Puisi-Puisi Mochammad Aldy Maulana Adha

Masalah Pronounciation

kau katakan
cintaku terpeleset
pada kamar mandi bahasa
& kepalanya gegar otak
ketika aku terbata-bata
berkata lelucon yang liris:
Bahasa Prancis mungkin telah mati
bunuh diri di lidah orang yang payah
melakukan French Kiss.

(2022)

 

Lelaki, Anak Pertama

tak ada airmata
di dalam mataku,
ia kusimpan dalam-dalam
di alam bawah sadarku. o aku
sadar, seluruh kelas kata
dalam kamusku telah berubah
jadi kata kerja. verba! verba! verba!
sebuah jurang menatapku, aku
menatap balik, & ia malah jadi
kata sifat cahaya. omong-omong…
pundakku terbuat dari grafena,
dadaku pohon oak yang tantang
dingin angin-hitam, seluruh tulangku
adalah tulang-tulang paha, kepalaku
memulai-meraih kemerdekaan
pada jumat malam, mulutku lulabi
paling merdu bagi adik-adikku,
telingaku autotune yang saring bising
keputus-asaan, hatiku lukisan fresko
yang dilukis di hari minggu kelabu,
& mulutku tak didesain ‘tuk lepaskan
energi ledakan perasaan
sebagai hasil reaksi fisi khawatir,
fusi getir, atau kombinasi keduanya.

aku tak paham rumus matematis…
derita : derita = ½ lega. seluruh
derita dengan cepat kutelan
bulat-bulat. tapi apakah membagi
bahagia = melipat-gandakannya?

(2022)

 

Mars Mati Muda

lihat, mataku hutan hujan
lebat & rapat—yang ditimpa
99 tuhan. & 1 keterlemparan setan.
mulutku palung paling mariana
yang diam-diam simpan desibel
setiap sesuara. lidahku campuran
antara frasa in vino veritas, laju cahaya,
& lukisan-lukisan ekspresionisme abstrak
dengan skema warna pucat pasi.
hidungku canis yang hyena. telingaku
mesin pengindeks bendera kuning
& naskah obituari dari yang hidup
sekali … tapi telah berkali-kali mati—
& tubuhku, o tubuhku, adalah tuts
hitam piano di mata partitur lagu-lagu
mati lampu—dalam kunci g#m bagi
kemurungan mayor yang … seringkali
dipandang minor. pikiranku? pisau
bedah yang secara arbitrer mendedah
setiap tanda … yang sebenarnya
tak pernah jadi petanda bagi penanda.
kemari, kemarilah, tolong jawab
kelelahan-keletihanku: bahasa apakah
airmataku, & airmataku yang lain—aku
menyerah, ingin benar-benar menyerah,
mempercepat sebenar-benarnya kesia-siaanku?

(2022)

 

2022 + 1

apakah kau siap kehilangan semuanya?

suara itu meluncur mulus
dari pita suaramu menuju
gendang telingaku. seperti Goethe
narasikan tragedi senin pagi
di hari sabtu-minggu. membawa
kesadaranku ke
kemungkinan-kemungkinan
yang mengerikan … & menyembilu.

keheningan yang canggung
berjalan gegas. meretas Unamuno
di kerongkonganku. kau menaruh
kepalamu di atas dada kiriku.
menghitung berapa bpm jantungku
& bertanya-tanya mengapa tiba-tiba
detaknya berubah dari larghetto
jadi prestissimo. gemertak gigimu
yang bergesekan … ciptakan semacam
kunci e minor dalam bahasa cello.

begini, sayangku, esok … cahaya
niscaya kembali terbit dari timur &
kita akan lekas memutar keras-keras
As the World Caves In – Maltese,
berjalan ke barat, melatih tari
sampai lihai menari serupa
lukisan Matisse—coba tenangkan
bilur-bilur biru di hitam matamu.

kehilangan yang puitik-artistik itu—
akan sembuhkan luka-luka, yang tak
pernah terindera sebelumnya. jika kita siap
untuk kehilangan semuanya—o jika kita siap
mungkin keberuntungan akan sejenak berpihak;

mudah bagi kita untuk tertawakan
segala nyeri-lebam di dalam jiwa.

(2023)

 

Trolley Problem

negara bukanlah utilitarian
yang berprofesi sebagai masinis
kereta … yang akan sudi
bertanya: apakah lebih baik
menarik tuas—berganti rel—&
menabrak satu demi selamatkan
lima? bukan pula deontolog
yang memilih patuh—tetap
di jalurnya—& menghantam lima.

negara adalah kereta itu sendiri,
sebuah mesin berkecepatan
tinggi … yang haus darah, dingin,
& tak berperasaan—yang akan
menggilas satu, kemudian
menggilas lima—lalu menggilas
sepuluh, seratus, seribu, sejuta—
lantas menggantinya dengan
infografik angka-angka, statistik
natalitas-mortalitas biasa—&
niscaya bersabda di media massa
dengan percaya diri bahwa apa
yang dilakukannya merupakan
keharusan yang tak terhindarkan
sekaligus
kebenaran yang tak terbantahkan.

(2022)

 

Bagaimana Rasanya Mencintai Seorang Bajingan?

seperti seorang tolol
di dalam mobil
berkecepatan tinggi
tanpa sabuk pengaman
di jalan tol—tanpa tahu jika
sebuah bus double-decker &
truk tronton suatu saat akan
menghantam bumper belakang
& depan—momen inersia
mengambil kendali—kemudian ia
terlempar, minimal terkapar koma
lebih dari 500 hari, maksimal
benar-benar mati …

(2022)

 

Ruang Hampa di Langit
: Hans Zimmer – Day One

Adam kesepian. ia pinta cinta. tuhan ciptakan Hawa. tapi ia masih kesepian. setan datang. tapi ia masih kesepian. ia makan buah terlarang, lalu ditendang ke bumi. tapi ia masih kesepian. ia lupa, ia lupa, ia lupa.

ia lupa pada kemungkinan-kemungkinan— yang mungkin saja berkemungkinan—memungkinkan kebenaran dalam sabda-sabda profan—bernuansa kata sifat dosa: “keberadaan dikutuk untuk merasa kesepian dalam kekekalan—jauh sebelum hari pertama, sebelum ketiadaan, sebelum tuhan kesepian & ciptakan seluruh keberadaan.”

(2022)

 

L’homme est Condamné à Être Solitaire

pagi itu, kebebasanku, secara bajingan elegannya, jatuh dari balkon … & pecah berkeping-keping. mungkin aku butuh kebebasan baru, pikirku, tak ambil pusing. mataku rekam montase-montase ketakpedulian langit pada doa-doa purba, sedang telingaku tangkap sesuara sumbang burung-burung … yang nyanyikan bahasa tak terbahasa: “kecemasan konstan adalah konsekuensi logis atas kehendak bebas, atas kemungkinan-kemungkinan pilihan tak terbatas yang dimilikinya.”

setengah nausea, aku membawa tubuhku pergi ke pasar gagasan—kutemukan satu kebebasan yang terlihat begitu mewah & mahal … meski berwarna noir & berbau irasional. aku vis-à-vis dengan gairah artis-puitis-melankolis tak bernama. sekilas seperti angst, atau mungkin dread yang terlontar pascazaman god-is-dead. & tiba-tiba, penjualnya getir berkata, itu milik para eksistensialis-paris tahun ‘60-an. aku tak bertanya berapa harganya, tetapi … setelah kupasangkan di kepalaku, pada malam-malam yang mencurigakan—aku benar-benar tak bisa bedakan … yang mana kebebasan baruku & yang mana kesepian lamaku.

: o Debussy, kunci apakah
solitude bernada solilokui?
F? A#? E-minor? zzzzz

(2022)

 

1.618

amor fati di leher kiriku, rasio tuhan di lengan kiriku, memuntahkan lisensi puitika. mulutku selesai bekerja, perutku mengeja kata kerja. di luar hujan besar, di sini vietnam drip menyelesaikan tetesannya, & hangatkan kata sifat dingin, rokok menjadi konjungsi sempurna bagi kata setelah makan, earphone menggemakan orkestra Chopin yang minor di telinga—kepurnaan sungguh mayor, jendral! seperti sejuta Cioran yang berhamburan dari gagang pintu. seperti sedang tunda wacana mati muda Sophocles—yang masih hidup dalam kepala Gie. o kerjaanku kelar, nulis puisi lancar, banyak bacaan gurih di rak buku, & hari esoknya … berwarna minggu.

tapi apakah kehidupan yang hidup, baru dimulai semenjak jumat malam, sayangku?

(2022)

 

La mort de l’auteur

di luar, pagi itu, seorang bayi baru selesai ditanahkan. apa yang buruk dari ketakkekalan? rutuk seorang penggali kubur usai telan annica itu pada langit bisu. di sini, aku bertanya hal tolol tak terkontrol—bagaimana bisa kau bangun batas-batas militer antara keibuanmu dengan kekanak-kanakanku?
seorang bohemian dengan keminoran yang rapsodi di kepalanya, menatap mataku … seperti katakan kedewasaan adalah film dokumenter nirsuara, nirtakarir, yang tak seorang sinefil pun tahu kapan harus berakhir. kau cari makna yang piawai-brengseknya sembunyi di tubuh kata. kau tahu, pagi itu semakin malam.

semakin gelap & legam suatu malam, semakin terang bintang-bintang … aku tiba-tiba mencuri perhatianmu seperti Dostoevsky sedang tipsy. tapi bukankah malam lebih berwarna, lebih bercahaya dari pagi? … hidup adalah mimpi buruk bagi para pemimpi! teriakan itu terdengar—di luar teks—dari seorang pesimis yang ternyata adalah seorang optimis yang realistis.

siapakah yang telah menyusun puisi semurung ini? tanya pembaca yang bingung pada konteks tak lama setelah teks hidup & pengarang mati.

(2022)

 

Arsitektur Kebiruan
—van Gogh

di gerbang keabadian, malam berbintang. almond bermekaran. ini kursiku, itu kursi Gaugin. tengkorak sebuah kerangka dengan rokok yang menyala. bunga matahari yang layu. pohon cemara. tampak diam, sepasang sepatu. kemuraman Père yang suram. bunga-bunga iris. potret Ginoux tetap hidup dengan kubis & bakiak. akar-akar pohon. ladang gandum dengan gagak-gagak. wisma kuning. kebun anggur merah. putih canvas. biru kuas.

“tak ada biru tanpa kuning & jingga. tak ada dukalara tanpa tawa & bahagia. tapi apaguna telinga bagi dunia yang tuli? … lukisan adalah puisi yang dituliskan dengan segenap kepedulian—bagi ketakpedulian dunia yang tunaaksara.”

barangkali, begitulah ia pernah melukis-menulis tanya & sabda

(2022)

 

Mungkin Iya, Jawabnya

ketika matahari tak mampu jadi mata bagi setiap hari … yang gelap & lindap: pagi tak ada selamat pagi & malam tak ada selamat malam—& pergi tak ada hati-hati, tak pula ada destinasi. & pulang tak ada rumah untuk rebah, tak ada peluk paling hangat, tak pula dinanti-nanti;

¡Hola! Gabo, halo Bukowski, apakah itu lebih mematikan dari kematian & lebih mati dari mati?

(2022)

 

*Mochammad Aldy Maulana Adha lahir di Bogor, Jawa Barat—pada 27 Maret 2000. Pengarang; Founder Gudang Perspektif; Editor-Ilustrator Omong-Omong Media; & Penerjemah paruh-waktu. Pada tahun 2021, ia menjadi pemenang pilihan dalam sayembara puisi yang diinisiasi oleh Ziliun x Penakota.id yang didukung oleh Perpustakaan Nasional Indonesia, Tempo Institute, dan Tempo.co; pemenang pilihan dalam lomba menulis fiksi yang diadakan oleh Penerbit Ellunar; penulis terbaik dalam lomba puisi yang diselenggarakan oleh Penerbit Jejak. Pada 2022, ia menjadi dewan juri cerita pendek di Festival of Arts and Sports, Fakultas Hukum, Universitas Indonesia. Karya fiksinya tersebar di beberapa media, seperti Koran Tempo, Kompas.id, Media Indonesia, Borobudur Writers, dan lain-lain. Sedangkan nonfiksinya tersiar di MJS Colombo, LSF Discourse, Zona Nalar, Newminds Club, dan lain-lain. Bisa disapa melalui: email-genrifinaldy@gmail.com; instagram-@genrifinaldy; twitter-@mochaldyma