Sebuah Refleksi Etis Atas Peternakan Puyuh Rakyat

Oleh Edy Sasmito

1

Etika bisnis adalah pemikiran atau refleksi tentang moralitas dalam ekonomi dan bisnis. Sebagai cabang filsafat, kajian etika masa kini secara tak terelakkan maka dituntut juga untuk menyoroti moralitas ekonomi dan bisnis. Sebab dalam perilaku bisnis sering terjadi banyak rivalitas dan kompetisi yang tidak fair.

Romo Kees Bertens di Indonesia bisa disebut seorang filsuf yang memelopori pentingnya kajian etika bisnis. Pada tahun 90 an misalnya dia menulis sebuah buku berjudul: Pengantar Etika Bisnis yang diterbitkan oleh penerbit Kanisius Yogya. Buku ini berisi dasar-dasar etis pentingnya mencermati segala peri laku bisnis. Bagi Kees Bertens, etika bukanlah sebuah kajian yang semata-mata teoritis. Tapi bisa diterapkan di segala bidang.Termasuk mengamati persaingan di lapangan bisnis.

Etika bisnis menurut Romo Kees Bertens adalah sebuah etika terapan. Menurut Romo Kees Bertens dalam sebuah peristiwa bisnis terjadi hal tukar-menukar, jual-beli, memproduksi-memasarkan, bekerja-mempekerjakan, dan interaksi manusiawi lainnya dengan maksud memperoleh untung.

Romo Kees Bertens membedakan antara “etika sebagai refleksi” dan “etika sebagai praktis”. Etika sebagai refleksi adalah pemikiran moral. Dalam etika sebagai refleksi kita berpikir tentang apa yang dilakukan dan khususnya tentang apa yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan. Akan halnya . Etika sebagai praktis berarti: nilai-nilai dan norma-norma moral sejauh dipraktekkan atau justru tidak dipraktekkan. Dapat dikatakan juga, etika sebagai praktis adalah apa yang dilakukan sejauh sesuai atau tidak sesuai dengan nilai dan norma moral.

Hal ini mengingatkan studi-studi etika terapan yang juga berusaha dikembangkan di Fakultas Filsafat UGM. Dalam kuliah kuliah etika di Fakultas Filsafat UGM – ada sebuah sesi yang disebut etika lapangan. Mahasiswa dituntut untuk terjun ke lapangan –mengamati dan membandingkan kegiatan-kegiatan tertentu dari kaca mata etika. Pernah dalam kuliah itu mahasiswa misalnya diharuskan ke tiga instusi berbeda yaitu Akademi Militer, Pesantren dan sebuah Padepokan – untuk membandingkan etika kedisiplinan antar institusi tersebut. Dan merefleksikan makna baik dan buruk dari tingkat-tingkat kedisiplinan yang diterapkan di masing-masing institusi tersebut.

Tulisan saya ini berupaya mengkaji usaha peternakan puyuh di Indonesia secara etis. Saya akan berusaha berangkat dari data data lapangan – dan secara induktif akan merefleksikan secara etis apa yang terjadi di lapangan peternakan puyuh. Menurut saya terdapat masalah etis yang selama ini bisa menghambat industri peternakan telur puyuh yang dimiliki rakyat di Indonesia. Ada semacam usaha persaingan tidak sehat yang menyebabkan peternakan telur puyuh kurang berkembang.

Peternakan Puyuh di Indonesia sebagian besar dijalankan oleh peternak skala mikro dan kecil dengan skala populasi ternak berkisar 1.000 – 30.000 ekor. Sedikit saja peternak puyuh yang mengelola peternakan dengan populasi di atas 30.000 ekor karena usaha ternak ini masih belum terbentuk ekosistemnya terutama akses ke permodalan dan lemahnya pemasaran.

Sentra peternakan puyuh terbesar saat ini di Jawa Timur terutama Kabupaten Blitar, Tulungagung, Nganjuk, Madiun dan Malang. Populasi terbesar kedua di Jawa Tengah dengan sentra utama di Klaten, Sukoharjo, Boyolali, Sragen, Purwokerto. Serta daerah Pantura. Sentra terbesar selanjutnya DIY yang sekaligus di daerah ini terdapat beberapa pembibit (breeder) puyuh yang menyuplai anakan puyuh baik DOQ maupun Pullet ke daerah-daerah lain. Populasi peternakan puyuh di Jawa Barat terutama di Sukabumi, Cirebon, Indramayu serta Kabupaten Bandung. Di luar Jawa, populasi ternak puyuh antara lain Sumatera Barat, Lampung, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan.

Pada tahun 2019 jumlah populasi puyuh di seluruh provinsi di Indonesia menurut Data Statistik dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, mencapai 14,1 juta ekor dengan perkiraan produksi telur per hari kisaran 10,8 juta butir. Dengan harga jual rata-rata di tingkat peternak sebesar Rp 270/butir harga di kendang maka dalam sehari usaha peternakan puyuh rakyat ini menghasilkan omset penjualan Rp 2,916 miliar, atau dalam satu bulan sekitar Rp 87,4 miliar.

Dari sisi kelayakan usaha, ternak puyuh sebenarnya cukup menguntungkan dan tidak membutuhkan lahan yang luas sehingga dapat dijalankan sebagai usaha full time maupun sebagai usaha sampingan. Namun begitu, usaha peternakan puyuh juga menghadapi tantangan dan risiko seperti akses pemasaran dan penyakit yang bisa menyebabkan kematian pada ternak puyuh.

Penyakit puyuh yang terkadang muncul sebagai pandemi misalnya flu burung (avian influenza) dan snot atau kepala bengkak yang bisa mengakibatkan kematian pada hewan ternak secara massal. Pada tahun 2019 dan 2020 merebak penyakit flu burung di daerah Jawa timur, Jawa Tengah dan DIY yang menyebabkan kematian ternak puyuh dalam jumlah besar. Banyak peternak skala mikro dan kecil yang bangkrut sehingga menyebabkan populasi ternak di berbagai sentra produksi mengalami penurunan signifikan.

Dari sisi pemasaran, telur puyuh selama lebih dari sepuluh tahun ini mendapat serangan massif berupa kampanye kolesterol tinggi dan disebutkan sebagai bahan makanan yang pantang dikonsumsi. Hal ini mengakibatkan banyak warga masyarakat akhirnya menghindari mengonsumsi telur puyuh sehingga permintaan pasar cenderung stagnan dan konsumen telur puyuh hanya kalangan terbatas.

2

Sejak lebih sepuluh tahun lalu beredar secara masif sebuah brosur yang dicetak maupun yang berupa file elektronik yang berjudul KANDUNGAN KOLESTEROL PADA MAKANAN dengan sub judul Kandungan Kolesterol dari 100 gr makanan. Di brosur tersebut disebutkan ada 40 jenis bahan makanan yang layak dan tidak layak dikonsumsi terkait kandungan kolesterolnya. Pada brosur tersebut menempatkan telur burung puyuh pada no 40 yang disebutkan memiliki kandungan kolesterol 3.640 mg/100 gram dan pantang dikonsumsi.

Pada brosur tersebut disebutkan bahwa otak babi memiliki kandungan kolesterol 3100 mg/100 gram. Telur ayam disebutkan memiliki kandungan kolesterol 500 mg/100 gram, gajih sapi dan gajih kambing memiliki kandungan kolesterol 130 mg/100 gram, begitu juga daging babi berlemak disebutkan mengandung kolesterol 130 mg/100 gram. Di bagian bawah brosur tersebut disebutkan bahwa informasi mengenai kandungan kolesterol pada bahan makanan tersebut bersumber dari General Hospital Singapore.

Brosur tersebut banyak beredar di masyarakat bahkan sebagian ibu-ibu menempel brosur tersebut di papan dindng dapur sebagai petunjuk mengenai bahan makanan yang sehat dan yang buruk dikonsumsi. Sedemikian kuatnya beredar sehingga banyak masyarakat yang mempercayai bahwa telur puyuh memiliki kandungan kolesterol paling tinggi dibandingkan semua jenis makanan. Telur puyuh lebih dipantang dibandingkan otak babi. Bahkan tidak sedikit dokter dan ahli gizi yang memercayai hal tersebut sehingga menyarankan orang untuk tidak mengonsumsi telur puyuh.

Tabel 2.1: Brosur yang hoax tentang kandungan kolesterol pada makanan

Pada 2019 pengurus Asosiasi Peternak Puyuh Indonesia (APPI) pernah berkirim surat elektronik ke General Hospital Singapore untuk menanyakan kebenaran informasi tersebut namun administrator rumah sakit tersebut tidak pernah membalas surat tersebut. Pada brosur tersebut tidak hanya data kandungan kolesterol telur puyuh yang salah, data-data kandungan kolesterol bahan makanan yang lain juga banyak yang salah. Namun karena masyarakat kita mudah mempercayai berita hoax maka telur puyuh akhirnya dipercaya memiliki kandungan kolesterol paling tinggi dan pantang dikonsumsi.

Padahal kandungan kolesterol telur puyuh dengan takaran yang sama yaitu 100 gram, jauh lebih rendah dibandingkan kandungan kolesterol pada telur ayam. Namun karena informasi tersebut sudah terlanjur menyebar secara massif maka banyak anggota masyarakat yang enggan mengonsumsi telur puyuh. Dampaknya, pasar telur puyuh sulit untuk tumbuh membesar sehingga pasar telur lebih banyak terisi oleh telur ayam khususnya telur jenis ayam ras petelur yang dibudidaya secara masif.

Dari sisi populasi, usaha ternak puyuh mengalami stagnasi akibat permintaan pasar terhadap telur puyuh juga tidak tumbuh signifikan. Ketakutan mengonsumsi terhadap kolesterol tinggi pada telur puyuh menjadi penyebab tidak tumbuhnya pasar telur puyuh. Sebaliknya, populasi ternak ayam ras petelur mengalami peningkatan signifikan yang terlihat pada table 2 berikut:

Tabel 2.2. Perbandingan populasi ayam petelur dan puyuh tahun 2019 dalam juta

Dengan populasi ayam ras petelur pada 2019 sebanyak 263.918 ekor maka dengan konversi produksi telur rata-rata 75% dalam sehari produksi telur ayam ras di Indonesia mencapai 197.93 juta butir. Sedangkan produksi telur puyuh dalam sehari dengan konversi 75% dari jumlah populasi maka menghasilkan 10,57 juta butir. Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2019 mencapai 267 juta jiwa sehingga konsumsi per kapita telur ayam ras di Indonesia mencapai 270,5 butir/orang/tahun, sedangkan konsumsi telur puyuh 14,4 butir/orang/tahun.

3

Sampai saat ini tidak ada pihak yang menyatakan bertanggungjawab atas peredaran brosur hoax KANDUNGAN KOLESTEROL PADA MAKANAN yang sudah terlanjur beredar secara masif dan tidak ada upaya klarifikasi dari pihak penyebar. Pemerintah dalam hal ini Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian juga belum pernah melakukan klarifikasi terhadap permasalahan ini sehingga brosur tersebut terus beredar dan tersebar melalui berbagai saluran informasi termasuk media sosial maupun mesin pencarian google.

Ketua APPI selaku pimpinan asosiasi yang mewadahi para peternak puyuh telah melakukan pengujian kandungan kolesterol ke sejumlah laboratorium untuk memastikan kembali kandungan kolesterol pada telur puyuh. Hasilnya secara ilmiah terbukti bahwa telur puyuh memiliki kandungan nutrisi yang sehat dengan kandungan kolesterol yang relatif rendah, jauh di bawah yang disebutkan di brosur yang mencapai 3.640 mg/100 gram.

Hasil uji laboratorium tersebut telah dipublikasikan melalui sejumlah media dan disampaikan ke berbagai pihak terkait namun hal itu tidak mampu membendung pemahaman salah yang sudah terlanjur berkembang di masyarakat.

