Pengalaman Spiritual Dalam Menghadapi Covid

Oleh Bhikkhu Saddhanyano Maha Thera

Bersyukur sekali,  dalam perjalanan spiritual saya, saya  sempat bersentuhan dan mengenal vipassana. Bersyukur sekali saya pernah mempraktikan vipassana, mempraktikkan di tempat yang tepat, di bawah bimbingan guru yang baik bijaksana, dan juga di sekitarnya dilingkupi kalyanamitta atau sahabat-sahabat dalam Dhamma yang baik, memiliki Metta dan Prajna, datang untuk berlatih bersama, penuh semangat untuk dapat mengikuti vipassana. Bagi saya, memiliki pengalaman seperti ini adalah berkah yang luar biasa.

Vipassana mengajarkan banyak hal, sesuatu yang sangat penting yang berguna di dalam hidup saya.  Salah satunya adalah saya diajarkan untuk hidup di sini, saat ini, sekarang ini. Saya diajarkan untuk hidup bahagia. Di dalam vipassana, bahagia itu sangat dekat dengan keseharian dan bentuknya sederhana. Di dalam vipassana, bahagia bukan tentang seberapa banyak harta benda yang telah didapatkan, juga bukan tentang seberapa terkenalnya di masyarakat,  dan lain sebagainya. Tetapi, Bahagia dalam vipassana adalah tentang bagaimana mampu bersahabat dengan perasaan dan pikiran sendiri. Memahami kondisi fisik saat ini, sekarang ini. Semakin mampu memahami keadan pikiran, perasaan dan jasmani. Maka akan dapat bersahabat dengannya.

Dalam vipassana, bahagia juga bukan bicara tentang tinggal di tempat yang istimewa, bahagia juga bukan sebuah janji yang akan kita dapatkan nanti setelah kita mati. Tetapi dalam vipassana, kita di tunjukkan bahwa bahagia itu ada di sini saat ini, sekarang ini. Yaitu saat kita dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan penuh perhatian, penuh kesadaran, tanpa kekhawatiran, tanpa ketatukan. Beraktifitas dengan damai tanpa dibebani rasa takut, tanpa khawatir,  baik khawatir tentang sesuatu  yg belum terjadi atau sesuatu yang telah terlewati.

Vipassana mengajarkan untuk hidup dalam berkesadaran, untuk terus mawas dan mengetahui apa yang sedang terjadi pada pikiran saat ini, perasaan dan jasmani kita di saat ini, sekarang ini. Kita betul-betul diajarkan untuk menikmati hidup di saat ini. Dalam vipassana makan dan minum adalah sebuah latihan berkesadaran,  berjalan bukanlah sekedar berjalan, duduk juga bukanlah sekedar duduk, berdiri dan berbaring pun demikian. Itu semua adalah bagian dari meditasi yg harus dilakukukan dengan penuh perhatian, penuh kesadaran.

Ketika semua aktifitas dilakukan tanpa tergesa-gesa, dan dilalukan dengan penuh perhatian, sangat membantu kita untuk dapat merasakan bahagia dalam beraktifitas. Vipassana mengajarkan kita untuk eling, berpikiran terbuka, bisa menerima pengalaman pahit, getir tanpa mengeluh, tanpa benci, tanpa penolakan. Dalam Vipassana dapat diketahui bahwa rasa benci, penolakan terhadap ketidaknyamanan dan negatifitas lainnya, hanya akan menambah  penderitaan. Ketika pengalaman pahit dapat diterima dengan pikiran terbuka tanpa membencinya, dan ketika pengalaman indah dapat diperlakukan dengan bijaksana tanpa menjadi terikat dan melekat dengannya, maka kita semakin mampu bersikap adil bijaksana. Kita akan menjadi tahu bahwa menjadi eling dan penuh perhatian  akan melahirkan ketenangan dan kebahagiaan.

Demikianlah hal-hal yang saya ketahui dan alami ketika saya berkenalan dengan vipassana dan mempraktikkannya. Pengalaman dalam vipassana di masa lalu tersebut, sungguh sangat membantu saya dalam menghadapi kesulitan dan penderitaan ketika saya terpapar Covid.

Pada saat awal  baru masuk rumah sakit  (di hari pertama sampai dengan hari ke tujuh, tanggal 15 s.d 21 Des),  adalag masa-masa yang sangat sulit. Masa-masa yang benar-benar  tidak nyaman. Dokter mengatakan sebagai masa-masa kritis. Masa-masa perjuangan terberat saya untuk kesembuhan. Kondisi dimana saya secara medis dalam titik rendah.

Saya merasakan sesak nafas yang luar biasa. Saya mengalami kesulitan bernafas dan dada terasa berat dan sakit. Sedikit bergerak akan memancing batuk dan membuat dada terasa sesak dan sakit. Salah meletakan posisi kepala di bantal, bisa memicu batuk, dan jika sudah batuk, maka dada terasa sakit dan sesak. Saat mau bangkit hendak duduk, juga membuat dada menjadi batuk, dan nafas menjadi sesak. Ketika hendak mengambil gelas untuk minum, juga harus pelan-pelan, karena kalau tidak dapat memicu batuk dan nafas tersengal-sengal.

Apalagi ketika hendak berdiri, berjalan menuju toilet, itu benar benar menyiksa, melangkahkan kaki harus pelan pelan,  tidak boleh tergesa gesa, tidak boleh terburu buru, karena jika tidak pelan-pelan, akan membuat nafas menjadi sesak dan tidak nyaman.  Jadi selama periode itu, ketika awal-awal di rumah sakit (periode masa kritis), saya benar benar harus mindful, melakukan apapun saya harus pelan-pelan penuh perhatian. Saya merasa selama periode ini seperti sedang retreat, seperti sedang vipassana. Karena saya harus bersikap tenang, melakukan apapun dengan perlahan penuh perhatian.

Berdasarkan pengalaman bernafas saya yang tidak nyaman tersebut, mengkondisikan saya harus melalukan apapun harus dengan perlahan, penuh perhatian. Itu semua utk menjaga agar gerak-gerik saya tidak memicu munculnya batuk yang bisa menyiksa saya dan membuat sesak nafas.  Saya selalu berusaha untuk mengamati nafas, menyadarinya, mengerahuinya. Sehingga saat itu bener bener menyatu dengan nafas. Saya mengamati dan menyadari betul kondisi naik turun, serta cepat lambatnya nafas.

Saya bersyukur pernah mempraktikkan vipassana, sehingga ketika harus melakukan aktivitas dengan pelan,  berjalan dengan pelan, penuh perhatian, berdiri dengan pelan, penuh perhatian. Makan dan minum dengan perlahan. Saya tidak kaget lagi.  Saya tidak canggung atau merasa tersiksa.  Saya cepat beradaptasi dan cepat menyesuaikan dengan keadaan  dan kebutuhan untuk melakukan aktifitas dengan pelan. Jadi pengalaman vipassana di masa lalu sangat membantu saya dalam proses penyembuhan sakit Covid saya selama di Rumah Sakit.

Saya juga selalu sempatkan untuk duduk meditasi di pagi hari dan di malam hari.  Atau selama ada waktu luang, ketika bosan berbaring,  saya akan segera duduk dan bermeditasi beberapa menit.  Terkadang 30 menit, terkadang 15 menit. Dan beruntungnya selama 7 hari pertama di Rumah Sakit, jarang ada yang menelpon saya. Jarang ada yang menghubungi saya. Jadi Hand Phone saya selalu tenang aman. Disamping juga Hand Phone sering di nonaktifkan. Jadi situasi sangat mendukung saya untuk duduk tenang.

Selama proses penyembuhan, saya selalu berusaha untuk terus memunculkan pikiran-pikiran baik, pikiran-pikiran yang bermanfaat. Saya berusaha untuk menerima kenyataan, menerima dengan hati terbuka bahwa saya sedang terpapar virus Corona. Saya tidak pernah menyalahkan keadaan, tidak pernah menyalahkan siapapun.  Saya tidak  ada terbesit untuk mencari-cari siapa yang menularkan Covid.  Semua saya terima sebagai karma saya, sudah menjadi bagian yang harus saya terima. Saya adalah penanggung jawab hasil perbuatan saya. Maka saya terus memunculkan pikiran-pikiran baik  terus fokus  pada proses penyembuhan.

Hal lain yang secara psikologi dan secara spiritual mendukung saya dalam penyembuhan adalah adanya dukungan doa dari umat dan orang-orang dekat di sekeliling saya. Adanya dukungan dana, adanya perhatian dan motivasi dari  umat Buddha yang bersimpati dengan saya. Dan yang tidak kalah penting adalah adanya sikap luar biasa dari para tenaga medis di Rumah Sakit. Mereka sangat  baik dan penuh dedikasi. Suster-suter baik dan ramah, bekerja dan melayani dengan sepenuh hati. Dokter-dokter bertanggung jawab, profesional. Selalu mengontrol setiap hari, terkadang pagi hari, terkadang malam hari. Mereka selalu datang untuk memberikan motivasi. Hal ini sangat membantu saya dalam terus menjaga semangat, agar terus sembuh.

Setelah lewat 7 hari pertama, dokter mengatakan bahwa masa kritis saya sudah lewat. Masa terberat saya akibat covid sudah terlewati. Kondisi kesehatan saya terus membaik. Badan tidak panas lagi,  sesak nafas pelan-pelan mulai berkurang dan terus berkurang. Pelan-pelan bernafas menjadi lebih ringan. Selera makan juga sudah mulai ada. Berjalan tidak lagi tersiksa. Berdiri semakin leluasa. Sehingga membantu sekali dalam proses penyembuhan. Hasil test darah juga menunjukkan hasil yang bagus, infeksi dalam darah angkanya terus berkurang, terus mendekati angka normal. Kondisi paru paru saya  terus semakin membaik. Secara psikologi saya semakin tenang dan optimis sembuh.

Demikianlah kondisi saya, dari hari ke hari menunjkkan kemajuan, tekanan darah saya stabil, gula darah stabil, suhu badan normal.  Hingga akhirnya, di hari ke 14, tepat tgl 29 Desember 2020, saya diizinkan  dokter untuk pulang. Secara umum saya dinyatakan sehat.  Namun saya harus lanjut karantina mandiri  selama 14 hari untuk pemulihan total dan kesembuhan yang optimal.

Demikianlah pengalaman saya, dalam menghadapi masalah akibat Covid. Semoga bermanfaat. Semoga semua orang diberkati kekuatan, keberanian, kebijaksanaan, sehingga dapat menghadapi masalah dengan bijak dan tidak menderita.

Sabbe satta bhavantu sukkhitata

Semoga semua mahluk hidup berbahagia.

Sadhu sadhu sadhu

 

*Penulis adalah Rohaniawan