Haaland, Setelah Vigeland

Oleh:  Agus Dermawan T.*

 Pada babak perempat final Piala Dunia 2026 Norwegia dikalahkan Inggris, 1-2. Namun demikian peran Haaland, penyerang Norwegia, sangat merasuk dalam hati. Atraksi Haaland di lapangan melambungkan Norwegia sebagai negeri atraksi seni.

————-

Perupa Tisna Sanjaya jelas penggemar sepak bola. Tak ada satu sesi pertandingan Piala Dunia 2026 yang ia tinggalkan. Sambil menonton, ia mencatat para ksatria sepak bola yang dikagumi. Catatan itu berupa gambar hitam putih di atas kertas yang berbentuk buku. Salah satu yang ia gambar adalah Haaland, atau Erling Haaland, pemain penyerang nomer 9 dari tim nasional Norwegia. “Hebat dia! Dengan jumlah tujuh gol, dia menyamai Messi dan Mbappe,” katanya lewat WhatsApp 6 Juli.

Pada Minggu pagi 12 Juli, usai pertandingan Norwegia versus Inggris di Stadion Miami, Amerika Serikat, ia berkabar lagi dengan rasa menyesal. Pasalnya, Haaland ditarik keluar oleh pelatih timnas Stale Solbakken, dan digantikan striker Jorgen Strans Larsen pada babak perpanjangan waktu, setelah skor 1-1. Akibatnya, gol Jude Bellingham nyelonong ke gawang Norwegia, sehingga skor jadi 2-1. Norwegia kalah.

“Accchhh, mengapa Haaland diganti. Padahal ia kunci Norway….” tulis Tisna.

Haaland, bintang tim nasional Norwegia dalam Piala Dunia 2026. (Sumber : Dokumen)

Foto  2 : Gambar para bintang sepak bola Piala Dunia 2026, ciptaan Tisna Sanjaya. (Sumber : Agus Dermawan T)

Norwegia akhirnya pulang kampung setelah tidak lolos pada babak perempat final. Tapi bagi Tisna Sanjaya, dan pasti bagi pencinta sepak bola seluruh dunia, Haaland “sang bomber”, akan selalu dikenang. Lebih jauh dari itu, Norwegia, negeri Haaland, diapresiasi dan semakin ingin diketahui. Lantaran Haaland dan Norwegia sama-sama seni. Atraksi Haaland adalah seni rupa di lapangan, sedangkan Norwegia adalah lapangan yang menyediakan seni rupa beratraksi.

Oslo dan ratusan patung

Norwegia, negeri Monarki Konstitusional, peta geografisnya berbatasan dengan Rusia, Finlandia serta Swedia, dengan sisi Barat menghadap laut. Luasnya sekitar tiga kali pulau Jawa. Bersyukur, beberapa waktu lalu saya sempat maen-maen di negeri Haaland ini, yang berpanorama fyord (teluk panjang dan sempit dengan tebing-tebing curam) yang indahnya luar biasa.

Namun meski juluran fyord Norwegia amat elok, khusus bagi saya kota Oslo tetaplah fokus penglihatan. Pasalnya, di kota ini terpajang ratusan patung besar, yang sebagian hadir sebagai patung publik. Sehingga, sejauh-jauh langkah melanglang, patung-patung senantiasa menghadang. Umumnya patung itu digubah dari batu utuh (monolith) dan perunggu.

Atas pajangan patung-patung tersebut kota Oslo lalu sangat membanggakan wilayah yang diperkenalkan sebagai Jalur National Theater – Vigeland Park. Di jalur ini semua akan merasa berada di ruang pameran akbar seni patung.

Di Taman Royal Palace berdiri patung tinggi menjulang bersosok Ratu Maud, isteri Haakon VII. Di halaman Museum Ibsen, ada patung Henrik Ibsen, “Bapak seni drama modern”. Di halaman gedung neo-klasik Nobel Institute, berdiri patung Alfred Nobel. Di plaza-plaza lain berdiri patung Bjornstjerne Bjornson, Knut Hamsun sampai Sigrit Undset, para penerima Hadiah Nobel untuk kesusasteraan. Di sekitar gedung Perpustakaan Nasional “bertumbuhan” patung-patung yang umumnya bergaya figuratif, dengan tema kehidupan manusia yang berpikir. Di dalam taman besar ini langkah lantas dituntun memasuki Taman Patung Vigeland.

Tata patung batu karya Vigeland ini membawa kita ke dalam perjalanan mengelilingi berbagai fase kehidupan. Pertama fase kelahiran, yang digambarkan lewat patung bayi yang muncul dari tepian danau. Lalu fase masa muda atau dewasa, dengan 58 patung yang berjajar anggun di dua tepi jembatan.

Penggambaran fase kehidupan itu diantaranya dengan menggubah bentuk wadah besar air mancur yang disangga figur-figur “manusia pemelihara dunia”. Juga gubahan “pohon kehidupan” yang melindungi manusia semua usia di bawah rimbun dedaunan.

Taman Patung Vigeland di Oslo, Norwegia. (Sumber: Agus Dermawan T)

Foto 4 : Patung karya Vigeland, tentang pergumulan hidup dan mati manusia. (Sumber : Agus Dermawan T)

Perjalanan lanjut adalah menaiki tangga dengan hiasan 36 patung granit, yang merefleksikan perbedaan usia dalam tahapan hidup. Sementara di halaman puncak tangga berdiri tugu setinggi 17 meter. Tugu monolith berbentuk jalinan 121 figur yang bergelut secara dramatik untuk mencapai puncak, yang akhirnya dicapai oleh seorang anak.

Tampak pula patung tujuh tubuh yang jalin-menjalin, sebagai simbol kehidupan dan kematian, atau permulaan dan akhir. Jumlah keseluruhan patung di taman ini ada 212 buah. Dalam ratusan patung itu terbentuk 671 figur. Taman patung monumen raksasa lantas diakhiri oleh jam astral, semacam lingkaran horoskop, sebagai simbol dari perjalanan waktu.

Yang menakjubkan, semua wajah serta tubuh patung itu meluapkan ekspresi dramatik. Itu sebabnya kompleks patung ini disebut teater.

Gustav Vigeland (1869-1943) adalah pematung yang berangkat dari mashab klasik. Karya-karyanya semula banyak mendapat pengaruh dari seniman Denmark Bertel Torvaldson yang cenderung ideal-realistik. Namun pengaruh itu akhirnya menipis, sehingga yang muncul adalah bentuk-bentuk deformatif, serba tumpul, membulat dan gemuk, khas Vigeland. Dalam figurnya tak pernah terbayang tulang dan otot yang menyimbolkan kedigdayaan dan kekuatan. Bentuk ini mengisyaratkan betapa sesungguhnya manusia – meski tak henti bergumul menyusuri kehidupan – tetap terbilang sebagai mahluk yang halus dan rentan belaka.

Proyek ini dikerjakan oleh Vigeland sejak tahun 1921. Dan diserahkan kepada kota Oslo pada 20 tahun kemudian, komplit  dengan tata taman yang spektakuler.

Foto 5 : Patung Vigeland tentang orang tua yang melatih anak-anaknya agar jadi juara. (Sumber : Agus Dermawan T)

Foto 6 : Pematung Gustav Vigeland, 1869-1943. (Sumber: Dokumen)

Setelah menyaksikan patung-patung, saya masuk ke dalam Museum Vigeland, yang juga berada di taman itu. Di sini bisa disaksikan drawing, maket, sketsa proyek serta model patung-patungnya. Juga sejarah taman yang ternyata seru. O ya, museum ini dahulu adalah tempat workshop Vigeland dan para artisan.

Jeritan Munch
dan gaji Haaland

Selain menyajikan kharisma Vigeland, Oslo juga menawarkan derita lewat Museum Edvard Munch. Museum ini menyimpan 1.100 lukisan, 4.700 drawing dan 15.500 litografi. Semua karya itu membawakan lebih dari 700 topik. Jumlah topik ini menunjukkan betapa Munch adalah pelukis yang sangat produktif dan kreatif.

Munch, kelahiran Loten, Norwegia, adalah pelukis terbesar Norwegia, dan dianggap Bapak dari “pictorial expressionism”, dengan karya sohor berjudul Skrik (Menjerit) ciptaan 1893, yang populer sebagai The Scream.

Lukisan ini menggambarkan seseorang sedang menjerit ngeri di ujung jembatan. Begitu mendalam kengeriannya, sehingga The Scream jadi penanda visual dalam psikologi rasa takut manusia. Dalam beberapa tahun belakangan, film-film Hollywood mengambil sosok The Scream sebagai inspirasi.

Foto 7 : Lukisan Edvard Munch, “Shrik” atau “The Scream”. (Sumber: Agus Dermawan T.)

Edvard Munch (1863-1944) adalah putera seorang dokter tentara yang tak hentinya bertugas di medan laga. Sehingga cerita mengenai darah, airmata, kesakitan dan kematian selalu mampir dalam kehidupan masa kecilnya.

Hampir semua karyanya menghadirkan rasa ketertekanan, kesakitan dan ketakutan. Garis-garisnya muncul dengan tenaga batin yang luar biasa, seraya membawa rasa penderitaan dan kiamat. Perasaan yang bisa dihayati oleh siapa saja. Lukisannya yang sangat terkenal, Gadis-Gadis di Jembatan dan Anak Sakit adalah beberapa contoh.

Namun sekali lagi, seri lukisan The Scream adalah yang jadi maskot. Ia seperti Guernica di Museum Reina Sofia – Madrid, Penjaga Malam di Museum Rijks – Amsterdam, atau Monalisa di Museum Louvre – Paris.

Dalam lukisan The Scream tergambar langit merah kuning kelabu yang mencekam. Hamparan langit dengan cakralawa jauh ini mendramatisasi ketakutan seseorang yang berjingkat dan berteriak di ujung jembatan. Langit itu, menurut fisikawan Texas State University Prof. Donald Olson, adalah langit Norwegia yang terimbas debu letusan gunung Krakatau (dari Indonesia) pada 1883.

Debu kelam gunung yang menutupi sebagian langit Eropa selama tiga bulan tersebut memang jadi kenangan menakutkan bagi Munch, sampai akhirnya dilukiskan pada 10 tahun kemudian. Namun tak berarti lukisan yang bertema ngeri ini aman-aman saja keberadaannya. Buktinya, pada Agustus 2004 silam The Screammendadak hilang dicuri begundal, meski akhirnya berhasil ditemukan.

Catatan ujung, balik lagi ke bintang sepak bola Haaland.

Pada 3 Mei 2012 salah satu seri lukisan The Scream dilelang Sotheby’s New York. Lukisan berukuran tinggi sedepa itu terbayar 119.922.500 dolar AS atau sekitar Rp. 2.160.000.000.000 dengan kurs sekarang.

Heeit, besarkah angka dua trilyun lebih itu? Tentu sangat besar bagi kita, namun agaknya tidak bagi Haaland. Kita tahu, gaji Haaland saat bermain di Manchester City F.C. Inggris adalah 27,3 juta pound sterling, atawa 665.000.000.000 rupiah, setahun! Maka untuk mendapatkan satu seri lukisan yang jadi legenda 100 tahun itu, Haaland cukup berlaga di lapangan selama tiga tahun tiga bulan. *

*Agus Dermawan T. Pengamat seni. Penulis buku “Perjalanan Turis Siluman : 51 Cerita dari 61 Tempat di 41 Negara”.