Puisi-Puisi Djoko Saryono

KEZALIMAN

hutan adalah
lebat pepohonan yang dicahayai kerahmanan:
dikawani hijau, dijaga derau
dilingkungi kosmogoni, dikitari pemali
dipandu jiwa bersih, dibela hati ganih

rimba adalah
rimbun pepohonan yang dibinari kerahiman:
ditemani kicau, dilindungi desau
dilingkupi mitologi, dilingkari mantra suci
dikawal pikiran putih, dipiara nalar jernih

hutan adalah
mata air kehidupan alami – bersari rabani:
tempat rajah nasib diteguhkan
ruang gerak napas disucimurnikan
ajang masa depan direncanakan
tapak nikmat dijagalestarikan

rimba adalah
tanah air kebudayaan asali – berinti kauni:
tempat akal budi dimuliakan
ruang olah semesta ditinggikan
ajang pusaka budaya diwariskan
tapak syukur ditumbuhsuburkan

hutan dan rimba adalah senapas cinta baka

– bergelimang kelembutan

mengolah kehidupan dan kebudayaan

– menjadi ragi kemanusiaan

hutan dan rimba adalah sejantung kasih baki

– berwangi keberserahan

menyantuni kehidupan dan kebudayaan

– menjelma hara kesemestaan

hutan dan rimba adalah sehati sayang abadi

– berharum keimanan

menyuburi kehidupan dan kebudayaan

– merupa rabuk keselamatan

maka kerusakan hutan adalah

hancurnya sumber kehidupan

kepunahan rimba adalah

matinya mula kebudayaan

maka kerusakan hutan adalah

hancurnya keberadaan manusia

kepunahan rimba adalah

matinya kelangsungan jagat raya

maka kerusakan hutan adalah

hancurnya wujud indah keimanan

kepunahan rimba adalah

matinya rasa kehadiran Tuhan

ketika gergasi keserakahan
robohkan lebat pepohonan – jadi gelondong:
robohlah kehidupan dan kebudayaan manusia

– sisakan rangka

ketika gergaji ketamakan
rebahkan rimbun pepohonan – jadi pokok gosong:
rebahlah keberadaan dan kelangsungan manusia

– tinggalkan cerita

ketika rahang keserakahan dan ketamakan
cincang hutan dan rimba:
kita berada di palung lupa
wajah keimanan dan kekhalifahan manusia!
ketika tajam taring keserakahan dan ketamakan
lumat hutan dan rimba:
kita berada di tepian kehancuran semesta
kepunahan umat manusia!

hai kalian yang bebal, dengarlah Gandhi bersuara:
semesta cukup menghidupi semua manusia
tak mencukupi seorang serakah dan tamak semata!
hai kalian yang bebal, tak mau berpikir, simaklah suara sabda:
janganlah kamu berbuat kerusakan di muka semesta
bila beriman sebab kebinasaan tak disuka Sang Mahacinta
hai kalian yang bebal….

[dan pepohonan terus bertumbangan

– hutan dan rimba tinggal kenangan

siapa itu mandi harta bergelimangan?

– bertuhan pundi dana berdencingan?]

Malang, 1998/2010

 

BUMI KITA

Bumi adalah perahu keramat bernyawa mustajab doa:
lampaui hebat perahu Nuh dahulu kala
mengarungi luas samudra alam semesta berbilang kala:
jelajahi palka demi palka secepat gerak cahaya
berpenghuni semua makhluk yang ikhlas bersama:
nabatah, satwa, dan manusia karya sang mahacipta

Bumi adalah perahu mungil bersaripati kamil surga:
serasa debu di antara lintasan bermilyar benda
mengelilingi lapang lautan alam raya bertahun cahaya:
edari ruang demi ruang secekat buraq mustafa
berpenumpang para makhluk yang dibimbing waspada:
nabatah, satwa, dan manusia milik sang mahabaka

Ketika puja sastra dan doa disulih ragu pikir dan prakira manusia
ketika riuh upacara syukuri bumi disalin giat kerja singkapi dunia
kezaliman dan kebodohan pun memberangus diri manusia:
ia mencincang bumi, alpa rawat selembut firman ilahi
rakus dan tamak pun menjajah pikiran, hati, dan jiwa manusia:
ia menganiaya bumi, lupa belas kasih semerdu ayat suci

Maka manusia lena peran utama pemelihara jagat raya:
jadi lanun yang rampas perahu keramat milik sang mahamulia
jadi bajak laut yang hancurkan perahu mungil di alam semesta
jadi penyamun yang binasakan nabatah dan satwa tiada dosa

Bumi pun terhuyung di ambang kehancuran nyata. Hai kau yang lupa….
[terlantun hiruk cemas sesiapa rasai ketakteraturan jagat raya
bergaung lolong lara sesiapa digulung ketakseimbangan buana
bergema jerit gentar sesiapa dilibas ketakselarasan alam semesta
sedang perahu bumi kian karam, tengkurap serupa seekor kura-kura]

Hai kau yang lalai, sedang mencari apa – kenapa dirayakan ingkar dan durhaka?

Malang, 2005/2012

 

NASIB BUMI

siapa lebih berarti bagi kita
selain bumi yang tulus memberi
meski kita lukai indahnya saban hari

siapa lebih kasih pada kita
selain bumi yang ikhlas menghidupi
meski kita aniaya sempurnanya tiada henti

siapa amat baik kepada kita
kecuali bumi yang setia melindungi
kendati kita rusak keutuhannya tanpa hati

siapa sangat pengertian terhadap kita
kecuali bumi yang selalu mendampingi
kendati kita ingkari welas asihnya tanpa nurani

tiada yang begitu kuat selain bumi:
tabah menanggung derita perbuatan kita
tiada yang demikian menerima selain bumi:
amat menyayangi kita yang lama menyiksa

tiada yang sebegitu mengabdi kecuali bumi:
ajek menyantuni kita yang selalu menzalimi
tiada yang sedemikian melayani kecuali bumi:
sedia menyejuki kita yang acap mengakali

hai manusia…
tidakkah kita dengar lirih lara bumi?
tidakkah kita tangkap rintih dada bumi?
tidakkah kita serap sengal napas bumi?
mungkin kita telah buta segala

Malang, 2005/2012

 

LANSKAP KOTAMU

Hai, Dangku, berapa rindu memulas kotamu: Labuan Bajo senantiasa berlangit biru: pula laut membingkai dengan warna beludru. “Indah membisukan diri selalu,” turis-turis mengumbar haru. Kata dan wacana serasa memang tiada cukup melukis lanskap kotamu, Dangku. Juga potret-potret terindah buatan para fotografer yang dikata mewakili seribu kata: semua tak kuasa. “Bapa, kuasa Tuhan memang tak bisa dirumuskan dalam kata, digambarkan dalam wacana, pula dirupakan dalam potret terbaik para penyuka,” Dangku baku suara. Kebersihan jiwa, kelapangan dada, keterbukaan sukma, dan kerendahan hati semata jalan merayakan segala kebiruan lanskap Labuan Bajo tercinta. Maka aku memasuki keheningan yang lama kosong tak terjamah sesiapa.

Labuan Bajo, 2019

 

SUBUH
Subuh yang datang di telinga bersama fajar, membawa kabar soal cemerlang iktibar, “tiap rembang pagi rezeki bertebar, terjaga bakal melapangkan jalan mencapai mercusuar.” Maka perempuan itu selalu bangun sebelum subuh, membasuh paras biar berkah berlabuh, segenap jeri hidup lari mengaduh, dan hanya kebabahagian terunduh. “Perempuan itu begitu teguh menjalani hidup zuhudi di tengah zaman perayaan korupsi,” seseorang bersaksi. “Suaminya hanya sudi hidup mengandalkan gaji,” berkata orang lain lagi.

Malang, 2019

 

HASRAT

/1/
“Lukisan itu jelek sekali: kenapa pikiranku terganggu tak henti”, ujar seorang laki berjanggut putih lagi berpostur tinggi. Dan dia mendekati, mengamati, lantas berkomentar kembali, “Ya, lukisanmu itu sangat jelek, tapi kenapa pikiranku bisa terganggu, kehilangan keteguhan, segala lembek!” Lantas duduk dia di kursi ruang tamu yang dijaga rangsang-rangsang purba perempuan berpose aneka gaya – sudah tak lagi muda dan telanjang dada. “Sialan, lukisanmu itu jelek sekali, warna dan tekniknya tak rapi, tapi mengganggu pikiranku lewat urat nadi, turunkan saja dari sini!” Perempuan itu terus bercerita tentang seorang lelaki yang bertamu ke rumahnya. Dan dia sangat suka lantaran bisa jadi mangsa. Lagi pula hasrat syahwatnya sudah mendaki puncak rindu purba: dan terpukat hasrat perempuan itu, yang selalu berterus terang soal kenikmatan nafsu.

/2/
Selepas tertawa, dan terguncang tubuhnya, perempuan langsat padat itu berkata, “Wine yang meresap di lidahku akan menjadi tinta untuk menulis puisi di atas tubuhmu.” Lalu dia merapatkan diri pada lelaki di sampingnya, menghunus lidahnya, dan menghunjamkan pada tubuh lelaki tengah baya, menyurat puisi kasmaran berlumuran birahi. “Tubuhku adalah beribu lapis kertas tak terperi, berhari-hari kau tulisi tak bakal kau jumpai lembar terakhir yang dinanti. Maka beratus puisi yang mungkin bisa kau tulis hanya membuatmu mabuk hilang diri: bau menyengat wine cuma mengabarkan kau telah terkapar, hanya tersisa debar hambar,” sahut lelaki tegar. Sepi pun menjerit mendengarnya. Suasana bersiaga untuk melumat segala berita

/3/
“Biarkan, biarkan aku menulis sebuah puisi di atas tubuhmu,” cetus perempuan itu kepada lelaki yang terkepung perempuan-perempuan telanjang tergantung di dinding ruang tamu: tercipta oleh jemari-jemari perempuan itu yang dialiri eros paling berdebu. Sang lelaki lalu tertawa, sebelum ada sebuah kata, “Lukisan-lukisanmu jelek melulu, tapi selalu mengganggu pikiranku: menggoda mataku!”. Berkali-kali sang lelaki berdiri, lalu memeloti perempuan-perempuan telanjang menempel di dinding ruang tamu. Perempuan itu cuma tertawa, lalu menimpali ringkas semata: “Diam-diam Anda punya libido berbahaya! Dan aku suka.” Di luar rumah senja kian membara di perbukitan sebelah barat kota.

Batu, 2018

 

KEBERUNTUNGAN:

Dangku, tangkai-tangkai dingin pegunungan yang menjulurkan kesejukan selalu, mengantarkanku tiba di hulu cerita: tali pusar moyang orang-orang Barrupu memulai dan mentakzimi tradisi adikodrati: Ma’nene yang dikenal sampai kini. “Sebermula, dahulu seorang pemburu,” tetua adat sang empu cerita meracik kata-kata, “Pong Rumasek namanya, pasti mengitari pegunungan Balla. Di situ dia bersua jazad manusia, betapa kondisi menyayati jiwa. Lantas Pong merawatnya selapang dada, memberi busana selayak manusia hayat di dunia, kemudian menguburnya kembali di tempat lebih sempurna: batu cadas yang ikhlas menerima. Keberuntungan hidup sejak itu selalu Pong terima. “Panen pasti melimpah: binatang buruan niscaya datang berserah. Dia senantiasa dibantu sang arwah,” empu cerita memberi hujah. Maka tergelar Ma’nene demi sang arwah: demi keberuntungan orang Barrupu yang pasrah.

Rante Pao, 2018

 

MA’NENE:

Dangku, di Barrupu, ya Barrupu, yang jauh di pedalaman tinggi demi sejuk alami, Ma’nene bakal kau temui: selepas panen raya, agustus tiba, tiga tahun sekali. Datang, datanglah, kau akan lihat orang-orang berbondong menuju kubur leluhur, di tebing batu mendengkur, di Patane dan Liang yang masyhur. Usai tetua adat melangitkan doa-doa berbahasa purba, peti-peti mati segera keluar dari lubang-lubang kubur ternama: lantas pelahan turun meniti tangga-tangga bambu, mesra dibimbing lelaki-lelaki yang takzim pada ajaran masa lalu. Tak berapa lama, jazad-jazad kusam dengan kotor busana, meninggalkan peti-peti mati: menghirup udara sejuk alami. Seketika para kerabat mendekati, membantu mengelapi jazad si mati biar bersih kembali, dan juga mengganti busana jazad si mati dengan yang baru biar kembali rapi, dan lantas berfoto bersama penuh kemesraan pakai aneka gaya. Sesudah itu jazad si mati kembali ke dalam peti, kemudian para lelaki mengantar kembali ke dalam lubang kubur batu: di situ dia tidur abadi.

Rante Pao, 2018

 

MEMASUKI TANDA

Dangku, selepas kota Enrekang, kau bakal melintasi gericik air sungai bagai dendang, lantas memasuki satu gerbang: kita niscaya tahu sebab selalu ada di ceruk kenang, bahkan ingatan gilang. Ketika mendongak, menatap tajam bakal terbaca: Selamat Datang, Kota Tana Toraja. Seketika seluruh aliran napas diarungi keinginan dan kesan menggelora: kota berperadaban tua yang terus menerima segala yang ingin datang. Dan bakal diterima dengan hati lapang.

Lihatlah, maka kubur batu tua, upacara penguburan jazad tinggalan leluhur dahulu kala, keyakinan purba, dan kekristenan bisa bersanding mesra. Maka bila kau melaju menuju Rante Pao yang pusat kota, lantas kau layangkan pandang ke julang gunung di kiri-kanan jalan, kau bakal saksikan tanda-tanda keimanan tak mungkin menyangsikan: pada puncak gunung di kiri jalan kau bakal saksikan patung salib raksasa yang melindungi batin warga dari mara bahaya: pada puncak gunung di kanan jalan kau bakal lihat patung Yesus yang tinggi-besar luar biasa, yang menjaga kehidupan manusia dari petaka. Bila kau terus melaju sampai Rante Pao yang undang haru, kau bakal tiba di Kete’ Kesu: di situ berdiri tongkonan-tongkonan pertanda kehormatan dan kemuliaan yang tak tertiru: di baliknya kau bakal temukan dinding tebing batu tempat para bangsawan dan kerabat disemayamkan sepanjang waktu

Rante Pao, 2018

 

TORAJA

Dangku, di lembah lurah membujur yang dibelah sungai Sa’dan yang riak-riak airnya tak pernah tidur, dan dilindungi punggung-punggung pegunungan cadas yang serupa raksasa telentang sedang mendengkur, bermula peradaban masyhur: membikin tiap manusia berhasrat mendapat lipur.

Di situ mukim sehimpun manusia yang bahagia mengakui orang di utara sebagai leluhur. Maka, mereka menamai diri orang Toraja: dan daerah mereka Tana Toraja. Di situ mereka mengolah hidup menjadi sebuah adab ternama: bermasa-masa terawat dengan sebegitu indahnya: maka unik tak ada bandingnya. Orang-orang pun lalu berseru: tradisi Toraja amat luar biasa! Decak kagum pun senantiasa bergema. Geleng kepala selalu tercipta: orang-orang tersihir begitu rupa.

“Di sini tradisi teramat tua masih tetap terjaga!” ujar seorang pemandu wisata. “Kubur batu itu memang tradisi amat tua: kami harus menjaganya: tapi, tapi alangkah mahalnya!” kata wanita muda yang berjualan suvenir di sekitar Lemo, satu kubur tua yang ada di Toraja.

Batu Londa, Toraja, 2018

 

KUBUR BATU LONDA

Gunung batu matang menjulang: tebing batu curam tak alang kepalang. Berjajarlah pintu-pintu di sekujur dinding tebing: bila terbuka ada lubang panjang selengking. Di situ para jazad tenang terbaring: menuruti adat beratus tahun tersaring. Sedang ruh-ruh mustahil dapat tergiring: melenting menuju ruang paling ning. Kendati orang yakin tak bergeming: tetap berdiam di situ hingga jazad garing. Menjelma tengkorak dan rangka tulang terkeping.

Batu Londa, Toraja, 2018

 

PAUS LAMALERA

Dan aku pun sampai di puncak ombak, wahai pelaut Lamalera, kata paus-paus ternama. “Sambutlah aku penuh gelegak! Biar kalian bisa mengada bermakna.” Maka perahu pelaut memapas julang debur samudra, menjangkau pucuk ombak, lantas melontarkan para pelaut yang membangunkan tombak. “Terimalah salam tombakku, wahai paus-paus yang sudah mendaki keberserahan gaharu,” pelaut berseru. Dan lihat, lihatlah: sang paus dengan tombak pun bercumbu begitu seru. Sebelum layu, sesudah melunaskan rindu. Waktu cuma berlalu, seperti deru. Waktu hanya berseru, serupa syukur para pemburu. Di pantai anak-anak dan ibu-ibu sudah menunggu: jazad paus yang menjelma daging bermutu.

Ende, 2017

 

MENYEBERANGI LAUT

“Bapa, bukankah layar harus kita ubah selalu biar deru angin mendorong laju perahu menuju dermaga yang kita tuju?” bertanya Dangku ketika debur memberi tahu arah angin tak tentu: ada taufan tengah mencari arah dan awan gelap sedang resah. Jawaban indah tak perlu digubah sebab laku menandakan istiqamah pada iman yang sudah dirajah: juga mengabarkan sepasang kaki tak goyah.

Maka seraya berserah, seketika arah layar doa kuubah: kadang pada dhuafa yang mencari makan susah: kadang pada para pencuri yang belum bertemu jalan taubah: kadang pada pemimpin yang acap kehilangan arah: kadang pada siapa saja yang menadah berkah. Perahu pun laju menyebarangi laut tak sudah: menuju dermaga tuju, iaitu semesta yang indah. “Dangku, kita telah berada di jalur kebenaran tujuan berkat cekatan mengubah arah layar perahu.” ucapku.

“Semoga keselamatan bersama kita, Bapa. Di dermaga tujuan nanti kita bisa menengadah: memandang sumber berkah,” sahut Dangku penuh gairah. Sedang aku terus membentang layar doa menangkap angin bisa melayarkan perahu tak kenal lelah.

Ende, 2017

 

MALAM DI PANTAI ENDE

Alex, puisi-puisi yang kita bacakan di pantai itu, sembari duduk bermuka-muka di meja, pada malam yang dijaga angin laut, menjelma derak-derak perahu. Tengah melempar sauh, lalu tergesa sandar di dermaga pelabuhan Ende, melepas letih selepas seharian mengarungi rindu: mengangkutmu menemuiku, untuk belajar mengerti cara membangunkan sepi yang suka sembunyi di dasar puisi.

Saat itu seorang perempuan belia menunggui sunyi, yang gemar mengganggu pantai Ende kala sangsi, sambil mencipta bunyi-bunyi, dan diam-diam kemudian berpacaran dengan puisi. “Berpuluh-puluh tahun senantiasa begini,” suaramu seperti membongkar masgul hati, “Sejak Soekarno dibuang di sini sampai reformasi berembus menyumpalkan janji”.

Sebelum aku sempat menimpali, Alex, dia menyodorkan puisi dan bunyi, “Lahirkanlah, lahirkanlah, malam di pantai Ende telah lama menanti: kembalinya sanubari di dekapan keindahan asali.” Maka kita pun membaca, membaca, dan membaca puisi hingga orang-orang keluar semua dari perahu yang setia bersilaturahmi: hingga tiba pagi.

Ende, 2017

 

BERTEMU MARIANO DANGKU

Dangku, kau tahu, di sini kita senantiasa bertemu: ruang rindu, dan tentu altar cinta. Diteduhi oleh doa-doa: penuh sulur berkah kedamaian bersama. Seperti siraman senja warna tembaga yang dipayungi langit berlabur sabda-sabda baka dan dijaga regu-regu serdadu doa: menyelamatkan keimanan di dasar jiwa. “Bapa, izinkan saya menggembala domba-domba: dari Alexandria sampai Jerusalem pungkasannya: ziarah tilas-tilas sejarah keimanan kami semua. Beberapa lama absen sebagai domba Bapa: dalam pelajaran berharga yang Bapa kabarkan di kelas-kelas bahagia,” takzim Dangku bersuara, “Bukan menampik kata-kata kencana berasal dari sumur ruhani Bapa.”
Tentu, pastor, tidak mengapa: memang demikian tugas mulia gembala, timpalku seketika. “Tapi, saya juga domba di padang-padang ilmu yang begitu luasnya, yang Bapa jelajahi tiada habisnya. Kewajiban domba patuh mengikutinya,” pastor Dangku berkata.

Dan padang-padang terbuka membentang luas tiada terkira: betapa hijaunya, dipayungi suara-suara langit yang selalu mengiringi langkah Ibrahim, sang gembala ternama. Setelah sekian lama menjelajahinya, Ibrahim menuju Allepo yang indah hijau memukau: bersama domba-domba berisi mengesankan dada. Lantas dia memerah susunya dengan jemari-jemari cinta. Demikian laku Ibrahim dahulu kala. “Kami juga bakal ziarah ke Allepo: menghayati jejak keimanan Ibrahim yang teruji keikhlasannya: mengikuti tapak-tapak jejak dirinya. Hingga tak terasa tiba di Jerusalem, kota sumbu iman banyak agama,” berkisah Dangku berbalur kegairahan. “Kepada Ibrahim saya juga selalu datang. Sebab dia hulu keimanan kami yang tak bakal lekang,” ujarku gamblang.

Rumput-rumput pun bergoyang. Tertiup angin musim aneka rupa. “Astaga, kita berleluhur sama Bapa! Kenapa beratus tahun jarak kian menganga? Sering merasa asing saat saling memandang?” Dangku menerawang. “Subahanallah, kita bersaudara serupa Sumantri dan Sukrasana: kenapa acap bersengketa? Kenapa kerap saling kirim syak wasangka?” pekikku tertahan, tenang. Kami pun sama-sama menengadah sebelum saling pandang. Langit mengirim teduh cuaca, yang setia melawat ke hati tiap manusia.

Ende, 2017

 

*Prof. Dr. Djoko Saryono adalah Guru Besar Universitas Negeri Malang. Menulis kumpulan puisi: Kitab Puisi Arung Diri (2013), Arung Cinta (2015), Tafsir Kenthir Leo Kristi (2016). Dan baru saja Januari 2021 ini menerbitkan antologi puisi: Rahim Penyair bersama Tengsoe Tjahjono, Tjahyono Widijanto, Dewi R. Maulidah dan Royyan Julian.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *