Situs Megalitikum Sentani Papua

Pelestarian Motif Megalitik Tutari dalam Konsep SDGs (Sustainable Development Goals)

Oleh Hari Suroto

Danau Sentani merupakan danau air tawar terbesar di Papua. Sebagian besar wilayahnya terletak di Kabupaten Jayapura dan sebagian kecil wilayahnya berada di Kota Jayapura. Danau ini memiliki luas sekitar 9630 ha dengan kedalaman 52 m, dan terletak pada ketinggian 72 m di atas permukaan laut. Bentuk morfologi Danau Sentani memanjang dari arah timur ke barat sepanjang 26,5 km (Fauzi, et. al., 2014:44). 

Masyarakat Sentani bermukim di tepi danau dan pulau-pulau di Danau Sentani. Situs Megalitik Tutari, terletak di Kampung Doyo Lama, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura. Situs Megalitik Tutari menyimpan sejarah kebudayaan masyarakat di tepi Danau Sentani pada masa prasejarah, tepatnya zaman neolitik akhir. Pada zaman itu manusia sudah mulai hidup bercocok tanam, berkelompok, menetap dan tinggal bersama di dalam kampung. 

Balai Arkeologi Papua mengelompokkan peninggalan di situs ini jadi enam sektor. Sektor I, II, III dan IV adalah lokasi batu bergambar. Motif lukisan bervariasi yaitu motif manusia, manusia setengah ikan, binatang, tumbuhan, dan benda-benda budaya seperti gelang, kapak batu serta motif geometris seperti lingkaran dan matahari. Semua adalah ekspresi pengetahuan manusia saat itu tentang alam sekitar.

Penelitian arkeologi di Situs Megalitik Tutari pernah dilakukan oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional pada tahun 1979, yaitu survei di situs Megalitik Tutari (Zaim dan Haroen, 1979). Kemudian pada 1994 dan 1995 Pusat Penelitian Arkeologi Nasional melakukan penelitian pola tata ruang dan fungsi Situs Megalitik Tutari, dalam penelitian ini dilakukan survei dan ekskavasi dengan membuka lima buah kotak. Selain itu juga dilakukan tipologi peninggalan megalitik berupa lukisan pada bongkah batu, jajaran batu, menhir dan batu temu gelang (Prasetyo, 2001). 

Coralie Girrard pada 2017 melakukan penelitian motif Megalitik Tutari untuk tesisnya yang berjudul Prospection D’un Site Dárt Rupestre Longtemps Oublie En NouvelleGuinee Site de Tutari (Doyo Lama, Jayapura, Province de Papouasie, Indonesie). Selain melakukan penelitian ragam jenis motif lukisan megalitik Tutari, Coralie juga melakukan eksperimental arkeologi guna mengetahui teknik dan alat dalam pembuatan motif lukisan megalitik Tutari. 

Lukisan juga dikenal dalam budaya Sentani, terutama di Pulau Asei yang masyarakatnya dikenal pandai melukis kulit kayu. Lukisan kulit kayu ini terinspirasi dari berbagai kekayaan alam dimana mereka tinggal. Kulit kayu yang dipakai untuk melukis pun bukan kayu sembarangan, orang Asei menyebutnya kayu khombow. Motif lukisan kulit kayu masyarakat Asei sangat beragam Corry Ohee (komunikasi pribadi, Agustus 2020), pelukis kulit kayu Pulau Asei mengungkapkan bahwa tak ada seorangpun warga Pulau Asei yang dapat memastikan sejak kapan seni lukis kulit kayu mulai ada di Asei. Mereka hanya meyakini kemampuan melukis sudah ada sejak nenek moyang mereka. Bermula dari para pelukis pakaian kulit kayu. Menurut Corry pada masa lalu, hanya pakaian ondoafi yang dilukis, kalau masyarakat umum tidak. Dalam perkembangannya muncul lukisan kulit kayu yang dibuat masyarakat, terinspirasi alam. Seperti danau, pohon, hewan, dan sebagainya. Menurutnya, ada motif lukisan kulit kayu yang berasal dari turun-temurun, tapi ada juga yang sekarang telah dimodifikasi oleh pelukisnya. 

Sejarah kebudayaan Sentani terlihat dari peninggalan-peninggalan yang ada di Situs Megalitik Tutari. Terletak di sebuah bukit di tepi Danau Sentani terdapat gambar-gambar pada bongkahan batu. Letak batu-batu bergores ini di lereng-lereng bukit di pinggir danau. Banyak diantaranya memuat gambar yang garis-garis luarnya berwarna putih (Soejono, 1994: 29).

Berdasarkan pengamatan di Situs Megalitik Tutari menunjukkan bahwa bongkahan batu berlukis berjumlah 83 buah dengan rincian 80 buah bongkahan batu hanya mempunyai satu sisi bidang lukis, sebuah bongkahan batu mempunyai dua sisi bidang lukis, dan dua buah bongkahan batu mempunyai dua bidang lukis. Jumlah lukisan yang ada sebanyak 138 buah, 135 buah masih dapat diklasifikasikan bentuk lukisannya, sedangkan sisanya sudah sangat aus dan tidak jelas. Lukisan-lukisan tersebut dibagi dalam bentuk manusia sebanyak 17 buah, hewan sebanyak 64 buah (biawak 17 buah, kura-kura 14 buah, satu ular dan satu burung), geometris sebanyak 15 buah, flora sebanyak 3 buah dan kapak batu sebanyak tiga buah (Prasetyo, 2001:7). 

Ekskavasi di Situs Megalitik Tutari hanya menemukan artefak gerabah di lapisan tanah bagian atas, tidak ditemukan artefak atau ekofak lainnya. Berdasarkan konteks temuan berupa bongkahan batu berlukis diperkirakan Situs Megalitik Tutari bukan merupakan situs hunian prasejarah tetapi merupakan situs yang berkaitan dengan religi. Berdasarkan hal tersebut kemungkinan hunian terletak di tepi Danau Sentani berupa rumah panggung di atas permukaan air (Suroto, 2018: 37).

Masyarakat Sentani gemar mengukir dan melukis. Mereka mengukir berbagai peralatan hidup mereka, misalnya tifa (waku), perahu (kayi atau ifa), dayung, gagang kapak, jubi, anak panah, tiang rumah, peralatan berkebun (onggi dan yali), peralatan mengolah sagu (kamehe dan fema), dan beberapa peralatan makan (Yektiningtyas, 2008: 66).

Selain bentuk lambang, masyarakat Sentani juga menggunakan beberapa jenis binatang menjadi objek motif ukiran, yaitu ikan, biawak, kadal, cicak, ular, anjing dan burung. Mereka adalah binatang yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Sentani. Warna-warna yang digunakan umumnya berasal dari pigmen tumbuhan, tanah, arang dapur, dan kapur sirih dicampur getah agar warna dapat melekat pada media ukiran. Warna-warna yang mendominasi adalah cokelat, kuning, merah, hitam dan putih (Yektiningtyas, 2008: 69).

Situs Megalitik Tutari Papua

Motif manusia di Sektor 4 Situs Megalitik Tutari (dokumentasi Coralie Girard, 2017)

Situs Megalitik Tutari Papua

Motif kura-kura di Sektor 4 Situs Megalitik Tutari (dokumentasi Coralie Girard, 2017)

Situs Megalitik Tutari Papua

Motif ikan di Sektor 4 Situs Megalitik Tutari (dokumentasi Coralie Girard, 2017)

Situs Megalitik Tutari Papua

Motif kadal di Sektor 4 Situs Megalitik Tutari (dokumentasi Coralie Girard, 2017)

Situs Megalitik Tutari Papua

Motif gelang di Sektor 4 Situs Megalitik Tutari (dokumentasi Coralie Girard, 2017)

Motif geometris juga ditemukan di Pulau Asei, motif ini oleh masyarakat Asei disebut dengan fouw atau masyarakat Sentani menyebutnya yoniki. Motif ini berupa lingkaran yang berpusat pada sebuah titik. Pusat lingkaran melambangkan ondofolo yaitu pemimpin yang memegang kendali pemerintah adat. Selain itu, terdapat lingkaran-lingkaran yang melambangkan strata sosial masyarakat Sentani (kotelo, akona dan yobu yoholom). Pada intinya, fouw menjelaskan, setiap kegiatan dan keputusan adat diatur oleh ondofolo dan dilaksanakan secara bergotong royong oleh semua lapisan masyarakat.

Menhir Pulau Asei Papua

Motif fouw di Menhir Pulau Asei

Berdasarkan pengamatan pada benda-benda budaya Sentani, diketahui bahwa terdapat beberapa motif yang didasari oleh motif megalitik Tutari. Hal ini terlihat pada ukiran tiang rumah, lukisan kulit kayu (malo), tifa, piring kayu, tempurung wadah kapur sirih, sandaran kepala, tongkat kayu, ukiran perahu, gerabah Abar dan body painting dalam seni tari. Motif-motif hias megalitik Tutari tersebut yaitu motif manusia, kura-kura, buaya, kadal, ikan, geometris dan gelang. 

Ukiran pahatan Papua

Ukiran pahatan manusia pada piring kayu (hote)

Ukiran tiang rumah Papua

Ukiran manusia pada tiang rumah (obhee) Kampung Dondai

Ukiran tiang rumah Papua

Ukiran manusia pada tiang gereja Pulau Asei

Ukiran tiang Obhee Papua

Ukiran manusia pada tiang obhee Kampung Dondai

Pahatan gelang kayu Papua

Pahatan gelang pada piring kayu

Ukiran gelang, kadal, geometris pada tiang obhee di Papua

Ukiran gelang, kadal, geometris pada tiang obhee Kampung Dondai

Ukiran gelang pada tiang rumah di Papua

Ukiran gelang pada tiang rumah Asei

Pahatan kepala kura-kura pada piring kayu di Papua

Pahatan kepala kura-kura pada piring kayu

Ukiran kadal di Papua

Motif kadal pada tiang rumah di Pulau Asei

Perahu Ukiran Buaya di Papua

Motif Buaya pada ujung perahu Sentani

Pahatan kepala buaya di Papua

Pahatan kepala buaya pada sandaran kepala

Pahatan tongkat kayu Papua

Pahatan burung kasuari pada tongkat kayu

Gerabah Papua

Gerabah motif yoniki

Ukiran tiang rumah Papua

Tiang rumah motif yoniki

Ukiran ikan pada tiang rumah Papua

Ukiran motif ikan hiu gergaji pada tiang obhee Kampung Dondai

Lukisan kulit kayu di Papua

Lukisan kulit kayu motif ikan hiu gergaji

Tas kulit kayu di Papua

Tas kulit kayu motif ikan dan kadal

Ukiran dinding rumah di Papua

Dinding rumah warga Asei motif kadal, ikan dan geometris

Gerabah Abar Papua

Gerabah Abar motif Ikan Tutari

Body painting di Papua

Body painting motif kura-kura Situs Tutari

Tari Tutari Papua

Tarian Narasi Seni Nusantara berjudul Tutari

megalitik Tutari pada lukisan kulit kayu Papua

Motif megalitik Tutari pada lukisan kulit kayu Asei

Siswa SMPN di Papua

Siswa SMPN 1 Sentani sedang menggambar motif Tutari

Situs Megalitik Tutari merupakan peninggalan manusia prasejarah. Peninggalan ini berupa bongkahan-bongkahan batu bergambar. Motif yang digambarkan berupa motif manusia, flora, fauna, benda budaya dan geometris. Yang menarik adalah fauna yang digambarkan adalah fauna endemik Danau Sentani. Terutama ikan asli Danau Sentani, termasuk ikan hiu gergaji dan ikan pelangi. Seperti diketahui ikan hiu gergaji Sentani sudah punah dan hanya tersisa pada bongkahan batu Situs Megalitik Tutari. 

Berdasarkan pengamatan pada benda budaya Sentani, diketahui bahwa dalam penerapan motif dipengaruhi oleh lingkungan sekitar, kepercayaan maupun ingatan kolektif asal usul mereka. Komparasi antara motif megalitik Tutari dengan seni Sentani masa kini menunjukkan bahwa terdapat beberapa kesamaan yaitu terinspirasi oleh lingkungan Danau Sentani, hal ini terlihat dari motif ikan, kadal, kura-kura, kasuari dan gelang. Sedangkan motif manusia hanya diukirkan pada tiang rumah dan piring kayu, hal ini tidak dapat ditemui pada lukisan kulit kayu.

Motif-motif lukisan Kulit Kayu Asei yang memiliki kesamaan dengan motif Tutari yaitu motif kura-kura, kadal, ikan dan garis geometris. Sedangkan motif manusia tidak tergambar pada lukisan kulit kayu. Motif geometris masih terlihat pada motif gerabah yaitu motif yoniki. Motif yoniki ini diterapkan pada benda-benda budaya Sentani. 

Motif Megalitik Tutari harus dilestarikan, salah satu caranya adalah menghidupkannya kembali pada seni Sentani masa kini termasuk pada gerabah Abar, lukisan kulit kayu Asei, serta seni kontemporer lainnya. Ini adalah bagian dari kontribusi penelitian arkeologi pada ruang lingkup SDGs atau Sustainable Development Goals disebut juga Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Motif megalitik Tutari harus dilestarikan dan harus bermanfaat pada kesejahteraan masyarakat sekitar situs, dalam hal ini masyarakat yang tinggal di Danau Sentani.

Sustainable Development Goals (SDGs) atau tujuan pembangunan berkelanjutan terkait dengan penelitian motif Megalitik Tutari pada seni Sentani masa kini adalah motif Megalitik Tutari harus bermanfaaat pada tinggalan arkeologi itu sendiri, serta harus bermanfaat pada masyarakat sekitar situs.

Dengan SDGs diharapkan motif Megalitik Tutari dapat dilestarikan, selain itu motif Megalitik Tutari harus meningkatkan kesejahteraan masyarakat yaitu dapat dijadikan inspirasi seni dalam produk ekonomi kreatif. Hal ini sama seperti yang dilakukan oleh Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Tanah Papua.

Rektor ISBI Tanah Papua, I Wayan Rai S (komunikasi pribadi, September 2020), mengatakan untuk Narasi Seni Nusantara II diakukan pada Oktober 2020 dan diberi judul Tutari. Kolaborasi seni dalam Narasi Seni Nusantara menjadi bagian dari perguruan tinggi seni se-Indonesia di tengah pandemi Covid-19 dengan cara menyuguhkan kolaborasi seni virtual. 

Narasi Seni Nusantara dikemas dengan konsep koreografi lingkungan. Mahasiswa bergerak pada lingkungan di sekitar Situs Megalitik Tutari untuk berkarya, menari, melukis dan sebagainya. Mahasiswa dapat merespon objek itu. Sedangkan seni yang akan dikemas dalam bentuk kontemporer.

Seni Virtual bertema Situs Megalitik Tutari kolaborasi antara Komunitas Tifa Kamp Wolker Waena Jayapura dengan ISBI Tanah Papua dan Balai Arkeologi Papua ditampilkan dalam Pesta Kesenian Bali yang berlangsung 12 Juni-10 Juli 2021, bertempat di Taman Budaya Bali dan ISI Denpasar. Seni Virtual ini berjudul Aku Papua: dari Bali untuk Indonesia. Selain pemutaran film melalui kanal Youtoube Dinas Kebudayaan Provinsi Bali juga dilalukan diskusi tatap muka bertema Situs Megalitik Tutari dengan narasumber Prof. Dr. I Wayan Rai S selaku guru besar ISI Denpasar yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Rektor ISBI Tanah Papua, Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha selaku kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali  dan Drs. Gusti Made Sudarmika, kepala Balai Arkeologi Papua.

Corry Ohee, pelukis kulit kayu Pulau Asei mengungkapkan motif megalitik Tutari, walaupun bentuknya sederhana, namun hasil karya yang ditonjolkan menggambarkan karya seni prasejarah di Danau Sentani. Motif megalitik Tutari merupakan motif tertua karena peninggalan manusia prasejarah di Danau Sentani. 

Corry menyebutkan motif Tutari merupakan motif tidak mendetail. Berbeda selama ini yang dilukis oleh pelukis kulit kayu di Pulau Asei, pada umumnya motif lukisan kulit kayu Asei lebih detail, halus, dan dikreasikan dengan perkembangan seni saat ini atau selera wisatawan. Wisatawan domestik lebih suka motif lukisan tifa, burung cenderawasih, honai, atau lebih bernuansa Papua dengan warna cerah, terang dan kekinian.

Saat ini kebanyakan pelukis kulit kayu lebih banyak membuat motif daun palem, awan, cicak, kadal, ikan, buaya, kelelawar, dan tikus air. Sedangkan wisatawan mancanegara lebih suka pada motif asli Sentani dengan warna asli yaitu hitam, merah dan putih. 

Corry mengakui ia dan sejumlah pelukis kulit kayu lainnya melukis motif megalitik Tutari, untuk para kolektor seni dan wisatawan asing. Corry yakin dengan motif yang lebih tua, akan bernilai tinggi. Nyatanya, walaupun motif Tutari kelihatan sederhana bentuknya, ketika dilukiskan pada kulit kayu membutuhkan pengamatan dan waktu yang lebih lama agar detail seperti aslinya, sehingga hasilnya lebih artistik.

Motif-motif Tutari kini dicoba untuk dilestarikan dan diterapkan pada gerabah Abar. Mulai dari motif ikan ciri khas situs megalitik Tutari dan motif-motif lainnya. Hal ini dilakukan atas tanggungjawab melestarikan budaya leluhur dengan tujuan pembangunan berkelanjutan. Penerapan motif-motif megalitik Tutari pada gerabah Abar merupakan bagian dari kontribusi hasil penelitian arkeologi pada Sustainable Development Goals atau tujuan pembangunan berkelanjutan. Motif megalitik Tutari harus dilestarikan sekaligus harus mensejahterakan masyarakat sekitar Danau Sentani, yaitu sebagai sumber inspirasi dalam produk seni Sentani kekinian terutama produk ekonomi kreatif.

Merujuk penggunaannya sebagai wadah memasak atau tempat makanan. Gerabah yang kini dilestarikan seperti gerabah Abar, dikerjakan secara tradisional oleh kaum perempuan Abar. Gerabah dibuat menggunakan tanah liat dan dibentuk dengan gabungan teknik pilin dan tatap pelandas, dibuat menyerupai belanga atau disebut sempe dalam bahasa setempat. Sempe kemudian diberi motif ikan atau motif lainnya di bagian luar gerabah lalu dibakar di tempat terbuka.

Mama Barbalina Elbakoy salah satu pengrajin gerabah menyebutkan sempe biasa digunakan untuk masak ikan kuah kuning. Sempe yang ia buat biasanya bermotif yoniki atau garis serta polos tanpa hiasan. Mama Barbalina mencoba mengaplikasikan motif megalitik Tutari pada gerabah buatannya, terutama motif ikan. Sempe yang diberi hiasan motif ikan Tutari, menurutnya hasilnya sangat cantik (komunikasi pribadi, Oktober 2020). 

Naftali Felle, Ketua kelompok pengrajin gerabah Titian Hidup Kampung Abar menyebutkan sebuah gerabah atau sempe yang diberi hiasan motif megalitik Tutari, terutama motif ikan terlihat bagus dan menarik. Menurut Naftali, sempe dibuat untuk wadah makan papeda dengan lauk ikan berkuah kuning. Sempe yang bergambar motif ikan megalitik Tutari sangat cocok dipakai saat ada jamuan dengan menyajikan ikan kuah kuning. 

Lingkungan alam  Danau Sentani sangat berpengaruh dan menjadi sumber inspirasi  seni manusia prasejarah dalam menggoreskan motif pada bongkahan-bongkahan batu di Bukit Tutari. Motif-motif megalitik Tutari ini merupakan seni prasejarah yang menjadi  dasar atau menginspirasi seni masa kini Sentani. Pada masa prasejarah motif-motif ini ditorehkan pada permukaan batu, sedangkan dalam seni Sentani masa kini ditorehkan atau dikreasikan dengan berbagai jenis media seni.

Motif megalitik Tutari menjadi dasar perkembangan seni di Sentani. Pengaruh motif hias megalitik Tutari pada seni Sentani masa kini dapat dilihat pada ukiran tiang rumah, lukisan kulit kayu, alat musik tifa, piring kayu, ukiran perahu, gerabah dan body painting. Jenis-jenis motif hias megalitik Tutari yang masih diaplikasikan pada seni masa kini di Kawasan Danau Sentani yaitu motif manusia, kura-kura, kasuari, kadal, ikan, geometris dan benda budaya.

Motif megalitik Tutari dapat dijadikan sumber kreativitas lainnya seperti desain sablon kaos, desain logo produk, atau sumber inspirasi bagi pelukis kanvas. Motif megalitik Tutari sudah dijadikan buku muatan lokal yang diajarkan pada siswa sekolah menengah di tiga sekolah pilot project yaitu SMP N 6 Kota Jayapura, SMP N 1 Sentani dan SMP N 2 Sentani, Kabupaten Jayapura. Buku muatan lokal ini perlu diajarkan secara lebih luas lagi ke sekolah-sekolah menengah se-Provinsi Papua. 

*Penulis adalah peneliti di Balai Arkeologi Papua

—————–

REFERENSI

Fauzi, Mohammad, Rispiningtati,  Andre Primantyo Hendrawan. 2014.

Kajian Kemampuan Maksimum Danau Sentani dalam Mereduksi Banjir di DAS Sentani. Jurnal Teknik Pengairan, Volume 5, Nomor 1, Mei 2014, hlm 42–53.

Girard, Coralie. 2017.

Prospection D’un Site D’art Rupestre Longtemps Oublie En Nouvelle Guinee Site de Tutari (Doyo Lama, Jayapura, Province de Papouasie, Indonesie).
Memoire de Master 2 Sciences et Technologies Mention Bio-geosciences Universite de Bordeaux.

Prasetyo, Bagyo. 2001.

Pola Tata Ruang dan Fungsi Situs Megalitik Tutari, Kecamatan Sentani, Kabupaten Jayapura, Provinsi Irian Jaya. Berita Penelitian Arkeologi No. 3. Balai Arkeologi Jayapura.

Soejono, R. P. 1994.

”Prasejarah Irian Jaya” dalam Irian Jaya Membangun Masyarakat Majemuk (Koentjaraningrat ed.). Jakarta: Djambatan.  Hal. 23-43.

Suroto, Hari. 2018.

Identifikasi Jejak Hunian Awal Prasejarah di Kawasan Danau Sentani.
Laporan Penelitian. Balai Arkeologi Papua.

Yektiningtyas-Modouw, Wigati. 2008.

Helaehili dan Ehabla Fungsinya dan Peran Perempuan dalam Masyarakat Sentani Papua. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa.

Zaim, Yahdi dan Haroen. 1979.

Geologi Tinjau Sepanjang Jalan Genyem-Sentani-Jayapura dan Pulau-Pulau di Danau Sentani. Laporan Penelitian. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *