Bambang Bujono penulis

Bambu, Pandemi dan Taichi

PAGEBLUK rupanya tak selalu bermakna buruk. Pemerhati seni rupa Bambang Bujono merasakan betul betapa wabah Covid-19 yang berkepanjangan, justru membuat dirinya bisa belajar banyak tentang taichi, seni bela diri Tiongkok yang menjadi olahraga favoritnya selain jogging.

Sudah sejak lama, mantan wartawan Tempo yang akrab disapa Bambu ini menaruh minat pada taichi. Tapi, sebelum datang pandemi, Bambu justru mengaku tidak bisa menikmati. Bahkan, isi kepalanya penuh dengan pertanyaan: apa istimewanya taichi?

“Buat saya, ini pandemi membawa berkah. Saya jadi tahu, ternyata saya tidak tahu apa-apa,” kata Bambu.

Maka ketika wabah meluas dan kebijakan pergerakan orang diperketat, nyaris setiap hari Bambu menghabiskan waktu berjam-jam berselancar di YouTube, menyimak video taichi, termasuk menonton tari atau balet yang dianggapnya luar biasa.

Video atraksi penari-penari besar seperti mendiang Pina Bausch, koreografer legendaris Jerman yang sempat membimbing penari tanah air, Ditta Miranda Jasjfi, juga Martha Graham, Merce Cunningham, Lin Hwai-min yang memadukan balet dan meditasi, kungfu, serta taichi, membuat Bambu takjub.

Gara-gara pandemi pula Bambu bisa menikmati kelucuan parodi grup balet Amerika Serikat, Trockadero de Monte Carlo, termasuk aksi Gusmiati Suid yang dinilai sama luar biasanya dengan Lin Hwai-min.

“Jadi, TIM boleh nggak ada, asal YouTube masih berkembang. Musuhnya satu, listrik mati,” kata Bambu, terkekeh.

Bambu mulai mengenal taichi sejak 1979, ketika di Tempo.

“Entah dari siapa idenya, kemungkinan dari almarhum Susanto Pudjomartono. Ada latihan kungfu untuk kebugaran. Suhunya Handaka Tania. Latihan ini sampai 1986, sebelum Tempo pindah kantor ke Kuningan. Di Kuningan nggak ada tempat latihan, jadi bubar,” kata Bambu.

Bambang Bujono berlatih taichi

Bambu ketika latihan Taichi di Studio Plesungan Solo, milik koreografer Melati Suryodarmo. (Sumber foto: dokumentasi pribadi)

Ketika itu, menurut Bambu, Suhu Handaka tak cuma melatih jurus kungfu, tapi juga taichi.

“Tapi waktu itu, kesan saya taichi belum serius, meski suhu Handaka juga mengisi halaman di majalah Zaman tentang praktik taichi lengkap dengan foto-foto–dimuat di Tempo oleh fotografer Tempo. Kami waktu itu lebih suka kungfu, keren dan bikin PD kalau meliput ke daerah apa pun. Tapi untunglah sejauh ini tak pernah harus mengeluarkan jurus kungfu. Hehehe,” kata Bambu.

Saat Tempo pindah kantor dari kawasan Senen ke Kuningan, latihan taichi, juga kungfu, tak berlanjut.

“Suhu Handaka lalu membuka perguruan. Namanya perguruan Kungfu Taichi Alam Semesta, di rumahnya dekat Studio Alam TVRI, Depok. Saya nggak tertarik ke Alam Semesta. Beberapa orang Tempo ke sana, tapi, cuma bertandang, bukan untuk latihan,” kenang Bambu.

Hingga kini, layaknya murid dan guru, hubungan Bambu dan Handaka masih terjalin.

“Suhu Handaka kadang datang ke Tempo, dan setelah muncul ponsel, komunikasi kami, saya tepatnya, berlanjut. Oh, ya, Suhu Handaka itu sebelum 2016, mungkin 2010, dengan biaya sendiri, nabung katanya, pergi ke Perguruan Wu Dang, asal-usul taichi aliran. Makanya 2016 itu saya ikut latihan bersama yang dia selenggarakan,” kata Bambu.

Bambu juga ingat, pada 2016, Handaka mengundang dirinya untuk ikut latihan bersama di Wihara Megamendung, Puncak, Bogor, Jawa Barat. Merasa simpatik dengan Handaka, ajakan itu disambut Bambu dengan ledakan gairah bak pendekar pengembara.

“Nah, tiga hari-tiga malam di wihara itu semangat masa lalu kumat. Tapi nggak mungkin kungfu, nggak ada tenaga lagi. Suhu Handaka saja mengaku hanya praktik taichi. Akhirnya saya mencoba mengingat-ingat taichi aliran 37 jurus. Lebih dari 37, capek dan sulit hafal. Tapi nggak bisa-bisa, karena suhu cuma kasih contoh sepenggal-sepenggal, lalu diteruskan muridnya yang sudah dianggap bisa,” kata Bambu.

Tak ingin berhenti menyelami dunia taichi yang begitu dicintai, Bambu kembali mengeluarkan jurus masa kini: menjelajah segala hal berbau taichi di YouTube.

“Ternyata ada taichi berbagai aliran dan gaya. Menurut Suhu Handaka, tiap orang punya kecenderungan sendiri meski aliran sama, karena tiap orang memiliki tubuh berbeda-beda. Dari YouTube itu baru saya tahu detil-detil gerakan, akhirnya saya hafal, lalu praktik tapi angot-angotan,” kata Bambu.

Setelah larut menyelami segala hal berbau tarian, saat banyak waktu di rumah dalam kurun waktu hampir dua tahun, pada akhirnya Bambu meyakini taichi memang istimewa.

Bahkan, tak cuma melahap segudang teori, penulis yang sejak 1968 telah menelurkan setidaknya 419 ulasan, esai, serta artikel seni rupa ini, masih rajin bertaichi ria di usianya yang ke 74 tahun. Untuk itu, Bambu harus nekat keluar rumah.

“Taichi di rumah kurang leluasa, sempit. Taichi di parkiran Pejaten Village Mall. Ternyata memang ada yang esensial dalam taichi: pinggang mesti elastis, selalu bertumpu pada satu kaki, hingga terasa darah mengalir di sekujur tubuh, dan seluruh gerak mesti santai. Ini memang meditasi dalam gerak,” kata penerima Visual Arts Award 2011 dan Anugerah Adhikarya Rupa 2014 ini.

Bambang Bujono menerima penghargaan

Bambu saat dianugerahi Lifetime Achieve Award dari Bienalle Yogja tahun 2019. (Sumber foto: seni.co.id)

Bambu percaya, aktivitas taichi dan pemulihan pasien covid punya kaitan. Bambu merujuk pada rumah sakit di Moskow, Rusia, yang pada akhir Januari lalu, menggelar latihan taichi untuk pasien covid.

Sebetulnya, kata Bambu, olahraga apa saja bisa meningkatkan imun tubuh.

“Taichi dipilih untuk pasien covid, karena penderita turun tenaganya, dan taichi tak memerlukan kekuatan otot. Taichi itu meditasi dalam gerak. Jadi yang utama pernapasan, meski posisi tangan kaki dan tubuh penting juga. Pernapasan taichi, kalau sudah bisa itu “dalam”. Menarik napas terasa sampai ke paru, dan mengembuskan napas seperti mengosongkan tubuh. Jadi, mungkin orang berharap, dengan bernapas seperti itu, virus di paru bisa diembuskan keluar. Mungkin, lho. Saya juga nggak tahu. Yang jelas, imun tubuh pasti meningkat dengan olahraga,” kata Bambu.

Tapi, Bambu mengingatkan, olahraga apa pun baru mempunyai efek bila dikerjakan sungguh-sungguh dan rutin.

“Hanya sekali-sekali, nggak ada gunanya. Yang saya baca dari googling, setelah sepuluh tahun praktik rutin orang baru mendapatkan hasil dari taichi. Woooo, tapi mungkin benar,” kata Bambu.

Nah, di sela pendalaman itulah, Bambu yang juga mengajar pascasarjana di IKJ, mengusulkan taichi sebagai olahraga bagi para dosen. Ini sebagai prasyarat akreditasi perguruan tinggi oleh Badan Akreditasi Nasional.

“Wah, sepakbola nggak mungkin, juga yang lain-lain karena nggak punya lapangan. Akhirnya saya usul taichi, dan disepakati. Padahal saya masih belum hafal betul. Dari sini saya tambah serius, dan akhirnya menikmati taichi. Sementara akreditasi, taichi di pasca-IKJ, bubar. Hehehe. Apalagi setelah kuliah dari rumah. Ya, sudah, praktis nggak ada taichi. Sementara itu saya terus bertaichi, sendirian,” kata Bambu, lirih. (Ria Sariana Budi)

—©BWCF2021—

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *