Pos

Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.

IBUKU, RUMAH DARI SEGALA RINDU pagi belum sempat bersuara, ibu telah menghamparkan sajadah dari hela napas malam yang ditinggalkan mimpi. tangannya mengelus benang yang patah di pinggir sarungku, jarumnya masuk pelan seperti seseorang yang tak ingin melukai kain yang pernah ia jahit sejak kecil. ia tidak banyak bicara. setiap lipatan kain menyimpan cerita yang hanya […]

Sinema Saku: Literasi Visual Kini

Oleh Bambang Supriadi* Dalam diskursus kebudayaan kita, istilah “literasi” sering kali masih terpenjara dalam definisi klasik: kemampuan mengeja huruf dan memahami teks. Namun, di era ketika realitas semakin banyak hadir melalui layar, kita membutuhkan definisi literasi yang lebih luas dan berdaulat. Literasi hari ini adalah kemampuan memahami, mengolah, dan yang tak kalah penting adalah memproduksi […]

Estetika Pesisir: Bedah Seni Visual dan Materialitas Kelenteng Cu An Kiong Lasem

Oleh Muh Nur Khusen* Di tepian Sungai Lasem, berdiri sebuah bangunan yang telah menyaksikan perputaran waktu selama lebih dari lima abad. Kelenteng Cu An Kiong, yang namanya berarti “Istana Ketentraman Welas Asih“, bukan sekadar artefak religi melainkan sebuah Gesamtkunstwerk atau “Karya Seni Total” di mana arsitektur, seni lukis, seni ukir, dan tata ruang menyatu dalam harmoni […]

Mendengar Film: Perayaan Suara dalam Pameran Tiga Dekade Miles Films

Oleh Mutia Tsany F.* Seberapa besar sebenarnya pengaruh musik dan suara latar dalam sebuah adegan film? Pertanyaan ini mungkin pernah muncul ketika kita mengingat kembali film yang pernah kita saksikan. Yang tersisa dalam ingatan tidak selalu hanya gambarnya. Sering kali ada pula musik yang ikut melekat. Sebuah melodi lembut yang mengiringi percakapan sunyi, dentuman ritmis […]

Galeri Seni pada Ruang Kuliner: Ketika Koleksi Pribadi Tak Lagi dinikmati Sendiri

Oleh Medya Prasari Khairunnisa* Restoran pada era  modern ini bukan hanya berperan sebagai tempat makan dan minum saja, tuntutan keunikan konsep sebuah restoran menjadi tugas tambahan bagi para pemilik agar menarik minat pengunjungnya. Mungkin di beberapa restoran memiliki ruangan khusus seperti galeri untuk diadakannya sebuah acara atau memamerkan karya-karya seni, cukup banyak yang menggunakan konsep […]

Yang Tak Terlihat, Bukan Tak Bernilai

Kritik atas Kasus Videografer Amsal Christy Sitepu   Oleh Salsabilla Putri* Informasi dalam media sosial sekarang begitu kilat sampai kepada setiap penggunanya. Video-video dan foto-foto diikuti caption menjadi konsumsi hampir setiap hari, tidak mengenal waktu dan tempat. Bahkan tidak hanya sebagai konsumsi, ini juga menjadi ladang pekerja kreatif di dalamnya. Hal ini bergantung pada bagaimana […]

Menghidupkan Kembali Rongsokan di Studio Kalahan

Oleh Ni Luh Putu Ratna Suandari* Heri Dono percaya bahwa setiap benda menyimpan energi yang belum padam. Di sebuah studio di Yogyakarta, ia membuktikannya dengan mesin-mesin tua yang dulunya hidup di rongsokan. Langkah pertama saat melewati gerbang lahan bekas rumah residensi polisi Belanda di kawasan Gamping, Sleman,  tidak sekadar membawa kita masuk ke sebuah bangunan […]

Membaca Ulang Pakaian Khas pada Ulang Tahun Kota Malang ke-112

Prolog: Antara Perayaan dan Paradoks Oleh Yusuf Munthaha*   Ada sesuatu yang menggelisahkan ketika sebuah kota merayakan ulang tahunnya dengan mengenakan pakaian yang secara historis merepresentasikan era penindasan kolonial. Pemerintah Kota Malang dalam peringatan hari jadinya yang ke-112 memilih konsep yang mereka sebut “kolonial tradisional” sebagai identitas visual perayaan. Seragam dengan estetika Hindia Belanda itu […]

Antara Kurasi dan Kebijakan: Museum Tekstil Jakarta dalam Ekosistem Seni dan Industri Kreatif Fesyen

Oleh Windry Ilhamsyah* Suatu siang di Kawasan Tanah Abang, langkah saya memasuki halaman Museum Tekstil Jakarta dengan membawa satu asumsi sederhana tentang museum sebagai ruang sunyi yang menyimpan masa lalu. Asumsi itu tidak bertahan lama karena ruang yang saya hadapi justru menghadirkan pengalaman yang lebih kompleks. Pepohonan rindang menaungi halaman yang luas, sementara berdiri kokoh […]

Jejak Mimpi Satu Abad Lalu: 5 Refleksi Radikal dari Manifesto Jong Sumatranen Bond (1917-1922)

Oleh Shohibul Anshor Siregar* Dokumen yang dibahas dalam ini adalah edisi peringatan lima tahun organisasi pemuda Jong Sumatranen Bond yang diterbitkan antara tahun 1917 hingga 1922. Sumber ini memuat berbagai artikel dari tokoh intelektual, termasuk Dr. B. Schrieke dan Mohammad Hatta, yang membahas gagasan mengenai nasionalisme dan persatuan di Sumatra. Penulis dalam teks ini mengevaluasi […]