Pos

Puisi-puisi Mulyadi J. Amalik

WAYANG SULUH Jangan bangunkan aku di lautan mimpi tengah malam. Tunggulah usai bersauh dini pagi diurai kokok ayam. Tiba padam mercusuar, tiba matahari penggantinya. Aku kan sarapan sesuai harapan. Makan berlauk garam berbutir penantian. Menggosok gigi seputih hati dan lisan. Lalu bekerja menjalankan mimpi selepas tadi. Aku wayang pencetus janji tanpa tepi. Maju menjadi suluh […]

Puisi-puisi Abang Patdeli Abang Muhi

Penjilat Barangkali, sudah tersurat dalam lohmahfuz  bahawasanya demi pangkat dan darjat demi kuasa yang tidak kekal lama demi harta yang tidak seberapa demi kedudukan yang tidak setinggi mana ada sida-sida yang sejak sekian lama kerjanya hanya membodek dan menjilat meski mereka tahu persis yang dijilat itu penuh nista dan najis kendati mereka tahu benar yang […]

Isra Mi’raj dalam Tafsir Sastra

Dialektika Cahaya, Ruang, dan Waktu Oleh: Gus Nas Jogja Ketika malam mencapai titik nadir keheningannya, sebuah peristiwa kosmik yang melampaui seluruh nalar fisika Newton dan mekanika kuantum meledak dalam kesunyian. Isra Mi’raj bukanlah sekadar migrasi horizontal dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu vertikal menembus tujuh samudra langit menuju Sidratul Muntaha. Dalam tafsir sastra, ia […]

Hari yang Berbahaya: Krisis Makna dan Kehidupan yang Menjadi Biasa dalam Puisi Beno Siang Pamungkas

Oleh Abdul Wachid B.S.*   1. Ketika Hidup Terasa Baik-Baik Saja Ada masa dalam hidup ketika segalanya tampak berjalan sebagaimana mestinya. Tidak ada tragedi yang memaksa kita berhenti. Tidak ada kehilangan besar yang membuat dunia runtuh seketika. Hari datang dan pergi dengan tertib, pekerjaan selesai sesuai jadwal, tubuh relatif sehat, relasi sosial tidak sedang retak. […]

Kesiur Cinta: Bahasa, Sunyi, dan Etika Ketidakhadiran dalam Puisi Timur Sinar Suprabana

 Oleh Abdul Wachid B.S.*   I. Kesiur Cinta: Metafora yang Sunyi Puisi cinta, dalam kebiasaan baca yang umum, kerap dipahami sebagai wilayah luapan emosi. Ia diharapkan menyuarakan kegembiraan, kehilangan, cemburu, atau rindu dengan nada yang tegas, bahkan kadang berlebih. Cinta diasumsikan mesti hadir sebagai peristiwa yang terasa: menyala, menggelegak, dan mudah dikenali. Dalam kerangka semacam […]

Menjadi Penyair Badai: Anatomi Sastra Vivere Pericoloso

Oleh Gus Nas Jogja* Secara etimologis dan historis, Bung Karno mempopulerkan frasa ini dari bahasa Italia untuk menggambarkan revolusi Indonesia yang belum selesai. Namun, secara filosofis, anatomi dari vivere pericoloso berakar jauh pada pemikiran Friedrich Nietzsche tentang Amor Fati. Hidup yang berbahaya bukanlah hidup yang konyol; ia adalah hidup yang menyadari bahwa stabilitas hanyalah ilusi […]

Puisi-puisi H.MAR

Bayang-Bayang yang Menolak Pulang Bayangku menolak berdiri di sebelahku hari ini, katanya, aku terlalu bercahaya. Dia menyelinap ke bawah katil, bercakap dengan habuk tentang malam yang tidak pernah selesai. Aku cuba memujuk dengan jendela terbuka, tapi dia hanya tertawa “Siapa kau tanpa kegelapanmu sendiri?”   Dinding yang Berbisik dalam Bahasa Burung Dinding di kamar ini […]

Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.

BALADA KENDHIT DAN LURIK LELUHUR Pagi itu, embun masih menempel di pucuk kelor dan bambu halaman. Aku membuka peti tua warisan Bapak, pada malam yang didekap mimpi oleh suara azan yang tak sempat dijawab. Dalam peti itu, kendhit tua tergulung rapi seperti ular tanah yang lama berpuasa dalam doa. Dan lurik kusam terlipat bisu seperti […]

Puisi-puisi D. Zawawi Imron

DALAM HUTAN (bersama Sinansari Ecip) Hutan ini mengajarkan harmoni Bagaimana angin membisiki daunan Dan burung pun berkicau tanpa lidah yang keseleo Selintas hanya menyanyikan lagu yang sudah-sudah Padahal itu ada maksudnya Ada maksudnya Jangan bicara soal waktu di sini Kita di luar hari dan tahun Inilah sediakala, inilah purbakala Engkau dan aku sama-sama telanjang Tanpa […]

Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.

BALADA KENDI YANG RETAK  Di sudut dapur yang jarang disentuh cahaya, sebuah kendi tua bersandar pada tembok, retak di lehernya, dan serpih kecil menganga seperti luka yang tak kunjung sembuh. Dulu, ia ditempatkan di gubuk pesantren, mengalirkan air untuk wudu bagi para santri yang menghafal Al-Qur’an di sela desir angin dan suara jangkrik. Setiap tetesnya […]