Imes Di Antara Zaini Dan Oesman Effendi
Oleh: Seno Joko Suyono*
Divalproex, Escitalopram, Lorazepam. Tiga lukisan abstrak Paskalia Prameswari Wardhani atau Imes Paskalia yang dipamerkan di Selasar Nashar,Paviliun Raden Saleh, Artotel Taman Ismail Marzuki diberi judul tersebut. Tiga lukisan itu dibuat dengan charcoal di atas kertas putih. Kita meihat gambarnya seperti garis-garis dan luapan spontan emosi yang menghasilkan visual hitam berasosiasi garis-garis daun dan ranting-ranting tanaman serta cipratan darah. Komposisinya pas dan cukup memunculkan impresi saat dipandang.



Divalproex, Escitalopram, Lorazepam. Tiga lukisan abstrak Paskalia Prameswari Wardhani atau Imes Paskalia yang dipamerkan di Selasar Nashar,Paviliun Raden Saleh, Artotel Taman Ismail Marzuki diberi judul tersebut. Dokumentasi : SJS
Bila kita googling Divalproex, Escilatopram dan Lorazepram ternyata nama-nama obat penenang. Divalproex misalnya adalah obat penenang untuk epilepsi dan dan berbagai jenis kejang. Juga obat untuk orang-orang yang mengidap gangguan bipolar terutama untuk mengatasi gejala mania. Sementara Escilatopram adalah obat anti depresan. Obat ini umumnya digunakan untuk pasien-pasien yang mengalami depresi mayor atau mengalami gangguan kepanikan, gangguan kecemasan menyeluruh, fobia sosial dan gangguan obsesif kompulsif. Akan halnya Lorazepam adalah obat yang bekerja untuk menenangkan sistem saraf pusat. Obat ini untuk megatasi imsonia yang disebabkan kecemasan dan gelisah berlebihan. Obat ini akan memberikan rasa tenang, rileks dan kantuk pada penderita.
Mengapa, Imes Paskalia, perupa muda lulusan seni rupa Lasalle College of the Arts Singapura itu menggunakan judul-judul tersebut untuk tiga lukisan abstraknya? Apakah ia pengkonsumsi obat-obatan itu? Adakah ia menderita penyakit tertentu?
***
Adalah menarik pada waktu yang bersamaan di Taman Ismail Marzuki – di akhir Juni sampai pertengahan Juli 2026 ini terdapat dua pameran tunggal abstrak dari perupa yang jauh berbeda generasi. Di Galeri Cipta 1 dan 2, Gedung Trisno Soemardjo TIM terdapat pameran lukisan-lukisan almarhum Zaini yang diberi judul penyelenggaranya: Menyibak Kabut. Sementara yang satu adalah pameran Imes di atas yang diadakan di sebuah lokasi baru di TIM, yaitu di selasar milik Artotel di lantai 8 Gedung Ali Sadikin yang oleh kurator Aidil Usman diberi nama Selasar Nashar.
Tentu karya Zaini dan Imes tidak bisa dibandingkan secara langsung dengan satu ukuran atau standar yang sama. Incommensurability dalam istilah epistemologi Thomas Kuhn. Zaini dalam sejarahnya kita tahu adalah sosok yang di TIM ikut perkembangan dan percakapan untuk menumbuhkan seni modern Indonesia. Pikiran-pikirannya tentang senirupa cukup memberi warna dalam diskusi-diskusi yang merefleksikan seni rupa kekinian di tahun 70 an. Ia turut mendirikan Dewan Kesenian Jakarta di tahun 1967. Ia kemudian di tahun 70 an menjadi dosen LPKJ. Pengalamannya lintas generasi . Seperti ditulis di katalog pameran, ia belajar melukis kepada pelukis naturalis Wakidi semasa sekolah INS Kayutanam di Padang dan saat awal tiggal di Jakarta kepada S Sudjojono, Basoeki Abdullah, Subanto Sastrobandrio dan perupa Jepang Saseo Ono. Tatkala mengajar dan mengembangkan kurikulum di LPKJ bersama dengan Nashar dan Oesman Effendi, dia dikenal sebagai the three musketeers yang melahirkan abstrak LPKJ dengan prinsip-prinsip yang berbeda dengan abstrak-abstrak geometris yang cenderung akademis dari para perupa ITB seperti Ahmad Sadali dan AD Pirous. Ia juga di masa itu dikenal perupa yang menangani cover majalah sastra Horizon. Dan juga aktif membuat vignette-vignet dan sketsa-sketsa untuk menghiasi halaman Horizon.
Sementara Imes adalah pelukis abstrak muda – 27 tahun yang baru saja muncul – dan sama sekali sebelumnya tidak mengalami persinggungan dengan khazanah seni TIM. Imes bahkan mungkin tidak melakukan pergumulan dengan sejarah lukisan abstrak Indonesia termasuk menyelami karya-karya serta pemikiran Zaini, Sadali dan lain-lain. Ines belajar beberapa tahun di jurusan seni rupa Lasalle College of the Arts, Singapura dan pada tahun 2018 balik ke Indonesia. Pergaulannya hanya sebatas mahasiswa seni di Singapura. Dia hanya pernah tiga kali pameran, satu pameran tunggal di Yogya dan dua pameran bersama di London dan Australia.
Betapapun beda akan tetapi menurut saya menyaksikan kedua pameran itu amat sangat berguna untuk mendapat pengetahuan mengenai cara kerja pelukis abstrak. Lukisan-lukisan absrak sering dianggap sebagai lukisan spontan – yang pelukisnya menuangkan pikiran-pikiran dan emosinya secara present moment. Gagasan-gagasan dan teknik lebih seperti dorongan ekspresi seketika. Sering bila melihat pameran lukisan abstrak, kita tak bisa melacak dari ide apa, luapan-luapan cat pelukis itu berasal – karena pelukisnya sendiri tak bisa dengan clear menjelaskan obyek-obyek yang memicunya. Padahal sesungguhnya banyak para pelukis abstrak untuk meluapkan ekspresinya juga secara sadar maupun tak sadar didahului oleh perhatian atas sesuatu obyek tertentu, penempaan pengamatan-pengamatan tertentu atau berdasarkan reflleksi terhadap sensasi pengalaman-pengalaman tertentu. Pada titik inilah, pameran Zaini dan Imes bisa menjelaskan bagaimana pelukis-pelukis abstrak mendapat ilham dan menuangkan idenya ke kanvas dari hal-hal yang berbeda. Kita akan melihat bagaimana dua pelukis berbeda generasi itu bertolak dari gagasan gagasan yang sama sekali lain.
Di Galeri Cipta 2 kita melihat yang ditampilkan dari karya Zaini adalah sketsa, vignyet dan drawing. Kita bisa melihat ternyata Zaini memiliki perhatian menggambar berbagai obyek keseharian. Obyek obyek keseharian yang diangkat Zaini mulai perahu, pemandangan, sampai binatang-binatang dan sosok-sosok orang. Terlihat drawing-drawing Zaini tak sekedar mengimitasi obyek namun juga melakukan eksprimentasi baik secara bentuk maupun ukuran bidang. Salah satu yang menarik adalah ada karya berupa sketsa-sketsa wajah orang dengan ukuran yang sangat kecil, hanya beberapa cm. Dan kemudian drawing alit itu ditempelkan pada bidang kertas yang lebih besar. Hal ini menimbulkan efek. Kiita merasakan suatu lapis-lapis kertas. Dalam bingki pigura kita melihat bebuah bidang kosong dengan titik pojok atas tertempel gambar wajah orang dengan ukuran sangat mini. Hal ini menampilkan estetika sendiri
Sementara di Galeri Cipta 1, kita bisa melihat lukisan-lukisan kanvas Zaini yang bercorak semi abstrak. Tampak Zaini tak meninggalkan apa yang dieksplorasinya di sketsa atau vignette. Pada lukisan-lukisan semi abstraknya berbagai bentuk obyek yang pernah ditampilkan dalam vignette dan sktesa diabstraksikan. Jadi yang dikerjakan Zaini bukan mengisi kanvasnya degan luberan dan benturan cat-cat yang menghasilkan suatu komposisi abstrak tapi ia mengabstraksikan obyek-obyek yang pernah ditampilkan di sketsa-sketsanya dari hewan sampai orang. Mengabstraksikan di sini dalam arti Zaini seperti hendak menangkap kembali obyek-obyek itu namun dalam level esensi. Obyek-obyek itu oleh Zaini dilepaskan dari hal-hal kongret dan partikularnya dan hanya ditampilkan sebagai representasi umum. Mengabstraksi di tangan Zaini bukan berarti menghilangkan objek, tetapi menangkap “kesan dalam” obyek.
Sosok-sosok hewan dalam lukisan cat minyak semi abstrak Zaini seperti anjing atau kuda maka ditampilkan seolah – selayang pandang umum saja. Sosok-sosok itu tidak diungkapkan secara wadag namun hanya disajikan fenomenan saja – dalam istilah pameran sosok-sosok itu seperti sosok-sosok yang ditimpa kabut atau lebur dalam kabut. Perhatikan lukisan cat minyak berjudul: Macan Kumbang yang merupakan koleksi Toety Herati di Cemara 6 Galer, sosok macan kumbang itu tampilannya seperti hasil tangkapan sekelebat namun sudah dapat dipantau itu identitasnya macan kumbang..Dari karya-karya Zaini yang dipamerkan di Galeri Cipta 1 dan Galeri Cipta 2 kita melihat adanya dialektika antara sketsa-sketsa Zaini dan lukisan-lukisan semi abstrak Zaini. Dapat dibayangkan proses menggambar obyek dalam sketsa-sketasa di atas kertas bagi Zaini bukan merupakan awal yang kemudian tidak dilakukan lagi saat ia memfokuskan diri ke semi abstrak, tapi keduanya dalam proses kreatif Zaini pasti dilakukan berdampingan .
Adalah menarik di bulan Juni sampai September 2026 ini , di Galeri Nasional juga diadakan pameran karya almarhum Oesman Effendi, sahabat dan teman seperjuangan Zaini sejak sekolah di Kayutanam. Oesman Effendi juga dikenal sebagai pelukis abstrak. Dari pameran di Galnas kita bisa melihat perjalanan Oesman Effendi sangat panjang.Pada karya-karya Oesman awal: panorama alam, hewan, manusia masih hadir sebagai objek yang dapat dikenali. Ia melukis lanskap-lanskap alam sampai melukis potret-potret manusia. Tapi sejak tahun 1950-1960 an karya-karya Oesman betul-betul murni abstrak. Komposis-komposi abstrak Oesman Efendi namun lebih didominasi warna-warna cerah daripada Zaini yang cenderung sendu dan kelam. Oesman Effendi terlihat banyak mengeskplorasi interaksi antara garis, lengkung dan bidang-bidang yang diisi warna-warna cerah lembut yang berbeda. Pola-pola lengkung yang disajikannya demikian variatif dan dinamik. Tiap kanvas seolah menampilkan ritme atau aliran yang tak sama. Seluruh karya Oesman ini diberi jusul Untitle. Proses kreatif abstrak Oesman Effendi namun saya kira kurang lebih sama dengan Zaini.
Sebagaimana Zaini, Oesman juga melakukan aktivitas sketsa yang dalam dan intens . Ia mengambar sktesa-sketsa berbagai obyek keseharian sampai ribuan. Dalam pameran di Galnas ditampilkan berbagai sketsa-sketsa Oesman Effendi di sobekan-sobekan kertas. Dari situ kita bisa tahu Oesman sangat intens mengamati lingkungannya. Ia menggambar berbagai kehidupan, sosok orang-orang. Sketsa bagi Oesman agaknya suatu kebutuhan untuk menyelami nafas manusia Indonesia. Saya ingat pameran sketsa Oesman Effendi juga pernah diadakan di Galeri kampus FSRD IKJ April 2022.
Saat itu IKJ menampilkan 70 sketsa Oesman Effendi yang digambar pada berbagai kertas berukuran kecil yang tak sama panjang-lebarnya, ada yang 8,8 x 14 sentimeter, 10 x 12,5 sentimeter sampai 17,5 x 7 sentimeter. Oesman Effendi, tampak seperti memanfaatkan sembarang kertas yang kemudian diguntingnya rapi. Di atas kertas itu ia menggambar apa saja secara realis, dari wajah-wajah perempuan tua, panorama rumah-rumah dari kejauhan, perahu nelayan, rumah-rumah gadang berlatar gunung, hiruk-pikuk kerumunan, penjual-penjual sampai orang sedang bercakap, dan sebagainya. Betapapun alit, tidak seluruh bidang kertas Oesman Effendi terisi. Komposisinya senantiasa meninggalkan ruang kosong yang cukup. Tampak Oesman melatih keterampilan garis: tipis, tebal, titik, bahkan pada “secuil” kertas. Maka dari itulah banyak yang mengatakan meski lukisan-lukisan abstrak Oesman yang mengeksplorasi lengkung tak bisa diidentifikasi obyeknya secara jelas dan terasa fantasional namun sesungguhnya itu bertolak dari asosiasi-asosiasi akan obyek tertentu.
***
Sebagai perupa muda, karya-karya abstrak Imes sama sekali tak menurun dari estetika kedua almarhum maestro abstrak TIM itu .Juga ia tak melanjutkan warisan gaya-gaya abstrak geometrik ITB. Stimulan Imes untuk melakukan aktivitas melukis abstrak juga tak bertolak dari sketsa-sketsa dari hasil pengamatan terhadap obyek-obyek keseharian masyarakat jelata sebagaimana dilakukan oleh Zaini dan Oesman Effendi. Karir Imes masih sangat panjang. Dibanding dengan perupa-perupa abstrak muda kita pun, ia masih tergolong baru muncul dan mencari.
Tapi ia memiliki sebuah pijakan yang lain. Dunia abstrak Imes adalah sebuah dunia yang bertolak bukan dari estetika para maestro atau dari ekosistem trend seni rupa namun dipicu dari kegelisahan dan pengalaman kebertubuhannya sendiri. Dalam katalog pameran yang dicetak terbatas oleh Aidil Usman, disebut praktek seni Imes bertolak dari Diagnosis Gangguan Bipolar dan Gangguan Sindrom Pasca Trauma. Praktek seni abstrak Imes disebut juga sebagai seni bertahan hidupnya. Semua karya Imes di pameran dikatakan dalam katalog sebagai “kenangan-kenangan visual” baik dan buruk yang membentuk psikosis dan pikiran-pikiran Imes.
Tatkala di suatu sore – sambil menyedu secangkir kopi panas, saya bertanya kepadanya tentang hal itu dan apakah 3 lukisan yang diberi judul nama-nama obat penenang itu berkaitan dengan obat-obatan yang pernah digunakannya, ia sedikit ragu menjawabnya. Namun ia kemudian menjawab jujur. ”Ya saya pernah mengalami masalah self anxiety dan self depresion. Oleh dokter saya diwajibkan menelan pil-pil itu,” katanya. Ia bahkan bercerita pernah melakukan hal yang agak membahayakan kepada tubuhnya sendiri. “Untuk mencegah hal demikian saya rutin meminum pil-pil penenang ,” tambahnya. Dan itu dilakukannya cukup lama dari tahun 2015 sampai 2024, sekitar sembilan tahun. ”Saya meminumnya biasanya malam, karena obat-obat itu membuat mengantuk,” kenangnya.
Sekarang Imes sudah tak mengkonsumsi obat-obat itu lagi. Ia mampu mengatasi kecemasan-kecemasan yang muncul dalam dirinya. Dan lukisan-lukisan abstrak yang dibuatnya diakuinya merupakan bagian dari cara mengontrol depresi-depresi yang sewaktu-sewaktu bisa muncul tiba-tiba .Ia tidak mengatakan melukis bagi dirinya sebagai sebuah metode terapeutik , namun ia mengakui bahwa setelah mampu menyelesaikan sebuah lukisan ia seolah merasa melakukan pelepasan. ”Maka dari itu cara ungkap saya tidak menampilkan figur-figur tapi garis-garis abstrak. Saya selalu merasa lega dengan hal itu,” katanya.
Dan hal demikian memunculkan lukisan-lukisan abstrak yang berkualitas ”meditatif” Lihatlah judul-judul yang diberikan Imes terhadap lukisannya: Loneliness in Anger, Is it Anger or Addiction?, What is Sanity and What’s Not, I am Mortal Therefore I am Grateful, The Soul Fractures, Only God Knows, Grief is my Friend. Tampak ada persoalan dalam diri Imes yang dicoba diatasi dan disembuhkan. Imes mengatakan dirinya banyak mengamati hal-hal sederhana sehari-hari untuk menemukan ketenangan pikiran. Dia juga banyak membaca untuk menemukan makna di balik kisah-kisah. Bahkan dalam membaca ia memiliki kebiasaan bila menemukan kalimat-kalimat yang membuatnya tenang, ia akan menuliskan ulang kalimat-kalimat itu dalam buku. “Saya membaca novel-novel dari novel Doestovesky sampai Haruki Murakami. Kalimat-kalimat dari novel mereka banyak yang saya tulis kembali di buku pribadi saya,” katanya.
Berkaitan dengan ini saya melihat Imes tertarik dengan visi-visi yang berkaitan dengan spiritualitas kisah-kisah Katolik. Di samping tiga lukisan berjudul obat di atas, ada satu seri charcoal di atas kertas yang diberi judul: Purgatorio. Sama dengan ekspresi tiga lukisan berjudul obat itu, lukisan ini cuma coretan-coretan hitam arang di atas kertas putih – sederhana namun mengandung dimensi.
Purgatorio dalam teologi Katolik berkaitan dengan api penyucian. Purgatorium dalam ajaran Katolik merupakan penyucian sementara jiwa-jiwa orang yang baru meninggal . Dipercaya Allah akan lebih dahulu menerima jiwa-jiwa yang keluar dari tubuh orang yang meninggal, memberikan rahmat , dan menyucikan kembali, memurnikan dosa-dosanya sebelum jiwa-jiwa dimasukkan ke surga : “Ini refleksi saya terhadap novel Dante Alighieri,” kata Imes. Dalam bagian kedua novel terkenalnya: Divine Comedy, sastrawan klasik Italia Dante Alighieri menggambarkan suasana jiwa-jiwa yang gembira menerima penyucian dan pengampunan karena akan bersatu dengan Allah di surga. Ini menjadi bahan renungan Imes. Namun adalah menarik dalam pameran, Imes menampilkan teks di samping lukisan Purgatorio ini dengan deskripsi demikian: Escitalopram, Divalproex…obat-obatan melakukan perjalanan suci ke dalam gunung jiwa. Terjal. Curam. Dalam. Tajam. Apakah diriku sama dengan obat yang bisa dilarutkan dalam air di sebuah sendok. Dan setelah meminumnya apakah aku bisa tidur. Bertemu Dante di gerbang pintu penyucian yang terbakar. Tampak temaPurgatorio masih dikaitkan Imes dengan harapan akan efek ketenangan saat meminum obat-obatan. Hal ini yang membuat Purgatorionya menjadi lain.
Salah satu lukisan lain yang masih bersinggungan dengan refleksi visi-visi religiusitas Imes adalah lukisan berjudul: Renjana. Lukisan ini juga charcoal di atas kertas putih. Lukisan ini menampilkan visual tiga tangan di atas berusaha menggapai sebuah tangan di bawah. Dalam tradisi Katolik, lukisan tangan yang memetaforakan hubungan Allah dengan manusia adalah lukisan Michelangelo: The Creation of Adam . Lukisan ini menggambarkan dua tangan dalam posisi sejajar yang satu menunjuk dan satu lain mengarahkan jari telunjuk untuk menerima tangan yang mengarah kepadanya. Namun kedua tangan itu masih berjarak belum saling menyentuh . Lukisan itu dibuat Michelangelo untuk memetaforakan penciptaan Adam oleh Allah. Saya pernah mengunjungi Sistine Chapel di Vatikan, lukisan ini digambar oleh Michelangelo di langit-langit Sistine Chapel dan meski umurnya sudah ratusan tahun kondisinya masih sangat bagus sekarang, hingga mempengaruhi aura kapel. Dalam lukisan Renjana itu Imes juga membawa gambar-gambar tangan ke konteks pemaknaan teologi. Satu tangan di atas berhasil menyentuh tangan di bawah.” Saya ingin menggambarkan tangan-tangan yang minta pertolongan dari api neraka. Danternyata tangan-tangan ini mendapat pertolongan,” ungkap Imes.
Di samping lukisan-lukisan charcoal, Imes juga menampilkan serangkaian monoprint berwarna di atas kanvas. Menarik bila kita amati seri monoprintnya di atas berbagi kertas yang berjudul: From Being to Missing, Memory Black,Sin=Stain, I’ve Seen Him, Enlightmen dan sebagainya. Pada monoprint-monoprintnya ini yang kuat tampil adalah semacam bercak-bercak yang dicampur dengan bekas-bekas tempelan cap. Kertas-kertas Imes seolah menyajikan jejak dari sesuatu yang telah terhapus tinggal tilas, atau sebuah cap yang luntur dan telah hilang bentuk aslinya. Jejak-jejak itu semburat ke sana kemari dalam bentuk tak beraturan gelembung-gelembung, noda-noda, bintik-bintik, garis-garis carut marut, kotak persegi-persegi yang luruh, koyak.
Monoprint-monoprint Imes saya tangkap seolah menampilkan seri rangkaian flek-flek. Entah ini metafora bagi flek-flek jiwa yang perlu dibersihkan atau apa, saya tak tahu . Namun menghubungkan rangkaian monoprint flek-flek ini dengan keterangannya atas monoprint From Being to Missing mungkin kita mendapatkan kunci hermeneutik. Imes menulis: “Adalah sesuatu yang penuh gairah ketika kita merasa ada yang hilang dan kita tidak tahu apa yang telah hilang. Ketika kita merasa telah menemukan yang kita cari, padahal kita tidak tahu apa yang mau dicari. Apakah ini tentang semua yang ada di luar atau ada yang di dalam. Apakah ini tentang ketidak tahuan apa yang sempurna dan yang tidak sempurna…” Saya kira semua monoprint – yang saya sebut sebagai seri flek ini berkaitan dengan refleksi Imes tentang yang hilang dan yang tak sempurna itu.
Adalah menarik, kurator Afrizal Malna yang memberi judul pameran Imes ini: Matahari & Bayangan, dalam opening pameran, mengulas dan membandingkan salah satu lukisan kanvas Imes berjudul: No Voice dengan karya terkenal pelukis dunia Edward Munch di tahun 1893: The Scream. Karya Imes, menggambarkan sebuah sosok tanpa paras wajah yang sengaja dilukis tak jelas, mulutnya disapu warna merah kelam namun dua tangannya terangkat di samping wajah.


Afrizal Malna & Imez Sumber Foto IG Imez https://www.instagram.com/darkesthourproject/
Sesuai judulnya: No Voice , Imes di sini terasa hendak menampilkan sosok tanpa suara yang suaranya mungkin lebih bergolak di dalam. Sementara lukisan The Scream Edward Munch, memperlihatkan sosok laki-laki di sebuah jembatan mengangkat kedua tangannya menutupi kedua kupingnya sembari berteriak keras. Menurut Afrizal, The Scream merupakan ikon yang merepresentasikan kecemasan manusia modern. Apabila karya Edward Munch menampilkan pengalaman traumatik dikarenakan hal eksternal, lukisan Imes bagi Afrizal ,merepesentasikan pengalaman traumatik yang lebih bersifat internal dengan warna kelam massif didominasi warna merah. Dalam lukisan-lukisan Imes, kita memang distimulus untuk meraba dalam diam ternyata ada kebisingan yang berisik, jeritan tanpa suara dan sakit tanpa erangan. Dalam perspektif Imes kita mendapat pandangan bahwa ia memang mempertanyakan mengapa batas waras dan abnormal dibuat jurang yang dalam dan curam.
