Membangun Fondasi Pendidikan di Tengah Revolusi Kecerdasan Buatan

Oleh: Tengsoe Tjahjono*

Perdebatan mengenai hubungan antara pendidikan dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sering kali bergerak terlalu cepat. Diskusi publik dipenuhi pertanyaan tentang bagaimana AI akan menggantikan guru, bagaimana peserta didik harus menguasai prompt engineering, atau bagaimana sekolah harus beradaptasi dengan revolusi digital. Namun, di balik euforia tersebut, terdapat persoalan yang jauh lebih mendasar. Ketika seorang mahasiswa menjawab bahwa Makassar berada di Sumatera, atau menyebut Yogyakarta sebagai ibu kota Jawa Tengah, persoalan yang muncul bukanlah tentang ketidakmampuan menggunakan AI, melainkan lemahnya pengetahuan dasar (foundational knowledge) yang seharusnya telah terbentuk sejak pendidikan dasar.

Fenomena tersebut mengingatkan bahwa kemajuan teknologi tidak pernah dapat menggantikan fondasi pengetahuan manusia. AI dapat menyediakan informasi dalam hitungan detik, tetapi AI tidak dapat menggantikan struktur pengetahuan yang tersimpan dalam memori manusia. Tanpa fondasi tersebut, seseorang memang dapat memperoleh jawaban, tetapi belum tentu memperoleh pemahaman. Di sinilah letak tantangan besar pendidikan Indonesia pada abad ke-21.

Dalam psikologi kognitif, pengetahuan awal (prior knowledge) merupakan salah satu faktor yang paling menentukan keberhasilan belajar. David Ausubel sejak lama mengemukakan bahwa faktor paling penting yang memengaruhi pembelajaran adalah apa yang telah diketahui peserta didik. Informasi baru tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu dihubungkan dengan struktur pengetahuan yang telah tersimpan dalam memori jangka panjang.

Pandangan tersebut diperkuat oleh Jean Piaget melalui konsep asimilasi dan akomodasi. Pengetahuan berkembang ketika informasi baru diintegrasikan ke dalam skema yang telah dimiliki seseorang. Tanpa skema awal, proses belajar menjadi dangkal karena informasi tidak memiliki tempat untuk “berlabuh”.

Lebih jauh lagi, Jerome Bruner menegaskan bahwa belajar bukan sekadar menerima informasi, melainkan membangun struktur konseptual. Sementara itu, John Sweller melalui Cognitive Load Theory menjelaskan bahwa memori kerja manusia memiliki kapasitas terbatas. Pengetahuan dasar yang telah tersimpan secara otomatis dalam memori jangka panjang justru mengurangi beban berpikir ketika menghadapi persoalan yang lebih kompleks.

Dengan demikian, mengetahui bahwa Makassar berada di Sulawesi Selatan bukanlah hafalan kosong. Pengetahuan tersebut menjadi bagian dari peta mental Indonesia yang memungkinkan seseorang memahami hubungan antardaerah, sejarah, budaya, ekonomi, hingga kebijakan pembangunan nasional. Tanpa pengetahuan dasar tersebut, informasi yang diberikan AI hanya menjadi kumpulan fakta yang tidak saling terhubung.

Hafalan Bukan Musuh Pendidikan

Salah satu kesalahan terbesar dalam reformasi pendidikan modern adalah mempertentangkan hafalan dengan berpikir kritis. Seolah-olah semakin sedikit hafalan, semakin tinggi kualitas berpikir peserta didik. Dikotomi ini sesungguhnya keliru.

Dalam ilmu kognitif modern, hafalan bukan tujuan akhir pembelajaran, tetapi merupakan salah satu prasyarat berpikir tingkat tinggi. Tidak mungkin seseorang berpikir kritis mengenai sejarah Indonesia apabila tidak mengetahui urutan peristiwa penting sejarah bangsa. Tidak mungkin seseorang menganalisis kondisi geografis apabila ia tidak mengetahui letak pulau-pulau utama Indonesia.

Penelitian Daniel Willingham menunjukkan bahwa kemampuan berpikir sangat bergantung pada pengetahuan faktual yang telah dimiliki seseorang. Berpikir kritis bukanlah keterampilan yang berdiri sendiri, melainkan selalu bekerja di atas basis pengetahuan.

Contoh sederhana adalah perkalian dasar. Pada era kalkulator dan AI, seseorang tetap perlu menguasai perkalian dasar secara otomatis. Alasannya bukan karena teknologi tidak tersedia, melainkan karena otak membutuhkan otomatisasi agar sumber daya kognitif dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan yang lebih kompleks.

Demikian pula dalam literasi geografi. AI dapat menjawab bahwa Makassar berada di Sulawesi Selatan. Namun jika seseorang sama sekali tidak memahami struktur wilayah Indonesia, jawaban tersebut hanya akan diterima sebagai informasi, bukan dipahami sebagai pengetahuan.

Dengan kata lain, hafalan yang bermakna merupakan fondasi berpikir, bukan lawan berpikir.

Kurikulum, Reformasi Pendidikan, dan AI

Persoalan lemahnya pengetahuan dasar tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada peserta didik ataupun guru. Akar masalahnya justru terletak pada desain kurikulum.

Selama lebih dari dua dekade terakhir, kurikulum Indonesia mengalami kecenderungan menambahkan semakin banyak kompetensi. Hampir setiap perubahan kurikulum membawa daftar capaian pembelajaran yang lebih luas, lebih rinci, dan lebih kompleks. Akibatnya, guru menghadapi tekanan besar untuk menuntaskan seluruh materi.

Fenomena ini pernah dikritik oleh Hilda Taba yang menekankan bahwa kurikulum harus disusun berdasarkan kebutuhan belajar yang esensial, bukan sekadar menambah isi pelajaran. Demikian pula Ralph Tyler mengingatkan bahwa kurikulum harus berangkat dari tujuan pendidikan yang jelas sehingga pemilihan materi benar-benar mendukung pencapaian tujuan tersebut.

Dalam praktiknya, kurikulum yang terlalu padat menghasilkan pembelajaran yang dangkal. Guru bergerak cepat dari satu topik ke topik berikutnya tanpa memastikan konsep dasar benar-benar dipahami. Pembelajaran berubah menjadi perlombaan menyelesaikan silabus. Akibatnya, peserta didik mengenal banyak istilah, tetapi sedikit yang benar-benar dipahami secara mendalam.

Reformasi pendidikan Indonesia juga banyak dipengaruhi paradigma pembelajaran aktif seperti CBSA, Student-Centered Learning (SCL), Problem-Based Learning, maupun Project-Based Learning. Seluruh pendekatan tersebut sesungguhnya memiliki landasan ilmiah yang kuat. Masalah muncul ketika aktivitas pembelajaran dianggap identik dengan pembelajaran itu sendiri.

Peserta didik dapat berdiskusi, membuat proyek, melakukan presentasi, bahkan menghasilkan video pembelajaran, tetapi tetap belum memahami konsep inti apabila aktivitas tersebut tidak disertai penguatan konseptual. Lev Vygotsky memang menekankan pentingnya interaksi sosial dalam belajar. Namun interaksi tersebut tetap harus mengarah pada pembentukan konsep ilmiah (scientific concepts), bukan sekadar aktivitas yang menyenangkan. Belajar bukan diukur dari seberapa sibuk peserta didik, melainkan dari seberapa kuat struktur pengetahuan yang terbentuk dalam pikirannya.

Kemunculan AI sering dianggap sebagai alasan bahwa peserta didik tidak perlu lagi menghafal. Pandangan ini sesungguhnya terlalu sederhana. AI memang mampu menyediakan informasi secara instan. Namun AI tidak menggantikan proses memahami.

Seorang mahasiswa yang mengetahui letak Makassar akan menggunakan AI untuk memperdalam pengetahuan, membandingkan data, memverifikasi informasi, bahkan mengembangkan analisis baru. Sebaliknya, mahasiswa yang tidak memiliki pengetahuan dasar cenderung menerima jawaban AI tanpa kemampuan mengevaluasi kebenarannya. Dalam konteks ini, AI justru memperbesar kesenjangan antara peserta didik yang memiliki fondasi pengetahuan kuat dan mereka yang tidak.

Mereka yang memiliki foundational knowledge akan memanfaatkan AI sebagai mitra intelektual (cognitive partner). Sebaliknya, mereka yang miskin pengetahuan dasar akan menjadikan AI sebagai pengganti berpikir. Fenomena ini selaras dengan konsep knowledge-rich curriculum yang dikembangkan oleh E. D. Hirsch Jr.. Hirsch berpendapat bahwa kemampuan membaca, berpikir kritis, dan memecahkan masalah hanya dapat berkembang apabila peserta didik memiliki pengetahuan umum yang luas dan terorganisasi.

Pendidikan merupakan sistem yang berjenjang. Setiap jenjang memiliki fungsi yang berbeda. Pendidikan anak usia dini membangun kesiapan belajar. Sekolah dasar membangun fondasi literasi, numerasi, bahasa, geografi, sejarah, sains dasar, serta pembentukan karakter. Sekolah menengah mengembangkan kemampuan analitis. Perguruan tinggi mengembangkan kemampuan ilmiah, inovasi, dan penciptaan pengetahuan baru.

Kesalahan yang sering terjadi adalah keinginan mempercepat penguasaan teknologi tanpa memastikan fondasi dasar telah kokoh. AI tentu dapat diperkenalkan sejak sekolah dasar sebagai bagian dari literasi digital. Namun AI tidak boleh menggantikan proses pembentukan konsep dasar. Anak-anak tetap perlu memahami peta Indonesia, operasi hitung dasar, membaca dengan baik, menulis secara runtut, mengenal sejarah bangsanya, memahami lingkungan alam, serta memiliki karakter yang kuat. Teknologi harus berdiri di atas fondasi pendidikan, bukan menggantikan fondasi tersebut.

Kurikulum Masa Depan Harus Lebih Ramping, Lebih Dalam

Tantangan pendidikan Indonesia bukan memilih antara hafalan atau AI, melainkan membangun kurikulum yang mampu menyeimbangkan pengetahuan dasar dengan keterampilan abad ke-21. Kurikulum masa depan perlu bergerak menuju prinsip less is more. Materi perlu dipilih secara lebih selektif sehingga peserta didik memiliki kesempatan membangun pemahaman yang mendalam.

Pengetahuan dasar harus dipandang sebagai investasi intelektual jangka panjang. Literasi membaca, numerasi, geografi, sejarah, bahasa Indonesia, sains dasar, serta kewarganegaraan perlu dipastikan benar-benar dikuasai sebelum peserta didik diarahkan kepada pembelajaran yang lebih kompleks.

Di atas fondasi tersebut barulah dibangun kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, literasi digital, literasi data, literasi AI, dan kemampuan memecahkan masalah. Dengan demikian, AI hadir bukan sebagai pengganti pendidikan, melainkan sebagai penguat kapasitas intelektual manusia.

Perdebatan mengenai AI sering membuat perhatian pendidikan bergeser kepada teknologi, padahal akar persoalan sesungguhnya berada pada kualitas fondasi pengetahuan peserta didik. AI bukan penyebab melemahnya pengetahuan dasar, tetapi juga bukan obat mujarab bagi kelemahan tersebut. Masalah utamanya terletak pada kurikulum yang terlalu padat, pembelajaran yang lebih mengejar penyelesaian materi daripada penguasaan konsep, budaya belajar yang cenderung instan, serta kecenderungan memahami pembelajaran aktif sebagai tujuan, bukan sebagai sarana.

Pendidikan masa depan memerlukan keseimbangan yang bijaksana antara pengetahuan, keterampilan, dan teknologi. Hafalan yang bermakna tidak boleh dihapuskan, sebab ia merupakan bagian dari pembentukan memori konseptual yang menjadi dasar berpikir. Pengetahuan umum bukan sekadar kumpulan fakta, melainkan jaringan makna yang memungkinkan seseorang memahami dunia secara utuh. Di atas fondasi inilah keterampilan berpikir kritis, kreativitas, pemecahan masalah, dan literasi digital dapat tumbuh secara kokoh.

Karena itu, agenda utama reformasi pendidikan Indonesia bukan sekadar menghadirkan AI ke ruang kelas, melainkan membangun kembali kurikulum yang lebih ramping, lebih berjenjang, lebih mendalam, dan lebih berorientasi pada foundational knowledge. Generasi yang mampu memanfaatkan AI secara cerdas bukanlah generasi yang bergantung pada AI untuk berpikir, melainkan generasi yang memiliki pengetahuan konseptual yang kaya sehingga mampu berdialog secara kritis dengan AI. Pada akhirnya, masa depan pendidikan tidak ditentukan oleh secanggih apa teknologi yang digunakan, tetapi oleh sekuat apa fondasi pengetahuan yang dibangun sejak jenjang pendidikan paling dasar.

Malang, 3 Juli 2026

*Tengsoe Tjahjono lahir di Jember 3 Oktober 1958. Penyair ini pernah mengajar di Hankuk University of Foreign Studies Korea (2014-2017). Sejak pensiun dari Universitas Negeri Surabaya (2023) ia mengajar di Universitas Brawijaya Malang. Pada tahun 2012 mendapat penghargaan sebagai Sastrawan Berprestasi dari Gubernur Jawa Timur. Buku puisinya Meditasi Kimchi memperoleh Anugerah Sutasoma 2017 dari Balai Bahasa Jawa Timur. Penggagas cerpen tiga paragraf (pentigraf). Atas dedikasinya berkarya 40 tahun di bidang sastra ia memperoleh penghargaan dari pemerintah Indonesia melalui Badan Bahasa pada tahun 2024. Tahun 2025 memperoleh Anugerah Sabda Budaya dari FIB Universitas Brawijaya Malang. Karya antologi puisi terbaru: Dari Menjerat Sepatu Sampai Membuka dan Menutup Jendela (2021), Pelajaran Menggambar Bentuk (2023), 17-an di Kampung Halaman (2024), Jenggirat (2025), Onggi (kumpulan pentigraf tentang Korea, 2025), dan Kursi Malas di Depan Jendela (kumpulan monolog, 2025).