Melani Setiawan dari Selipan Buku # 1: Ibunda Perupa Indonesia
Oleh: Agus Dermawan T.*
Tahun 2026 terbit tiga jilid buku monumental berjudul Indonesia Art World: dr. Melani Setiawan’s Archive. Buku mewah yang berisi lebih dari 4.000 foto kenangan Melani bersama para perupa Indonesia sejak tahun 1977 sampai 2022. Foto yang terpajang bersama teks itu merupakan seleksi dari sekitar 100.000 foto yang ia rekam. Aktivitas Melani dalam komunitas tak terperikan istimewanya. Sehingga ia pun layak dijuluki “Ibunda Perupa Indonesia”. Siapakah dia? Berikut secara tipis-tipis saya tulis riwayatnya.
———-
PADA tengah malam Melani W. Setiawan menerima telpon dari seorang sahabatnya. Dari seberang telponnya berbicara seorang ibu muda yang dikenal sebagai pelukis sangat prospektif. Ibu itu mengeluhkan anaknya yang tidak kunjung gemuk tubuhnya. Dikatakan bahwa anaknya cenderung sulit makan, sehingga tubuhnya lemah, dan penyakit gampang sekali datang.
Melani, sambil mengunyah sepotong apel, memberi penjelasan dan sejumlah saran. Dikatakannya bahwa makanan untuk anak memang memerlukan gizi yang seimbang. Ia menjelaskan bahwa secara garis besar bahan makanan untuk anak, bahkan untuk siapa saja, dibagi dalam tiga kelompok utama. Yakni bahan makanan sebagai zat tenaga, seperti beras, jagung, kentang, yang semuanya menyimpan kandungan karbohidrat.
Lalu bahan makanan sebagai zat pembangun, yang didapat dari makanan yang mengandung protein hewani seperti ikan, telur, daging, serta makanan yang mengandung protein nabati seperti kacang-kacangan.
Kemudian bahan-bahan makanan sebagai zat pengatur, yang diperoleh dari makanan yang mengandung vitamin dan mineral, yang banyak terdapat pada sayur-sayuran dan buah-buahan.
Ibu muda tersebut terpana. Sebagai ibu yang setiap harinya bekerja di depan kanvas, ia merasa tidak banyak tahu mengenai pengaturan keseimbangan gizi bagi anaknya. Yang ia fahami selama ini adalah keseimbangan komposisi bentuk dalam sebidang gambar, keseimbangan warna dalam setiap sisinya, serta keseimbangan unsur visual dan makna lukisan dalam sebuah penciptaan.

Dr. Melani W. Setiawan, M.Sc. “Ibunda Perupa Indonesia” (Sumber: Dokumen).

Tiga jilid buku “Indonesia Art World: dr. Melani Setiawan’s Archive”. Lebih dari 1.200 halaman, dengan lebih 4.000 foto rekaman Melani bersama sekitar 1.500 perupa di Indonesia, dari 1977 sampai 2022. Diimbuh artikel Jim Supangkat, Hendro Wiyanto, Christine Cocca, Melani Setiawan dan Agus Dermawan T. (Sumber: Dokumen).
“Soal keseimbangan gizi, jauh dari pikiran saya. Untung ada dokter Melani,” katanya pada beberapa bulan kemudian, seraya memeluk balitanya yang mulai berseri dan gemuk.
Lebih dari semuanya ibu muda tersebut merasa memperoleh masukan untuk mengurus balitanya. Si ibu merasa sangat berterimakasih ketika ia mendapat bekal moral bahwa seorang ibu selalu berkewajiban atas dua hal terhadap anaknya. Yakni memelihara dan mendidik. Memelihara adalah pekerjaan yang bersifat fisik, yang muaranya adalah menyehatkan anaknya, dengan cara memberi makan yang cukup, memberi asupan yang benar. Mendidik adalah pekerjaan yang menegakkan jiwa anak lewat ajaran-ajaran budi, serta menajamkan pikiran lewat transfer pengetahuan.
Melani tentu menguasai ihwal dunia balita itu, karena ia pernah menjadi pengajar di bidang pendidikan klinis Bagian Anak di Rumah sakit Sumber Waras/Universitas Tarumanagara selama bertahun-tahun pada menjelang 1980. Sebelumnya ia bertugas di bagian Patologi Klinik dan di Bagian Pediatri.
Pada malam lain seorang lelaki setengah baya menelpon kepadanya sambil mengeluhkan kondisi lambungnya yang selalu terganggu. Lelaki pimpinan sebuah perkumpulan kesenian itu mengeluh bahwa ia sering sakit pinggang. Dikatakannya bahwa ia sudah ke dokter ahli urologi karena merasa dirinya terkena radang ginjal. Tapi sang dokter ginjal mengatakan bahwa di air kencing pasien terdapat beberapa sel gelap melanoma. Dengan begitu, si dokter angkat tangan. Lelaki yang sangat gemar makan barbeque daging semacam sirloin steak itu dengan gelisah bertanya, apa langkah lanjut dalam memelihara kesehatannya.
Melani menyarankan agar lelaki tersebut segera melakukan pemeriksaan ultrasonografi atau USG. Datanglah ke rumah sakit ini atau itu. Apabila merasa darurat, lelaki tersebut diminta untuk datang ke rumah sakit tempatnya bekerja, dan ia akan dengan senang hati memeriksanya.
Melani bisa memberi solusi pertama berkenaan dengan penyakit yang diderita pelukis tersebut, karena ia adalah dokter ahli USG yang bekerja di beberapa rumah sakit. Kemurahan hatinya tak cuma ditunjukkan lewat saran-saran yang diberikan dalam setiap waktu. Tetapi juga kadang dalam bentuk keringanan biaya bagi teman-temannya yang merasa kurang mampu.
*
Melani, yang di kartu namanya tertulis Dr. Melani W. Setiawan M.Sc. adalah pencinta seni kelahiran Garut, 26 Juni 1945. Huruf W di tengah namanya adalah nama Ayahnya, Witarsa, atau Endang Witarsa, seorang dokter gigi yang bernama asli Liem Soen Yoe.
Masyarakat pencinta sepakbola tentu tahu bahwa Endang Witarsa (1916-2008) adalah pelatih sepakbola Indonesia legendaris dari Union Makes Strenght, klub sepakbola Jakarta yang didirikan tahun 1905. Juga sebagai pelatih PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) yang mengharumkan nama Indonesia dalam berbagai ajang internasional tahun 1968 sampai 1972. Seperti kompetisi Aga Khan-Pakistan, King’s Cup – Muangthai, Merdeka Games – Malaysia, Pesta Sukan-Singapura, President Cup- Korea Selatan.

Buku “Drg. Endang Witarsa (Liem Soen Yoe): Dokter Bola Indonesia”. Ayahanda Melani yang terkenal sebagai pelatih sepakbola Indonesia. (Sumber: Agus Dermawan T).
Itu sebabnya Sang Ayah ini lantas dianugerahi Lifetime Achievement Award dari Tabloid Bola 2006, ANTV Award 2006, Bintang Emas Djie Sam Soe 2008 dan dua penghargaan dari MURI (Museum Rekor Indonesia) 2007. Endang Witarsa, yang wafat pada 2 April 2008 masih melatih di lapangan Petak Sinkian, Jakarta, sampai dua minggu menjelang akhir hayatnya pada usia 91 tahun 6 bulan.
Dalam rangka memperingati ulang tahunnya yang ke-90, saya diminta oleh Melani untuk menulis puisi tentangnya, dan dibacakan kala perayaan ulang tahunnya. Tentu saya bangga. Apalagi, ayah saya, Goentoro, yang di masa mudanya pernah jadi kiper dalam kesebelasan bentukan pelukis Sudjojono, juga mengenal nama Liem Soen Yoe sejak tahun 1960-an. Sehingga nama Endang sudah lama bergetar di telinga saya.
(Mengerjakan order ini termasuk sulit, karena inilah kedua kalinya saya “dipaksa” mencipta puisi olah raga. Sebelumnya, tahun 1988, saya diminta majalah Gadis bikin puisi cinta Susi Susanti dan Alan Budikusuma, sembilan tahun sebelum pebulutangkis emas Olimpiade ini menikah.)
Pada 2010, dua tahun setelah Liem Soen Yoe wafat, penerbit Suara Harapan Bangsa membuat buku memoriam berjudul Drg.Endang Witarsa: Dokter Bola Indonesia, yang disusun H.Isyanto. Untuk meramaikan isi, Melani memasukkan puisi saya itu ke dalam buku. Puisi tersebut begini bunyinya:
Gol ke Sembilan Puluh
: Balada Liem Soen Yoe alias Endang Witarsa,
pelatih sepak bola tertua di dunia, yang pada 2007
persis 90 tahun umurnya.
———-
Bola tinggi yang datang dari kanan-tengah,
dikop Liem hingga meluncur bak anak panah,
menaklukkan kiper yang sedetik oleng,
dan tak mampu menangkap bola muntah.
Gooolll !!!
Liem bersukacita berlari ke gawang sendiri,
lalu memeluk bek-kiri yang sedari tadi menanti,
dari jauh Soen menyambut dengan kepalan ke udara,
penyerang Yoe melompat-lompat gembira,
seperti Del Piero bersorak atas bola Owen Hargreaves.
Bagi Liem bola tak hanya ada di langit,
tapi juga di ujung kaki dan di sisi tumit,
dari kakinya sang bola merayap ke lubuk hati,
menjadi kehidupan yang siap dibawa mati.
“Tapi aku bukan Chris Ong atau Tan Liong Houw,
bukan juga Ramang atau Rony Pattinasarani,
aku adalah pelatih dan pemicu motivasi,
para pemetik bola yang mimpi jadi juara.
Sungguh,
aku lebih dulu dari Alex Ferguson dan Ivan Kolev”
Langit emas jadi langit perak,
lalu jadi langit tembaga,
hari berganti 3.285.000 kali banyaknya.
Bola kini tak cuma bergulir di lapangan hijau,
lantaran arena luas sudah terbangun di lubuk jiwanya,
bola pun bergulir dalam alam real dan mimpi-mimpinya.
Bola adalah keindahan bulatan dunia,
yang terus diputar sorai kegembiraan kehidupan.
Bola adalah peluru tiada bermesiu yang diburu,
ketinggian peradaban pemuja kemenangan.
Lihat,
Kini Endang berkelit seraya menjemput bola liar,
ke arah Witarsa umpannya dipertaruhkan,
kapten dikecoh dan kiper dibikin pasrah.
Lalu,
gol ke sembilan puluh tercetak sudah!
“Tapi aku bukan Pele atau David Beckham,
bukan pula Christiano Ronaldo atau Diego Maradona.
Aku Liem Soen Yoe, dokter gigi yang sudah mantan,
aku Endang Witarsa, pengelola bola sepanjang zaman,
pendekar di posisi kanan-dalam kata Kwee Kiat Sek,
jagoan kopbal yang murah memberi umpan.
Dan aku tidak di Manchester United atau Real Madrid.
Aku di lapangan Petak Sinkian,
di Union Makes Strenght *) tepatnya,
It ho ban su seng orang Tionghoa menafsir,
Eendracht maakt macht Ruud van Nistelrooy mengulangnya.
Aku tidak di Barcelona atau Aston Villa,
Aku berada di genang darah keringat dan air mata,
Bola Utama Indonesia Raya.
Aku adalah hadiah hiburan bagi kesebelasan
Yang terus menabung harapan meminang kemenangan.
—–
Catatan :Union Makes Strenght atau UMS adalah persatuan sepakbola yang didirikan di Jakarta tahun 1905, dan masih menyisakan aktivitas sampai 2007.
*

Berbagai kamera yang dipakai Melani untuk merekam hubungan akrabnya dengan para perupa Indonesia sejak 1977, sebelum kamera handphone ditemukan. (Sumber: Agus Dermawan T.)

Melani bersama John Silvis (USA), Uji Hahan Handoko, dan Christel Sjoetrom (Jerman-Swiss) di Art Central HKG, Hongkong, 2017. (Sumber: Dokumen).
Melani adalah keluarga akademis. Ibundanya, Kartika Sulindra juga dokter gigi alumnus perguruan Stovit, Surabaya. Kakak tertuanya, Buyung Witarsa, adalah seorang insinyur dan polyglot yang menguasai aktif enam bahasa asing, dan sudah lama menetap di Jerman. Adiknya, Suryadi Witarsa, juga insinyur, dan sampai 2009 menetap di Brazil. Adiknya yang lain, Yenny Witarsa, adalah dokter gigi yang tinggal di Jakarta.
Kembali ke soal nama, Setiawan adalah nama belakang suami Melani, Fanny Setiawan. Fanny adalah seorang pengusaha yang juga pernah kuliah di fakultas kedokteran. Fanny sejak tahun 1960-an, selama 13 tahun, dikenal sebagai yudoka yang gemar “berkelahi” di turnamen nasional dan internasional.
Melani mulai mencintai seni rupa sejak remaja. Oleh karena itu ketika usai sekolah menengah atas bagian eksakta ia ingin masuk ke fakultas teknik arsitektur. Namun hasil test psikologi menyatakan bahwa ia lebih cocok untuk masuk ke jurusan kedokteran. Sehingga seorang temannya lantas mendaftarkan Melani ke Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Di fakultas ini ia belajar sungguh-sungguh, sehingga lulus pada waktunya.
Selepas dari kampus ia langsung berpraktek sebagai dokter. Nah, di tengah kesibukan sebagai dokter muda ini ia mulai mendekati seni rupa. Pada tahun 1970-an itu Melani sering mengunjungi pameran di berbagai tempat, seperti Balai Budaya, Mitra Budaya, Taman Ismail Marzuki dan ruang pameran beberapa pusat kebudayaan asing di Jakarta.
Melani mengaku bahwa kedekatannya dengan seniman diinspirasi oleh pamannya, Kho Lien Bing atau K. Sulindra, seorang dokter hematologi yang seringkali mengunjungi para seniman di Balai Budaya, Jalan Gereja Theresia, Jakarta Pusat, pada tahun 1960-an.
Di komunitas ini dokter Kho tak hanya menghayati dan lantas membeli seni rupa yang digelar di ruang pameran itu. Tetapi juga berbincang secara luas dan mendalam dengan para seniman, sekaligus memeriksa kesehatan seniman secara cuma-cuma. Bahkan seringkali menomboki uang obat ketika para seniman itu, seperti Nashar, Mustika, Ipe Ma’aroef sampai Motinggo Boesje, tak mampu menebus resep di apotik.
“Dari para seniman saya sering kali menemukan filsafat kehidupan, yang biasanya unik dan mendalam,” kata Melani.
Ia menceritakan bagaimana seorang pelukis mampu membuat karya besar dalam kedetilan dan kerumitan yang sering fantastis. Padahal semua itu dimulai dari kanvas kosong, dan segalanya diawali oleh satu goresan atau pulasan kecil, sebagai seperjuta bagian dari konstelasi elemen seni rupa keseluruhan.

Gambar AI (Artificial Intelligence) karya Aryo Seto, “Dokter Melani Setiawan, Ibunda Perupa Indonesia”. (Sumber: Aryo Seto).
Dari sini Melani belajar dari pepatah falsafi, yang dalam bahasa Jawa dituturkan dengan “Sapa sing tekun golek teken mesti tekan”. Artinya, siapa yang rajin mencari tongkat yang bisa membantu dalam perjalanan jauhnya, pasti akan sampai tujuan dengan selamat. Falsafah ini oleh Melani dianggap sebagai dasar keberangkatan penciptaan kesenian para seniman, atau para perupa, yang di dalamnya menyangkut pelukis, pematung, pemahat, pengukir, pegrafis, peseni instalasi dan sebagainya.
Kehidupan panjang para perupa sejati adalah himpunan dari kesabaran dan ketekunan. Dan himpunan dari semua itu merupakan wajah dari akumulasi ide, gagasan dan pikiran kesenian. Sementara muara dari kesabaran dan ketekunan ini adalah hati yang penuh kecintaan. Ini selaras dengan apa yang dituturkan oleh penulis klasik Itali, Aretino Pietro (1492-1556), “He who is not impatient is not in love”. Orang yang tidak sabar, tidak dapat mencintai.
Melani percaya benar kepada ucapan Pietro itu. *** (Bersambung)
—-
*Agus Dermawan T.Penulis buku budaya dan seni. Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia 2025.




