Tony Doludea

Apa itu Berpikir? Sebuah Perspektif Martin Heidegger

Oleh Tony Doludea

Mantra suci para pemuja filsafat adalah ungkapan Rene Descartes (1596-1650), yaitu cogito ergo sum, aku berpikir maka aku ada. Dengan merapalkan mantra sakti tersebut, seseorang seolah-olah telah memahami seluruh inti pemikiran filosofis sejak dari masa pra-sokrates sampai dengan pada masa para pemikir kontemporer saat ini.

Apabila diminta untuk menjelaskan tentang apa itu berpikir? dan apa itu ada? Maka ia baru akan tersentak, bahwa betapa tidak berkhasiat dan tidak ampuh sama sekali mantra Descartes itu. Meskipun demikian, terlanjur tidak sedikit korban yang tertipu akibat kekuatan sihir mantra tersebut. Lebih parah lagi, jika orang mengetahui bahwa mantra angker itu sesungguhnya mengandung suatu sesat pikir.

Pernyataan aku ada (ergo sum) karena, atau, setelah aku berpikir (cogito), bukan merupakan penyimpulan logis, dari suatu kerunutan putusan sebelumnya. Apakah ada tidaknya subjek sungguh ditentukan oleh kesadaran dan pemikiran si subjek? Bukankah sebelum berpikir pun si subjek itu telah ada terlebih dahulu? Atau? Jika demikian, apa yang dimaksud ada itu sesungguhnya di sini?

Bagaimana dengan orang yang tidak berpikir, apakah dia tidak ada? Atau orang yang berhenti berpikir, apakah dia berhenti ada? Tidakkah si tukang mimpi yang selalu bangun kesiangan ini justru sudah mengada-ada? Descartes tiba-tiba menyimpulkan dengan menyamakan begitu saja antara ada dan kesadaran atau berpikir (res cogitans). Sementara dia bersikukuh bahwa manusia itu terdiri dari dua substansi yang sangat berbeda dan tidak dapat disatukan, yaitu keluasan (res extensa) atau tubuh dan kesadaran (res cogitans).

Sesatan berpikir ini dihasilkan oleh metode yang digunakan oleh Descartes itu sendiri, yaitu keragu-raguan yang mendasar. Untuk memperoleh pengetahuan yang terang dan jelas (idea clara et distincta); yang pasti, tidak dapat diragukan dan tidak dapat dibantah, Descartes terlebih dahulu telah meragukan segala sesuatu. Namun sayang, Descartes tidak pernah meragukan metode keragua-raguannya itu sama sekali. Bahkan ia tidak berhasil meragukan keberadaannya sendiri sebagai subjek. Descartes terperosok dalam kontradiksi epistemologis. Kierkegaard (1813-1855) mengritik mantra Cartesian ini sebagai suatu penyimpulan yang bersifat tautologis. Akhirnya, pertanyaan apa itu berpikir? dan apa itu ada? Masih menggantung dan perlu diperbincangkan.

Martin Heidegger akhirnya berusaha mencari jawaban mengenai pertanyaan yang masih saja sering diabaikan bahkan dilupakan oleh para filsuf sendiri itu. Namun pada akhirnya Heidegger justru menemukan kenyataan yang paling menggusarkan bagi orang yang hidup pada zaman ini, zaman yang mengagungkan kekuatan pikiran. Kenyataan itu adalah bahwa sesungguhnya selama ini manusia masih saja belum pernah berpikir juga.

Selanjutnya, Heidegger berpendapat bahwa menjelaskan tentang apa itu berpikir sama tidak bergunanya seperti berusaha menjelaskan tentang cahaya dan warna kepada orang buta atau tentang merdu suara kepada orang tuli. Maka dari itu, sejak di awal, tulisan ini sudah memperingatkan orang untuk bersikap waspada. Karena Heidegger akan selalu memaksa orang untuk tetap berada di dalam kebingungan, ketidakjelasan dan ketidakpastian.

Ketika ia menjelaskan tentang berpikir, sesungguhnya ia tidak memberikan jaminan kepastian atas perkataannya itu. Heidegger berusaha sebisa mungkin membuat pikiran orang menjadi kusut. Ia selalu berusaha menggangsir namun mengapi orang dari pikiran yang nyaman. Sehingga orang membuka diri kepada suatu yang tidak umum untuk dapat terjadi.

Secara umum berpikir dimengerti sebagai suatu kegiatan mental yang membuat manusia memahami keadaan, memecahkan masalah dan menghadapi kenyataan. Berpikir terjadi jika orang memiliki suatu pendapat atau sebuah pikiran, memiliki gagasan tentang suatu hal atau keadaan tertentu, membuat serangkaian pernyataan yang menghasilkan suatu kesimpulan yang sahih dan memikirkan suatu konsep yang sempurna. Namun, menurut Heidegger, berpikir itu dapat dibagi menjadi dua jenis: (1) Menghitung, Calculative Thinking (das rechnende Denken) dan (2) Memperhatikan, merenung (berpikir), Meditative Thinking (das andenkende Denken).

Pertama, Menghitung (Calculative Thinking) adalah berpikir melalui menghitung, merencanakan, menyelidiki dan menentukan tujuan tertentu yang akan diraih. Pikiran ini mengusahakan pengetahuan dengan mencari alasan, dasar dan penyebab. Bagi pemikiran ini segala sesuatu dapat dikalkulasi, diatur, dikuasai dan dimanipulasi. Pemikiran ini terutama diterapkan dalam ilmu pengetahuan karena bersifat produktif.

Berpikir cara ini didasarkan pada kenyataan terbukanya segala kemungkinan bagi suatu perkembangan yang baru dan yang berbeda serta beragam. Oleh sebab itu, pikiran ini berlomba-lomba memikirkan satu hal ke hal lain berikutnya (races from one aspect to the next), yang justru membuat manusia mengawang-awang tidak menyadari kenyataan (floating unaware above reality), terbang menjauh dari berpikir (in flight from thinking), sehingga sampai pada keadaan tidak berpikir “Thoughtlessness” (Gedankenlosigkeit).

Menghitung tidak pernah sampai pada menyadari makna yang terkandung di dalam hal-hal yang dipikirkannya (everything that is) dan tidak pernah menghimpunnya (never collects itself).  Meskipun demikian, Heidegger tidak meremehkan cara berpikir tersebut. Namun Heidegger mengingatkan bahwa tradisi filsafat selama ini telah didasarkan pada cara pikir menghitung, yang membuat filsafat terperangkap dalam keadaan yang disebut sebagai lupa-akan-ada (Seinsvergessenheit), yaitu menyamakan antara Ada (Being) dan Mengada (Beings). Ada diperlakukan begitu saja sebagai Mengada. Contohnya, Ada diandaikan begitu saja sebagai Allah, roh, ide, materi, kehendak, pikiran, kesadaran, atau lain sebagainya.

Kedua, Merenung (Meditative Thinking) adalah memperhatikan, mengamati, mempertimbangkan, membangkitkan kesadaran pada kenyataan yang tengah terjadi di dalam dan di sekeliling seseorang. Berpikir semacam ini, sama seperti penantian seorang petani yang memperhatikan, mengamati dan merawat benih yang telah ditaburnya itu tumbuh, berkembang, berbuah dan siap dituai. Berpikir tidak serta-merta terjadi begitu saja.

Merenung mensyaratkan usaha, komitmen, tekad, kepedulian dan tindakan. Merenung adalah pikiran yang memikirkan dan mendengarkan hakikat Ada yang ada di dalam Mengada. Menurut Heidegger, titik pangkal untuk dapat menyingkapkan pertanyaan tentang Ada, hanyalah mungkin apabila dimulai dari Mengada yang mempertanyakan Ada itu sendiri. Mengada yang dapat mengajukan pertanyaan tentang Ada itu adalah manusia (Dasein: Ada-di-sana). Dasein dapat mengajukan pertanyaan itu karena ia adalah pemahaman-akan-Ada (Seinsverstandnis). Mengada-mengada lainnya bukanlah pemahaman-akan-Ada. Memahami Ada dengan sendirinya adalah sifat dasar adanya Dasein.

Penjelasan deskriptif Heidegger mengenai berpikir ini tidak menawarkan suatu acuan normatif tentang jenis pikiran mana yang harus diikuti, dengan alasan yang satu lebih baik dan lebih unggul dari yang lainnya. Heidegger memaparkan bahwa kedua jenis berpikir ini sama-sama berada pada diri Dasein. Menghitung maupun merenung tidak sejajar dan tidak berjenjang, namun juga tidak saling menampik. Kedua jenis berpikir ini saling muncul dan tenggelam dalam diri Dasein sebagai pemaham akan Ada.

Heidegger dalam mewujudkan proyek filsafatnya, berusaha keras untuk berpaling dari cara berpikir menghitung (Calculative Thinking) kepada mempraktikkan cara berpikir merenungkan (Meditative Thinking). Melalui merenung (Meditative Thinking), Heidegger justru berhasil mengungkapkan struktur dasar atau ciri hakiki Dasein.

Struktur dasar Dasein itu disebut Existenzial (eksistensial), sedang struktur menyeluruh Dasein disebut Sorge (keprihatinan). Bagi Heidegger, pertanyaan dan masalah dasar filsafat tentang Ada mendapatkan jawabannya melalui penjelasan tentang struktur dasar Dasein, yaitu suatu Mengada yang mengajukan pertanyaan tentang Ada. Manusia, Dasein sebagai Being-in-the-world merupakan struktur kehidupan manusia secara keseluruhan.

Menurut Heidegger Dasein sebagai Being-in-the-world itu bukan merupakan pilihannya sendiri, melainkan suatu keterlemparan (Geworfenheit) yang begitu saja. Manusia dilemparkan dalam faktisitas situasinya. Misalnya, Mukidi dilahirkan di abad ke 20, sebagai seorang Jawa di Cilacap, Indonesia. Faktisitas itu adalah keberadaan-yang-nyata dan yang-telah-hadir, karena memang demikian adanya. Sebuah kenyataan yang tidak dapat diubah. Mukidi terlempar dalam faktisitas sebagai Mukidi.

Faktisitas Dasein itu dipenuhi dengan keprihatinan (Sorge), yaitu kecemasan mendalam yang melekat dalam keterlemparan manusia tersebut. Dari dalam keprihatinan manusia itu, terdapat suatu ketakutan eksistensial yang sangat mendasar, yaitu rasa takut (Angst). Rasa takut ini disebabkan oleh kesadaran bahwa manusia dapat mati.

Keberadaan manusia adalah suatu “ada menuju kematian” (Sein zum Tode). Dalam keterlemparannya yang dipenuhi keprihatian itu, manusia tiba-tiba disergap oleh kecemasan terhadap sesuatu yang dapat membuat adanya menjadi tidak ada lagi. Ketakutan terhadap sesuatu yang tidak dapat dihindari dan dihalang-halangi. Kematian adalah batas akhir keberadaan manusia sebagai Dasein. Batas yang tidak dapat dikalahkan dan dipatahkan. Manusia sadar bahwa ia harus mati, juga sekalipun ia menenggelamkan diri dalam segala kesibukan di dalam kesia-siaan hidup.

Menurut Heidegger mengajukan pertanyaan “apakah Ada itu?” sudah merupakan suatu kekeliruan. Ditambah lagi dengan bahasa yang selalu gagal untuk menjelaskan, pertama-tama bukan saja Ada, melainkan juga gagal menerangkan pertanyaan tentang Ada. Menulis kata Ada saja sudah merupakan suatu kekeliruan. Namun, bagi Heidegger Dasein adalah suatu proses ketersingkapan sekaligus ketersembunyian (aletheia) Ada melalui berpikir (Meditative Thinking). Berpikir ini adalah bagian tak terpisahkan dari Dasein sebagai ada-di dalam dunia (being-in-the-world). Berpikir merupakan suatu usaha untuk menemukan hakikat diri Dasein, yang pada akhirnya sama dengan pencarian tentang hakikat Ada.

Sampai di sini, Heidegger telah berhasil memindahkan masalah Ontologi dari kategori menghitung (Calculative Thinking) ke dalam kategori merenung (Meditative Thinking), yang menekankan pada pemaknaan manusia terhadap Ada. Melalui merenung, Heidegger memikirkan keterarahan manusia pada masa yang akan datang, yaitu keterbatasan hidupnya menuju kematian (Sein-zum-Tode, Ada-menuju-kematian). Kitab Zabur mengatakan:

“Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga; apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi… Apakah arti hidup manusia? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.” (Mazmur 103: 15 dan Yakobus 4: 14)

Manusia sesungguhnya tidak tahu pasti apa yang akan terjadi atas diri dan hidupnya esok. Kesadaran akan ketidakpastian seperti ini membuat Heidegger dapat menguak bahwa dasar struktur menyeluruh Dasein itu sesungguhnya adalah Angst (dread atau anxiety, kengerian atau kecemasan). Dasar kehidupan Dasein adalah kengerian karena ia terlempar ke dalam ketiadaan (nothing), ke-tak-di-kapan pun dan ke-tak-di-mana pun (nowhere). Dasein menghadapi “no-thing-ness” (das Nichts). Pada keadaan seperti ini, merenung (Meditative Thinking) dinilai sebagai pikiran berani yang teguh (persistent courageous thinking).

Melalui pikiran khasnya itu, Heidegger telah berhasil menyadarkan orang bahwa Dasein tidak pernah tahan untuk merenung. Dasein lebih memilih untuk tenggelam dalam pikiran menghitung. Karena dengan menghitung ia dapat melupakan kengerian kekosongan maut tersebut. Dasein hanyut dan tenggelam dalam obrolan (Gerede), terseret keinginan untuk tahu urusan orang lain (Neugier), memelihara/merawat (Fursorge) orang lain, mengurus (Besorgen) alat-alat (Zuhandenes). Bahkan diri, sesama dan dunianya diurus (Besorgen), diperalat, diperlakukan sebagai sarana. Sehingga ia mengalami keterasingan (Entfremdung).

Melalui menghitung Dasein melupakan (Vergessen), namun tidak mengambil kembali (Wiederholung) masa lalu (Gewesenheit); hadir (Gegenwartigen), namun tidak membuat momen visi (Augenblick) pada saat ini (Gegenwart); menunggu-nunggu (Gewartigen), namun tidak antisipatif (Vorlaufen) terhadap masa depan (Zukunft). Keadaan seperti ini terjadi karena diawali dari godaan (Versuchung), merasa kerasan (Beruhigung), kemudian terasing (Entfremdung) dan akhirnya terjerat (Verfangnis).

Heidegger melihat Ada bukan sesuatu yang terisolasi pada dirinya dan lepas dari manusia. Manusia tidak terisolasi pada dirinya dan lepas dari Ada. Hakikat Ada dan hakikat manusia berkaitan satu sama lain. Untuk dapat tesingkap, Ada membutuhkan manusia. Hakikat Ada membutuhkan hakikat manusia. Manusia adalah ruang tempat Ada mengambil tempat untuk berada. Manusia adalah tempat (Statte) Ada menjelma, tempat Ada mengambil tempat. Hanya melalui perantaraan manusia, Ada yang tersirat pada berbagai Mengada dapat memberita. Manusia berada di terang Ada (in der Lichtung des Seins), berdiri keluar di dalam kebenaran Ada (Hinausstehen in die Wahrheit des Seins).

Merenung bagi Heidegger, bukan menggambarkan sesuatu di depan mata, bukan merefleksi, tetapi bertanya-meminta-keterangan, mendengarkan-dengan-penuh-rasa-hormat-suara-Ada, menunggu dengan bertanya dan mendengarkan Ada. Dengan diam, tercipta ruang untuk mendengar.

Merenung bukan menguasai dengan konsep-konsep, tetapi berpikir non-konseptual, yakni mewujudkan manusia sebagai gembala Ada. Merenung bukan pertama-tama perbuatan manusia, tetapi sesuatu yang menerpa menjumpai orang di saat Ada mengungkapkan diri pada pikirannya. Ada adalah peristiwa yang terjadi pada manusia, sesuatu yang menjadi terang pada diri manusia, suatu peristiwa appropriasi (Das Ereignis). Manusia adalah ketersingkapan (Unverborgenheit) dan lokus pewahyuan Ada. Sikap yang tepat adalah membiarkan Ada menampakkan diri, karena manusia itu sendiri adalah peristiwa Ada, ia memeristiwakan Ada.

Heidegger menilai sama antara berpikir (merenung) dan berbicara tentang bagaimana adanya dunia ini seperti apa adanya. Dalam berpikir manusia merupakan suatu bagian utuh dari dunia ini dan dapat menyadarinya dengan mempertanyakannya, baik melalui pertanyaan yang sepele maupun yang mendalam, dan dengan menanti suatu peristiwa pengungkapan yang akan datang kemudian (Gelassenheit).

Berpikir sama sekali berbeda dari semua tindakan dan perbuatan manusia yang lainnya. Berpikir adalah suatu panggilan yang menggugah. Berpikir menentukan hakikat manusia, karena semakin kurang berpikir, maka semakin kurang manusiawi seseorang. Bertanya dan berpikir tidak akan pernah mencapai suatu akhir yang pasti. Karena berpikir itu adalah suatu perjalanan yang masih terus berlangsung.

Heidegger kemudian hari melengkapi pandangannya tentang berpikir dan bahasa. Menurut Heidegger bahasa adalah kediaman Ada. Heidegger hanya ingin menegaskan ulang pandangannya bahwa bahasa secara mendasar niscaya diletakkan dalam perspektif Ada. Ada adalah suatu peristiwa bahasa. Bahasalah yang memungkinkan Ada menyingkapkan dirinya dalam pikiran manusia. Berpikir dan berkata adalah membiarkan peristiwa Ada. Di dalam berpikir dan berkata terciptalah ruang yang dibutuhkan bagi tampak dan tampilnya Ada.

Bahasa pikiran adalah ruang tempat terjadinya peristiwa Ada. Dengan berbicara (berbahasa) manusia mendiami tempat bagi Ada dapat mendekat. Bahasa adalah kedatangan yang menerangi dan menyembunyikan dari Ada itu sendiri. Dengan berbahasa Ada mencapai manusia. Bahasa membutuhkan manusia sebagai pengeras suara. Bahasa menggunakan manusia. Bahasa sendiri yang berbicara.

Berbicara secara hakiki dan secara intrinsik adalah mendengarkan. Berbicara adalah menjawab, memberi tanggapan. Hakikat bahasa sebagai peristiwa Ada dapat dilacak pada proses bersyair. Bersyair adalah mengatakan yang menjawab bahasa Ada, suatu peristiwa menguakkan dan suatu peristiwa membiarkan terjadinya kebenaran Ada.

Heidegger melihat betapa dekatnya bepikir dan bersyair. Berpikir adalah cara asli bersyair. Berpikir dan bersyair begitu satu. Berpikir tentang Ada “Denken des Seins” adalah bersyair “Urdicthung”. Berpikir fundamental bukan menganalisis, melainkan mengingat Ada agar Ada itu tersingkapkan. Berpikir (Denken) adalah mengingat, bersyukur dan berterimakasih (Danken) kepada Ada.

Oleh sebab itu, Heidegger menegaskan bahwa hanya selama manusia ada maka ada pula Ada. Hanya selama manusia ada, Ada itu ada sebagai peristiwa kebenaran. Namun, hal ini tidak berarti bahwa Ada adalah hasil dari manusia. Manusia adalah partisipan Ada, bukan penonton Ada. Maka Ada tidak dapat dibicarakan atas dasar pengamatan yang terlepas dari keberadaan manusia.

Ada membutuhkan manusia karena Ada membutuhkan tempat tinggal (Unterkunft), ruang untuk berada dan ruang itu adalah pikiran manusia. Tetapi, Ada sama sekali bukan produk pikiran manusia. Pikiran adalah pemberian, rahmat Ada (Gnade des Seins). Berpikir adalah membantu Ada tampil sebagaimana mestinya.

Ada membutuhkan manusia yang berpikir. Dengan berpikir, manusia mewujudkan hubungan Ada dengan hakikat manusia. Ada yang memegang inisiatif. Manusia mendengarkan, yang patuh-mendengar, yang-menerima, sedangkan Ada yang-memberi. Ada merupakan suatu peristiwa, membutuhkan manusia yang berpikir agar dapat terjadi. Ada-lah yang ada lebih dahulu pada mula pertama dan merupakan sumber serta asal mula pikiran.

Karena itu berpikir adalah berterimakasih (Denken ist Danken) dan berbicara adalah mendengarkan. Tugas pemikiran adalah menjaga terjadinya peristiwa Ada dengan penuh rasa kasih. Oleh sebab itu, Sulaiman bin Daud memberi nasihat:

“Karena siapakah yang mengetahui apa yang baik bagi manusia sepanjang waktu yang pendek dari hidupnya yang sia-sia, yang ditempuhnya seperti bayangan? Siapakah yang dapat mengatakan kepada manusia apa yang akan terjadi di bawah matahari sesudah dia? Nama yang harum lebih baik dari pada minyak yang mahal, dan hari kematian lebih baik dari pada hari kelahiran. Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya. Bersedih lebih baik dari pada tertawa, karena muka muram membuat hati lega. Orang berhikmat senang berada di rumah duka, tetapi orang bodoh senang berada di rumah tempat bersukaria.” (Pengkhotbah 6: 12-7: 4)

Selamat Berpikir.

Kepustakaan

Heidegger, Martin. Being and Time. Harper and Row, New York, 1962.

Heidegger, Martin. Discourse on Thinking. Harper and Row, New York, 1966.

Heidegger, Martin. What is Called Thinking? Harper and Row, New York, 1968.

Heidegger, Martin. The Essence of Reasons. Northwestern

University Press, Evanston, 1969.

Heidegger, Martin. Poetry, Language, Thought. Harper and Row, New York, 1971.

Heidegger, Martin. The Principle of Reason. Indiana University

Press, Bloomington, 1975.

Heidegger, Martin. Basic Writings. Harper and Row, New York, 1977.

Kenny, Anthony.  Descartes: A Study of His Philosophy. Random

House, New York. 1968.

*Penulis adalah peneliti di Abdurrachman Wahid Center UI

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *