Komunitas Tamil dalam Kemajemukan Masyarakat di Sumatra Utara
Oleh Zulkifli B. Lubis*
Seminar Nasional Kebudayaan Etnis India Tamil di Sumatera Utara, PUSSIS-UNIMED, Medan, 28 Mei 2009
Pengantar
Komunitas India Tamil telah hadir dan menjadi bagian signifikan dalam perkembangan kebudayaan Nusantara sejak beberapa abad silam, terutama di sebagian masyarakat Pulau Sumatera. Interaksi panjang mereka dengan komunitas lokal telah membuka beragam kemungkinan kajian—dari aspek historis, sosiologis, hingga antropologis.
Penulis mengakui bahwa pemahamannya tentang komunitas Tamil dan kebudayaannya masih terbatas. Tulisan ini sebagian besar mengacu pada makalah tentang adaptasi dan jaringan sosial komunitas Tamil dan Punjabi di Medan yang pernah disampaikan dalam sebuah konferensi di Pulau Penang pada 2003.
Penduduk Imigran dalam Kemajemukan Masyarakat Sumatera Utara
Dikotomi “penduduk asli” dan “pendatang” sering menyederhanakan realitas sejarah yang jauh lebih kompleks. Dari perspektif peradaban, kategori yang lebih tepat barangkali adalah “pendatang awal” dan “pendatang kemudian”—sebab sejarah manusia selalu diwarnai perpindahan masif dari satu tempat ke tempat lain, baik secara alamiah maupun karena tekanan.
Kota Medan adalah salah satu cermin kemajemukan budaya hasil migrasi tersebut. Sebagai ibu kota Provinsi Sumatera Utara, Medan tumbuh pesat sejak pertengahan abad ke-19 sebagai kota berpenduduk majemuk—dari kalangan pribumi maupun imigran Asia seperti Cina, India, dan Arab. Pertumbuhan ini tak lepas dari industri perkebunan yang dirintis Jacobus Nienhys sejak 1863 di Tanah Deli, yang kemudian menarik arus besar buruh dari Cina, India, dan Jawa.
Fenomena kota Medan sebagai kota migran pernah dikaji oleh antropolog Edward Bruner, yang antara lain mencatat bahwa Medan tidak memiliki satu kebudayaan dominan sebagai acuan adaptasi—berbeda dengan kota Bandung yang didominasi kebudayaan Sunda. Ketiadaan dominasi budaya tunggal ini justru memberi ruang ekspresi yang lebih bebas bagi kelompok-kelompok etnik yang ada.
Kajian tentang orang Minangkabau dan Mandailing di Medan dilakukan oleh Usman Pelly (1994), sementara kajian mengenai migran asing—Cina, India, dan Arab—masih sangat terbatas. Khusus mengenai komunitas India, A. Mani (1980) pernah memberikan gambaran umum dalam karya bersama Indian Communities in Southeast Asia.
Kedatangan Orang India di Sumatera Utara
Pengaruh kebudayaan India dalam kehidupan bangsa Indonesia sudah menjadi pengetahuan umum. Temuan arkeologis dari abad ke-7 hingga ke-14 Masehi di Sumatera dan Jawa memperlihatkan kesinambungan kehadiran peradaban India di kepulauan Nusantara.
Untuk konteks Sumatera Utara, bukti tertulis tertua adalah sebuah prasasti bertarikh 1010 Saka (1088 M) tentang perkumpulan pedagang Tamil di Barus, ditemukan pada 1873 di situs Lobu Tua. Prof. K.A. Nilakanta Sastri (1932) menyatakan bahwa prasasti ini menjadi bukti jelas bahwa aktivitas perdagangan Tamil telah menyebar hingga Sumatera, dan sebagian dari mereka menetap secara permanen atau semi-permanen di pulau ini.
“…sekumpulan orang Tamil telah tinggal di Sumatera secara permanen atau semi permanen, dan termasuk di antaranya tukang-tukang yang mahir mengukir prasasti di atas batu.” — K.A. Nilakanta Sastri (1932)
Brahma Putro (1979) dalam Karo dari Jaman ke Jaman mencatat bahwa orang-orang Tamil yang terdesak dari Barus oleh pedagang Arab kemudian terasimilasi dengan suku Karo di Dataran Tinggi Tanah Karo. Mereka inilah yang menjadi cikal bakal marga Sembiring, Sinulingga, Pandia, dan klen-klen serupa—yang secara fisik menunjukkan kemiripan dengan orang Tamil.
Di wilayah Sumatera lain, jejak Tamil juga ditemukan di Suruaso (Sumatera Barat) dan Nanggroe Aceh Darussalam. Hasan Muarif Ambari (2008) mencatat bahwa etnis Tamil di Aceh telah menyatu sepenuhnya dengan masyarakat Aceh—hanya penampilan fisik yang masih menunjukkan asal-usul Tamil mereka, sementara bahasa dan adat-istiadat sudah sepenuhnya Aceh.
Gelombang kedatangan besar-besaran orang India ke Sumatera Utara baru terjadi sejak pertengahan abad ke-19 seiring dibukanya industri perkebunan di Tanah Deli. Menurut T. Lukman Sinar (2001), pada 1874 sudah terdapat 459 kuli Tamil, yang terus bertambah menjadi 2.460 orang pada 1890 dan 3.270 orang pada 1900.
Selain kuli kontrak, datang pula migran India mandiri yang berdagang: orang-orang Tamil Muslim, Bombay, Punjabi, Chettiars (pemberi pinjaman uang), Vellalars, Mudaliars, Sikh, hingga orang-orang dari Uttar Pradesh. Namun masyarakat Indonesia umumnya menyederhanakan keragaman ini dengan sebutan “orang Keling” atau “orang Benggali” saja.
Karakteristik Sosial Budaya Komunitas Tamil Pemukiman
Pada masa kolonial, orang-orang Tamil bermukim di sekitar lokasi perkebunan di Sumatera Timur. Pasca-kemerdekaan, mereka menyebar ke berbagai kota—terbanyak di Medan, kemudian Binjai, Lubuk Pakam, dan Tebing Tinggi.
Pemukiman tertua mereka di Medan adalah Kampung Madras (Jl. Zainul Arifin/dulu Jalan Calcutta), yang lazim disebut Kampung Keling. Di kawasan yang terletak di tepi Sungai Babura ini berdiri Kuil Hindu Shri Mariamman (dibangun 1884) dan sejumlah masjid Tamil Muslim (sejak 1887). Kini, pemukiman komunitas Tamil sudah menyebar ke seluruh penjuru Medan dan sekitarnya.
Tabel 1. Konsentrasi Pemukiman Orang Tamil di Medan dan Sekitarnya


Sumber: Data lapangan dan berbagai sumber sekunder.
Menurut laporan Napitupulu (1992), dari sekitar 30.000 jiwa Tamil di Medan dan sekitarnya, sekitar 66% menganut Hindu, 28% Buddha, 4,5% Katolik/Kristen, dan 1,5% Islam.
Mata Pencaharian
Di masa kolonial, pekerjaan orang Tamil identik dengan kerja kasar: kuli perkebunan, pembuat jalan, dan penarik kereta lembu. Hal ini berkaitan dengan latar belakang mereka yang datang dari golongan berpendidikan rendah. Generasi penerus mereka kini banyak yang bekerja sebagai karyawan swasta, buruh, dan sopir—serta mengusahakan jasa angkutan barang dan pemborongan jalan, dua bidang yang keahlian mereka diakui luas.
Migran Tamil mandiri umumnya berprofesi sebagai pedagang: tekstil, rempah-rempah, dan makanan (termasuk martabak keling yang khas). Para pedagang ini mayoritas adalah Tamil Muslim. Di era modern, sejumlah keturunan Tamil juga telah berhasil menjadi pengusaha level daerah hingga nasional, seperti keluarga Marimutu Sinivasan.
Organisasi Sosial dan Keagamaan
Tidak ada satu organisasi pun yang mampu menghimpun seluruh warga Tamil dalam satu wadah. Ikatan mereka lebih ditentukan oleh kesamaan agama. Penganut Hindu terhimpun dalam Perhimpunan Shri Mariamman Kuil yang berpusat di Kampung Madras (dibangun 1884) dan berfungsi sebagai “payung” bagi kuil-kuil lain di kota Medan.
Kaum Buddha Tamil terhimpun dalam Adi-Dravida Sabah dan organisasi kepemudaan Muda-mudi Buddha Tamil, dengan sejumlah vihara seperti Vihara Bodhi Gaya dan Vihara Lokasanti (Kampung Anggrung), serta Vihara Ashoka (Polonia). Secara kelembagaan, mereka bergabung dalam Walubi (Perwalian Umat Buddha Indonesia).
Tamil Katolik memiliki gereja yang dibangun pada 1912 dan 1935. Pastor James Bharataputra, yang bertugas di Medan sejak 1972, mendirikan Lembaga Sosial dan Pendidikan Karya Dharma untuk komunitas Tamil miskin, yang kini dikelola Yayasan Don Bosco menjadi SD St. Thomas 56. Ia juga membangun Graha Bunda Maria Annai Velangkanni di Tanjung Selamat.
Tamil Muslim sejak 1887 memiliki South Indian Moslem Foundation and Welfare Committee. Sultan Deli menghibahkan dua bidang tanah untuk masjid dan pemakaman Tamil Muslim. Dua masjid didirikan: satu di Jl. Kejaksaan Kebun Bunga dan satu di Jl. Zainul Arifin. Tanah wakaf di kawasan Masjid Ghaudiyah dimanfaatkan untuk ruko yang hasilnya digunakan demi kemakmuran masjid dan kaum Muslim Tamil yang membutuhkan.
Pada 1960-an, sempat berdiri sejumlah organisasi kebudayaan dan pendidikan Tamil seperti The Deli Hindu Sabah, Adi-Dravida Hindu Sabah, dan The Indian Boy Scout Movement. Tokoh karismatik yang menggerakkan kemajuan komunitas Tamil pada masa itu adalah D. Kumaraswamy. Kini, hampir semua organisasi tersebut sudah tidak aktif.
Orientasi Sosial Budaya
Menjadi bagian dari bangsa Indonesia adalah pilihan yang secara sadar dan teguh dijalankan warga Tamil di Sumatera Utara. Banyak di antara generasi tua Tamil yang turut berjuang dalam kemerdekaan Indonesia, dan tidak sedikit yang berstatus pegawai negeri.
Namun, sebuah keprihatinan kini muncul: identitas budaya Tamil semakin terkikis. Mayoritas generasi muda tidak lagi mampu berbahasa Tamil. Bahkan pelaksanaan peribadatan di kuil-kuil Hindu pun sudah tidak sepenuhnya dapat menggunakan mantra berbahasa Tamil atau Sanskerta. Upacara penyucian kuil Shri Mariamman di Kampung Durian pada Juli 2003, misalnya, harus dipimpin oleh pendeta yang khusus didatangkan dari Malaysia.
Orientasi politik warga Tamil di masa lampau terpusat pada Golkar, namun di era reformasi multipartai mereka tidak lagi terpolarisasi ke satu partai tertentu. Kaum muda Tamil banyak bergabung dalam organisasi kepemudaan seperti Pemuda Pancasila, yang makin mendekatkan mereka pada arus budaya komunitas pribumi.
Penutup
Perjalanan sejarah komunitas Tamil di Sumatera—dari Karo, Aceh, Sumatera Barat, hingga Mandailing Natal—menunjukkan satu pola yang konsisten: orientasi mereka bergerak menuju asimilasi dengan penduduk setempat. Mereka melebur menjadi bagian integral dari etnik dan budaya tempatan, hingga identitas Tamil mereka nyaris hanya tersisa pada penampilan fisik.
Gejala serupa tampak pada komunitas Tamil di Medan. Fragmentasi berdasarkan agama justru membuat mereka lebih terbuka terhadap perubahan dan lebih mudah beradaptasi. Komunitas Tamil Muslim bahkan sudah sepenuhnya mengidentifikasi diri sebagai bagian dari komunitas Muslim yang lebih luas, dengan solidaritas agama yang melampaui solidaritas etnik.
Dalam era demokratisasi dan globalisasi, terbuka dua pilihan bagi komunitas Tamil Sumatera Utara: mengikuti arus sejarah dengan melebur ke dalam kebudayaan dominan, atau menghidupkan kembali kesadaran identitas Tamil sebagai entitas budaya yang khas dan berharga. Dengan semangat multikulturalisme—yang menjunjung kesetaraan, penghargaan, dan pengakuan atas hak-hak kultural semua kelompok—pilihan untuk menguatkan kembali ke-Tamil-an bukanlah sesuatu yang tabu.
Prinsip multikulturalisme mengajak kita memandang keanekaragaman suku dan budaya sebagai mozaik indah yang membangun ke-Indonesiaan—dan di situlah hakikat Bhinneka Tunggal Ika menemukan maknanya yang paling sejati.
*Zulkifli B. Lubis, Ketua Departemen Antropologi, FISIP USU.
——
Daftar Pustaka
Brahmaputro. (1979). Karo dari Jaman ke Jaman. Tanpa penerbit.
BWS. (2001). Kampung Madras, Sebuah Potret Komunitas India di Medan. Naskah buku.
Gmelch, G. & Zerner, W.P. (1980). Urban Life: Readings in Urban Anthropology. State University of New York.
Mani, A. (1980). Indians in North Sumatera. Dalam K.S. Sandhu & A. Mani (Eds.), Indian Communities in Southeast Asia. Times Academic Press.
Napitupulu, B.M. (1992). Eksistensi Masyarakat Tamil di Kota Medan: Suatu Tinjauan Historis. Skripsi Sarjana Sejarah, FS USU.
Pelly, U. (1994). Urbanisasi dan Adaptasi: Peranan Misi Budaya Minangkabau dan Mandailing. LP3ES: Jakarta.
Sandhu, K.S. & Mani, A. (Eds.). (1981). Indian Communities in Southeast Asia. Times Academic Press.
Sinar, T.L. (2002). Sejarah Medan Tempo Doeloe (Cetakan kedelapan). Tanpa penerbit.
Subbarayalu, Y. (2003). Prasasti Perkumpulan Pedagang Tamil di Barus: Suatu Peninjauan Kembali. Dalam C. Guillot (Ed.), Lobu Tua Sejarah Awal Barus. Yayasan Obor Indonesia dan Pusat Penelitian Arkeologi & Association Archipel.





