100 Tahun Pelukis Genevieve Couteau

Oleh: Agus Dermawan T.*

 

Genevieve, ibunda peneliti dan budayawan ternama Jean Couteau, adalah pelukis perempuan Prancis yang intens merekam kehidupan Bali. Karyanya tinggi dalam mutu, namun namanya sering dilupakan. Pada 2025 ini, ketika “usia”nya genap 100 tahun, eksistensinya pantas dirayakan.

——

JARANG yang ingat bahwa 2025 ini adalah 100 tahun Genevieve Couteau, seorang pelukis Prancis yang pernah merekam jagat Bali. Genevieve, kelahiran Paris 1925, datang pertama kali ke Bali tahun 1969. Di situ ia melancong ke berbagai pelosok. Lalu ratusan lukisan yang khas dan menjumput beragam tema terlahir intens.

Namun lukisan-lukisan yang bisa menjadi bagian dari sejarah lukisan modern Bali itu jarang ia perjual-belikan. Sebagian besar karyanya ia boyong pulang. Dengan begitu lukisan Genevieve kurang populer di Bali. Tidak seperti karya Walter Spies, Rudolf Bonnet, Theo Meier, Antonio Blanco atau Le Mayeur misalnya.

Tapi, lantaran lukisan bermutu adalah prasasti peradaban, maka lukisan-lukisan Genevieve tetap menyimpan sejarah yang sewaktu-waktu dibuka. Jauh tahun sebelum ia wafat di Vendee, Prancis, pada 2013, lukisan isteri dokter hewan Joseph Couteau ini sering ditimbang-timbang di Eropa. Sehingga setumpuk karya Genevieve tentang Bali pun (termasuk sederet lukisannya tentang masyarakat Laos), diangkat sebagai rekaman personal visual yang tak terperikan.

Pelukis Genevieve Couteau (1925-2013). (Sumber: Agus Dermawan T)

 

Genevieve Couteau sedang melukis. (Sumber: Agus Dermawan T)

 

“Nyata bahwa Genevieve Couteau telah menghasilkan karya tentang Bali dengan pendekatan yang universal dan feminin. Menurut saya lukisan Genevieve lebih menarik ketimbang para maestro sebelumnya,” kata Jean Couteau, putera Genevieve, yang ternama sebagai budayawan dan peneliti Bali.

Lalu nama Genevieve Couteau, lulusan terbaik sekolah seni Beaux-Arts Nantes 1951, dan penerima Prix Lafont Noir et Blanc tahun 1952, segera diingat sejarah. Meski masyarakat seni Bali sering lupa menulis dalam catatan. Bahkan perayaan 100 tahunnya pada 2025 ini juga jauh dari ingatan.

 

Bali orisinal Genevieve

Genevieve adalah pelukis yang berhasil menangkap karakter orang-orang Bali lewat anasir-anasir artistik yang tetap dijaga sebagai Bali. Maka gambaran ihwal manusia Bali, sebagaimana tampak dalam aneka sketsa dan drawingnya, tetap dibiarkan sebagai figur khas Bali, tanpa diintervensi oleh wujud yang dibawa oleh persepsi pribadi sebagai orang Eropa.

Tulang pipi dan tulang rahang lelaki Bali yang cenderung kuat dan menonjol dibiarkan hadir sebagai bagian penting dari wajah. Mata perempuan Bali dengan bundaran bola mata hitam menyala, diberi peran sebagai aksentuasi yang menghidupkan pantomimik. Sementara postur orang Bali yang terukur dilepaskan dari distorsi dan deformasi, sehingga tubuh-tubuh itu leluasa berbicara dengan keasliannya. Wajah dan sosok Bali yang berangkat dari darah Austronesia, yang kemudian menjelma jadi Bali Mula atau Bali Aga, dan kemudian berasimilasi dengan Melayu, dibiarkan hadir tanpa campur-rasa dan persepsi antropologis seorang Genevieve.

Tapi, meski Genevieve punya kesetiaan kepada karakter bentuk raut dan figur Bali, dalam lukisan cat berwarna, udara Eropa terasa selalu membantun-bantun di setiap kanvasnya. Warna-warna pastel yang disapukan pada seluruh komponen adalah ciri khas yang dibawa dari taferil Eropa, yang hampir sepanjang tahun disapa keredupan matahari. Suatu hal yang mengingatkan kepada warisan lukisan impresionis Prancis Edouard Manet, Claude Monet, Chaim Soutine, atau mashab abstrak Robert Delauney, Roger de La Fresnaye dan sebagainya.

 

Lukisan pastel Genevieve Couteau, “Perempuan Bali”. (Sumber: Agus Dermawan T).

 

Lukisan cat minyak Genevieve Couteau, “Bebotoh”. (Sumber: Agus Dermawan T).

 

Sehingga mitos “warna-warna Bali nan tropis menyala” yang banyak diburu oleh pelukis asal Eropa seperti Arie Smit dan Auke Sonnega, tidak tampak dalam karya-karya Genevieve. Bersamaan dengan itu gradasi lembut yang bersemburan di segala sisi bagai menguatkan bahwa atmosfir kabut Eropa ternyata tetap menjadi bagian dari batin karyanya. Lukisannya yang bercerita tentang bebotoh (lelaki penggemar ayam sabung), dalang wayang kulit, penari rejang, pengusung sesaji, barong landung, panen padi, perempuan Bali berjualan di pasar, adalah amsal yang paling nyata.

Sementara itu, Genevieve adalah tetap seorang perempuan yang melihat segalanya dengan kelembutan. Mengamati seluruh ciptaannya yang bertema kehidupan Bali, jejak tangan dan rasa perempuan tidak terelakkan oleh mata.

Lalu lukisan Bali-malam yang sesungguhnya digemuruhkan tetabuhan dengan barong yang bergelimang-gelimung penuh gelora, hadir bak gambar pengantar “dongeng sebelum tidur” dari negeri jauh. Lukisan ihwal tajen (adu ayam) yang dalam realitasnya dipenuhi gusah semangat untuk membunuh lawan, muncul bagai perwujudan eufimisme atas laga kekerasan. Lukisan yang bercerita tentang upacara melasti di tepi pantai, yang dalam realitasnya dinaungi terik matahari, digubah dalam kesejukan. Bentuk-bentuk yang muncul senantiasa terbebas dari kontur. Atau garis tepian yang dalam kenyataan piktoral memang seringkali membuat obyek jadi bercitra keras.

Di tangan Genevieve, Bali yang anggun, berat, gemuruh dan perkasa pelan-pelan ditundukkan menjadi estetik, halus dan “menerima”. Lalu kita pun boleh teringat apa yang dikatakan novelis Inggris ternama Jane Austen (1775-1817) : “Naluri paling dasar dari seorang perempuan tertunjukkan lewat upaya-otomatisnya untuk mereduksi dan bahkan menyembunyikan setiap ketajaman kejadian.”  Yang meledak jadi meletup. Badai jadi sepoi. Keras jadi lembut. Merah menyala jadi pinki-pinki warnanya.

 

Lukisan cat minyak Genevieve Couteau, “Upacara di Bali”. (Sumber: Agus Dermawan T).

 

Lukisan cat minyak Genevieve Couteau, “Dalang Wayang”. (Sumber: Agus Dermawan T).

Di sisi lain, lukisan-lukisan Genevieve yang menyimpan banyak adegan, tampak tidak ingin untuk menjadi naratif. Pun ketika yang dilukiskan itu sesungguhnya menawarkan deskripsi dan filosofi begitu panjang. Sehingga keramaian gong kebyar, kemeriahan gamelan semar pegulingan, misalnya, dibekukan dalam tableau yang digambarkan cuma sebagai kesan, sebagai impresi. Kemagisan ngaben dan kegembiraan ngayah (kerja gotong royong di kampung), adalah cerita di luar kanvas dan catnya. Begitu juga kedalaman filosofi Hindu Bali Tri Hitta Karana. Falsafah ini ia posisikan sebagai bacaan setelah orang melihat karya-karyanya.

Tri Hitta Karana adalah falsafah pokok masyarakat Bali yang mengajarkan tiga pembawa kebahagiaan dalam kehidupan. Dan itu adalah keeratan hubungan manusia dan Tuhan (Parahyangan), keharmonisan hubungan manusia dengan alam (Palemahan), dan jalinan hubungan manusia dengan sesama (Pawongan).

Bagi Genevieve, apabila kitab berfungsi menjelas-jelaskan, lukisan punya peran menghantarkan misterinya, dengan sejumlah tanda tanya. Dan lukisan baginya adalah catatan yang ditatap dan dirasa dari sebuah itineraire, langkah-langkah perjalanan.

 

Genevieve yang terlupa

Sekali lagi, sebagai pelukis asing yang berkarya intens di Bali, posisi Genevieve belum tercatat dengan jelas dalam sejarah seni lukis Bali dan Indonesia. Padahal karya-karya Genevieve bisa diduduk-sandingkan dengan banyak tokoh lainnya, dari berbagai masa. Sementara diketahui betapa reputasi Genevieve ternyata cukup populer di Prancis, sehingga namanya diabadikan di perpustakaan multimedia di Clisson – Pays de la Loire, misalnya.

Meski mengapa tidak populer itu bisa ditelusuk faktornya. Misalnya, ketiadaan kesempatan Genevieve untuk memamerkan karya bertema Bali di Indonesia semasa ia aktif. Suatu hal yang menyebabkan eksistensinya tidak mencuat ke lapangan perbincangan, dan absen di langit kepopuleran. Ya, karya Genevieve baru muncul di Indonesia (Jakarta) pada 2018, atau lima tahun setelah wafatnya. Karya-karya itu digelar di Artotel-Thamrin dan Galeri Nasional Indonesia, dengan pengantar kuratorial yang saya tulis saksama.

Pada bagian lain Genevieve juga dianggap sebagai pelukis yang sekadar mampir sekejap saja, untuk kemudian pergi entah ke mana. Walaupun ia bertandang ke Bali berkali-kali: tahun 1969, 1976, 1982, 1989, 1996. Ia tidak seperti ekspatriat lain yang hidup ngendon di Bali dalam tempo (sangat) lama. Meski kesekejapan sesungguhnya bukan ukuran untuk mereduksi hasil kerja artistik. Kemudian, ini bagian yang mungkin agak debatable: lantaran Genevieve adalah pelukis perempuan, yang acap dideskriminasi. Bukankah sejauh ini ekspatriat yang ditokohkan di negeri patrilinial Bali selalu saja lelaki?

Genevieve Couteau dan puteranya, Jean Couteau, 1967. (Sumber: Dokumen).

Catatan ujung, dalam konstelasi pelukis Perancis yang pernah berkarya di Bali dan Nusantara, nama Genevieve harus dimasukkan dalam jajar (pelukis, penggambar, pegrafis) yang berharga. Bahkan ketika jajaran itu dibentang sejak 200 tahun silam. Dari J.A. Latour pada abad ke-18. J.L. Leborn, Francois E. Paris, Rene Jacker, Barthelemy Lauvergne dan Oudet abad ke-19. Andre Cottavos, Helene Adoryan, Lea Lafugle, Didier Hamel, pada abad ke-20. Sampai Jean Philippe Haure pada abad ke-21.

Sementara dalam konstelasi pelukis perempuan asing yang pernah berkarya di Nusantara sejak dulu sampai sekarang, reputasi Genevieve berada di antara para seniman yang dikenal bagus pada setiap masa. Seperti Marianne North, Hilda May Gordon dan Elisha Trapaud dari Inggris. Elsa Dina Cornelia, Maria L. Sargent dan Louis Garret dari Amerika. Maria Rueter Hofker, Marian Catharine Gobuis, Emilie C.H.E. Smulders, Frida Holleman dan Blaupot Ten Cate dari Belanda. Maria I.G.L. dan Maria Sibylla Merian dari Jerman. Lilian Medland dari Australia. Marie Louis Poschacher dari Austria.

Maka dalam usianya yang seabad, reputasi senyap Genevieve Couteau pantas dirayakan. ***

 

—-

*Agus Dermawan T. Penulis buku-buku budaya. Narasumber Ahli Koleksi Benda-benda Seni Istana Presiden.