Pos

Dramaturgi Jolenan:  Dari Tanah ke Panggung Ingatan, Kemetul Merundingkan Warisan dan Masa Depan

Oleh: Eko Yuds*  Warga Desa Kemetul mengawali Jumat pagi, 17 Juli 2026, dengan mujahadah yang dipimpin Gus Fuad, salah satu tokoh agama setempat. Rangkaian salat Dhuha, zikir, tahlil, dan doa berlangsung dalam suasana khidmat. Di antara lantunan doa itu tersimpan harapan akan keselamatan, kemaslahatan, kesejahteraan, dan keberkahan bagi seluruh warga desa. Pagi tersebut mempertemukan dua […]

Di Desa Tambi Puspasari Mancari Diri

Oleh: Supali Kasim* Pencarian apa bagi penari Ni Kadek Yulia Puspasari di Desa Tambi? Awalnya ia menunjukkan gerak tari Pendet. Hanya berbusana biasa, bukan busana tari Bali. Gamelan yang mengiringi juga berasal dari audio sederhana, tetapi menggema. Puspasari seakan-akan menunjukkan perjalanan awalnya memang berakar dari Bali. Tetapi, di sini, terlihat sekali ia tidak mengabarkan sebagai […]

Batobo: Ketika Piala Dunia Menjelma Menjadi Warisan Budaya Hidup di Ternate dan Tidore

Oleh: Asfarinal* Setiap empat tahun sekali, dunia berhenti sejenak untuk menyaksikan Piala Dunia. Jutaan manusia larut dalam kegembiraan, ketegangan, dan harapan yang menyatukan berbagai bangsa melalui sepak bola. Namun, di Provinsi Maluku Utara, khususnya kota Ternate dan kota Tidore, Piala Dunia menghadirkan sesuatu yang lebih dari sekadar pertandingan. Ia telah bertransformasi menjadi ruang ekspresi budaya […]

Ujung yang ditumpulkan

Oleh: Pietra Widiadi* Mungkin banyak dari kita tidak bisa membedakan antara Desa dan Kelurahan meski dalam keseharian mereka sering bersinggungan. Persamaan yang ada, kelurahan dan desa memiliki fungsi administrasi dalam melaksanalan pelayanan publik terutama terkait dengan kependudukan. Namun, kalau ditanya apa perbedaannya, umumnya tidak tahu. Di sini, mari kita lihat sedikit dalam tentang perbedaan tersebut. […]

Poslangitan

Oleh: Hudan Hidayat* Tentang aku yang membelah diri, bersatu lagi – aku yang aktif, aku yang pasif, sebagai konsekwensi. Penguasaan, bahwa aku menguasai dirimu. Tidak kita sadari ada aku di dalam aku, yang berhubungan. Aku yang sadar, aktif dengan kesadarannya. Apakah aku yang pasif itu adalah lawannya? Pada saat aku menunjukkan identitasnya, muncul identitas lain, […]

Haaland, Setelah Vigeland

Oleh:  Agus Dermawan T.*  Pada babak perempat final Piala Dunia 2026 Norwegia dikalahkan Inggris, 1-2. Namun demikian peran Haaland, penyerang Norwegia, sangat merasuk dalam hati. Atraksi Haaland di lapangan melambungkan Norwegia sebagai negeri atraksi seni. ————- Perupa Tisna Sanjaya jelas penggemar sepak bola. Tak ada satu sesi pertandingan Piala Dunia 2026 yang ia tinggalkan. Sambil […]

Film Tari, Membaca Kebudayaan

Oleh: Purnawan Andra* Di masa kini, penyebaran unsur-unsur kebudayaan berlangsung sangat cepat, salah satunya melalui film. Film bukan hanya sebagai representasi, tetapi juga pengalaman dan tindakan melihat. Film menjadi tindakan melihat (act of viewing) dunia seperti yang terlihat, juga sebuah kemampuan (faculty) yang mampu menjembatani dua cara melihat dunia, antara satu cara yang berdasar pada […]

Harmoni dari Cileunyi: Diplomasi Musik Organik, Syiar Budaya Tradisional, dan Inovasi Rampak Seeng di Saung Budaya Yoyon

Oleh: Jasmine Nurul Asyifa* Di tengah pusaran modernitas abad ke-21, manajemen seni kontemporer sering kali terjebak dalam pandangan yang sangat mekanistik. Seni kerap direduksi menjadi komoditas industri kreatif, di mana keberhasilan sebuah ruang kebudayaan diukur secara kuantitatif melalui optimasi algoritma media sosial, jangkauan kampanye digital, serta kalkulasi keuntungan material yang serba pragmatis. Banyak ruang kreatif […]

Gombloh Bukan Hanya di Radio

Oleh: Esthi Hudiono* SEJARAH NAMA GOMBLOH Gombloh adalah seniman musik yang berkarir di Surabaya untuk Indonesia. Nama asli “Soedjarwoto Soemarsono”. Kelahiran Jombang 12 Juli 1948 saat keluarga mengungsi dari Surabaya. Ia dinamai Gombloh karena kelakuan esentriknya. Julukan ini d iberikan oleh guru, kawan-kawan sekolah dan keluarga serta orang yang mengenal baik tanpa saling tahu. Guru […]

Seni Pertunjukan dan Politik Kehadiran

Oleh: Purnawan Andra* Setiap Kamis, sekelompok orang berpakaian hitam berdiri diam di depan Istana Negara. Mereka tidak banyak berorasi, tidak keras meneriakkan slogan, suasananya bahkan nyaris seperti tidak banyak yang berbicara. Yang terutama mereka lakukan hanya berdiri sambil memegang payung hitam dan foto orang-orang terdekat mereka yang hilang hingga kini. Di tempat lain, beberapa waktu […]