Pos

Sajak-sajak Samsudin Adlawi

PADA LUPA Pada lupa aku jatuh Tersungkur di dasar jurang Pada jurang ada alir Mengular nun jauh Airnya hitam tak tertembus Retina mata telanjang Aku menggedor kelambu hitam Yang membekap tubuh Dengan rapal pengakuan dan Penyucian pemilik raga dan semesta Di puncak kepasrahan Setitik cahaya menetes di atas kepala Hitam lenyak seketika 2024 – 2025, […]

Anak Kecil Itu Mati, Negara Masih Berpidato

Catatan Dari NTT Tentang Selembar Buku Tulis, Kemiskinan yang Diwariskan, dan Pemerintah yang Selalu Datang Terlambat Oleh: Eko Yudi Prasetyo* Pagi di banyak kampung di Nusa Tenggara Timur datang dengan cara yang bersahaja. Matahari merayap pelan di balik bukit, angin kering menyapu halaman tanah, ayam berkokok seperti jam weker purba, dan suara ember diseret dari […]

Musik Klasik Bukan Antek Asing: Sebuah Catatan Ananda Sukarlan dari Lampung & Samarinda

Oleh Ananda Sukarlan* Sebagai seorang komponis dan pianis klasik yang mendalami tradisi Bach, Tchaikovsky dan Debussy, saya percaya bahwa musik bukan hanya hiburan dan hiasan kehidupan tetapi esensi kehidupan itu sendiri — bahasa universal yang melampaui batasan geografi, budaya, dan waktu. Selama bertahun-tahun tampil baik untuk penonton berjumlah besar, konser daring tanpa penonton langsung (terutama […]

Melacak Regulasi Kebudayaan di Jawa Tengah Pasca-Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan

Oleh Adhitia Armitrianto*   BARU-BARU ini, Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata menggelar Uji Publik Pembahasan Rancangan Peraturan Daerah Pemajuan Kebudayaan. Dibanding beberapa daerah lain di Jawa Tengah, Kota Semarang termasuk tertinggal dalam urusan kepemilikan aturan tersebut. Meski memang, belum semua daerah menetapkannya. Sebagaimana diketahui, Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan telah ditetapkan pada 2017 lalu. […]

Mina dan Juragan Belanda: Medium Ideologi Kolonial

Oleh Bambang Supriadi*   Pada tahun 1915, kawasan Harmoni di Jakarta menjadi saksi pembuatan film bisu pendek berjudul Mina dan Juragan Belanda (Het Dienstmeisje Gaat Inkoopen Doen), disutradarai oleh L. Heuveldorp (1915). Film berdurasi kurang dari sepuluh menit ini sering disebut sebagai salah satu film pertama yang diproduksi di Indonesia, meskipun klaim ini masih memerlukan […]

Kota dan Banjir: Tragedi Budaya Ketika Beton Menelan Jiwa Peradaban

Oleh Mochammad Sulton Sahara*   Air adalah cermin jiwa suatu bangsa, ketika kota-kota kita tenggelam, yang tenggelam bukan hanya rumah dan harta benda, tapi juga ingatan leluhur tentang harmoni dengan alam.   Prologia: Bayangkan pagi kelabu di Jakarta medio April 2026. Langit masih menetes sisa hujan malam, Ciliwung membengkak penuh lumpur, Jalan Sudirman-Jatinegara jadi sungai […]

Mendekonstruksi Konstruksi Makna Lengger Lanang

Oleh Purnawan Andra* Lengger selama ini sering dipahami sebagai sesuatu yang seolah-olah sudah jelas. Ia adalah tarian rakyat Banyumasan yang lekat dengan tubuh perempuan, hadir dalam ritus, tumbuh dari lanskap agraris, dan mengakar dalam ingatan kolektif. Lengger menari untuk panen, untuk kesuburan, untuk menjaga hubungan antara manusia dan alam.  Dalam banyak ingatan kultural, lengger adalah […]

Puisi-puisi Suminto A. Sayuti

RAMADHAN, 1 (1) Lapar adalah kenyang yang sempurna. Karbohidrat pun terurai masuk ke saraf-urat. Perut pun kosong sarat berisi. Vitamin sukma berbait-bait puisi. Senandung diri sepanjang siang hingga sorehari. Japa-mantra tergelar hingga dinihari. Lapar pun menyempurnakan diri. Kenyang sukma dalam anyaman ketupat dan lontong doa.   RAMADHAN, 1 (2) Bayang diri terlipat di selimut kelam. […]

Obituari: Lanny Andriani

Oleh Agus Dermawan T.*   Patricia Lanny Andriani dikenal sebagai pelukis, guru melukis dan sekaligus penyelenggara pameran seni lukis. Sejak tahun 1980-an namanya tidak pernah lepas dari kegiatan seni rupa. Setelah berkiprah lebih dari 40 tahun, setelah mengarungi hidup yang meriah sekaligus rumit, ia pergi tanpa pamit.  ———– PADA minggu pertama April, isteri saya Iliana […]

Sehari Boleh Gila: Menguji Batas Seni, Menyembuhkan Luka, dan Menemukan Kebebasan

Oleh Abad Akbar* Dalam lanskap seni rupa Yogyakarta yang dinamis, terdapat satu program yang secara konsisten menghadirkan ruang refleksi sekaligus eksperimen ia dinamai Sehari Boleh Gila (SBG). Program ini bukan sekadar peristiwa tahunan, melainkan ruang alternatif yang mempertemukan gagasan, praktik artistik, serta pengalaman batin yang jarang terakomodasi dalam sistem seni yang semakin terstruktur dan berorientasi […]