Tabel 3.1. Kandungan kolesterol telur puyuh sesuai hasil lab per 100 gram

Kandungan nutrisi pada telur puyuh
Hasil uji laboratorium di M BRIO Food Laboratory juga menunjukkan bahwa selain memiliki kandungan kolesterol cukup rendah yaitu 202,26 mg/100 gram, telur puyuh juga memiliki kandungan protein 10,7 gram/100 gram, Omega 3 sebesar 68 mg/100 gram, Omega 6 sebesar 1876,6 mg/100 gram, Omerga 9 sebesar 5071,5 mg/100 gram, serta bebas dari kandungan bakteri Salmonella.

Tabel 3.2. BRIO – ROA Telur Puyuh

4

Telur merupakan sumber protein yang banyak dikonsumsi masyarakat karena harganya yang cukup murah dibandingkan daging sapi, ikan laut dan ikan tawar serta daging ayam kampung. Harga 1 kg telur ayam ras di pasar bergerak di kisaran Rp 20.000 – 27.000/kg. Sedangkan daging sapi atau daging kambing di kisaran Rp 100.000/kg, harga ikan kisaran Rp 35.000 bahkan untuk jenis ikan tertentu di atas Rp 100.000/kg. Dengan harga yang cukup murah maka telur ayam menjadi lauk-pauk yang sangat popular di masyarakat.

Perusahaan yang berusaha di bidang unggas ayam ras petelur merupakan perusahaan besar dengan investasi sangat besar. Dengan jumlah produksi telur ayam ras sekitar 197.93 juta butir/hari pada 2019 maka kapasitas pasar di Indonesia dapat dikatakan sudah cukup optimal untuk dapat tumbuh lebih besar lagi mengingat jumlah penduduk Indonesia pada 2019 mencapai 268 juta jiwa dan tahun 2020 mencapai 271 juta jiwa.

Sedangkan produksi telur puyuh di Indonesia masih sangat kecil yaitu 10,57 juta butir/hari sehingga potensi pasarnya masih sangat besar jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia. Potensi pasar yang sangat besar tersebut akan dapat dimanfaatkan apabila persepsi masyarakat konsumen terhadap telur puyuh berubah lebih baik yaitu sebagai sumber makanan dengan nutrisi sehat dan rendah kolesterol.

Jika persepsi masyarakat konsumen tetap negatif terhadap telur puyuh maka permintaan telur puyuh akan sulit untuk dapat tumbuh besar. Melihat pertumbuhan jumlah populasi ternak puyuh yang mengalami stagnasi dari 2015-2019 bahkan hingga saat ini menunjukkan pasar telur puyuh masih tidak tumbuh karena lemahnya persepsi masyarakat konsumen yang memercayai bahwa telur puyuh mengandung kolesterol tinggi.

5

Burung puyuh pada dasarnya merupakan binatang endemik yang hidup di alam liar seperti di hutan atau di persawahan. Binatang ini sejak dulu banyak diburu untuk dijadikan bahan makanan. Di berbagai negara seperti Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Prancis, Spanyol, Portugal, Jerman, atau Rusia, telur puyuh dikonsumsi sebagai salah satu sumber makanan sehat dan di negara-negara tersebut tidak ada isyu mengenai kolesterol tinggi. Di Jepang misalnya, usaha peternakan puyuh diselenggarakan oleh Koperasi Toyohasyi Quail yang mengelola peternakan secara modern dengan menghasilkan aneka makanan berbahan telur puyuh siap konsumsi.

Usaha ternak puyuh di Indonesia mulai dijalankan setelah masa kemerdekaan dengan masuknya jenis puyuh dari Jepang yaitu coturnix-coturnix japonica. Jenis puyuh ini merupakan spesies burung puyuh Dunia Lama yang ditemukan di Asia Timur yang memiliki tingkat produktivitas telur tinggi yaitu sekitar 300 butir per tahun dengan masa produktivitas sekitar 14 – 18 bulan.

1.Peluang usaha bagi rakyat
Budidaya ternak puyuh relevan dijalankan oleh rakyat karena usaha ini membutuhkan modal yang tidak besar dan lahan yang tidak luas. Untuk ternak populasi 2.000 ekor misalnya hanya dibutuhkan kendang seluas 6x5m2 atau 30 m2. Modal yang dibutuhkan sekitar Rp 40 juta yang digunakan untuk pembuatan kendang, sangkar, bibit puyuh, pakan dan operasional lainnya. Dengan populasi puyuh 2.000 ekor tersebut seorang peternak dapat memperoleh penghasilkan bersih sekitar Rp 4 juta per bulan, yang mana jumlah tersebut untuk di beberapa daerah sudah di atas upah minimum provinsi (UMP).

2. Bersifat mandiri

Ternak puyuh dapat dijalankan secara mandiri tanpa terkontrol oleh perusahaan besar mulai dari penyediaan bibit (day old quail/DOQ), pembuatan pakan, serta pemasaran. Setiap peternak dapat melakukan pembibitan mandiri serta mengolah pakan puyuh sehingga tidak harus beli pakan dari pabrik pakan. Bahan baku dasar pakan puyuh adalah 50% bubuk jagung, 20% tepung ikan, dan 30% dedak halus. Dapat ditambahkan untuk telur fungsional misalnya dengan menambahkan tepung indigofera dan minyak ikan lemuru. Sebagian besar peternak puyuh memilih menggunakan pakan dari pabrik dengan pertimbangan mengurangi kerepotan dan konsistensi kualitas pakan.

3. Efisien
Puyuh mulai belajar bertelur pada usia 42 – 45 hari dan mulai mencapai produksi optimal pada usia 90 hari dengan produktivitas sekitar 80-85%. Dengan jenis bibit yang bagus dan asupan kualitas pakan yang baik maka performance produktivitas telur puyuh dapat mencapai rata-rata sekitar 80%. Maksudnya, dari 10.000 ekor puyuh layer dapat menghasilkan 8.000 butir telur setiap hari.
Konversi pakan menjadi telur juga tinggi. Seperti catatan performance pada peternakan puyuh PT Sentosa Puyuh Indonesia yang berlokasi di Tajurhalang, Bogor, menunjukkan dari 23 kg pakan dapat menghasilkan 10 kg telur dengan perlakuan terlebih dahulu dilakukan proses fermentasi pakan pakan. Caranya, mencampurkan pakan 50 kg dengan 4 liter air dan probiotik 125 gram, diaduk merata dan disimpan selama dua hari. Setelah dua hari pakan tersebut sudah memiliki kandungan protein lebih tinggi dan konsumsi pakan pada puyuh dapat dihemat 15% – 20%.
Harga pokok produksi (HPP) telur puyuh saat ini mencapai kisaran Rp 190/butir dengan harga jual di kendang sekitar Rp260 – Rp 270/butir. Sehingga dari penjualan satu butir telur puyuh peternak berpotensi mendapatkan margin keuntungan sekitar Rp 70 – Rp 80.

4. Penciptaan lapangan kerja
Usaha ternak puyuh memerlukan tenaga kerja yang langsung di kendang dengan perbandingan satu orang mengelola 5.000 ekor puyuh. Dengan populasi ternak puyuh di Indonesia sebanyak 14,1 juta ekor, maka tenaga kerja langsung yang menangani di kandang mencapai 2.820 orang. Jumlah tersebut tidak termasuk karyawan yang bekerja di bidang pemasaran, pengiriman, administasi keuangan, dan sebagainya.

5. SNI bibit
Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian pada tahun 2020 telah menyusun Standar Nasional Indonesia (SNI) bibit puyuh sebagai upaya untuk membuat standar kualitas bibit puyuh, Hal ini penting untuk melindungi para peternak agar mereka mendapatkan bibit puyuh dengan kualitas yang standar baik atau unggul.

6

Saya melihat usaha ternak puyuh selama ini berjalan mandiri dan masih belum banyak mendapat sentuhan dan bantuan anggaran dari negara. Proses bisnis dari pengadaan bibit, pakan, pendidikan dan pelatihan dilakukan secara mandiri oleh para peternak. Dengan kondisi seperti itu pun usaha ternak puyuh rakyat dapat berjalan namun dengan kondisi yang relatif stagnan, seperti terlihat pada jumlah populasi puyuh sejak tahun 2015-2019 yang tidak mengalami pertumbuhan berarti.

Dibutuhkan banyak sekali perbaikan agar ekosistem bisnis ternak puyuh di Indonesia menjadi lebih baik seperti yang ada di negara-negara maju. Beberapa tantangan yang perlu dilakukan agar usaha ini menjadi sustainable atau berkelanjutan antara lain sebagai berikut:

a. Penguatan peran asosiasi peternak puyuh dalam melakukan advokasi maupun memberikan pendidikan pelatihan serta riset mengenai perpuyuhan di Indonesia.

b. Perlu dikembangkan koperasi peternak puyuh seperti hal koperasi Toyohasyi Quail di Jepang yang mengelola dari mulai pengadaan bibit, pakan sampai pemasaran produknya.

c. Penguatan pasar dengan melakukan kampanye mengenai sehatnya telur puyuh dengan bukti-bukti ilmiah sehingga masyarakat konsumen tidak khawatir terhadap keamanan mengonsumsi telur puyuh.

d. Melakukan ekspor baik telur maupun karkas puyuh sehingga memungkinkan produk puyuh mendapatkan nilai tambah lebih baik dan jaminan pasar yang lebih besar.

e. Meningkatkan akses para peternak terhadap sumber-sumber permodalan dari pemerintah maupun perbankan. Permodalan dari pemerintah misalnya dari Lembaga Permodalan Dana Bergulir (LPDB) Kementerian Koperasi dan UKM atau bantuan hibah bibit bagi peternak mikro atau peternak gurem. Dari perbankan terutama Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan plaon maksimal Rp 500 juta untuk peternak yang sudah mapan, dan KUR mikro plafon Rp 30 juta bagi peternak gurem.

f. Dilakukan kerjasama empat pihak yang melibatkan Akademisi, Bisnis, Birokrasi serta Media (ABG-M) yang memungkinkan dilakukan percepatan baik dari sisi edukasi pasar, akses sumberdaya serta riset dan pengembangan produk.

Dengan jumlah populasi ternak puyuh pada saat ini sekitar 14,1 juta ekor dan pertumbuhan populasinya selama ini cenderung stagnasi maka menjadi mungkin untuk dilakukan percepatan populasinya, misalnya dalam jangka 5 tahun ke depan populasi puyuh ditingkatkan menjadi 20 juta ekor. Untuk mencapai hal tersebut dibutuhkan kerjasama berbagai pihak sehingga usaha peternakan puyuh ini dapat turut berkontribusi dalam menyediakan kesempatan berusaha dan penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat.

Apabila jumlah populasi ternak puyuh dapat ditingkat menjadi 20 juta maka produksi telur per hari diperkirakan mencapai 14 juta butir atau senilai Rp 3,78 miliar/hari atau dalan sebulan menghasilkan penjualan sekitar Rp 113,4 miliar. Dari sisi tenaga kerja langsung akan mempekerjakan 4.000 orang di kandang dan sekitar 2.000 orang lagi di bidang perdagangan, administasi keuangan serta pengangkutan.

Sejumlah fasilitas skema pembiayaan yang disesiakan pemerintah sejauh ini juga belum dapat dimanfaatkan oleh para peternak puyuh karena lembaga keuangan seperti Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Kementerian Koperasi dan UKM maupun bank penyalur Kredit Usaha Rakyat (KUR) belum melihat usaha ternak puyuh sebagai bisnis yang feasible dan bankable.

7

Dari pembahasan di atas dari kaca mata etika bisnis saya berpendapat sebagai berikut:

a. Usaha ternak puyuh di Indonesia sesungguhnya memiliki prospek yang cukup baik untuk dikembangkan karena dengan menjalankan cara beternak yang baik dapat menghasilkan net margin Rp 70 – Rp 80/ butir telur.

b. Populasi jumlah ternak puyuh mengalami stagnasi karena pasarnya kurang berkembang akibat kuatnya persepsi masyarakat yang memercayai bahwa kandungan kolesterol telur puyuh paling tinggi dan merupakan bahan makanan yang pantang dikonsumsi.

c. Sesuai hasil pengujian di sejumlah laboratorium membuktikan secara ilmiah bahwa kandungan kolesterol telur puyuh sangat rendah yaitu kisaran 200 – 300 mg/100 gram, jauh di bawah yang disebutkan oleh brosur hoax KANDUNGAN KOLESTEROL PADA MAKANAN yang menyebutkan kandungan kolesterol pada telur puyuh sebesar yaitu 3.640 mg/100 gram.

d. Perlunya dikembangkan ekosistem usaha peternakan puyuh yang mengintegrasikan baik dari sisi pengadaan bibit berkualitas, pengadaan pakan dan vitamin-mineral dan obat-obatan, permodalan, pemasaran serta kampanye mengenai sehatnya kandungan nutrisi pada telur puyuh.

e. Perlunya dikembangkan kerjasama empat pihak yang melibatkan Akademisi, Bisnis, Birokrasi serta Media (ABG-M) yang memungkinkan dilakukan percepatan baik dari sisi edukasi pasar, akses sumberdaya serta riset dan pengembangan produk.

——————————-

Daftar Pustaka

Ardiansyah, H. R., Endang Sujana, Wiwin Tanwiriah, 2016. Pengaruh Pemberian Tingkat Protein dalam Ransum terhadap Kualitas Telur Puyuh (coturnix-coturnix japonica). Jurnal Universitas Padjadjaran Sumedang.
file:///C:/Users/pc/AppData/Local/Temp/10211-18324-1-SM.pdf

Balai Penelitihan Ternak – Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian, Hasil uji Laboratorium telur puyuh CV SQF, Jakarta, 23 Oktober 2018.
Benarkah Telur Puyuh Sebabkan Kolesterol?
https://www.halodoc.com/artikel/benarkah-telur-puyuh-sebabkan-kolesterol-

Data Statistik dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian tahun, 2019. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian.

Laboratorium Penguji Balai Pengkajian Bioteknologi – BPPT, CV Slamet Quail Farm, 27 Januari 2017

Lase, G. H., E. Sujana dan H. Indrijani, 2016. Performa Pertumbuhan Puyuh (Coturnix-coturnix japonica) Petelur Betina Hasil Silangan Warna Bulu Coklat Dan Hitam di Pusat Pembibitan Puyuh Universitas Padjadjaran. Universitas Padjadjaran. Jurnal Universitas Padjadjaran. file:///C:/Users/pc/AppData/Local/Temp/10154-18173-1-SM.pdf

Lokapirnasari, W. P., 2017. Nutrisi dan Manajemen Pakan Burung Puyuh. Airlangga University Press. Surabaya.

MBRIO Food Laboratory, Report of Analysis Kandungan Telur Puyuh 100 gram, 2019. Sampel telur SQF.

Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 33/Permentan/ OT.140/2/2014 tentang Pedoman Budidaya Burung Puyuh Yang Baik.

[Perpres] Peraturan Presiden. Peraturan Presiden RI Nomor 39 Tahun 2014 tentang daftar bidang usaha yang tertutup dan bidang usaha yang terbuka dengan persyaatan penanaman modal. Jakarta. Diunduh 11 Agustus 2015 dari www.hukumonline.com.

Porter, M.E. Keunggulan Bersaing. Binapura Aksara (Terjemahan). Jakarta

PT Sucofindo (Persero), report of analysis telur puyuh CV Slamet Quail Farm, Jakarta 19 November 2019.

Telur Puyuh vs Telur Ayam, Mana yang Kolesterolnya Lebih Tinggi?
https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/2698625/telur-puyuh-vs-telur-ayam-mana-yang-kolesterolnya-lebih-tingg

*Penulis adalah alumnus Fakultas Filsafat UGM, dan peminat Kajian Etika Bisnis

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *