Dari Akal ke Kanvas: Cerita dibalik Fantasi Lully Tutus dalam Karyanya
Oleh Arramadhan Abad Akbar Muhammad*
Setiap peristiwa seni, terutama pameran, selalu menyisakan momen yang ingin dikenang, baik oleh seniman maupun oleh publik yang hadir. Dalam konteks ini, pembukaan Visual Art Solo Exhibition bertajuk “My Exhibition is Very Serious” oleh Lully Tutus di Grand Hotel by Ambarrukmo menjadi salah satu contoh bagaimana sebuah peristiwa seni dikonstruksi bukan sekadar sebagai seremoni, tetapi sebagai pengalaman estetis yang utuh. Pameran ini tidak hanya menghadirkan karya sebagai objek visual, melainkan juga sebagai peristiwa sosial yang melibatkan berbagai lapisan pengalaman—dari kesan pertama saat memasuki ruang, hingga refleksi yang tertinggal setelah meninggalkannya. Dalam kerangka ini, pembukaan pameran menjadi pintu masuk yang penting untuk memahami keseluruhan narasi yang ingin dibangun oleh seniman.

Figure 1. Foto bersama (kiri ke kanan) Mikke Susanto, Aris Retnowati, M. Baiquni, Lully Tutus, Heti palestina Yunani. (dokumentasi Dicti Art Laboratory)
Acara pembukaan yang diresmikan oleh M. Baiquni berlangsung meriah dan menunjukkan bahwa praktik pembukaan pameran telah mengalami transformasi signifikan. Jika dahulu seremoni cenderung formal dan sederhana hanya sebatas sambutan dan dokumentasi, kini ia berkembang menjadi ruang performatif yang lebih cair dan komunikatif. Perubahan ini tidak lepas dari kebutuhan untuk menciptakan pengalaman yang lebih berkesan di tengah budaya visual yang semakin kompetitif. Elemen seperti aksi simbolik, interaksi visual, hingga pertunjukan seni menjadi bagian integral dalam membangun kesan awal yang kuat bagi audiens. Dengan demikian, pembukaan tidak lagi dipahami sebagai formalitas, melainkan sebagai bagian dari strategi artistik untuk mengaktifkan keterlibatan publik sejak awal.

Figure 2. Performans Jujuk Prabawa yang mengajak Lully untuk ikut menari ketika pembukaan pameran (2/4). (dokumentasi Dicti Art Laboratory)
Dalam pembukaan pameran ini, kehadiran Jujuk Prabawa melalui Performance Dance Theater Energy mempertegas dimensi performatif tersebut. Gerak tubuh yang ekspresif, ritme yang dinamis, serta interaksi langsung dengan ruang dan penonton menciptakan atmosfer yang imersif, seolah-olah mengajak audiens masuk ke dalam dunia visual Lully. Tubuh penari menjadi medium yang menjembatani pengalaman visual ke dalam pengalaman kinestetik, menghadirkan sensasi yang tidak bisa dicapai oleh karya statis semata. Puncaknya, keterlibatan Lully dalam tarian penutup bukan hanya menjadi gestur simbolik, tetapi juga menegaskan relasi antara tubuh, gerak, dan praktik visual yang ia bangun dalam karya-karyanya. Momen ini memperlihatkan bahwa batas antara pencipta dan karya dapat menjadi cair, di mana seniman turut hadir secara langsung dalam pengalaman yang ia tawarkan.

Figure 3. Potret Lully Tutus sang seniman Fantasi (dokumentasi Dicti Art Laboratory)
Koordinasi Dan Persiapan Yang Matang
Di balik kemeriahan tersebut, terdapat fondasi kerja yang terstruktur. Pameran ini menunjukkan adanya perencanaan konseptual yang jelas serta koordinasi yang solid antara seniman, kurator, penulis, dan tim penyelenggara. Tidak ada kesan serampangan; setiap elemen dirancang dengan pertimbangan matang, mulai dari pemilihan karya, alur ruang, hingga strategi komunikasi kepada publik. Hal ini memperlihatkan bahwa sebuah pameran yang kuat tidak lahir secara spontan, melainkan melalui proses panjang yang melibatkan diskusi, negosiasi, dan pengambilan keputusan yang berlapis.
Narasi kuratorial, tata letak karya, hingga detail presentasi visual memperlihatkan bahwa pameran ini merupakan hasil dari proses yang terukur. Dalam konteks ini, kurasi bukan sekadar seleksi karya, melainkan strategi pembacaan. Pertanyaan dan ide tentang bagaimana karya ditempatkan, dihubungkan, dan disampaikan kepada publik menjadi kunci dalam membangun pengalaman yang koheren. Setiap karya tidak berdiri sendiri, tetapi saling berelasi dalam satu jaringan makna yang lebih luas. Di sinilah letak pembeda antara pameran yang dirancang secara serius dengan yang sekadar hadir tanpa konsepsi yang kuat, yakni pada kemampuannya membangun narasi yang utuh dan dapat diikuti oleh audiens.
Perebutan Wacana Seni Dalam Pameran
Pembacaan terhadap karya-karya Lully Tutus tidak berhenti pada permukaan visual. Sekilas, publik mungkin menangkap nuansa yang ringan, penuh warna, imajinatif, dan dekat dengan dunia anak-anak. Namun, melalui kerangka kuratorial, lapisan makna tersebut mengalami perluasan sehingga membuka kemungkinan tafsir yang lebih dalam dan kompleks. Di titik ini, karya Lully tidak lagi sekadar menyenangkan secara visual, tetapi juga mengandung dimensi reflektif yang mengajak audiens untuk berpikir lebih jauh.
Di sinilah peran Mikke Susanto sebagai kurator menjadi signifikan. Dalam teks kuratorial maupun sambutannya, ia menawarkan cara membaca yang tidak berhenti pada estetika permukaan, melainkan menelusuri bagaimana fantasi bekerja sebagai bahasa visual. Sementara itu, Heti Palestina Yunani dalam tulisannya menegaskan bahwa fantasi dalam karya Lully muncul secara organik dan berkembang menjadi identitas visual yang khas. Perspektif ini memperkaya pembacaan dengan menunjukkan bahwa imajinasi bukanlah sesuatu yang artifisial, melainkan bagian dari pengalaman hidup yang terinternalisasi.
Karyanya tidak lagi berdiri sebagai objek visual semata, melainkan sebagai medium pertukaran gagasan. Ada proses negosiasi makna antara seniman dan audiens, yang dimediasi oleh teks kuratorial dan konteks pameran. Dalam hal ini, kurator berperan sebagai penghubung yang membuka kemungkinan tafsir yang lebih kompleks, sekaligus mengarahkan tanpa membatasi. Dengan demikian, pameran menjadi ruang diskursif di mana berbagai perspektif dapat bertemu dan saling berinteraksi.
Mengapresiasi karya seni, menuntut lebih dari sekadar penilaian estetika atau teknik. Karya dan kuratorial mengajak kita untuk mempertanyakan: mengapa simbol tertentu muncul? Apa relasi antara bentuk visual dengan pengalaman personal atau sosial seniman? Pertanyaan-pertanyaan ini memperluas horizon pemaknaan dan menjadikan karya sebagai ruang dialog yang hidup. Dalam proses ini, audiens tidak lagi menjadi penonton pasif, melainkan partisipan aktif dalam produksi makna.
Di sisi lain, muncul pula pertanyaan mengenai batasan praktik artistik itu sendiri: apakah seorang seniman harus terikat pada medium atau gaya tertentu? Dalam lanskap seni kontemporer, batas-batas tersebut semakin cair. Seniman memiliki kebebasan untuk melintasi medium, menggabungkan pendekatan, dan membangun bahasa visual yang hibrid. Tantangan utamanya justru terletak pada proses menemukan identitas artistik yang otentik, bukan sekadar mengikuti arus, tetapi membangun posisi yang khas dan dapat dipertanggungjawabkan secara konseptual maupun praksis.

Figure 4. Lukisan My World karya Lully Tutus di lobi hotel (dokumentasi Dicti Art Laboratory)
Inklusifitas Ruang Pamer
Ruang pamer memainkan peran krusial dalam membentuk pengalaman estetis. Karya tidak pernah hadir dalam ruang hampa; ia selalu berelasi dengan konteks spasialnya, baik secara visual maupun sosial. Dalam pameran ini, pilihan hotel sebagai lokasi menghadirkan pendekatan yang menarik sekaligus strategis, karena membuka kemungkinan interaksi yang berbeda dibandingkan dengan ruang seni konvensional.
Berbeda dengan galeri konvensional, hotel menawarkan audiens yang lebih beragam serta interaksi yang lebih kasual. Karena yang datang ke hotel bukan saja mereka yang ingin melihat karya, melainkan juga tamu yang sedang beraktivitas, maka pertemuan antara karya dan publik terjadi secara lebih spontan. Penempatan karya di area seperti lobi dan ruang makan memungkinkan pengalaman yang lebih cair, di mana seni hadir tanpa jarak yang terlalu formal. Salah satu karya, My World (2025), yang ditempatkan di area resepsionis, menjadi titik perhatian yang langsung menyapa pengunjung sejak awal kedatangan, sekaligus membentuk impresi pertama terhadap keseluruhan pameran.
Pilihan ini tidak hanya memperluas jangkauan audiens, tetapi juga mengubah cara karya diakses. Seni tidak lagi eksklusif bagi kalangan tertentu, melainkan hadir dalam keseharian yang menemani aktivitas, membangun suasana, dan memperkaya pengalaman ruang. Dengan tingkat hunian hotel yang tinggi, potensi keterpaparan karya pun menjadi semakin luas, sehingga memperbesar peluang terjadinya interaksi dan apresiasi dari berbagai latar belakang pengunjung.

Figure 5. Suasana pembukaan pameran, karya Lully yang terpajang di ruang makan atau restoran Gramm hotel. (dokumen Dicti Art laboratory)
Membangun Relasi dan Lingkungan Seni yang Positif
Di luar aspek artistik dan kuratorial, pameran ini juga menegaskan pentingnya relasi dalam ekosistem seni. Praktik seni tidak berdiri sendiri; ia tumbuh melalui jejaring, kolaborasi, dan dukungan antar individu yang saling terhubung dalam satu medan sosial yang dinamis. Relasi ini menjadi fondasi yang memungkinkan sebuah praktik kreatif berkembang secara berkelanjutan.
Relasi yang terbangun bukan hanya soal kedekatan personal, tetapi juga tentang pertukaran energi kreatif. Proses jatuh-bangun, eksperimen, dan pencarian bentuk merupakan bagian tak terpisahkan dari perjalanan seorang seniman. Keberhasilan yang terlihat hari ini sering kali merupakan akumulasi dari proses panjang yang tidak selalu tampak di permukaan. Oleh karena itu, setiap pertemuan, diskusi, dan kolaborasi memiliki nilai penting dalam membentuk arah perkembangan seorang seniman.
Lebih jauh, lingkungan yang suportif menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan praktik seni. Di tengah perkembangan teknologi dan kehadiran berbagai perangkat digital, interaksi manusia tetap memiliki peran yang tidak tergantikan. Manusia mungkin tidak selalu menawarkan solusi instan, tetapi ia menghadirkan empati, resonansi, dan dorongan yang memperkuat proses kreatif. Energi inilah yang sering kali menjadi penggerak utama dalam menghadapi tantangan dan mempertahankan konsistensi berkarya.
Sebagai penutup, apresiasi layak diberikan kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan pameran ini. Namun, seperti praktik seni pada umumnya, evaluasi tetap menjadi bagian penting untuk pengembangan ke depan. Setiap pameran selalu membuka ruang pembelajaran baru, baik dari sisi konseptual, teknis, maupun manajerial.
Pada akhirnya, fantasi dalam karya-karya Lully Tutus bukanlah pelarian dari realitas, melainkan cara lain untuk memaknainya. Di dalamnya, tersimpan lapisan-lapisan refleksi yang secara halus memberi energi bagi kehidupan sehari-hari, sekaligus mengingatkan bahwa imajinasi memiliki peran penting dalam membentuk cara kita memahami dunia.
—-
*Arramadhan Abad Akbar Muhammad, peneliti seni budaya.




