Isyana dan Gambar Garuda Pancasila
Oleh: Agus Dermawan T.*
Sejak 2019 ada agenda tahunan “Juni: Bulan Bung Karno”. Disebut “Bulan Bung Karno”, karena pada bulan Juni Bung Karno lahir (6 Juni 1901), Bung Karno wafat (21 Juni 1970), dan Bung Karno mengumumkan nama Pancasila (1 Juni 1945). Sehingga 1 Juni disebut sebagai Hari Lahir Pancasila. Untuk memvisualisasi Pancasila, diciptakan lambang Garuda Pancasila.
————
DALAM bulan Juni 2026, yang menggemari sepak bola pasti mendengarkan suara Isyana Sarasvati menyanyikan Garuda di Dadaku. Lagu dari grup Netral yang disadur dari nyanyian rakyat Papua, Apuse Kokondao. Lagu tersebut digubah dalam versi baru untuk soundtrack film animasi Garuda di Dadaku yang rilis pada 11 Juni, persis pada hari Piala Dunia dimulai.
Lagu melodius, stilistik dan bersemangat itu, selain untuk memberi semangat Tim Nasional sepakbola Indonesia yang gagal masuk dalam Piala Dunia, juga untuk merefleksikan rasa nasionalisme yang (semoga) tak pernah kikis.
Di tengah euforia sepakbola boleh jadi kita membayangkan bahwa garuda itu sebagai satwa saja. Sambil tidak mengingat, bahwa dalam konteks Indonesia garuda selalu dihubungkan dengan Pancasila, ruh utama bangsa Indonesia. Kekawatiran atas lupa inilah yang pernah dirasakan oleh pengacara publik David Tobing pada tahun 2020 silam. Ia mengatakan bahwa sakralitas Garuda yang berbenak Pancasila tak seharusnya dieber-eber di jersey sepakbola. Pengeber-eber dianggap lupa bahwa di dalam Garuda itu ada Pancasilanya. David pun melayangkan gugatan ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Isyana Sarasvati dengan animasi Garuda imut, untuk film animasi “Garuda di Dadaku”. (Foto: Base Entertainment)
Bro David sah untuk kawatir. Namun lepas dari kekawatiran itu, kita bisa menggunakan momentum bergemanya Garuda di Dadaku sebagai pengingat kembali hal ihwal yang berkait dengan Pancasila. Satu fundamental-foundation of state, sebuah Lebens-anschauung bangsa yang telah dipakai 81 tahun lamanya. Dan pengingatan itu kontekstual bila masuk dari wilayah seni rupa.
Mata garuda menatap korupsi
Dalam perupaan, nilai-nilai luhur Pancasila itu diformulasi dalam lambang-lambang visual. Setiap sila lalu terpresentasi dalam gambar. Dan semoga tidak seperti mengulang penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila), penjabaran gambar lambang itu boleh diingat.
Sila “Ketuhanan yang Maha Esa” digambarkan dalam simbol bintang dalam latar hitam, sebagai citra dari nur (cahaya) di tengah ruang yang tidak terbatas.
Sila “Kemanusiaan yang adil dan beradab” digambarkan dalam simbol rantai dengan cincin rantai berbentuk segi empat (lambang pria) dan cincin rantai berbentuk lingkaran (lambang wanita). Dua cincin yang saling berkait ini dimaknai sebagai kesetaraan kemanusiaan bagi siapa saja, tidak perduli beda gendernya, sukunya, bahasanya, agamanya.
Sila “Persatuan Indonesia” digambarkan dalam simbol pohon beringin (ficus benyamina). Pohon berdaun lebat tempat berlindung, dengan akar gantung yang menjalar ke bawah. Ribuan juntai akar gantung itu dimaknai sebagai keragaman suku dan budaya yang terus tumbuh di gembur tanah Indonesia.
Sila “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan” digambarkan dalam simbol kepala banteng. Ilmu kehewanan menulis bahwa banteng (bos javanicus) adalah satwa yang selalu berkumpul. Dan selalu berjalan rame-rame searah setelah tujuannya ditentukan secara rukun dan musyawarah.

Lambang Garuda Pancasila. (Foto: Agus Dermawan T.)

Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) yang dipanggil sebagai garuda. (Foto: Dokumen.)
Sila “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” disimbolkan dalam gambar padi dan kapas. Padi dimaknai sebagai kecukupan pangan (makan yang enak, sehat dan bergizi, meski tidak harus gratis). Kapas dimaknai sebagai ketersediaan sandang dan papan (pakaian, kasur, tempat tinggal).
Gambar-gambar itu dimaktubkan dalam perisai. Semua masih ingat, perisai itu dilambangkan sebagai “penjaga jiwa”, sehingga tersemat di dada burung garuda. Jadilah lambang Garuda Pancasila.
Gambar perlambang ini sejak awal memang menarik, karena Garuda Pancasila jeli menangkap Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) sebagai figurnya. Satwa terbang yang gagah, anggun, dengan bulu leher yang indah. Mampu terbang tinggi dan melayang tenang di langit. Untuk kemudian meluncur ke bawah dengan menyiapkan paruhnya yang kuat serta kuku jari yang runcing. Matanya bulat, jernih dan tajam menggedor, seperti tiada henti mengawasi gerak-gerik para koruptor.
Sebagai perlambang, Garuda Pancasila memikat dalam aspek irama perupaan dan komposisinya. Bentuknya nyaris simetris, dengan sayap yang dicitrakan mengepak halus dengan gerakan ke atas. Gerakan yang “ingin terbang” ini diikuti oleh banner Bhinneka Tunggal Ika yang melengkung seperenam lingkaran. Sehingga secara keseluruhan lambang ini dituntun oleh pola membulat, yang mencitrakan kesempurnaan. Garuda Pancasila akhirnya tampil estetik.
Sebagai lambang negara, Garuda Pancasila termasuk salah satu yang terbagus di dunia. Tak hanya dalam wujud, tapi juga makna, yang diimbuh kode numerologinya. Seperti jumlah bulu sayap yang 17, bulu ekor yang 8, bulu tubuh yang 45, sehingga jadi 17 – 8 (Agustus) – 1945. Utak-utik-utuk, tapi gathuk!
Kebagusan itu menstimulasi Armani Exchange (A/X) – perusahaan mode kelas dunia milik Giorgio Armani – untuk merilis T-shirt berlambang Garuda Pancasila. Meski lambang Pancasila dalam perisai sedikit dirubah: kepala banteng diganti huruf A (Armani), dan pohon beringin diganti huruf X (Exchange). Tak terlalu banyak yang tahu, T-shirt yang sesungguhnya artistik dan eksklusif itu dilarang dijual di Indonesia.
Heiiit!…bukan cuma perusahaan raksasa internasional prestisius yang berminat kepada Garuda Pancasila. Gerombolan busuk pun ingin memakai gambar itu sebagai bagian dari usahanya. Kelompok sindikat narkoba di Afganistan menggunakan gambar lambang Garuda Pancasila sebagai stempel bungkus paket heroin.
Usaha yang melecehkan ini terbongkar pada tengah Februari 2010 silam, dan membuat Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Pol Gories Mere melakukan penyelidikan serius. Dikabarkan narkoba cap Garuda Pancasila itu diproduksi oleh gerilyawan Taliban yang beroperasi di Afganistan Selatan. Dalam kelompok Taliban ini diketahui ada orang-orang Indonesia yang dulunya bergabung dengan kelompok Mujahidin, ketika Afganistan perang melawan Rusia.
Kuasa Bung Karno
Garuda Pancasila memang menarik. Tapi siapa yang memilih burung garuda sebagai lambang negara? Ada yang mengatakan Muhammad Yamin dan Sultan Hamid II. Kala itu Muhammad Yamin menjadi Ketua Panitia Lencana Negara dan Sultan Hamid II sebagai Menteri Negara dalam Kabinet Indonesia Serikat.

Lukisan I Gusti Nyoman Lempad, “Garuda Menaklukkan Gajah”. (Foto: Agus Dermawan T.)

Kaki burung dengan satu jari di depan, dalam lambang Garuda Pancasila versi lama. (Foto : Agus Dermawan T.)

Kaki burung dengan tiga jari di depan, dalam lambang Garuda Pancasila versi sekarang. (Foto: Agus Dermawan T.)
Namun versi lain mengatakan bahwa Bung Karno adalah orang yang paling menentukan. Bung Karno memiliki banyak referensi, betapa garuda sejak dahulu kala telah dipakai oleh raja-raja besar. Raja Erlangga misalnya, menggunakan lambang Garudamukha sebagai meterai kerajaan. Dalam buku tentang lambang-lambang kerajaan yang terbit tahun 1483, tercantum gambar seorang raja Jawa naik di atas punggung burung. Pada kurun lain terdokumentasi ihwal seorang raja Sumatera yang mengendarai rajawali. Semua burung besar itu disimpulkan sebagai burung garuda. Bung Karno memang suka sekali dengan sosok dan mitos burung garuda. Ia sangat mengagumi lukisan Basoeki Abdullah yang menggambarkan Jatayu mencegat Rahwana ketika menculik Dewi Sinta. Ia sangat menyukai lukisan Garuda Menaklukkan Gajah karya I Gusti Nyoman Lempad, walau sampai akhir hayatnya tidak ia dapat.
Keyakinan bahwa garuda sebagai burung perkasa semakin kuat ketika Bung Karno membaca sajak Noto Suroto. “Ik ben Garuda, Vishnoe’s voegel, die zijn vleugels uitslaat hoog boven uw einladen” – “Aku Garuda, burung kendaraan Wisnu, membentang sayapnya di ketinggian kepulauan.” Maka pada 28 Desember 1949 Bung Karno menamai pesawat Douglas DC-3 Dakota PK-DPD (sumbangan pengusaha dan rakyat Aceh untuk pemerintah Indonesia-Jakarta): Garuda Indonesia Airways!
Karena itu Bung Karno punya wewenang banyak atas kesempurnaan estetika lambang Garuda Pancasila. Sehingga ia dengan enteng menginstruksi Dullah, pelukis Istana Presiden, untuk mengubah posisi jari pada lambang Garuda Pancasila yang sudah jadi. Dari yang semula satu jarinya terposisi di depan, dirubah menjadi terposisi di belakang. Jari-jari itu erat mencengkeram helai banner pita baja Bhinneka Tunggal Ika.
Di “Juni: Bulan Bung Karno”, di musim Piala Dunia, si jelita Isyana Sarasvati menyanyi “Garuda di Dadaku”. Kita layak terpesona, atau bahkan terpaku, sambil semakin memahami Pancasila. ***
Agus Dermawan T. Penulis buku-buku kebudayaan dan seni.




