Puisi-puisi Supali Kasim

Yth. Usia (1)

kepada usia yang menghimpit batu-batu
ialah waktu
melepas jelajah, lelah, istirah

menyerah kalah
bahkan usia telah sampai batas mimpi
tak ada apa-apa, kosong, sia-sia

usia membawa pilihan pulang
tidur atau bertemu mimpi lagi
memecahkan kembali dunia batu

usia membuat terbangun lagi
terhimpit batu-batu lagi
kembali jelajah, tak ada lelah atau istirah

lalu di tepian itu telah temukan
kelahiran baru
seusai dierami tahun keenam puluh satu

2026

Yth. Usia (2)

usia mengantar kelahiran kembali
sel sperma ayah angkasa, sel telur ibu bumi
musim, cuaca, angin membuahi
sarang bagi embrio yang tenang
ovum dan testis menyatupadukan jagat raya
rahim mengerami: luka jadi cita, kalah jadi marwah

enam puluh tahun satu kemudian
daun-daun bertunas
menyapa lagi kabar usia

2026

Yth. Usia (3)

langkah ini memulai perjalanan matahari
dari pagi kembali ke pagi
mengedar, melanglang, tak henti
terangnya, bulan pun acapkali iri
tetapi usia bukan jadwal yang tertata
di dalamnya segala impian tertunda

jejak terputus-putus, terhapus
bukanlah prasasti, riwayat tak tertulis
mungkin menhir, menghunjam bumi
tegak menunjuk langit
menunjuk matahari yang purba
denyut jantung setia meniti usia

2026

Yth. Usia (4)

usia mengingatkan, kekalahan bukan lagi
kemenangan tertunda-tunda
mengajak tidak berpikir seperti bulan
bersinar hanya hasil sinaran
rupawan dari kejauhan
jangan pula menghitung seperti deret ukur
setelah enam puluh tahun satu terasakan
betapa keniscayaan adalah ketidakniscayaan
acapkali hujan turun saat kemarau
pohon-pohon jati, mati
tonggak-tonggak pohon jarak, beranak pinak

usia tumbuh dari sela-sela tanah retak
menjadi perdu atau rumputan
membebaskan impian menjulang

2026

Yth. Usia (5)

kalau engkau pergi, siapa kehilangan
bukan lagi air mata menetes, mengalir
menganak sungai
enam puluh tahun satu pencarian
menuju arah muara ketenangan

kalau engkau pergi, apa yang kurang
bekal perjalanan tak hanya doa
mengetuk pintu, menembus langit
juga kisah-kisah di hamparan bumi
siapapun dirasuki mimpi

kalau engkau pergi, mengapa tak pernah usai
perkara atau peristiwa
sepanjang jalan tinggalkan jejak luka
prasasti menuliskan fragmen-fragmen
bukan kisah raja, hanya orang biasa

2025

Yth. Usia (6)

seratus tahun atau seribu tahun
hitungan sama
lahir, berbahasa, berkelana, mati

matahari pun tak punya istimewa
garis edar semata
terbit, tersenyum, menyengat, terbenam

betapa susah menyangga usia
diri manusia
mencari, mencari, mencari, memberi

2026

Yth. Usia (7)

bukan senja atau pagi hari
soalnya adalah bagaimana hingga senja
ketika menapaki pagi melewati cerita

siapa yang tahu setelah senja adalah malam
kelam dan tidur panjang

siapa yang tahu setelah senja menemu fajar
menuju pagi segar

tak ada senja atau pagi hari
soalnya adalah mengapa usia
menemu senja disongsong fajar

2026

*Supali Kasim, tinggal di Indramayu Jawa Barat. Buku puisi tunggalnya, Bergegas ke Titik Nol (2008), Pergi ke Masa Silam Pulang ke Masa Depan (2023). Buku puisi tunggal berbahasa Jawa Indramayu, Sawiji Dina Sawiji Mangsa (2020) memperoleh Hadiah Sastera Rancage (2021).