Khanafi

Puisi-Puisi Khanafi

TENTANG BAHAGIA

kata yang mengubahmu jadi pemimpi
terlempar ke kota-kota paling murung
jalan yang menjulur di tiap penjuru mata angin
hanyalah lagu langkah sepi keterluntaan

kau yang lebih terlunta dari pengemis
merasakan sebuah kebanggaan tanpa rumah
betapa bodohnya memilih menjadi sendiri
dan melarikan diri dari belaian kekasih

bahkan malam pun berbisik ke telingamu
dengan suara yang menyerupai ajal dan
sekali-kali kau terlempar ke dalam kengeriannya
untuk menjumpai apa yang telah menyihirmu

bahagiakah kau atau lupakan saja semua ingatan
kita tak pantas menerimanya, kita ingin lepas
bebas dari segala kungkungan waktu dan harapan
dan esok akan menjadi hari ketika aku mati

semua pertanyaan dan penjalasan itu akan usai

 

POSMEN

Antonio Skarmeta

di bukit-bukit argentina
seorang penyair diasingkan
dari negerinya

namaku mario jimenez
pengantar surat-suratnya
yang setia

aku membaca namanya
di muka surat: kepada pablo neruda
terdengar seperti mengeja

langit kapas putih
di pantai ombak berbuih
ke celah-celah pinggiran batu

kulihat ia berjalan di tepi
berpakaian putih-putih
mencari metafora

ada surat cinta, ada namamu
untuk sahabatku mario jimenez
pada sebuah buku catatan

kado kepada yang bernama cinta
dan suatu harapan meraihnya
di sanubari beatriz gonzales

kukenangkan kau, don pablo
yang pulang ke negeri kata-kata
sedangkan aku puisi terkahir

yang mati sebelum dibacakan

 

HUJAN TAK REDA-REDA

ini malam
hujan tak reda-reda
seperti menjalar
dari akar kenangan
jauh di kabut hatiku
serdadu kesunyian
meletupkan senapan
memberi dagingku
pada darah
pada simbah
pada tanah
pada kesunyian
dan panas berkelojotan
di jantung rusa
yang sekarat
minta hutan
minta tuhan
minta tangis anak-anak
minta berlari dan berlari
menuju langit
abadi
di bumi

tapi di luar
hujan tak reda-reda
kamar gelap kesementaraanku
dan sepotong mimpi pagi
yang mengembalikan
jagaku pada ingatan
pada luka pisau
yang mengacung
dari silam
yang merobek jantung
di mana aku
terkapar
dingin
beku nisan
seperti seekor rusa
sehabis dibedil pemburu
dan ditinggalkan jasadnya
di hutan di pembaringan
di malam hujan tak reda-reda

 

MUSIM HUJAN

jika musim berubah
kita dengar suara basah
tergelincir
dari dahan-dahan pohonan
menunggu angin
membawa gugur dingin
dengan penuh rela
mengosongkan sela-sela ranting
meretakkan sunyi
merekatkan tanah
dengan bisikan-bisikan
tuntaskan perpisahan
pada rumput-rumput
yang seperti misai
terjulai raih langit
runtuh saat malam
lantas
pada nada terakhir itu
terbaring jam
padam di matamu
sebelum tanda
berhenti

 

CATATAN SORE, 15 APRIL 2020

/1/
begini jika aku hendak menulis sajak tanpa persiapan
dan segala yang mau kutulis pun seperti hilang, bukan hilang,
malah seperti tak ada apapa yang hendak dituliskan. akhirnya
kesulitan mau menuliskan apa, aku tulis saja bagian-bagian
paling menyedihkan dari tidak menghasilkan apa-apa, yaitu
membuat catatan semacam ini. jika kau tau, keadaanku kali ini
benar-benar buruk. aku tak punya uang, dan tulisanku tak satu pun
memberikan kabar baik dari koran-koran minggu. aku hampir
putus asa menuliskan judul demi judul yang makin hari makin
sulit saja kupikirkan. dalam keadaan hampir menyerah, lapar
dan tidak tenang, kucoba jual beberapa buku tapi tak ada respon,
sekali lagi aku merasa sangat miskin dan kehabisan tenaga
juga segalanya tentang harapan.

/2/
beginilah jadinya, mencoba beberapa teknik dan makin terasa
kaku pikiranku mengikuti bentuk-bentuk puisiku yang sama sekali
tidak menunjukkan perkembangan yang signifikan. aku menyesal,
hampir gila dan ingin segera mengakhiri saja semuanya. oke, sore itu,
rokok habis dan aku mendengar musik, mengetik tak karuan apa saja
yang ingin kukatakan sambil menunggu baterai laptop habis. kau tahu,
aku tak ada ide untuk menulis apa pun. aku membaca banyak tapi
mungkin terlalu lambat dan tidak tekun.

/3/
begini saja, aku ingin mengatakan padamu, sekaligus bertanya
apakah aku perlu keluar, pergi melihat sesuatu yang bergerak
hidup, di sana, dan sejenak melupakan bentuk-bentuk puisi
yang kuanggap gagal? atau apakah aku perlu melanjutkan
menulis puisi-puisi yang tidak pernah berkembang, di kamar?

/4/
dari sini saja kau sudah menduga, demikian perasaan gagal
menakutkanku menghadapi segalanya, juga barangkali dirimu.
aku tak punya kemampuan bahkan untuk mencintai diriku
sendiri. aku berhenti di sini, kuharap kau mengerti. sekian,
wassalam.

 

BEDIL PENYAIR

hidup adalah tembakan
sebatang waktu di tanganmu
harus meletupkan sajak
mengokang mengoyak sepi
membidik kata yang berlari seperti rusa
sebab kau bedil perburuan sunyi
yang mengembara
di hutan-hutan bahasa

 

BUNGA SENJA

usiamu kian bertambah
melepaskan warna
pada rona wajah
yang menggantung
seperti raut bunga
pada senja yang layu
yang bakal rontok
ketika waktu
pulangkan nisan
pada keriput tanah
yang menghitam
yang esok
menguburkanmu
seperti gelap
di taman malam

 

KEMBALI KANAK

kalau kaukenang masa kecil dulu
tak pernah mudah
merangkak, bangun, tertatih-tatih
dan jatuh lagi
betapa payah untuk berdiri
menjadi manusia
tetapi begitu mudah usia
mengembalikanmu padanya

 

PADA TEMPAT YANG JAUH

aku selalu
membayangkan bisa pergi
bertualang ke tempat-tempat yang jauh
mengejar jejak matahari

temukan bintang
yang tak pernah kutatap di sini
tapi umurku sudah melangkah
ke seberang laut

adakah aku akan tiba
atau justru karam
sebelum sempat
meninggalkan daratan?

 

EKSPRESIONISME DI PESISIR

di pantai
aku tak tahu
siapa sebenarnya kita
yang memandang ke laut

di belakang bukit-bukit
pertanyaan aneh sekali
untuk apa kita
kembali tinggal di kota

 

SAJAK KECIL TENTANG MASA KECIL

masa kecil adalah bunga jantung pisang
yang jadikan wayang
serta potongan sapu halaman
yang jelmakan pedang

bayang-bayang hidup
dan senjata waktu
yang mengajariku
cara berbicara pada diri

sepiku langit
yang berganti-ganti warna
dan sepetak tanah
yang sembunyikan puisi

 

KEJORA DI KOTA

seperti sebuah titik cahaya di gedung tinggi
ia tak henti berkedip di keputihan langit
udara berjalan begitu dingin pada suhu kota
sejak semalam kau tak melihatnya telanjang

sayap mega berpayung, berlayar ke barat
seperti bunga-bunga yang perlahan mekar
dan kadang menghilang di kaki gunung
mengentalkan warna hijau yang cerah

tapi ia masih menatapmu pada dini hari
tak henti-hentinya membuatmu sepi
ia menggodamu melangkah di jalanan kota
untuk temukan burung-burung bernyanyi

 

*Khanafi, lahir di Banyumas, Jawa Tengah. Tulisan-tulisannya berupa puisi dan cerpen tersiar di beberapa media massa baik daring maupun cetak, seperti: Detik.com, Koran Tempo, Beritabaru.co, Langgar.co, Ceritanet.com, Sastramedia.com, Litera.co.id, Maghrib.id, Linikini_id, Kompas.id, Tembi Rumah Budaya, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Radar Banyuwangi, Radar Banyumas, dll, serta terikut dalam berbagai buku antologi bersama. Penulis berkhidmat di Forum Penulis Solitude (FPS). Sehari-harinya bekerja sebagai editor lepas dan penjual buku lawas. Buku kumpulan puisi pertamanya bertajuk Akar Hening Di Kota Kering (SIP Publishing: 2021). Sekarang bolak-balik Purwokerto-Yogyakarta sembari merampungkan novelnya dan sebuah buku kumpulan cerpen.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *