Film, Perang, dan Peradaban yang Diabaikan

Oleh Purnawan Andra*

Perang hari ini tidak hanya bergerak di peta militer, tetapi juga diam-diam menggerus peta kebudayaan. Dalam konflik yang memanas antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, kerusakan yang terjadi tidak berhenti pada infrastruktur atau korban jiwa. Ia merambat ke sesuatu yang lebih sunyi yaitu warisan peradaban. 

Laporan terbaru menunjukkan bahwa sejumlah situs penting di Iran, termasuk istana dan masjid bersejarah, mengalami kerusakan akibat serangan udara. Bahkan situs seperti Istana Golestan mengalami kerusakan pada bagian interiornya, termasuk ruang cermin yang menjadi simbol estetika Persia. UNESCO sendiri mengakui bahwa beberapa situs warisan dunia telah terdampak langsung oleh eskalasi konflik ini .

Di titik ini, kita melihat pola lama yang kembali terulang. Perang tidak hanya menghancurkan kehidupan, tetapi juga menghapus ingatan. Ini bukan sekadar kerusakan material, tapi ini adalah apa yang bisa disebut sebagai epistemic violence, kekerasan terhadap pengetahuan dan memori kolektif. Ketika situs seperti Isfahan atau kompleks sejarah Persia rusak, yang hilang bukan hanya bangunan, tetapi juga arsip hidup tentang bagaimana manusia pernah memahami dunia, kekuasaan, estetika, dan spiritualitas.

Namun yang lebih mengganggu adalah respons kita yang cenderung repetitif. Dunia mengecam, lembaga internasional mengeluarkan peringatan, dan kemudian semuanya bergerak seperti biasa. Kita pernah melihat ini di Irak, ketika museum nasional dijarah. Kita juga melihatnya di Suriah, ketika Palmyra dihancurkan. Polanya hampir identik: kesadaran datang setelah kerusakan terjadi. Dalam istilah Slavoj Žižek, ini adalah bentuk sinisme ideologis, yaitu ketika kita tahu sesuatu itu salah, tetapi tetap membiarkannya terjadi.

Problematik-Reflektif

Dalam konteks ini, film The Monuments Men (2014, sutradara George Clooney) menjadi menarik untuk dibaca ulang, bukan sebagai kisah heroik, tetapi sebagai teks yang problematik sekaligus reflektif. Film yang dibintangi diantaranya oleh George Clooney, Matt Damon, Bill Murray, John Goodman dan Cate Blanchett ini menceritakan unit khusus pada Perang Dunia II yang bertugas menyelamatkan karya seni dari ancaman Nazi. 

Film berdasar buku The Monuments Men: Allied Heroes, Nazi Thieves and the Greatest Treasure Hunt in History karya Robert M Edsel dan Bret Witter ini tampak sederhana, tentang sekelompok orang menyelamatkan lukisan dan patung. Sebuah misi yang tampak “tidak mendesak” di tengah perang besar. sekelompok kurator, sejarawan seni, dan arsitek yang direkrut oleh Sekutu untuk menyelamatkan karya seni Eropa dari jarahan dan kehancuran oleh Nazi.

Mereka bukan tentara tempur dalam arti konvensional. Mereka bergerak di antara reruntuhan kota, gudang tersembunyi, hingga tambang bawah tanah, memburu lukisan, patung, dan artefak yang dicuri—dari karya Michelangelo, Manet hingga Johannes Vermeer—sebelum semuanya hilang atau dihancurkan.

Yang membuatnya penting bukan sekadar “penyelamatan benda seni”, tetapi gagasan di baliknya. Ia sebenarnya berbicara tentang bagaimana peradaban dinegosiasikan di tengah kekerasan. Bahwa di tengah perang yang mempertaruhkan nyawa manusia, ada kesadaran bahwa warisan budaya adalah bagian dari jiwa peradaban. Tanpa itu, kemenangan militer sekalipun akan terasa seperti tubuh tanpa ingatan.

Salah satu adegan film The Monuments Men (sumber: nytimes.com)

Yang jarang disadari adalah bahwa film ini tidak sekadar merayakan penyelamatan seni, tetapi juga mengandung kegelisahan moral. Ada satu pertanyaan yang terus menghantui melalui film ini, yaitu apakah karya seni layak diselamatkan di tengah perang yang menelan begitu banyak nyawa? 

Film ini tidak memberi jawaban eksplisit, tetapi justru di situlah kekuatannya. Ia memaksa kita melihat bahwa peradaban bukan sesuatu yang otomatis bertahan. Tapi ia harus dipilih untuk dipertahankan.

Jika kita tarik ke konteks hari ini, justru terlihat kontras yang tajam. Apa yang dilakukan dalam kisah Monuments Men adalah bentuk intervensi aktif yaitu ketika budaya dimasukkan ke dalam strategi perang. Sementara dalam konflik Iran saat ini, warisan budaya justru berada di posisi pasif. Ia menjadi korban, bukan pertimbangan. Bahkan penandaan situs dengan simbol perlindungan internasional seperti Blue Shield tidak sepenuhnya mampu mencegah kerusakan.

Di sinilah film Monuments Men menjadi penting, bukan karena ia menawarkan solusi, tetapi karena ia memperlihatkan bahwa alternatif itu pernah ada. Dalam bahasa Pierre Bourdieu, Monuments Men bisa dibaca sebagai upaya mempertahankan cultural capital di tengah kehancuran material capital. Ia adalah usaha untuk menjaga sesuatu yang tidak langsung terlihat nilainya, tetapi justru menentukan keberlanjutan makna.

Seorang tentara Sekutu memeriksa koleksi benda seni di sebuah rumah di Jerman pada Perang Dunia II (sumber: rarehistoricalphotos.com)

Menyederhanakan Kompleksitas

Namun kita juga perlu kritis. Film ini adalah produk Hollywood, yang dalam banyak hal menyederhanakan kompleksitas sejarah. Ia menampilkan Barat sebagai penyelamat peradaban, sementara realitas global jauh lebih rumit. Dalam banyak kasus modern, negara-negara yang sama justru terlibat dalam konflik yang merusak warisan budaya. Ini membuat film tersebut juga bisa dibaca sebagai bentuk cultural myth-making, sebuah narasi yang membangun citra moral tertentu sekaligus menutupi kontradiksi.

Di titik ini, refleksi menjadi lebih jauh. Mengapa dalam Perang Dunia II, perlindungan budaya bisa menjadi bagian dari strategi, sementara hari ini tidak? Salah satu jawabannya mungkin terletak pada perubahan cara kita memandang budaya itu sendiri.

Dalam masyarakat kontemporer, seperti yang dikemukakan Fredric Jameson dalam Postmodernism, or, The Cultural Logic of Late Capitalism (1991), budaya semakin terjebak dalam logika kapitalisme global. Ia menjadi komoditas, bukan lagi fondasi identitas. Ketika budaya direduksi menjadi objek konsumsi, maka urgensi untuk melindunginya dalam situasi krisis menjadi berkurang.

Selain itu, ada juga perubahan dalam cara kita mengalami spiritualitas. Warisan budaya dulu tidak terpisah dari kehidupan spiritual masyarakat. Situs, artefak, dan ruang budaya adalah bagian dari pengalaman religius dan eksistensial. 

Namun hari ini, spiritualitas semakin individual dan terlepas dari ruang historis. Akibatnya, ketika situs-situs itu rusak, dampaknya tidak langsung terasa dalam kehidupan sehari-hari. Ini menciptakan jarak emosional yang membuat kehancuran tersebut lebih mudah diterima.

Kembali ke konflik Iran, yang kita saksikan bukan hanya kerusakan fisik, tetapi juga erosi makna. Ketika situs-situs bersejarah rusak, generasi mendatang kehilangan akses langsung ke masa lalu. Mereka tidak hanya kehilangan objek, tetapi juga kehilangan cara untuk memahami dirinya dalam rentang sejarah yang lebih panjang. Ini adalah kehilangan yang tidak bisa digantikan oleh dokumentasi digital atau rekonstruksi.

Dengannya, perlindungan warisan budaya tidak bisa bergantung pada kesadaran moral semata. Ia membutuhkan integrasi dalam kebijakan dan strategi yang nyata. Oleh karena itu kita perlu mengembalikan hubungan antara budaya dan kehidupan sehari-hari, agar ia tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang jauh dan abstrak. Di sisi lain, kita perlu membaca ulang narasi-narasi seperti Monuments Men, bukan untuk dirayakan, tetapi untuk dikritisi dan dijadikan cermin.

Para tentara Sekutu sebagai The Monuments Men pada Perang Dunia II (sumber: https://www.journalchc.com/)

Lukisan Edouard Manet In the Conservatory, yang dalam bahasa Jerman disebut Wintergarten, yang berhasil diselamatkan Monuments Men Perang Dunia II (sumber: rarehistoricalphotos.com)

The Monuments Men pada Perang Dunia II mengangkut patung Madonna and Child/Bunda Maria dan Kanak-kanak Yesus/Madonna of Bruges/Madonna dari Bruges karya seniman besar Michaelangelo (sumber: rarehistoricalphotos.com)

Seorang tentang Sekutu dengan pedang Raja Frederick Yang Agung (sumber: rarehistoricalphotos.com)

George Clooney (kiri) dalam film memerankan salah seorang Monuments Men Perang Dunia II George Stout (kanan) (sumber: www.historyvshollywood.com)

Dokumentasi penyelamatan lukisan diri seniman besar Remdrandt oleh Monuments Men Perang Dunia II (atas) dan pengadeganannya dalam film (bawah) (sumber: historyvshollywood.com)

Pada akhirnya, perang selalu menguji apa yang benar-benar kita anggap penting. Jika warisan budaya terus menjadi korban yang bisa ditoleransi, maka itu berarti kita sedang menggeser batas tentang apa yang disebut sebagai peradaban. Film The Monuments Men mengingatkan bahwa ada kemungkinan lain, bahwa bahkan di tengah perang, manusia masih bisa memilih untuk menjaga sesuatu yang lebih dari sekadar bertahan hidup.

Pertanyaannya sekarang bukan apakah kita tahu bahwa warisan budaya itu penting. Kita sudah tahu. Pertanyaannya adalah apakah kita cukup menganggapnya penting untuk benar-benar melindunginya. Jika jawabannya tidak, maka setiap perang tidak hanya akan meninggalkan reruntuhan, tetapi juga dunia yang semakin kehilangan ingatan tentang dirinya sendiri.

—-

*Purnawan Andra, ASN Kementerian Kebudayaan, penonton film, penerima fellowship Humanities & Social Science di Universiti Sains Malaysia.