Pos

Chekov, Saya, dan Lanskap Prosa Realis

Oleh: M. Rifdal Ais Annafis*             Lewat tengah hari, di bawah beringin yang menjulang, adegan Laptev dan Yulia Sergeyevna dalam salah satu novel terkenal Anton Chekov berjudul Tiga Tahun terjemahan Sapardi Djoko Damono, memberondong kepala saya.             Itu barangkali hari tercerah dalam hidup saya. Hari itu, saya seolah takjub akan adegan pendek yang bergerak lambat-lambat. […]

Kultus Panda Sampai Langit ke-Tujuh

Oleh : Agus Dermawan T.* Catatan perjalanan. Dari survey wisata, mengunjungi pusat penangkaran panda, sampai ke taman patung para seniman modern dan kontemporer di mal ternama. Seni tinggi dicemplungkan ke dalam komunitas donat, guochao, es krim dan Prada. Tiongkok punya gawe memang luar biasa. ————- PADA bulan Juli 2026 satu biro travel di Jakarta mengajak […]

Ekologi Sastra di Banyumas

Oleh: Abdul Wachid B.S.* Ruang yang Dibuka oleh Sebuah Narasi Kampus. Esai Bayu Suta Wardianto berjudul “Mencari Celah Tumbuh dan Berkembangnya Sastra di Kampus Banyumas”, yang dimuat di  borobudurwriters.id pada 14 Mei 2026, menarik perhatian pada satu ruang yang dalam beberapa dekade terakhir menonjol dalam perkembangan sastra Banyumas: kampus. Pilihan itu memiliki dasar historis. Sejak […]

Memerdekakan Seniman, Memerdekakan Kesenian

Oleh: Prof. Dr. Kasiyan, M.Hum.* Setiap Agustus, kita kembali mendengar lagu lama, melihat merah-putih berkibar, dan mengucap “merdeka” hampir otomatis. Namun peringatan mungkin justru bermakna ketika kita berhenti sejenak dari perayaan, lalu menengok republik dengan pandangan lebih jernih—dan, kalau perlu, sedikit nakal. Dari kegelisahan itulah, esai ini lahir: refleksi satiris tentang seniman dan dunia kesenian, […]

Sekolah Tanpa Seni: Ketika Imajinasi Menjadi Hak Istimewa

Oleh: Karen Hardini   Di balik riuh rendah sistem full day school, sebuah gejala laten pelan-pelan membesar. Meski jadwal sekolah sudah menyita hampir seluruh hari, para orang tua (baca: keluarga muda) justru kian gencar mencari ruang tambahan bagi buah hatinya. Selepas bel pulang, anak-anak diajak beralih ke studio seni—seni rupa misalnya, mulai dari menggambar, mewarnai, […]

Bahasa Kebangsaan Penyatu Bangsa

Oleh: Kim Young  Soo* Tiga unsur, yaitu Tanah, Rakyat, dan Bahasa Kebangsaan, membentuk suatu negara. Tanpa tiga unsur itu, negara tersebut bukanlah negara yang berdaulat. Bahasa Kebangsaan pula mencerminkan jati diri bangsa tersebut. Demikian pandangan KIM YOUNG SOO. Sebagaimana diketahui, Rakyat, Tanah dan Bahasa Kebangsaan merupakan tiga unsur utama untuk membentuk sebuah negara. Dengan kata […]

Nonton Film Odyssey di Open Air Swiss

Oleh: Sigit Susanto Kamis, 30 Juli 2026 menjelang pukul 21.00 aku naik sepeda ontel menuju Open Air di tepi danau Zug, untuk menonton film bahasa Jerman Die Odysee (Odyssey). Seorang satpam berseragam biru memeriksa tiketku dan aku berlengggang masuk arena berpagar besi itu. Kulihat banyak orang sedang menikmati makanan dan minuman di meja-meja berpayung. Maklum […]

(Festival) Tari dan Produksi Pengetahuan

Oleh: Purnawan Andra *   Dalam dua dekade terakhir, ekosistem festival tari di Indonesia menunjukkan perkembangan yang semakin beragam. Indonesian Dance Festival (IDF) tetap menjadi rujukan utama bagi tari kontemporer Indonesia, sementara sejumlah festival lain, termasuk Jakarta International Contemporary Dance Festival (JICON), mulai menghadirkan ruang-ruang baru bagi pertunjukan, percakapan, lokakarya, dan kolaborasi lintas negara. Perkembangan […]

Kongres Kebudayaan Nusantara 2026: Kerinduan Pada Akar Lampau

Oleh: Chrisman Hadi Nanti pada 8 Agustus 2026 sejumlah pemangku adat, penghayat kepercayaan, budayawan, seniman, akademisi, sejarawan, peneliti dan komunitas kebudayaan dari berbagai daerah direncanakan berkumpul di Malang dalam Kongres Kebudayaan Nusantara. Perhelatan yang diselenggarakan Himpunan Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa tersebut membawa harapsn besar: Menggali kembali nilai-nilai peradaban Nusantara sebagai fondasi pembangunan […]

Performance Art, Politik & Kita di Antaranya

Oleh: Purnawan Andra* Kita hidup di zaman yang semakin sulit membedakan kenyataan dan pertunjukan. Hampir setiap hari publik disuguhi peresmian proyek, kunjungan kerja, konferensi pers, dan berbagai seremoni kenegaraan yang diproduksi dengan estetika visual yang semakin canggih. Politik tidak lagi hanya bekerja melalui kebijakan, tapi juga melalui citra. Yang diperebutkan tidak sekedar keputusan, tapi juga […]