Tri Puji Handayani

Perempuan dan Tranvesti dalam Pentas Teater Dulmuluk Tunas Harapan Palembang

Oleh Tri Puji Handayani 

Teater Dulmuluk lahir dan berkembang di Sumatera Selatan. Perbedaan bentuk ekspresi masyarakat, kondisi masyarakat, sikap budaya masyarakat, sumber dan tata-cara di wilayah lahir dan berkembangnya Dulmuluk di Sumatra Selatan menyebabkan teater ini berbeda dengan teater tradisional dari daerah lainnya. Dalam pertunjukannya Teater Dulmuluk sering memfokuskan diri pada sosok tokoh perempuan.  

eater Dulmuluk dari Dewan Kesenian Sumatera Selatan

Foto ilustrasi pertunjukan Teater Dulmuluk dari Dewan Kesenian Sumatera Selatan (DKSS) pada tahun 2019. (Sumber Foto: www.bisniswisata.co.id)

Saya akan membicarakan tokoh perempuan dalam pertunjukan Teater Dulmuluk Tunas Harapan, Palembang. Ada yang berbeda pertunjukan kelompok Teater Dulmuluk ini dengan kelompok Teater Dulmuluk lain. Dewasa ini  pertunjukan Teater Dulmuluk mayoritas sudah menampilkan tokoh perempuan yang dimainkan oleh perempuan, tetapi kelompok Tunas Harapan masih menampilkan semua tokoh melalui aktor laki-laki. Selain itu, yang menarik  tokoh perempuan yang dimainkan oleh aktor laki-laki dalam pertunjukan Teater Dulmuluk Tunas Harapan, Palembang sering melakukan adegan penyamaran sebagai laki-laki. Jadi laki-laki memainkan “laki-laki”  

Dalam pentas  Teater Dulmuluk Tunas Harapan lakon Abdulmuluk Jauhari misalnya, hal ini bisa kita amati. Kehadiran tokoh perempuan dalam pertunjukan ini tidak hanya sekedar pelengkap atau pendamping laki-laki. Perempuan dalam lakon ini mampu menyelamatkan keluarganya. Keberanian yang dimiliki oleh tokoh perempuan dapat membebaskan Abdulmuluk dan merebut kembali kekuasaannya. Karakter tersebut diperankan oleh tokoh laki-laki. Tokoh perempuan tersebut bernama Siti Rafeah.

Siti Rafeah berperan sebagai istri kedua Abdulmuluk. Siti Rafeah dalam penyerangan Sultan Syabudin ke Negeri Berbari berhasil melarikan diri dan melakukan penyamaran untuk membebaskan suaminya, Abdulmuluk. Siti Rafeah dalam usaha membebaskan suaminya melakukan penyamaran sebagai seorang laki-laki bernama Durjauhari. Durjauhari merupakan seorang penjoget atau penari dan tukang kayu yang berhasil mengalahkan Bahsan Pendengki sehingga diangkat menjadi prajurit oleh Sultan Jamaludin. Selanjutnya, Durjauhari melakukan penyamaran sebagai pedagang yang berdagang di Negeri Hindustan. Penyamaran ini dilakukan Durjauhari untuk mempengaruhi musuh, sehingga bisa membebaskan suaminya dari tahanan Sultan Syabudin. Aktor laki- laki dalam pertunjukan Abdulmuluk Jauhari tersebut tidak hanya berperan sebagai tokoh perempuan tetapi juga berperan sebagai laki-laki dalam pertunjukan.

Kebudayaan dalam masyarakat Palembang menyatakan perempuan harus dijaga dalam pergaulan ataupun lawan jenis (Wawancara Yohana). Selain itu, perempuan ditabukan untuk keluar malam (Wawancara Berlian). Banyaknya larangan, batasan, dan sanksi tradisional yang sangat ditekankan dan dipaksakan pada perempuan menyebabkan perempuan berputus asa (Kartono, 1992: 2). Pernyataan-pernyataan tersebut akhirnya membangun kekhawatiran yang menghasilkan mitos dalam masyarakat Palembang. Hal ini membuat seniman yang masih meyakini mitos tersebut tetap mempertahankan nilai-nilai yang dibangun oleh mitos wicara masyarakat Palembang.

Seniman yang masih menganut nilai tradisi menganggap tradisi sebagai sesuatu yang agung, klasik dan kramat yang harus dipertahankan. Pementasan Dulmuluk biasanya dilakukan semalam suntuk mulai pukul 20:00 sampai pukul 04:00, menyebabkan perempuan tidak memungkinkan terlibat dalam teater ini. Kemunculan perempuan dalam pertunjukan Dulmuluk dianggap melanggar nilai dan norma oleh teater tradisi. Tunas Harapan merupakan salah satu  kelompok teater yang masih aktif, namun tetap menganut nilai tradisi dalam pertunjukan. Kelompok ini menampilkan semua pemain laki-laki dan  mempertahankan pakem pertunjukan Dulmuluk: tetap menggunakan syair, iringan musik sederhana, dan semua aktor laki- laki. 

***

Teater Dulmuluk

Foto ilustrasi sebuah pertunjukan Teater Dulmuluk di Sumatera Selatan pada tahun 2019. (Sumber Foto: www.iphedia.com)

Ketika tokoh perempuan harus ditampilkan, laki-laki yang berperan sebagai tokoh perempuan menggunakan kostum layaknya perempuan dan menggunakan make-up seperti perempuan dengan tambahan rambut panjang sebagai penutup kepala. Suara dikecilkan sehingga mirip perempuan dan melakukan gerak tubuh seperti perempuan. Tokoh perempuan ditampilkan melalui pandangan laki-laki yang menyerupai tingkah laku perempuan. Hal semacam ini menunjukkan adanya perbedaan antara kategori ‘perempuan’ sebagai fiksi buatan lelaki dan kategori ‘perempuan’ dalam peran keseharian. (Yudiaryani 2012, 378).

Meskipun masih tetap mempertahankan nilai tradisi, kelompok Tunas Harapan tidak kehilangan peminatnya. Kelompok ini masih tetap aktif dan masih sering mementaskan pertunjukan Dulmuluk, setidaknya satu kali dalam satu minggu. Tunas Harapan merupakan salah satu kelompok teater Dulmuluk yang masih aktif dan berkembang di Pemulutan, Palembang dan sekitarnya. Saya melihat kehadiran tokoh perempuan dalam pertunjukan Dulmuluk yang dimainkan aktor laki-laki merupakan bagian dari estetika nusantara yang tentunya memiliki makna tersendiri. 

*Penulis adalah mahasiswi Kajian Seni Pertunjukan, Program Studi S3, ISI Surakarta.

——-

Daftar Rujukan

Budiman, Arief. Pembagian Kerja Secara Seksual. Jakarta: PT. Gramedia, 1982.

Liliweri, Alo. Pengantar Studi Kebudayaan. Bandung: Nusa Media, 2014.

Yudiaryani. “Perempuan dan Teater: Dongeng dalam Kenyataan.” Jurnal Seni dan Budaya Panggung, Vol.17, No. 4 (Desember 2007):375-386.

Alias (54), PNS. Pelabuhan Dalam Dusun 1 RT 01 Pemulutan Palembang.

 Saudi Berlian (58), Dosen. Lr. Bakti RT 02 RW 08 Pakjo Palembang.

Yohana (24), Guru. Jl. Segaran Lr. Kuningan No. 92 RT.04 RW. 01 Kelurahan 15 Ilir, Kecamatan Ilir Timur I, Palembang.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *