Tubuh Buruh Pemetik Teh dan Sejarah yang Ditanam
Oleh : Selvi Agnesia
Pertunjukan tari Akar Emas Hijau, mengangkat sejarah teh dalam konteks kolonialisme yang beririsan dengan sistem kapitalisme. Disampaikan lewat gestur tubuh-tubuh keseharian buruh pemetik teh yang didisiplinkan.
Pencarian “Ketubuhan dan akar diri” adalah dua pondasi utama yang digunakan Ela Mutiara, koreografer asal Sukabumi-Jawa Barat sebagai landasan berkarya. Setelah sejak 2020, ia mengeksplorasi makna gerak “pinggul” dalam tari kerakyatan Sunda dari sisi performatif, seksualitas dan simbol kesuburan pada pertunjukan tari Bajidoran lewat karya “PING” di Indonesia Dance Festival (2024) dan Studio Plesungan On Stage (2025). Koreografer dan akademisi lulusan Pascasarjana Penciptaan Seni Tari di, ISI Yogyakarta ini melanjutkan perjalanan berkesenian dengan menelusuri akar dirinya pada pertunjukan Akar Emas Hijau.
Ela menceritakan kenangannya, rumah tempat ia tumbuh dekat dengan perkebunan teh. Juga neneknya termasuk salah satu pegawai di perkebunan teh tersebut. Pada masa Sekolah Menengah Pertama (SMP), setiap pagi saat berangkat ke sekolah, tubuhnya melewati perkebunan teh, mendengar suara mesin pabrik, melihat truk pengangkut teh, dan mengamati buruh pemetik teh bekerja.

Foto: Inashifa Gardani Salsabila
“Jadi, saya ini besar di Sukabumi, Jawa Barat, kebetulan rumah saya dekat dengan perkebunan teh yang masuk generasi pertama. Saya menarik ke belakang dan melihat dari sejak kapan saya punya pengalaman untuk (sumber inspirasi) berkesenian” ungkap Ela yang selalu tertarik mengangkat tema akar tanah kelahirannya di Jawa Barat sebagai literasi sedarah yang ia hayati.
Namun, pengalaman masa lalunya secara “auto-etnografi” saja dirasa tidak cukup sebagai koreografer. Ia membutuhkan bagasi pengetahuan dan jarak yang lain sebagai periset. Bersama penari dan tim pada Maret 2026, mereka melakukan riset ke pabrik dan pusat penelitan teh dan kina Gambung Malabar dan perkebunan teh Pangalengan- Bandung, Jawa Barat. Di Malabar, perkebunan bersejarah ini dikelola Karel Albert Rudolf Boscha. Juragan teh, seorang konglomerat pada masanya dan pendiri observatorium Booscha memilih dimakamkan di antara perkebunan teh.
“Saya datang ke perkebunan, di mana perempuan dan anak-anak usia 10 tahun bekerja sebagai pemetik teh, sementara laki-laki itu bekerja di proses pengangkutan dan pengolahan. Sampai hari ini sistem kerja buruh itu turun menurun” jelasnya. Ela lanjut menyebut nama Pak Dadang yang menjadi narasumber, bahwa pekerjaan sebagai buruh teh seperti warisan turun menurun.
Gestur Keseharian Tubuh Buruh Pemetik Teh
Pertunjukan Akar Emas Hijau pentas outdoor di halaman belakang SaRanG Building 1, Kalipakis, Bantul-Yogyakarta pada 30 Mei 2026. Sebagai karya yang terus berjalan, sebelumnya, Akar Emas Hijau sudah pernah dipentaskan pada event Asia Tri, bedog Art Festival, Yogyakarta pada Oktober 2025 dan Babad Lembana-Madura, 17 Desember 2025 sebagai bagian dari Manajemen Talenta Nasional (MTN).
Sebenarnya, apa yang ingin disampaikan dari pertunjukan ini? Pertunjukan tari ini secara koreografi cukup sederhana tapi secara esensi membawa beban bagasi sejarah kolonialisme yang berat. Dari soal kelas antara penjajah dan pribumi. Sumber daya alam yang dirampas dan tubuh-tubuh yang didisiplinkan. Namun, tafsir dari beban sejarah dalam pertunjukan ini disajikan dalam bantuk stilisasi gerak yang sederhana.

Foto: Inashifa Gardani Salsabila
Dari awal pertunjukan, kita disuguhkan bentuk tari stilisasi dari gerak dan gestur yang meminjam keseharian buruh pemetik teh. Ke-empat penari adalah Dwi Nusa Aji Winarno, Putri Lestari, Irta Hayyin dan Randy Bin Umar. Salah satu penari berkata, selama dua bulan, mereka kebanyakan berlatih memetik ujung tumbuhan di tanaman sekitar kampus ISI-Yogyakarta.
“Ternyata, cara memetik daun itu tidak mudah, kalau terlalu bertenaga bisa batangnya ikut tercerabut” ungkap Randy.
Melalui pertunjukan ini, penonton serupa digiring untuk membayangkan secara imajinatif melihat keempat penari berperan sebagai buruh di hamparan perkebunan teh, Melihat mereka bekerja dengan gestur memetik teh, memilah teh, memanggul beban teh, berjalan, berlari, beristirahat, saling memijat ketika pegal. Sekilas saat menonton, timbul pertanyaan, apakah penari-penari ini mengerti atau menjiwai tubuh-tubuh buruh tanpa menjadi buruh sesungguhnya?
Stilisasi gerak yang ditampilkan menjadikan tangan terlihat menjadi gerak yang menonjol sebagai tumpuan pemetik teh dan tubuh bawah dengan gerakan menunduk seperti mewakili posisi mereka sebagai kelas bawah. Di balik kesederhanaan tarian, saya merasakan nafas dan kelah keringat buruh dari para penari menjadi cukup terasa dari bangku penonton.
Sisi lain yang menarik dalah pertunjukan tari ini berlangsung tanpa musik. Tantangan tersendiri bagi penarinya dengan “pertunjukan tari tapi tidak seperti menari” khususnya bagi penari yang terbiasa menari tari kreasi. Sebagai pengganti musik, rekaman suara mandor yang terdengar memerintah dalam Bahasa Belanda terdengat sayup-sayup menjadi latar sekaligus “gangguan” dari pertunjukan ini. Menurut Ela, rekaman mandor yang sedang mengawasi pekerjaan buruh pemetik teh ini diambil dari salah satu film dokumenter pada masa tanam paksa. Isinya adalah perintah untuk tidak malas. Meskipun terdengar sayup atau hawar-hawar—istilah Bahasa Sunda untuk sesuatu yang terdengar jauh— suara rekaman mandor dapat menjadi penanda kuat untuk konteks zaman sejarah.
Selanjutnya, kesederhanaan gerak dari pertunjukan tari ini berubah menjadi lebih performatif saat hadirnya sosok mandor sesungguhnya yang diperankan seorang penari. Dia terlihat menghardik, mengintimidasi, melakukan adegan kekerasan. Disebabkan mandor, gerak yang awalnya dibangun dari awal sebagai koreografi sederhana ini, berganti menjadi sepenuhnya gerak yang bercerita. Sebenarnya, apakah mandor ini diperlukan untuk membangkitkan emosi penonton, atau merubah tari menjadi bentuk yang lebih teatrikal?

Foto: Inashifa Gardani Salsabila
Selanjutnya, menjelang akhir pertunjukan, lagu Rayuan Pulau Kelapa versi bahasa Belanda berjudul Indonesia, ik hou van jou dinyanyikan Anneke Gronloh mengiringi gerak pantomim robot. Itulah ujung dari tarian akar emas hjau. Menyiratkan, buruh-buruh tani serupa “boneka marionette” yang dikendalikan oleh tangan-tangan tak terlihat yang menindas.
Pada pertunjukan ini, saya memberikan catatan bahwa bukan sekedar teknik tapi tafsir perlu diterjemahkan dengan matang tidak hanya oleh koreografer tapi khususnya penari. Bila sebagai stilisasi gerak dan gestur keseharian itu terlihat menarik, tapi apakah cuma itu yang ingin ditawarkan, apakah akan ada lagi di karya selanjutnya?
Tubuh yang diam dan Sejarah yang ditanam
Segala hal yang pernah kita konsumsi, sebenarnya memiliki sejarah yang panjang. Melalui “teh” yang kita minum saat bersantai, Selain persoalan buruh, Ela ingin mengangkat soal sejarah kolonialisme yang juga melibatkan pembukaan lahan deforestasi dengan mengubah hutan dan sawah menjadi hamparan perkebunan teh. Inilah pesan awal yang nampaknya ingin disampaikan melalui “gerak yang bercerita” pada akar emas hijau.
Untuk mendapatkan bayangan jelas dari tarian ini, saya mencoba menelusuri arsip lain melalui video dokumenter “Perkebunan Teh Malabar 1937” yang memperlihatkan deforestasi dan buruh-buruh pemetik perempuan yang setiap harinya bekerja memetik teh dengan tangan yang cekatan dan penuh kesabaran dari pagi hingga sore, waktu yang panjang dibayar dengan antrian menunggu pembayaran upah sembari berjongkok dan membungkuk.

Foto: Inashifa Gardani Salsabila
Ela menjelaskan bahwa teh di Indonesia banyak tapi mengapa teh kualitas utama dari tahun 1844 hingga hari ini, grade nomor 1 tidak pernah dikonsumsi di Indonesia tapi selalu diekspor ke luar?
“Teh kita masuk kelas tiga, jadi di pabrik dan ternyata tidak banyak yang berubah jadi pabrik-pabrik itu dari masa Belanda itu hingga sekarang yang tersisa tinggal dua buah pabrik itu, yang di Malabar dan Pangalengan dengan mesin-mesin yang dioperasikan dari zaman dahulu” ungkapnya.
Bila Ela melihat dari kacamata pribumi —yang dijajah—pada masa itu, saya penasaran dengan bagaimana kacamata juragan atau penjajah memandang perkebunan teh? Dalam novel “Sang Juragan Teh” karya Hella S. Haasse, (2015) berupa roman yang didasarkan pada surat dan dokumen arsip perkebunan teh dan keluarga besar Hindia. Kisah juragan teh bernama Rudolf Kerkhoven yang menjadi pemilik perkebunan teh di Arjasari, Bandung menyampaikan cerita bahwa di balik perkebunan teh terdapat budaya kolonial yang bertumpu pada sikap diam penduduk setempat, keangkuhan kolonialisme, dan kerja keras keduanya—pribumi maupun penjajah —sikap menjadikan teh dan alam sebagai komoditi yang harus diperjuangkan untuk menghasilkan teh dengan harga tinggi di pelelangan negeri Belanda.
Melalui sejarah kolonialisme yang ditanam dan buruh pemetik teh yang menggantungkan hidupnya hingga saat ini, pertunjukan ini membuat saya mengerti, bahwa inilah alasannya, mengapa teh disebut dengan akar emas hijau.
—
*Selvi Agnesia Penulis Seni Budaya tinggal di Yogyakarta. Buku terbarunya “Berkesenian di Tengah Segala Cuaca” (2026)





