Arsitektur Dapur dan Gender dalam Pertunjukan

Oleh Beri Hanna

Dalam buku Arsitektur yang Lain, Avianti Armand, menyebut fenomena unik dalam tipologi rumah tinggal kelas menengah atas sejak sekitar akhir delapan puluhan, yaitu berupa dua macam dapur dengan pembagian fungsi juga pengguna sebagai “dapur kotor” dan “dapur bersih”.

Dapur bersih akrab dengan ruang informal yang sanggup mengakomodasi fungsi-fungsi sosial, sementara dapur kotor tidak lepas dari kultur Indonesia dengan kehadiran tubuh pembantu untuk memasak makanan sehari-hari—yang tidak jarang sekaligus menjadi tempat tinggal pembantu rumah tangga. Pembagian dapur bersih dan kotor ini juga disebabkan dari masakan yang dibuat dan hakikat arsitektur pada kultur dan akibat pola hidup yang terus bergeser.

Cuplikan pertunjukkan Dialogia Dapur oleh Padepokan Seni Bagong Kussudiardja. [Foto: Tangkapan layar gugusbagong.psbk.or.id]

Dalam pertunjukan Dialogia Dapur, kita melihat bahan-bahan kasar seperti sayur hijau, wortel, ikan, wajan, galon, dll yang jauh dari kultur “dapur bersih”.

Seperti yang kita tahu bahwa perubahan pola hidup yang terjadi sekarang (saat ini) terus berkembang, dan barangkali perubahan inilah yang menjadi salah satu kata kunci untuk melandasi pertunjukan Dialogia Dapur. Hal itu terlihat dari fungsi-fungsi tipikal dengan pembedaan jenis dapur dipatahkan dengan peristiwa baru bagi segala kemungkinan yang dapat terjadi di ruang dapur; bahwa pembagian dapur kotor dan dapur bersih barangkali dapat menjadi satu dalam peristiwa tertentu; baik tubuh-tubuh yang datang dan pergi, yang singgah bersosial, tubuh yang berdiri memandang fenomena kejadian lampau lewat mata dan dunia yang ada dalam ingatannya, hingga tubuh yang menolak untuk ada di sana.

Cuplikan pertunjukkan Dialogia Dapur oleh Padepokan Seni Bagong Kussudiardja. [Foto: Tangkapan layar gugusbagong.psbk.or.id]

Pertunjukan Dialogia Dapur dimulai dengan destinasi kamera berjalan masuk ke dalam ruang sempit. Di sana kita melihat tiga tubuh dengan posisi beku dalam dunianya sendiri. Terlepas dari narasi teks yang terdengar seperti menuju jalan lain yang berlawanan pada pola dan ragam plot sampai akhir dengan simpang siur pertanyaan dan pengkaburan tentang ruang tanpa cahaya yang tidak dikenali, kita akan menjurus pada kenyataan di mana laki-laki (saat ini) lebih mendominasi ruang dapur dengan kepopulerannya sebagai koki (yang lekat dengan dapur), justru dipertanyakan ulang dalam pertunjukan ini.

Mengapa demikian? Kita menduga dan merangkak ke arah sana. Pemilihan kolaborator yang entah dikurasi dengan baik atau justru acak, seperti memiliki risiko besar yang tidak dipertimbangkan untuk menampakkan wujud bentuk yang mematahkan pertimbangan gender dalam dapur. Baik telah disebutkan dapur secara spasial dalam kerangka ruang domestik yang menarik untuk dilihat ulang dalam agenda melacak peradaban atau sejarah sosial (mengutip teks unggahan facebook PSBK, 10/November/2020), hal itu menjadi penting dan sayang hanya diwakili dengan kehadiran tiga tubuh laki-laki di antara seorang perempuan sebagai kolabotator pertunjukan.

Agaknya dugaan kita menemui sasaran yang tepat, namun di sini kita masih terjebak dan tidak bisa lari dari pertanyaan fenomenal Roedjito, Skenografer terkemuka, tentang bagaimana kamu mengambil keputusan benda itu harus diletakkan di mana di atas panggung (di sini dapur) pertunjukanmu? Bagaimana kamu harus memilih masuk dari mana (di sini kamera dan perpindahan pemain/kolaborator) ketika pertama kali kamu memasuki panggung? Bagaimana kamu merasakan apakah kamu sedang melangkah, berjalan atau bergerak?

Dan sepertinya kita melupakan arsitektur dan keutuhan identitasnya, ketika memadukannya pada elemen tubuh, history, pengalaman, dan susunan dramatik, sehingga pertunjukan berjalan seperti alenia baru di atas landasan pacu yang lebih dulu telah membekas dan menorehkan keabadian.

Pencapaian artistik arsitektur (sejauh yang saya ketahui) meliputi pemahaman dan penerapan proporsi dan urutan penyesuaian elemen-elemen, yang tidak hanya berperan secara sturktural namun juga memainkan peran artistik dan nilai-nilai tertentu.

Penerapan proporsi tanpa dengan sengaja mengurutkan elemen-elemen sebuah ruang (di sini dapur) mengandung asosiasi dan seperangkat nilai-nilai kepantasan/wajar (batas) dengan kehadiran tubuh yang menubuh atau dengan kata lain tubuh menjadi pusat perhatian penuh yang setiap detailnya baik gerak sampai suara menjadi bahasa prosa atau puisi pada arsitektur (dapur).

Proporsi ini perlu menjaga kestabilannya terhadap pengaruh pilihan elemen-elemen, baik bangunan dengan kualitas ekspresi tubuh yang hadir dalam kamera.

Sampai pada bebunyian lain yang nikmat dihadirkan menjadi ritme yang terstruktur untuk menjamin ketubuhan pemain lain masuk ke dalam peristiwanya sendiri. Kita melihat bagaimana pengaruh itu berjalan seolah meninggalkan narasi yang paling penting, yakni menaturalkannya atau seperti tadi, mengembalikkannya pada identitas ruang atau dengan kata lain, mengurangi risiko ketimpangan kostum dan pemilihan bahasa pada sebuah pertunjukan.

Tentu kita sering melihat bagaimana bahasa canggung menyusup dalam pertunjukan, atau yang sedikit hancur dengan tubuh-tubuh di atas panggung; yang menampilkan pertunjukan tanpa keberanian menggesernya untuk berbunyi dari dalam/menariknya pada geografi pemain sampai wilayah di mana pertunjukan berlangsung, tentu dengan catatan melupakan gender dan memebenturkan perubahan yang terus berkembang sejauh ini.

*Penulis memenangi Sayembara Novel Renjana, 2021. Bergiat di Kamar Kata Karanganyar. Bukunya akan terbit berjudul Menukam Tambo. Mahasiswa Teater Institut Seni Indonesia Surakarta.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *