Sajak-sajak Seno Joko Suyono

Sajak Ramadhan

 

Sajak Ramadhan 1

Aku menjenguk museummu di malam Lailatul Qadr
Tak ada kurator yang menyambutku di pintu masuk
Katalog peganganku adalah perasaan apa adanya
Hatiku sumarah bakal menyaksikan
keganjilan-keganjilan dipamerkan di 10 malam terakhir

Aku menyukai museummu yang tanpa sertifikat
Museummu menolak aturan undang-undang
Menampik standardisasi, dan tak perduli pendanaan tetap
Museummu lebih bahagia tanpa kompetensi
Berani menyimpangkan rencana induk arkeolog sekolahan

Teguran-teguran lisan dan tertulis sering kau dapatkan
Kau tak perduli museummu diperingkatkan D atau E
Tak ada koleksimu yang kau konservasi
Biarlah berlumut, biarlah berkarat,
Biarlah retak atau berbau busuk sesuai keinginan alam

Kau tahu arca-arcamu kerap hilang dicuri arwah leluhur
Kau yakin nanti kembali sendiri dengan energi makin welas asih
Topeng-topeng kau izinkan malam menggurat wajahnya sendiri
Hingga alisnya tercukur tinggal tipis. Bagimu mereka
Tengah meremajakan diri agar tambah wangi

Kau melihat artefak perunggumu tempat malaikat bercermin
Kanvas-kanvas maestro Cina berubah warna tiap turun hujan ,justru indah
Sketsa orang skizo adalah dunia ambang
Trisula dan aksamala memiliki kehidupan sendiri setelah tak dipegang Siwa

Kau ikhlaskan aksara-aksara prasasti makin aus
Sebab kau tak ingin muncul epigraf-epigraf pongah
Yang seolah tahu semua hal di masa lalu

Kau relakan manuskrip-manuskrip robek dimakan rayap
AC kau matikan, menambah lontar-lontar berjamur
Kata-kata kuno esensinya adalah rahasia tak terbaca, bagimu
Bukan dianalisa dan ditafsir-tafsirkan filolog

Justru Lailatul Qadar memilih turun di tempat seperti itu, kukira
Begitu masuk, lantai museummu dingin.
Aku ingin tidur seperti merasakan karpet masjid yang baru dicuci

 

Sajak Ramadhan 2

Tiap tidur sesudah saur
Aku selalu melihat diriku duduk di bangku depan balaikota
Memandang orang yang sepertiku baru keluar dari stasiun bawah tanah
Kami telah lama tinggal di bunker-bunker
Alhamdulilah, wajah kami tak bertambah tua

Kami telah lama bersembunyi
Di kedalaman tanah. Rel-rel kereta listrik menjadi petunjuk
Bahwa kami masih terhubung dengan pos pos rahasia
Eskalator ke atas dibuat makin tinggi
Lebih tinggi dari luweng-luweng Gunung Kidul tempat dilemparkannya
Tubuh-tubuh keluarga yang ditangkap dan perutnya dihujam golok saat 1965

Di bawah tak ada kegiatan militer apapun
Kami melarang senjata apapun dipasang
Kami menolak CCTV yang merekam semua kejadian di permukaan
Kami mematikan Wa, Facebook, Instagram dan tak perduli update berita
Tempat tinggal kami murni tempat perlindungan
Ada café-café kecil yang menyediakan mie, nasi merah dan kopi
Tempat tidurku minggu lalu adalah gerbong-gerbong KRL rusak

Dari bangku di depan gedung walikota, kuhirup udara segar
Aku melihat pesawat-pesawat asing
Terbang rendah melintasi pertengahan Ramadhan
Kota ini telah menyiapkan terowongan-terowongan
Bom apapun tak akan bisa menyentuh kehidupan di bawah
Ledakan rudal tak akan membakar atau memacetkan lift

Makin Saur beberapa menit menjelang imsak
Membuat stasiun-stasiun pengamanan yang kumimpikan berlipat ganda sekejap
Dan kami dipersiapkan menjadi ashabul kahfi
Penghuni goa yang akan melihat realitas secara lain

Entah 309 tahun kemudian siapa yang muncul keluar ke atas
Turunan anak cucu kami atau makhluk lain
Dan siapa yang akan memandang mereka yang bisa selamat berdiri di aspal
Seperti diriku kini, yang mencuri-curi waktu
Memandang orang-orang yang keluar dari lift. Tanpa satupun yang kukenal

 

Sajak Ramadahan 3

Restauran tempat kita berbuka menyediakan musik blues
Dan kau memilih menu yang sesuai ratapan harmonika
Kita mulanya menghirup teh tawar hangat, namun tak jadi
Memesan iga bakar bergajih atau kepala tuna

Harmonika seperti suara orang mengigau
Mengucapkan kalimat-kalimat tak bermakna
Tapi merobek hati, memalu-malukan wajah
Kita butuh kuah-kuah panas untuk menghangatkan kekhawatiran
Kita butuh kaldu-kaldu kental untuk memegang meja, agar tak goyang

Kata Hadist Qudsi, puasa ibadah yang paling tak bisa dipamerkan
Dan suara harmonika seolah mematikan keinginan ri’ya
Cara musisi itu meniup harmonika selalu satu nada di atas kunci lagu
Membuat kita tiba-tiba merasa berdosa dengan berbuka harga mahal

Entah dia orang mana, lagu di G, suara harmonikanya di C
Memberi nuansa blues yang kotor, asusila namun jujur
Ia mampu menarik dan tiba-tiba menekankan nafas
Sehingga suara harmonika seperti manula yang merintih
Lantaran tak bisa lagi bersenggama

Membuat malam itu, kita akhirnya memilih berbuka
Mengisap sebatang rokok saja dan menenggak segelas bir hitam

*Seno Joko Suyono, Penulis, tinggal di Bekasi.