.
Tak ada pesta. Tak ada arak-arakan.
Hanya tanganmu yang menggenggam doa
dan tangan kiriku yang gemetar
menyebut nama Tuhan.

Kita pulang ke rumah kecil
dengan jendela mungil menghadap langit.
Tak ada ranjang megah,
hanya tikar dan bantal tipis,
di mana cinta belajar rebah
dalam hening yang tidak menjanjikan apa-apa.

Aku belajar mencintaimu
seperti air wudlu,
diam, bening, dan menghapus luka-luka.
Kau menyiapkan teh
tanpa banyak kata
dan kuhirup pelan,
seperti merayakan kehadiranmu
dalam tiap tegukan hidupku.

Di dapur yang menghadap kiblat,
kau menanak beras,
sementara aku
mencuci kata-kata
agar tak menyakitimu esok hari.
Kita menyusun cinta
seperti piring dan sendok,
bersahaja,
namun saling menemukan dalam sunyi.

Malamnya,
kita tidur tanpa mimpi,
sebab seluruh doa telah menjelma
dirimu di sisiku.
Cinta tak perlu banyak bicara,
sebab rahmat-Nya telah cukup
menyempurnakan suara kita yang tak terdengar.

2025, 2026

 

PEREMPUAN YANG MENYEDUH
TEH TANPA GULA

Perempuan itu
tak pernah bertanya kenapa aku diam
saat pulang membawa letih
dan lupa memberi kabar.

Ia hanya menyeduh teh
dengan daun pandan yang diremas
dan gula yang tak dimasukkan
karena katanya,
rasa manis bisa lahir
dari kesabaran.

Ia meletakkan cangkir
di meja kecil dekat jendela,
lalu duduk
tanpa suara,
menyaksikan hujan
menghapus debu di kaca.

Aku mengira cinta
adalah kata-kata besar
yang perlu diucapkan dengan megah.
Tapi perempuan itu
menyisipkannya di jemputan tangan,
di lipatan baju yang sudah disetrika,
di sayur bayam yang direbus pelan
pagi-pagi.

Ia perempuan yang tak pandai berkata
“aku cinta padamu”
tapi aku tak bisa berpaling
dari teh yang tak bergula itu.

2025, 2026

 

DI SUDUT DAPUR ITU
ADA SURGA

Di sudut dapur,
kau menyulam aroma pagi,
dengan tangan yang tak pernah lelah,
mengaduk harap dalam panci kecil,
dan api kecil itu menjadi doa.

Setiap tetes keringatmu
adalah zikir yang tak terdengar,
menghangatkan hati yang membeku,
seperti surga yang tersembunyi
di balik asap yang menari.

Di situ aku belajar,
bahwa cinta bukan hanya kata,
sunyi yang setia menemani,
dan rumah, adalah di mana kau berdiri,
menyulam hangat dalam dingin dunia.

2025, 2026

 

SUAMI YANG TAK PANDAI MERAYU

Aku berkata pada malam,
mengapa ia tak menyentuhku dengan kata?
Mengapa cintanya
datang seperti bayang-bayang di dinding batu?

Malam menjawab,
ia mencintaimu dalam bahasa lain,
yang tak diajarkan pada bunga-bunga plastik.

Suamiku
tak pernah menulis sajak untukku,
ia menyulam sarung bantal
dengan tangannya sendiri,
menuliskan namaku di ujung napasnya
ketika tertidur.

Ia tak mencumbu mataku dengan pujian,
tangannya sibuk menyikat ubin dapur
saat aku menangis karena dunia.

Ia tak berlutut membawa mawar,
ia duduk di atas sajadah,
menyebut namaku
setelah nama ibunya,
dalam doa yang tak kudengar
namun bergetar
di detak jantungku.

Aku berkata pada angin,
bukankah cinta itu bicara?

Angin menjawab,
cinta kadang memilih diam,
kata-kata bisa menjadi batas
yang tak perlu dilewati.

Ia tak pandai merayu,
ia hidup di balik cermin
tempat kata-kata menguap
dan isyarat tinggal lebih lama.

Aku berhenti mencari rayuan.
Aku belajar mencintainya
seperti bebatuan menyimpan lumut:

diam, hijau,
dan bertahan dalam waktu.

2025, 2026

 

SEPASANG SAJADAH DI KAMAR KITA

Tak ada bendera di kamar kita
kecuali sepasang sajadah
yang tak berkibaran
tapi selalu menghadap matahari pertama
dalam dada Ibrahim.

Kita meletakkan harapan
di atasnya tak lebih tinggi dari lutut kita,
karena langit selalu turun
mencium tanah
ketika hati tunduk.

Kau di sana,
aku di sini.
Kita tak pernah saling melihat
kecuali lewat bayangan air
yang mengalir dari wudu
menuju doa yang tak bersuara.

Apa itu cinta,
jika bukan dua tubuh
yang tak saling menyentuh
namun bertaut dalam desah
antara Allahu Akbar
dan Rabbana hablana?

Kita menua,
tapi sajadah tak pernah bertambah tua.
Ia menyimpan lekuk dahi kita
seperti batu menyimpan gema
para nabi.

Aku tak mencatat malam-malam kita
di buku harian,
tapi dalam sajadah itu,
telah tertulis
segala yang tak bisa diucapkan
oleh bahasa manusia.

2025, 2026

 

SEHARI SETELAH MENIKAH

Sehari setelah janji terucap,
aku menatap wajahmu
tanpa kata,
lekuk-lekuk sunyi
yang dulu asing
perlahan menjadi arah pulang.

Cinta kita
bukan lagi bunga pagi,
ia tumbuh seperti pohon,
akar-akar halusnya
menyusup ke tanah
yang kita jaga bersama.

Dalam malam yang sederhana,
tenang itu tinggal
di dekatmu,
janji bekerja diam-diam
di dalam dada,
meneduhkan langkah yang kita jalani.

Sehari setelah menikah,
hari-hari membuka dirinya,
mencintaimu
berjalan pelan,
setia pada waktu,
tumbuh
tanpa suara.

2025, 2026

 

PERTENGKARAN
YANG MENGAJARI SABAR

Malam itu kita bertengkar,
cinta seperti api
yang tak menemukan tempatnya.

Kau menangis,
hujan turun di musim yang tak menunggu,
aku diam,
seperti kota tua
yang kehilangan penunjuk waktu.

Kata-kata melesat
dari arah yang tak kita kenali,
menemukan tubuhnya sendiri
di dada yang rapuh.

Di sela kalimat yang terlepas,
tanganmu gemetar,
menyimpan sesuatu
yang tak sempat menjadi pelukan.

Pertengkaran ini
seperti doa
yang terlepas dari mulutnya,
jatuh tanpa sempat kembali
ke langit yang sama.

Kita menyimpan sunyi
di tempat yang berbeda,
menjaga malam
agar tidak runtuh seluruhnya.

Kau tidur
membelakangi aku,
dingin berjalan pelan
di antara kita.

Namun di kedalaman yang tak tampak,
sepasang mata masih terjaga,
memanggil namaku
tanpa suara.

2025, 2026

 

PELUKAN YANG MENYIMPAN DUKA

Aku memelukmu
agar kita tak tenggelam
dalam sunyi yang mengeras
seperti tanah sehabis hujan
yang lama menahan jejak.

Di tubuhmu
kutemukan musim
yang terlalu lama kemarau,
sibuk mengeringkan
air mata
yang bahkan tak sempat jatuh.

Kita saling menyertai
seperti dua perahu
yang berjalan pelan
di air yang sama,
menjaga jarak
agar gelombang tetap tenang.

Pelukan ini
adalah jeda
antara kata yang tak berani lahir
dan tangis
yang memilih diam
demi menjaga langit tetap utuh.

Engkau tak menangis,
tapi matamu
adalah dermaga
tempat semua kehilangan
berlabuh.

Dan aku memelukmu
seperti bumi
yang menampung hujan
tanpa bertanya
dari awan mana
ia berasal.

2025, 2026

 

RUMAH YANG KUTERANGKAN UNTUKMU

Aku membangun rumah
dari cahaya yang kau tinggalkan,
dari langkahmu yang pernah singgah
di sudut-sudut yang lama sepi.

Setiap jendela kubuka pelan
agar angin yang kau bawa
masuk dan tinggal
di ruang yang menunggu hangatmu.

Aku menjadi lantai
yang menampung langkahmu yang lelah,
dan atap yang meneduhkan
ketika hujan turun terlalu lama.

Rumah ini adalah napas
yang kau hirup saat pulang,
tempat lampu kecil tetap menyala
meski malam berjalan jauh.

Menjadi rumahmu
adalah tetap berdiri
ketika angin berubah arah
dan pintu masih terbuka
bagi langkahmu yang kembali.

2025, 2026

 

DALAM DIAM AKU MENYEBUT NAMAMU

Aku tidak memanggilmu
dengan suara,
tapi dengan cahaya yang kusimpan
di ruang paling dalam dari napasku.

Namamu
adalah taman kecil
yang kusirami dalam doa,
tempat rindu bertumbuh pelan
seperti benih
yang sabar menunggu musim.

Aku tidak mencarimu
di keramaian dunia,
sebab hadirmu kutemukan
di sela-sela nafasku
yang menyebutmu
tanpa perlu bersuara.

Kau hadir
seperti angin yang melewati daun,
tak terlihat,
namun menggetarkan
seluruh dinding jiwaku.

Aku mencintaimu
bukan karena apa yang kaulakukan,
tetapi karena caramu tinggal
di dalam diriku
tanpa pernah meminta tempat.

Dan dalam diam itu
namamu berpendar
di kedalaman napasku,
seperti embun
yang diam-diam
menjaga daun tetap hidup
menjelang pagi.

Aku menjaganya
di setiap helaan napas,
seperti orang yang menadah air
dari mata air sunyi
agar rindu tetap mengalir
hingga fajar.

2025, 2026

 

—-
Abdul Wachid B.S., lahir 7 Oktober 1966 di Bluluk, Lamongan, Jawa Timur. Buku terbarunya : Kumpulan Sajak Nun (2018), Bunga Rampai Esai Sastra Pencerahan (2019), Dimensi Profetik dalam Puisi Gus Mus: Keindahan Islam dan Keindonesiaan (2020), Kumpulan Sajak Biyanglala (2020), Kumpulan Sajak Jalan Malam (2021), Kumpulan Sajak Penyair Cinta (2022), Kumpulan Sajak Wasilah Sejoli (2022), Kumpulan Sajak Kubah Hijau (2023), Sekumpulan Esai Sastra Hikmah (2024), Buku Puisi Balada Kisah untuk Anak Cucu (2025).

Melalui buku Sastra Pencerahan, Abdul Wachid B.S. menerima penghargaan Majelis Sastrawan Asia Tenggara (Mastera) sebagai karya tulis terbaik kategori pemikiran sastra, pada 7 Oktober 2021 (tepat di ulang tahunnya yang ke-55).***