***
Tatkala membahas perkembangan seni rupa Indonesia di tahun 40-an kita tahu Oesmar Effendi yang arsip-arsipnya dipamerkan di Galeri Nasional kini, sering bertukar pikiran dan surat menyurat dengan pelukis Basoeki Resobowo. Salah sebuat surat Basoeki Resobowo di tahun 1949 kepada Oesman Effendi yang pendapatnya disetujui oleh Oesman Effendi sebagai pelukis abstrak dan pernah ditampilkan Galeri Nasional ketika Galeri Nasional mengadakan pameran karya almarhum Basoeki Rebowo di tahun 2021 – berbunyi:
“…Keindonesiaan itu tidak usah ditujukan atau didasarkan kepada sesuatu yang lama (tinggalan-tinggalan semacam arca, golek, wayang beber dll) . Untuk memberi bukti corak keIndonesiaan cukup apabila hasil kesenian itu dapat menyesuaikan diri dengan masalah-masalah psikologi dan sosial dari tempat kelahirannya dan pada masanya…”
Sesuatu pendapat yang tentu tak disetujui oleh para arkeolog Indonesia mulai dari almarhum Boechari, almarhum Mundardjito sampai Agus Aris Munandar dan arkeolog-arkeolog sekarang yang sangat menekankan pentingnya cultural material nusantara. Tapi Oesman saat itu sebagaimana ditulis oleh Aminnudin T.H Siregar di dinding pameran juga berpendapat keIndonesiaan bukan terletak pada penggambaraan budaya material dari nusantara, melainkan pada cara seniman menghayati dunia dan mengolah pengalaman hidupnya , di manapun dia berada, menjadi gejala visual.
Sesuatu pendapat yang sedikit banyak bisa kita renungkan untuk memahami ”keindonesiaan” karya-karya Imes. Karya-karya abstrak Imes saya kira bertolak dari pengalaman hidup seorang anak muda milineal yang karena didera masalah-masalah perkotaan dan hubungan-hubungan manusianya yang makin anarkis melahirkan kecemasan-kecemasan dan trauma-trauma personal – sesuatu yang juga mungkin dialami banyak kaum muda perkotaan masa kini. Simak tulisan Imes tentang Prasasti Kesedihan yang ditempel di pameran: Mungkin setiap orang pernah memiliki luka yang menjadi tanda tangan untuk hidup maupun tubuhnya. Luka itu seperti prasasti kesedihan. Memori yang mengingatkan kita tentang yang telah berlalu, yang kita lupakan. Bahkan untuk kesedihan yang kita tidak tahu bahwa itu datang dari luka yang kita buat sendiri.
Pengertian Prasasti bagi Imes, sebagaimana Basoeki, tak diarahkan ke artefak-artefak atau inskripsi-inskripsi arkeologis masa lalu. Namun lebih merupakan sebuah metafora bagi penghayatan atas guratan-guratan atau “aksara-aksara” luka-luka dalam diri seorang manusia urban. Luka manusia yang sehari-hari bisa timbul karena diseret oleh kontradiksi-kontradiksi dan paradoks-paradoks tuntutan kehidupan kapitalis dan aturan-aturan negara yang makin kacau . Lukisan abstrak Imes, sesungguhnya bagian dari cara dia menghayati dunia dan mengolah pengalaman hidupnya. Dan meskipun itu penuh ekspresi luka – meminjam pandangan Oesman – merupakan bagian dari keIndonesiaan anak muda masa kini.
*pensiunan, tinggal di Bekasi





