In Memoriam: Pelukis Titis 

Oleh Agus Dermawan T.*

Pelukis yang menekuni media pastel sepanjang karir, sangatlah jarang di Indonesia. Salah satu yang terbaik, Titis Jabaruddin, baru saja meninggal dunia.

————-

TITIS Jabaruddin, pelukis perempuan Indonesia kelahiran di desa Duari, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, 2 Januari 1943, baru saja wafat. Dengan bahagia ia meninggalkan dunia fana pada Jum’at malam, 10 April 2026 di Condet, Jakarta Timur, kediamannya sejak berpuluh tahun silam. 

Dikatakan “dengan bahagia”, lantaran ia telah lengkap menunaikan tugas hidupnya. 

Pertama: sebagai perempuan yang sejak belia bercita-cita jadi pelukis, Titis telah sampai ke tujuannya. Titis memang tak pernah berhenti meladeni passion-nya sebagai seorang seniwati. Apalagi ketika dibandingkan dengan realitas betapa umumnya karir pelukis perempuan berhenti di tengah jalan karena berbagai faktor. Seperti kesibukan sebagai ibu, atau terbatasi oleh sikap patrilinial suami yang suka melarang isteri kerja di luar urusan rumah tangga, pupur dan dapur. Perjuangan Titis memang telah sampai pada kulminasinya, yang ditandai dengan kenyataan bahwa sampai usia 80 tahun (pada 2023) ia terus giat mencipta. 

Kedua: sebagai isteri setia dari Djabaruddin Djohan (wafat pada 2023), ahli perkoperasian alumni Uni Soviet, pendiri Asian Women Cooperative Federation (AWCF) di Manila,1994. Cendekiawan yang banyak menulis artikel di Kompas, Tempo dan sebagainya. Penulis banyak buku, semisal Koperasi Lawan Tanding Kapitalisme yang (mungkin saja) menjadi salah satu referensi Koperasi Merah Putih, gagasan Presiden Prabowo. 

Titis Jabaruddin (1943 – 2026). Pelukis pastel yang piawai. (Foto: Agus Dermawan T.)

Lukisan pastel Titis Jabaruddin, dengan medium Rembrandt soft pastel di atas kertas Canson, “Bung Karno di Jabbal Nur”, 2016. (Foto: Agus Dermawan T.)

Titis dan Djabaruddin berbahagia. Kebahagiaan hidup ini lalu mereka rekam dalam kitab  berjudul panjang: Setengah Abad Bersama Menapaki Jalan Kehidupan: Kisah Perjalanan 50 Tahun Perkawinan Djabaruddin Djohan-Titiek Sunarti, 30 Juli 1966 – 30 Juli Juli 2016.

Jitu membidik

Titis bernama asli Titiek Sunarti. Ihwal mengapa ia menyingkat namanya menjadi Titis, ternyata ada “filosofi”nya. 

“Titis itu dalam bahasa Jawa artinya jitu membidik sehingga tepat sararan. Hidup saya ingin seperti itu. Titis!” katanya. 

Titis berupaya melaksanakan niat-nama tersebut. Itu sebabnya sejak muda ia membidik nasib baiknya sebagai pelukis. Tentu berbagai cobaan menghadang, tetapi ia tetap fokus kepada target. Artinya, dalam kelana kehidupan yang ke sini dan ke sana, sasaran tetap di”titis”kan kepada dunia lukisan. 

“Saya mengurusi rumah dan acap mendampingi suami yang bertugas di banyak tempat. Saya berupaya membesarkan anak dan menyekolahkan anak, ke mana mereka mau. Tapi mata dan hati saya tetap titis ke seni lukis, karena memang itu yang saya tuju,” ujarnya.

Menarik diketahui, anak-anak Titis menempuh pendidikan tinggi di mana-mana. Anaknya yang pertama Ario Wirawan, kuliah di Australia dan kini menjadi petinggi perusahaan swasta. Anak keduanya, Esti Lestarini, kuliah seni rupa di Academie de la Grande Chaumiere dan Academie de Port Royal, Paris. Anaknya yang ketiga, Elan Satriawan kuliah di Canberra, dan mengambil S3 di Michigan, Amerika Serikat. Elan juga tercatat sebagai tokoh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dosen Universitas gajah Mada serta Staf Ahli Menteri Keuangan Republik Indonesia.

Ketika mendampingi atau mengunjungi para anaknya berkuliah, Titis tetap tidak meninggalkan dunia seni lukisnya. Ketika berada di Amerika ia membaca di internet tentang adanya kesempatan untuk ikut pameran besar “Abstract Art”. Ia mengajukan proposal dan contoh-contoh karya. Eh, diterima! Ia pun jadi peserta pameran prestisius itu di MOCA (Museum of Contemporary Art) Gallery, Washington. 

Ketika mengunjungi Paris ia mencari celah untuk berpameran di Prancis. Sampai akhirnya ia berkesempatan menggelar karyanya di satu galeri di kota Marseilles, Prancis Selatan. 

“Beruntung, lukisan-lukisan saya mendapat perhatian. Sampai saya dihadiahi pinjaman mobil plus sopirnya oleh Pak Zubir Amin, Konsul Jenderal RI. Dengan mobil itu saya dibawa berwisata seni ke Monaco, negeri kecil di Laut Tengah. Maka sekujur Monaco pun saya lukis,” kisahnya.

Begitu juga ketika ia menemani pelukis A.S.Kurnia, pelukis muda yang memenangi Young Artist Competition yang diadakan oleh Centre Cultural Francais (CCF) dan Institut Teknologi Bandung, tahun 1997. Sambil menemani kunjungan beberapa minggu ke Paris itu Titis mencari ruang untuk menggelar pameran. Ketika di Australia Titis juga mencari peluang untuk berpameran di sana. 

Pergaulan internasional itu membuat Titis punya banyak jalan untuk berpameran di mana-mana. Ia pun, bersama teman-temannya, menggelar karya di Asia Tengggara sampai Jepang. Dan tentu di banyak kota di Indonesia. Titis pun punya komunitas. Sehingga ia lantas menginisiasi lahirnya Beranda Seni Indigo tak juauh dari kawasan Kemang, Jakarta Selatan.

Lukisan Titis Jabaruddin dengan medium Rembrandt soft pastel di atas kertas Canson, “Duh Palestina!”, 2008.

Pameran Titis Jabaruddin (dan Mamik Putut Agung) yang dibuka oleh Wakil Presiden Adam Malik, 1980.

“Galeri kecil, namun memiliki semangat besar untuk mengenalkan dan memajukan seni rupa Indonesia yang ada di pinggir-pinggir lingkaran elit,“ kata Remy Sylado, budayawan cum sastrawan yang pernah membuka pameran di situ. Kemampuan Titis dalam berbahasa Inggris dan Prancis berhasil mengundang para ekspatriat datang ke galeri yang sederhana itu.

Menarik dicatat, sejak 1965 sampai 2020, alumni Sanggarbambu ini telah mengikuti lebih dari 70 pameran bersama. Sementara pameran tunggal ia lakukan sembilan kali, sejak tahun 1984. 

Pantang semu 

Esse quam videri” kata ungkapan Latin 2000 tahun lalu. Artinya, “lebih baik menjadi sesuatu (apa pun itu), daripada semu”. Makna dari ungkapan itu sungguh jelas: jangan jadikan dirimu sekadar samar-samar dalam penglihatan orang. Tetapi munculkan dirimu seterang gunung di siang bolong. Dengan begitu dirimu akan diperhatikan dan diperhitungkan dalam peri kehidupan.

Cara Titis agar dirimya tidak semu adalah mencari titik eksistensial yang lowong dalam dunia lukisan. Dan itu ia temukan dalam seni lukis pastel. 

“Seni lukis medium pastel, atau crayon, jarang dikerjakan seniman secara serius. Medium ini sering hanya dijadikan persinggahan saja, atau sekadar untuk studi. Bagi saya, ini peluang,” katanya.

Pastel memang medium yang paling sering digunakan oleh Titis sepanjang karirnya. Bahkan berkat medium ini lukisan-lukisan Titis dikenali kekhasannya. Sampai akhirnya ia mendapat predikat “spesialis pastel utama”, yang jumlahnya sangat sedikit di Indonesia. Sejarah pun lantas mendudukkan Titis setara dengan Raka Suwasta, S.Sorentoro. Dan duduk berhadapan dengan sejumlah pelukis kampiun yang kadang kala mengeksploitasi pastel, seperti Lee Man Fong, Barli Sasmitawinata, dan  sedikit yang lain. 

Dengan medium soft pastel (pastel kapur) Titis acapkali memunculkan lukisan bersuasana romantik dan sendu. Serta mengekspresikan perasaan lembut, tenang dan teduh, sehingga hadir sebagai oase di tengah suasana (Indonesia) yang tak henti riuh. Temanya selalu menyampaikan guman dan nyanyian lirih. 

Lalu muncullah sejumlah komentar yang mengagulkan, yang bunyinya demikian.

Titis Jabaruddin (kedua dari kiri), beberapa saat setelah acara pembukaan pameran “Abstract Art” di MOCA Gallery, Washington. Paling depan adalah David R Quammen, Direktur MOCA Gallery. (Foto: Dokumen)

Buku tentang Titis Jabaruddin, 2019. (Foto: Agus Dermawan T).

“Pastel Titis tentu berbeda dengan pastel Edgar Degas atau Affandi. Dua master yang memberangkatkan karyanya dari pandangan ekstrover. Sementara lukisan pastel Titis mengungkap rasa simpati kepada para modelnya dengan pendekatan introver,” tulis kritikus Kusnadi.

“Lukisan Titis mengarah ke simbolik, di mana bentuk dan warna membawa imaji kita menembus ke dalan kabut misteri sebuah keindahan. Wajah-wajah dengan tatapan mata yang dalam, memberikan ekspresi yang seolah menjangkau sesuatu nan jauh, luas dan tak terhingga,” tulis Joel Dechezlepretre, Direktur Pusat Kebudayaan Prancis.

“Titis Jabaruddin merupakan salah satu dari sangat sedikit perupa wanita yang menggeluti pastel secara intens dan konsisten. Gubahannya sangat menyenangkan perasaan, menenteramkan pikiran,” kata Tubagus ‘Andre’ Sukmana, Kepala Galeri Nasional Indonesia, kala membuka pameran tunggal “Garis Liris Titis: Pameran Retrospektif 50 Tahun Berkarya Titis Jabaruddin”, 2016.

“Dalam peta perkembangan seni rupa Indonesia Titis dikenal sebagai pelukis dengan media pastel yang sangat piawai, dengan mengangkat tema alam, perempuan dan figur-figur. Titis adalah pelukis perempuan pilihan,” tulis kurator Citra Smara Dewi dalam satu katalog. 

“Mengikuti Titis sebagai pelukis selama hampir 50 tahun, yang paling mengesankan saya adalah semangatnya yang bagaikan api nan tak kunjung padam. Sementara pastel adalah medium seni lukis yang dipeluk terus bagai anak kandung saja. Titis itu hebat luar dalam. Ia mendidik anak-anaknya, ia mendidik dirinya sendiri, dan ia selalu mendorong saya.” Ini tentu komentar suaminya, Djabaruddin Djohan, sebelas tahun silam.

Keseriusan, kegigihan dan ketekunan Titis dalam berkarya akhirnya membawa dirinya ke posisi yang harus dicatat sejarah. Ia menjadi bagian penting dari deretan nama perupa Indonesia yang secara berantai mengisi jagad kreativitas seni rupa perempuan Nusantara. Dari Tridjoto Abdullah, Emiria Soenassa, Kartika Affandi, Erna Pirous, Sri Yunnah, Farida Srihadi, Umi Dachlan, Lucia Hartini, Tintin, Lanny P.Andriani, Marida Nasution,Wara Anindyah, Erica, Hening Purnawati, Sri Astari, Yani Maryani Sastranegara, Dolorosa Sinaga, Ay Tjoe Christine, Bunga Jeruk, Sekar Jatiningrum, Tita Rubi, Ayu Arista Murti, Neneng Sia Ferrier, Octora, dan seterusnya dan seterusnya dan seterusnya. 

Akhirnya, selamat jalan Mbak Titis. ***

*Agus Dermawan T., Kritikus. Penulis buku-buku budaya dan seni.