Puisi Ribut Wijoto

Damarsi di Masa Pandemi Covid-19

Kami menemukan ketakutan yang lain di Damarsi
Ketakutan dari daun-daun pohon kelengkeng
Yang jatuh, berserakan, seperti waktu

Di situ tak ada anak-anak bersedia memungut
Tidak lagi, tidak seperti kenangan kami
— Memang, daun-daun kelengkeng jatuh
tanpa membawa kenangan

Tapi kami membawa kenangan masing-masing
Karung emas, buku-buku bekas, bengkel mobil, tiket pesawat
Waktu bergerak semakin ke belakang

Ketika tanah ini masih di bawah permukaan laut
— Kami berjalan mundur, menaiki tangga waktu
dengan cara terbalik

Lalu kami bikin taman bermain di situ, di Damarsi
Taman dari kenangan yang tak boleh luntur
Ayunan, komedi putar, jungkat jungkit, dan batu-batu

Kami berlari mengejar bayang-bayang kami sendiri
Kami berlompatan mengelilingi taman
Kami berhimpitan, berdesakan, bertukar lenguh dengan lepas
Kami saling bertanya dan kami tak mau mendengar jawaban
— Ketakutan mana yang lebih tua dibanding kenangan?

Pada rumput-rumput taman, kami cecap bau yang lain
Kami mabuk dan menderita karenanya

Lalu sayap-sayap angin, membawa terbang pikiran kami
Begitu keras, begitu dingin, begitu asin, lengang, berkarat
Dan kami turun kembali ke taman,
Tanpa tahu, taman ini adalah ibu
Dia yang melahirkan kami tanpa persetujuan kami

Seraut wajah waktu dan senja berpagar kenangan
Kami tuliskan nama kami di situ, di Damarsi

Memang, kami telah tua ketika mengenal tanah ini
Tapi kami tak mungkin mengelak
Kami tak mungkin mengkhianati takdir
Tak ada pilihan,
Kami mengunci rapat pada segala kemungkinan
Dan kami hanya bersandar pada tafsir

Antara usia dan detak jantung
Kami raba pusar di tengah perut kami
Kami rasakan maut melangkah pergi

Tapi kami temukan maut yang lain
Bongkahan bulat yang sejuk, berdenyar
Menyedot yang bisa disedot, menghisap yang bisa dihisap
Membelah yang bisa dibelah

Tubuh kami serasa diremas, dipotong-potong
Kami memberontak dan kami tahu itu sia-sia
— Tak ada strategi melawan waktu
kecuali menyerah

Kami susun ulang potongan-potongan tubuh kami
Kami rias wajah kami seperti raja-raja dalam komik
Genangan waktu, kami berenang di deras alirnya

Kami temukan bayang-bayang lain yang jatuh
Kami menangkapnya dengan kegembiraan
Aufklarung, enlightenment, pencerahan
Di antara arus air yang kian menghanyutkan,
— Kami menjadi anak-anak, menjadi kanak-kanak

Kami bercakap dengan ikan-ikan plastik
Kami kecup gelembung udara sebelum pecah
Kami bersijingkat tanpa menjejak tanah
Kami teriak dan berputaran mengikuti pusaran
Kami bernafas dalam lumpur
Kami megap-megap lalu terlempar tinggi ke udara

Damarsi ada di bawah kami, menggemaskan
Seperti wanita keluar dari kamar mandi
Rambut basah, handuk melilit tubuh
— Sembari melayang di udara,
tubuh kami mengejang-ngejang liar,
kami dibikin berahi oleh penampakan Damarsi

Damarsi, damar – besi, sebuah desa dengan nama lampu
Petak-petak tambak dengan mulut menganga
Sungai yang selebar fantasi
Seseorang sendirian memancing dengan lumut basah
Dan petani menggarap sawah yang bukan miliknya
Dan lalu lalang pengembang properti
Dan jalan yang kian kotak-kotak
Dan serangga hijau mati
Dan mati dan mati
Dan mati

Kami saksikan semuanya dari udara yang kian dingin
Tubuh kami bergetar dan basah
Kuyup oleh berahi

Mendung tebal tersaput angin kelam
Tubuh kami terus membumbung tinggi
Mendekati batas atap langit
— Tubuh kami, mungkin, sudah mendekati rumah Tuhan

Tiba-tiba tubuh kami terhempas, jatuh
Hujan turun dalam dada kami
Berdenting seperti peluru

Kematian yang tertunda, barangkali, tak pernah ada
Sepuluh jari-jari kami menancap pada tanah
Darah mengalir, seperti busa sabun cucian
— Bening, berbuih, dan kesepian

Duka semakin abadi, bermantel ungu
Kami kini jasad yang ditinggalkan ruh
Dan kunang-kunang terbang
berputar di atas kepala

Kami tak pernah menyangka
Maut begitu cantik dan selalu menolak dicintai

Ada suara-suara lain memanggil kami
Mungkin suara Tuhan
Lebih dekat dari telinga, lebih bening dari bayi
Lebih nyaring dari rayuan wanita jalang

Kami bangkit dan bergegas pulang
Pada rumah yang terbangun dari bait-bait puisi
Tetapi pintu tertutup dan segalanya telah berubah
Kami dapati orang-orang mengenakan masker
Saling menjaga jarak
— Orang lain adalah neraka

Begitulah, kami pernah membangun rumah
Tetapi dengan perasaan bimbang kami bertanya
Ke mana harus pulang?

Damarsi yang menyakitkan
Seperti perampok
Seperti delta
Seperti Jawa
Seperti ruh yang mengkhianati tubuh kami sendiri
Seperti kenangan yang tak pernah ada
Seperti ingatan yang perlahan sirna

Akhirnya, pada bulan kesepuluh ini, kami memilih pergi
Kami lupakan Damarsi
Kami cari kitab suci yang lain
Kami berjalan ke arah matahari terbenam
— Serupa petarung kidal

Jalan setapak bercecabang kami lalui
Terus berjalan dengan mata terpejam
Terus, terus, terus ke barat
Kami telusuri lagi kota lama Adi Wicaksono
Dan sebagaimana tokoh suci Subagio Sastrowardoyo
— Kami hanya makan harum kunyahan bunga
dan minum tetes angin pagi

Terus berjalan, sampai pada tepi
Di mana waktu kian tercerai berai
Seperti mimpi seorang wanita telanjang
— Ingatan tentang masa depan
ramalan tentang masa silam

Lalu kami temui ruang baru tempat bermukim
Sebuah desa yang dilumuri cahaya
Tanpa kami sadari, kami telah kembali
Di Damarsi

Sidoarjo, 22 Januari 2021

 

*Ribut Wijoto, lahir di Tulungagung, 23 Maret 1974. Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda), anggota Teater Gapus, Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP), Bengkel Muda Surabaya (BMS), wartawan media online beritajatim.com, dan penjual buku bekas. Pernah mengeditori buku puisi ‘Ayang-Ayang’ (Gapus Press, 2003), ‘Ijinkan Aku Mencintaimu’ (Gapus Press, 2006), ‘Menguak Tanah Kering’ (Kumpulan puisi bersama Teater Gapus, 2001), ‘Permohonan Hijau, Antologi Penyair Jawa Timur’ (Festival Seni Surabaya, 2003), ‘Rumah Pasir’ (Festival Seni Surabaya, 2008), buku puisi ‘Pertemuan Penyair Jawa Timur’ (Disbudpar Jatim, 2009), ‘Wong Kampung’ (Festival Seni Surabaya, 2010), ‘Tenung Tujulayar’ (Gerilya Sastra, DK Jatim, 2014), mengeditori belasan buku puisi yang diterbitkan ‘Halte Sastra’ (DKS, 2009-2015), mengeditori buku puisi ‘Majelis Sastra Urban’ (DKS, 2018-2020), ‘Dan Di Genggaman Ini, Mengalir Sihir’ (BMS, 2019), ‘Di Tepi Jalan Pantura’ (Forum Sastra Maritim, 2020), dan beberapa buku puisi lain.

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *