Obituari: Warisan Nasirun

Oleh Doddi Ahmad Fauji*

“Hari Jumat, 31 Juli 2026, dari jam 09.30 sampai 11. 45 WIB, saya (sudah janjian) ngobrol dengan Nasirun di rumahnya yang indah. Dia bilang memang semalam (Kamis malam) ia ke RS Panti Rapih, karena beberapa hari belakangan terasa sesak dan perut tidak nyaman. Dokter bilang Nasirun kena asam lambung. Hari itu meski tampak pucat, tetap ngobrol (karena kami sedang merencanakan pameran) dan seperti biasanya, sampai saya pamit karena mau jumatan. Dan pagi, Sabtu, 1 Agustus, pagi2 saya ditilpon Pupuk DP, mengabarkan Nasirun meninggal dunia. Saya masih lemas sampai sekarang. Itu pertemuan terakhir saya dengannya,” demikian kurator Suwarno Wisetrotomo menulis di japrian WA pada 2 Agustus selepas subuh.

Melalui beranda aktor Butet Kertaredjasa saya mendapatkan info kali pertama Nasirun wafat, saat buka FB sore hari. Saya diam sejenak, lalu segera mencari dokumen Majalah SituSeni, karena ingat, di sana terakhir kali saya menulis tentang Nasirun dengan judul ‘Sensasi Nasirunisasi’. Ketemu. Tapi kemudian saya mengheningkan cipta dulu, mendoakannya, moga perupa kelahiran Cilacap 1 Oktober 1965 ini, menerima maghfiroh seluas-luasnya, dan berkah sedalam samudra seluas angkasa raya.

Selain ingat majalah SituSeni, saya ingat juga Mas Warno, dan perlu menanyakan kenangan pribadi Mas Warno tentang Nasirun. Dua orang ini, tumbuh bersama, besar bersama, saling supoort dan tak pernah ada cideka di antaranya.

Mas Warno menulis: Nasirun tumbuh menjadi pelukis/seniman yang merawat integritas dengan teguh. Pameran di ruang-ruang penting. Kolektor tumbuh, meluas. Demikian pun jejaring persahabatannya: dari pejabat, selebritas, dan semuanya. Nasirun sangat dermawan. Karya-karya seniman senior yg nota bene guru-gurunya dikoleksi, disimpan dalam museum pribadinya. Tak banyak orang tahu, bahwa ia rajin membantu siapapun yang ia pandang pantas dibantu (apalagi para seniman lain yg kesulitan). Ia tetap apa adanya, sederhana, mengelola kekecewaan dengan canda. Ia dicintai sangat banyak orang.

Pernyataan Mas Warno itu tentu saya sependapat tanpa syarat, karena bagi saya, di luar kekaryaannya, Nasirun adalah pribadi yang istimewa, meskipun tempat tinggal kami berjauhan. Nasirun di Yogya dan saya di Jakarta kemudian Bandung. Tapi bila ketemu, kami serasa seperti sahabat lama. Pada 2010, saya bersama tim Majalah Arti (8 orang) menyambangi rumahnya, menginap malah. Rupanya Nasirun telah pindah dari tempat lama, tapi sampai sekarang rumah lama itu masih ada.

Rasa kekeluargaan memancar saat itu. Teman-teman Majalah Arti yang rata-rata belum lama bersentuhan dengan dunia seni rupa, tidak merasa kaku atau minder karena penerimaan Mas Nasirun dan keluarga, termasuk istrinya, amat terbuka. Padahal Nasirun pernah berujar, istrinya minder bila ketemu seniman. Tapi kami yang datang memang bukan seniman. Rasa minder dari kedua belah pihak, lenyap sudah. Kami berfoto bersama, di salah satu ruangan lumayan luas, dengan meja besar dari kayu jati, tampak seperti meja untuk berdiskusi, dan dengan latar lukisan Nasirun yang terlihat klop nan ciamik. Kami pulang. Ada satu hal yang lupa. Jaketku ketinggalan.

Tahun 2014, ketika kembali ke rumahnya, Mbak Supartilah, istri Mas Nasirun, menyerahkan jaket itu. Ini pertanda yang baik, dan bisa jadi, saya dianggap wartawan yang istimewa oleh Nasirun, karena saat akan menggelar pameran tunggal kedua di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta 2000, yang menjadi kiprah pertama baginya untuk melanglang lebih luas, saya satu-satunya wartawan yang diajak oleh Galeri Kembang Jari dari Jakarta sebagai EO, untuk mewawancarai dan mengintip apa yang akan dilakukan Nasirun, dan menyiarkannya ke publik lewat koran Media Indonesia tempat saya bekerja.

Foto Bersama: Tim Majalah Arti (Jakarta) diterima oleh Keluarga Nasirun, berfoto bersama Nasirun, istri dan anak-anaknya

 

Saya di meja ruang khusus untuk diskusi

Pameran di Galnas itu berjuluk ‘Ojo Ngono!” (Jangan Begitu!), dengan kurator Suwarno Wisetrotomo. Sejak pameran ini, pertanyaan apapun, Nasirun akan dengan antusias menjawab, dan bila ada pertanyaanku yang menurutnya salah data, ia suka berujar, “sebentar, aku koreksi dulu yang itu…”

Nasriun berfoto bersama salah satu lukisannya, salah seorang tokoh, diri sendiri, mulutnya diikat, seakan ia tak boleh bicara.

 

Salah satu gudang karya Nasirun

Nasirun wafat di RS AMC Muhammadiyah Yogyakarta pada 1 Agustus 2026, pukul 05.58 WIB dalam usia 60 tahun. Jenazahnya kemudian dimakamkan di Makam Seniman Girisapto Imogiri, Bantul, Yogyakarta.

Nasirun tinggal di Wates, yang masuk wilayah provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, tepatnya di Perumahan Bayeman Permai, Jl. Wates Km 3, Ngestiharjo, Bantul, jadi tentu saya jarang bisa berinteraksi. Jika membutuhkan pernyataannya, saya menelepon ke HP Istrinya untuk janjian supaya bisar akur waktu, kapan dan jam berapa saya menelepon lagi agar bisa bincang dengan Nasirun. Sehari-hari, Nasirun memang tidak pegang HP.

“Aku terganggu kalow pegang HP. Kalow lagi ngelukis terus ada telepon ke HP, kalow tidak kuangkat, nanti aku dibilang sombong,” katanya, pada November 2014 di rumahnya, saat saya mengunjunginya.

Pertemuan fisik lebih sering di Jakarta, rata-rata karena Nasirun ada hajatan pameran di galeri-galeri Jakarta. Beberapa kali saya ke Yogya, suka berusaha sekalian bertemu Nasirun, untuk wawancara atau sekedar ngobrol. Pada November 2014, dengan rencana menerbitkan Majalah Arti, saya datang ke rumahnya dan menginap.

Saya diajak jalan-jalan di rumahnya yang luas itu. Saya taksir, lebih dari 100 lukisan ukuran besar dan kecil ada di rumahnya. Sebagian dipajang di ruangan yang ia beri nama “Minimaret,” semacam toko mini maket tapi khusus untuk memajang lukisan Nasirun. Selesai dari situ, saya diajak menyeberang dengan membawa lampu senter. Masuk ke rumah yang gelap, kecuali di bagian serambi depan ada lampu penerang yang menyala remang-remang. Masuk ke rumah itu, lampu menyala, dan saya kaget, rumah besar ini menjadi semacam gudang untuk menyimpan ratusan karya yang dihasilkan sejak tahun 1990-an hingga 2014, atau sekira 2,4 dekade.

Ornamen dan hiasan yang bergelantungan di atap Minimaret

 

Staf Minimaret, yang mengelola administrasi dokumentasi karya Nasirun serta agenda acara

Pada saat kunjungan November 2014 itulah, karena waktu yang luas, banyak hal yang bisa diobrolkan, dan saya makin banyak tahu siapa Nasirun.

Nasirun lahir dari keluarga pekerja dan petani di daerah pesisir selatan Cilacap, Jawa Tengah. Ia bukan dari keluarga seniman. Ketertarikannya pada dunia seni dimulai sejak kecil. Ia sangat suka sekali wayang kulit, baik dari sisi cerita dan legendanya, mapun dari bentuk, ornamen, dan dekorasi warnanya yang meriah. Minatnya pada wayang itu yang mendorongnya menempuh pendidikan seni di Sekolah Seni Rupa Yogyakarta, dan lulus pada 1983, lalu melanjutkan studi seni lukis di Jurusan Seni Lukis, Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia Yogyakarta pada 1987, dan lulus pada 1994.

Sebelum lulus kuliah, Nasirun sempat pameran tunggal di Mirota Kampus dan Cafe Solo, Yogyakarta pada 1993. Nasirun mendapat tempat di Mirota, karena lukisannya banyak menganggit elemen kebudayaan Jawa, termasuk ornamen perwayangan yang banyak ditabalkan dalam kain-kain batik.

Batik dan Jins, mengenang Mirota, galeri pertama yang memberi ruang kepada Nasirun untuk pameran tunggal saat masih mahasiswa ISI Yogya, tahun 1993.

Secara visual, lukisan Nasirun memiliki identitas yang sangat kuat, yang berangkat dari distorsi bentuk wayang, mistisme Jawa, ornamen alam, ritual, kesenian lokal, yang hampir keseluruhannya dilapisi oleh aksen dekoratif batik, huruf Jawa kawi atau Arab gundul. Karya-karya yang kalau ditinjau secara spiritual, ada korelasi dekat dengan mistisme Jawa dan Islam, sesuatu yang sulit ditemukan pada seniman lain di Yogyakarta.

“Cita-cita saya waktu kecil itu menjadi ustadz, menjadi kiyai,” katanya suatu malam di rumah itu, yang selalu diikuti tertawa panjang, lepas, seakan menghembuskan beban apapun, besar kecil, yang menghimpitnya.

Mungkin karena cita-cita masa kecilnya itu, sehingga dalam lukisan-lukisan Nasirun sering muncul semangat mistisisme Islam, termasuk penggunaan ornamen yang bercorak Islam, seperti Arab Gundul. Huruf tersebut pernah menjadi sarana komunikasi literasi masyarakat berbahasa Sunda, Jawa, Melayu, dan mungkin juga digunakan bahasa daerah lain di Nusantara.

Saya ingat, Uwa saya (Pak Dhe), bila berkirim surat ke ayah saya, bicara dalam bahasa Sunda tapi menggunakan huruf Arab Gundul tersebut. Saya pernah menulis, lahirnya diftong dalam bahasa Indonesia huruf Latin, bermula dari penggunaan huruf Arab gundul untuk bahasa Melayu. Saya Yakin Nasirun juga pernah membaca huruf Arab Gundul, dan memandang itu adalah identitas budaya Islam Jawa, sehingga huruf tersebut masuk ke dalam lukisan-lukisannya untuk merespresentasikan cita-cita masa kecilnya ingin menjadi ustadz.

“Cita-cita mulia itu tidak kesampeyan, dan malah saya jadi pelukis, karena dari kecil, saya memang senang nggambar.”

Sastrawan Joni Ariadinata yang menemani saya saat bertemu Nasirun itu, meyakini bahwa Nasirun adalah Kyai. Pernah Nasuirun dikritik pedas oleh seorang Kyai dari Yogya di sosmed, dan Joni membelanya. Setelah diusut, ternyata si Kyai yang mengeritik Nasirun, melalukannya setelah minta sedekah, namun yang diterima tidak sesuai ekspektasi sang Kyai, sehingga Nasirun dicela. Sedih benar jika kaum agamawan harus dan hanya hidup dari sedekah.

Nasirun menuturkan, tidak ahli bicara dan mengungkapkan perasaan atau pikiran lewat kata-kata, apalagi jika harus berdebat berlarat-larat, akan ia hindari. Termasuk saat dikritik oleh Kyai di atas.

“Ketika orang-orang mengeritik aku lewat tulisan di koran atau dalam diskusi, kujawab dengan karya,” kata perupa yang amat produktif ini.

“Karena kegemaran saya melukis itu, saya tidak banyak bicara, tapi aku tahu anak Ibu Kos suka memperhatikan saya melukis. Saya punya feeling, kayaknya dia menyukai saya. Dan sama seperti saya, dia juga tidak banyak bicara. Perhatiannya dilakukan melalui tindakan. Dan ya namanya jodoh, para pendiam itu akhirnya menikah. Hahahaha…,” demikian Nasirun bernostalgia, dengan bunyi ha ha ha-nya itu bernada stakato, lambat namun tegas.

Dari pernikahannya dengan Supartilah itu, ia dikaruniai tiga anak: Ima Bunga Insan Sani, Yudhistira Nurul Azmi, dan Nawarna Ratna Mutu Manikam.

Karena tak mau banyak bicara yang tidak produktif apalagi berdebat, maka energi dan waktunya dilimpahkan untuk berkarya. Produktifnya bukan main-main. Sekira tahun 2014, saat berkunjung ke rumahnya itu, Nasirun menuturkan di rumahnya ada 3.000-an karyanya. Saya percaya, karena rumah dan studionya memang menampung ratusan karya dari hampir tiga dekade karirnya, dari yang kecil seukuran kartu undangan sampai instalasi besar.

‘Talk less do more’, barangkali seperti itulah bila dibahasakan prinsip hidup Nasirun. Ia menuturkan, prinsipnya itu terinspirasi oleh Pablo Picasso yang sangat banyak memiliki dokumen karya. “Sebelum wafat, Picasso meninggalkan warisan karya yang sangat banyak. Saya ingin seperti dia!”

Saya meyakini, Nasirun adalah salah satu pelukis yang menerima ‘Ilmu Laduni’, yaitu suatu pengetahuan atau kreativitas, singkatnya bakat agung yang tidak jatuh ke sembarang orang. Ketelatenan, kemaestroan Nasirun, telah ia wujudkan dalam sekian karya yang bila mood tiba dan tenaga gaib menggetarkannya, dapat melahirkan karya-karya spektakuler, seperti yang dipamerkan di Galeri Nasional Indonesia Jakarta 2009 – yang dipamerkan bersama Entang Wiharso dan Affandi, dengan kurator Jim Supangkat – yang diberi judul Un (reel).

Dalam pameran Un-reel itu, ia memamerkan karya yang besar ukurannya, sehingga terbagi ke dalam beberapa panel, yang menurutnya, dikerjakan dalam seminggu, tidak keluar dari studio, yang bila tidak digerakkan oleh tenaga spiritual, rasanya mustahil selesay. “Aku sampai kaget, kok bisa melukis seperti itu dalam seminggu. Ini tak mungkin terjadi kalau tidak ada tenaga gaib yang mendorong saya,” katanya, malam di rumahnya itu.

Jejak kekaryaan Nasirun dalam belantika seni rupa Indonesia, juga kiranya di dunia karena ia sering pameran di luar negeri, sangat jelas dan bisa dilacak secara digital. Nasirun sudah mengadakan pameran tunggal pertamanya sejak masih mahasiswa, yaitu di Mirota Kampus dan Cafe Solo, Yogyakarta pada 1993, dengan kurator Suwarno Wisetrotomo.
“Kala itu, usia 28 tahun, Nasirun belum menjadi siapa-siapa. Saya ketika itu juga sedang tumbuh. Setiap kali saya menjadi kurator pameran skala besar (dan penting) nama Nasirun pasti ada,” kata Mas Warno melalui japrian WA, padi 2 Agustus 2026.

Bersama Suwarno pula, Nasirun bertumbuh, termasuk saat menggelar pameran tunggal di Galeri Nasioanl, dengan juluk ‘Ngono Yo Ngono Mung Ojo Ngono’ pada tahun 2000, kemudian di Nadi Gallery 2002, hingga pameran-pameran kolaborasi seperti Summit Event Bali Biennale 2005 atau Biennale Jogja.

 

Saat akan digelar pameran di Galeri Nasional pada 2000 itu, saya diajak oleh Galeri Kembang Jati yang menjadi EO untuk menemui Nasirun di rumahnya, di Yogya. Saat itu, studionya masih di dekat dengan pemakaman umum, tapi saya lupa nama kawasannya. Saya cari dalam database digital, belum ketemu di mana kawasan tersebut.

Tapi saya ingat, saat melihat lukisan-lukisan Nasirun yang akan dipamerkan, juga prototipe dan rambutnya yang gondrong untuk pertama kalinya, langsung berpikir, jangan-jangan ada ‘suara liyan’ yang merasuki Nasirun, sehingga dalam lukisannya itu bermunculan tokoh-tokoh amorf (tubuh tidak selesai), berbau dedemit atau visualisasi ririwa.

Pandangan saya ini akan dianggap musyrik di kalangan Islam salafi, atau dianggap klenik oleh golongan rasionalis. Namun saya merasakan ada getar dan aura memancar dalam lukisan Nasirun, seperti pancaran biosfer dari tubuh manusia, atau pancaran gelombang elektromagnetik dalam benda tertentu, semisal batu magnet yang bisa menyerap logam atau mirah delima yang menolak pergerakan logam.

Batu magnet menyerap logam, sangat banyak masyarakat yang tahu dan tidak menganggap itu musyrik atau klenik, tapi sedikit masyarakat yang yakin bawa batu ruby atau mirah delima itu, bisa menolak pergerakan logam, seperti dalam film Si Pitung Jagoan Betawi, tidak mempan ditembak peluru tembaga, namun bisa tembus bisa ditembak dengan peluru logam mulia macam emas atau platina.

Bahwa setiap benda memancarkan suatu gelombang, entah elekromagnetik, radio aktif, biosfer, atau papapu, yang bisa disebut khodam atau karomah, sebenarnya bisa dijelaskan secara ilmiah, tapi peralatan laboratorium di Indonesia mungkin hingga saat ini, belum ada yang dapat melacaknya. Karena itu, baru mirah delima bisa menolak logam, atau lukisan Nasirun memancarkan aura, akan dianggap itu klenik. Tapi ketika kertas dipotong-potong kecil, kemudian penggaris plastik digosok-gosokkan ke rambut atau lengan, lalu penggaris itu didekatkan ke potongan kertas yang kecil-kecil, maka kertas itu akan beterbangan dan berdiri menjangkau penggaris. Praktik ini sudah diberitahukan sejak sekolah dasar oleh guru, tapi sang guru tidak dapat menjelaskannya secara ilmiah. Sekarang, bila bertaya ke AI, kenapa itu bisa terjadi, Sang AI bisa menjelaskannya secara rinci. Tapi pake AI yang berbayar ya, jangan yang gratisan.

Dunia digital mencatat Nasirun. Ia peraih Sketsa dan Seni Lukis Terbaik ISI Yogyakarta, McDonald’s Award pada Lustrum ISI Yogyakarta ke-10, dan Philip Morris Award 1997. Pada 2015 ia diundang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam program Belajar Bersama Maestro karena ia adalah salah satu maestro seni lukis Indonesia. Puncaknya, dalam pameran tunggal kolosal “RUN: Embracing Diversity” di Sportorium UMY 2016, ia memperoleh tiga penghargaan dari Museum Rekor Dunia-Indonesia, dinobatkan sebagai pelukis dengan media mobil terbanyak, media pagupon yang disusun berbentuk miniatur Candi Borobudur terbanyak, dan lukisan pada meja kayu utuh terbanyak.

Dan di balik produktivitasnya sebagai pencipta, Nasirun adalah penjaga. Ia memiliki kurang lebih 300 karya old master Indonesia yang telah dikoleksinya sejak tahun 1997. Ia mendirikan Museum Para Sahabat di sebelah rumahnya, yang dulu hanya gudang, dan merawat ingatan para pejuang kebudayaan. Inilah warisan Nasirun untuk belantika seni rupa Indonesia. Mahal harganya.

Ia pernah memberi hadiah untuk pernikahanku, di luar dugaan, berupa lukisan. Aku kebingungan dengan lukisan tersebut, ukurannya besar, dan rumahku tidak tahan menampung gelegak aura misteri dari lukisan tersebut, kemudian akhirnya berpindah tangan ke kolektor Koko Sondari di Bandung.

Dalam pertemuan saya malam itu, Nasirun banyak mengutip pendapat Prof. Dr. Damardjati Supadjar, pakar filsafat Jawa, guru besar Universitas Gadjah Mada (UGM).

Kau seorang kyai Kang Mas, murid Damardjati, yang berdakwah lewat rupa dan bentuk. Kang Mas memang tidak jadi kyai seperti cita-cita kecilmu, tapi kau jadi kyai yang melukis doa-doa.

Selamat jalan, Kyai.

*Doddi Ahmad Fauji, Jurnalis Lepas, tinggal di Bandung.