Nasirun Telah Pergi, Kini Berganti dengan Nasirunan
Oleh: Henri Nurcahyo*
NASIRUN telah dimakamkan di Giri Sapto pada tanggal 1 Agustus lalu. Namun, kepergiannya justru membuat kisah tentang dirinya semakin banyak beredar di kalangan sahabat dan sesama seniman. Bukan semata-mata tentang lukisan atau pencapaiannya di dunia seni rupa, melainkan juga tentang kebiasaan-kebiasaan unik, kemurahan hati, dan cara hidup seorang seniman yang sulit dipisahkan dari dunia yang dibangunnya.
Dalam acara “Mewicarakan Nasirun” di Balai Budaya Surabaya, Sabtu (17/10), sosok Nasirun kembali dihadirkan melalui kenangan tiga orang yang mengenalnya dari dekat: perupa Jumaldi Alfi dan Ugo Untoro, serta penulis dan peneliti budaya Sarah Monica. Dipandu Nirwan Dewanto, perbincangan itu memperlihatkan bahwa Nasirun bukan hanya seorang seniman dengan bahasa visual yang khas. Ia juga manusia yang menjadikan kehidupan sehari-hari sebagai bagian tak terpisahkan dari praktik keseniannya.
Di mata orang-orang yang mengenalnya, Nasirun adalah sebuah paradoks. Pelukis kelahiran Cilacap tahun 1965 ini dikenal sebagai seniman ndeso, tidak akrab dengan teknologi, tidak memegang telepon genggam, bahkan tidak bisa menyetir mobil. Namun, seniman yang tampak jauh dari gaya hidup modern itu justru mampu membangun posisi penting dalam seni rupa kontemporer Indonesia. Ia mengolah tradisi, spiritualitas, sejarah, dan persoalan kehidupan modern menjadi bahasa artistik yang terus bergerak.
Barangkali, di situlah letak keistimewaannya: Nasirun tidak harus menjadi orang lain untuk menjadi seniman kontemporer.

Ugo Untoro mengenal Nasirun sejak keduanya menempuh pendidikan seni di ISI Yogyakarta. Ugo masuk pada 1988, sedangkan Nasirun lebih dahulu, pada 1987. Pertemuan mereka bermula dari sapaan Nasirun yang mengenali Ugo sebagai sesama orang Banyumas.
Kesamaan latar belakang itu membuat Ugo mengenali watak Nasirun yang lekat dengan kultur Banyumasan atau Ngapak. Menurutnya, ada karakter egaliter dan terus terang dalam kultur tersebut, kecenderungan untuk berbicara apa adanya tanpa terlalu dibebani formalitas. Karakter itu terasa kuat dalam diri Nasirun, yang dapat bergaul dengan berbagai kalangan tanpa menjadikan status sosial sebagai batas.
Nasirun berasal dari keluarga kiai di sebuah desa terpencil di Cilacap. Merantau ke Yogyakarta untuk belajar seni bukan perkara mudah. Ia harus mengandalkan tekad, keberanian, dan kemampuan membiayai kehidupannya sendiri. Ketika lukisan belum menghasilkan pendapatan yang memadai, ia bahkan mendirikan usaha batik dengan enam orang pegawai.
Bagi Ugo, pengalaman itu menunjukkan bahwa Nasirun bukan hanya seorang pelukis, melainkan juga orang yang mampu mengorganisasi kehidupan bersama. Kemampuan tersebut kelak tampak dalam caranya memperlakukan rumah sebagai ruang terbuka bagi banyak orang. Seniman, pekerja, tetangga, maupun tamu yang datang tanpa janji dapat diterimanya.


Yang menarik, keterbukaan itu tidak membuatnya berhenti berkarya. Rumahnya boleh ramai oleh orang yang datang dan pergi, tetapi setiap hari selalu saja ada lukisan baru.
Karena itu, menurut Ugo, citra ndeso Nasirun bukan sekadar strategi membangun identitas atau branding. Ia tidak sedang berpura-pura menjadi orang desa demi tampil berbeda di tengah dunia seni rupa. Ia memang tumbuh dari lingkungan tersebut dan membawa pengalaman hidupnya ke dalam kesenian.
Akar itu antara lain terlihat dalam kecintaannya terhadap wayang. Ugo melihat kemiripan watak Nasirun dengan Bawor, tokoh Punakawan yang dikenal egaliter, kritis, dan gemar mendobrak kemapanan. Kecintaan tersebut tidak berhenti pada penggambaran tokoh wayang di atas kanvas. Nasirun juga gemar menjadi dalang, bahkan kerap diminta mendalang oleh tetangganya dalam acara among-among maupun perayaan ulang tahun.
Wayang, dengan demikian, bukan sekadar objek yang dapat dipinjam untuk kepentingan estetika. Ia merupakan bagian dari kehidupan yang sungguh-sungguh dijalani Nasirun.
Tradisi yang Terus Ditafsirkan
Dari sebuah desa terpencil di Cilacap, ia membawa dongeng ibunya, ajaran ayahnya, kecintaan pada wayang, serta watak egaliter kultur Banyumasan ke dalam pergaulan seni rupa modern. Semua itu tidak membuatnya terjebak dalam romantisme masa lalu. Sebaliknya, ia mengolahnya menjadi bahasa artistik yang khas, terbuka terhadap perubahan, dan mampu berbicara kepada persoalan zaman.
Nasirun membuktikan bahwa menjadi kontemporer tidak selalu berarti memutus hubungan dengan tradisi. Tradisi justru dapat menjadi tenaga untuk menembus masa kini, selama ia tidak sekadar diulang, tetapi terus diolah dan diberi makna baru.
Bagi Sarah Monica, yang akrab disapa Sarmon, Nasirun adalah seniman yang berakar kuat pada tradisi, tetapi tidak pernah membiarkan dirinya terkurung di dalamnya. Tradisi menjadi sumber yang terus diolah, ditafsirkan, bahkan diubah menjadi bahasa yang relevan dengan persoalan zamannya.
Sarah pernah meneliti Nasirun untuk skripsinya di Universitas Indonesia pada 2013, berjudul “Tradisi dalam Dimensi Waktu: Analisis Perupa Nasirun dan Karyanya dalam Dinamika Seni Rupa Indonesia.” Penelitian itu memberinya kesempatan untuk menelusuri bagaimana pengalaman masa lalu, lingkungan keluarga, dan warisan kebudayaan bekerja dalam proses kreatif sang perupa.
Dalam penelusuran tersebut, keluarga menjadi salah satu pintu penting untuk memahami dunia Nasirun. Dari ibunya, ia mengenal dongeng dan tradisi Sunda Wiwitan. Dari ayahnya, ia bersentuhan dengan ajaran Tarekat Naqsyabandiyah. Setelah sang ayah meninggal, Nasirun, anak keenam dari tujuh bersaudara, banyak menghabiskan waktu bersama ibu dan adiknya. Dalam kedekatan itu, cerita, ingatan, dan kearifan masa lalu terus diserapnya.
Namun, yang dilakukan Nasirun bukanlah sekadar menghidupkan kembali kenangan masa kecil. Ia mengambil unsur-unsur dari masa lalu, kemudian menggunakannya untuk membaca keadaan masa kini.
Kecenderungan itu, misalnya, terlihat dalam karya “Larut dalam Warna”. Melalui metafora visual, Nasirun menanggapi pergolakan politik dan pertarungan tiga partai besar yang menyingkirkan partai-partai kecil dalam suasana penuh kekacauan. Pengalaman politik tidak disajikan sebagai laporan atau ilustrasi langsung, melainkan diolah menjadi bahasa visual yang memungkinkan persoalan tersebut dibaca melalui berbagai lapisan makna.
Di sinilah tradisi memperoleh fungsi yang lebih luas. Ia bukan benda pusaka yang disimpan agar tetap utuh, apalagi peninggalan masa lalu yang hanya pantas dipandang dengan rasa hormat. Tradisi menjadi sumber daya kreatif untuk memahami perubahan, konflik, dan kehidupan manusia.
Nasirun pernah menyebut dirinya sebagai “petani seni rupa”. Ungkapan ini terasa sederhana, tetapi sekaligus menjelaskan sikapnya terhadap dunia seni. Seorang petani tidak selalu dapat menentukan kapan benih tumbuh atau kapan panen tiba. Ia harus mengenali tanah, merawat tanaman, dan bertahan menghadapi perubahan musim.
Begitu pula Nasirun. Ia tidak selalu mengikuti kecenderungan yang sedang dominan di pasar seni. Ketika surealisme dan karya-karya dekoratif memperoleh perhatian besar, karyanya pernah dicemooh dan dianggap sebatas hiasan karena belum memiliki pasar yang kuat. Namun, ia tetap menggarap jalurnya sendiri.
Seni, baginya, bukan semata-mata pekerjaan untuk menghasilkan karya yang laku. Seni merupakan jalan hidup, sebuah proses untuk menjadi manusia yang lebih baik.
Pandangan tersebut menjadi lebih mudah dipahami ketika melihat bagaimana Nasirun menempatkan spiritualitas bukan hanya sebagai tema, melainkan sebagai bagian dari cara menjalani kehidupan.
Kuas Menjadi Jalan Dakwah
Jumaldi Alfi mengenang Nasirun dengan kedekatan yang sulit dijelaskan hanya melalui hubungan antarseniman. Alfi berasal dari Minangkabau dan tumbuh dalam lingkungan Muhammadiyah, sedangkan Nasirun sangat lekat dengan kultur Nahdlatul Ulama. Perbedaan latar belakang itu tidak menghalangi keduanya untuk menjalin persahabatan yang mendalam. Keduanya semakin akrab lantaran tinggal bertetangga di kompleks Bayeman Indah, Yogyakarta.
Alfi justru kerap dibuat heran sekaligus kagum oleh cara Nasirun mengutip ayat-ayat Al-Qur’an dalam percakapan sehari-hari. Kutipan itu disampaikan dengan ringan, tanpa gaya menggurui seperti seorang ustaz yang sedang berceramah.
“Saya sebetulnya mengaku lelah membicarakan Nasirun,” ujar Alfi.
Kalimat itu terdengar seperti keinginan untuk berhenti mengenang, tetapi sesungguhnya memperlihatkan betapa sulitnya merangkum seseorang yang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Setelah Nasirun meninggal, Alfi bahkan sempat kehilangan gairah melukis. Pola hidup yang biasanya berjalan seperti biasa mendadak terganggu; ia merasa linglung.
Selama ini, ketika mengalami kebuntuan ide, Alfi kerap mendatangi Nasirun. Mereka tidak selalu berbicara tentang seni. Percakapan mengenai hal-hal kecil, pengalaman sehari-hari, atau persoalan yang sepintas tidak penting justru sering membuka jalan bagi gagasan baru.
Menurutnya, Nasirun mempunyai kemampuan mengubah hinaan menjadi dorongan untuk terus bergerak. Ia juga memberikan pemahaman yang membekas pada Alfi tentang hubungan antara seni dan spiritualitas: bagi seorang seniman, kuas dapat menjadi media dakwah.
Dan yang namanya dakwah itu tidak harus selalu disampaikan melalui ceramah. Pesan tentang kehidupan, kemanusiaan, dan nilai-nilai spiritual dapat hadir dalam karya seni, lalu menjalin komunikasi dengan orang yang melihatnya. Seni tidak harus menjelaskan segalanya secara langsung; terkadang, ia cukup membuka ruang bagi orang lain untuk merenung.
Namun, bagi Alfi, ada satu sisi Nasirun yang tidak selalu tertangkap melalui lukisan-lukisannya: kemurahan hati.
Ia menggambarkan Nasirun sebagai orang yang sangat nyah-nyoh, istilah yang merujuk pada sikap ringan tangan dan gemar memberi. Benda-benda kecil, mulai dari peci hingga gantungan kunci, dapat berpindah tangan begitu saja karena Nasirun senang memberikannya kepada orang lain.
Kebiasaan itu berjalan beriringan dengan kenyataan bahwa karya-karyanya memiliki nilai ekonomi tinggi dan relatif mudah menemukan pembeli. Akan tetapi, kemurahan hatinya tidak berhenti pada benda-benda yang bisa dibagikan.
Nasirun pernah menampung dan menghidupi 14 tukang di rumahnya. Ia tidak semata-mata memandang mereka sebagai tenaga kerja yang harus dibayar sesuai pekerjaan, melainkan sebagai manusia yang memiliki keluarga dan kehidupan masing-masing. Dalam kisah yang dikenang Alfi, Nasirun bahkan tidak hanya mengharapkan balasan materi, tetapi juga doa dari keluarga para pekerja tersebut.
Di sini, kebesaran seorang maestro menemukan ukuran lain. Bukan hanya pada harga lukisan, jumlah pameran, atau pengakuan dunia seni rupa, melainkan juga pada orang-orang yang pernah dibantu, diterima, dan diberi kesempatan untuk tumbuh di sekelilingnya.
Nasirun membangun sesuatu yang tidak seluruhnya dapat dipajang di galeri: jaringan hubungan antarmanusia.
Bagaimana Setelah Nasirun Pergi?
Ini pertanyaan yang bergema sekarang ini. Selama ini kalangan seniman Jogja sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa Nasirun akan pergi secepat ini. Setelah kepergian Joko Pekik, banyak yang berharap Nasirun dapat menggantikannya sebagai semacam sesepuh seniman Jogja.
Mengutip pemberitaan di beberapa media massa, menjelang wafatnya Djoko Pekik sempat berpesan kepada Nasirun agar meneruskan perjuangannya. Pesan itu disampaikan ketika keduanya bertemu dalam pameran Nasirun beberapa waktu sebelum Djoko Pekik meninggal pada 12 Agustus 2023. Nasirun menafsirkan pesan tersebut sebagai ajakan untuk meneruskan perjuangan kemanusiaan melalui kesenian. Meski mengaku belum sepenuhnya memahami maksud pesan itu, Nasirun mengenang Djoko Pekik sebagai sosok yang menempatkan kemanusiaan sebagai landasan berkesenian.
Dan sekarang, warisan yang ditinggalkan Nasirun tidak bakal selesai di tangan ahli waris. Justru karena Nasirun telah membangun kehidupan yang begitu luas, pertanyaan tentang apa yang akan terjadi setelah kepergiannya menjadi penting.
Menurut Ugo, sekitar dua minggu sebelum Nasirun meninggal, lembaga pembelajaran seni rupa El Asri sempat membicarakan persoalan keberlanjutan peninggalan sang perupa. Ada keyakinan bahwa Nasirun sendiri telah memikirkan langkah-langkah untuk menjaga masa depan keluarganya sekaligus apa yang ditinggalkannya.
Prinsip yang dipegangnya sederhana: aja nganti ilang—jangan sampai hilang.
Namun, apa sebenarnya yang tidak boleh hilang? Apakah lukisan, koleksi, rumah, dan benda-benda yang ditinggalkan? Ataukah sesuatu yang lebih abstrak, tetapi justru menjadi sumber kehidupan seluruh peninggalan itu?
Jumaldi Alfi menyebut gerakan “Nasirunan” yang digagas di Yogyakarta sebagai salah satu upaya menjaga semangat Nasirun, terutama tradisi saling menolong yang menjadi bagian penting dari kehidupannya. Semangat itu dapat menjadi titik awal untuk meneruskan sesuatu yang lebih mendasar daripada sekadar mengenang seorang seniman.
Namun Nirwan Dewanto mengingatkan bahwa persoalannya jauh lebih kompleks.
Setidaknya ada dua tantangan kebudayaan yang perlu dihadapi. Pertama, bagaimana menjaga “Nasirunan” agar tetap menjadi semangat yang menghidupkan nilai-nilai Nasirun, bukan sekadar label yang dilekatkan pada berbagai kegiatan. Kedua, bagaimana mengelola properti dan karya yang ditinggalkannya, terutama ketika tanggung jawab pengelolaan berada di tangan ahli waris yang mungkin memiliki minat dan orientasi kebudayaan berbeda.
Di luar itu, terdapat persoalan perlindungan hukum terhadap properti dan karya-karya tersebut. Pengelolaan warisan seorang seniman besar tidak cukup mengandalkan niat baik. Diperlukan pemikiran jangka panjang mengenai pendataan, perawatan, pengarsipan, akses publik, serta keberlanjutan nilai kebudayaan yang terkandung di dalamnya.
Persoalan ini penting karena warisan Nasirun bukan hanya kumpulan benda yang bernilai ekonomi. Lukisan, instalasi, koleksi, rumah, dan berbagai benda yang ditinggalkannya menyimpan jejak perjalanan kreatif yang dapat membantu generasi berikutnya memahami perkembangan seni rupa Indonesia. Jika tidak dikelola dengan baik, bukan hanya benda-benda itu yang terancam tercerai-berai, melainkan juga konteks yang membuatnya bermakna.
Namun, menjaga benda-benda tersebut hanyalah satu bagian dari pekerjaan yang lebih besar. Semangat kemurahan hati tidak otomatis berpindah bersama kepemilikan lukisan. Keterbukaan tidak serta-merta diwariskan melalui rumah. Begitu pula keberanian mempertahankan identitas dan kemampuan mengolah tradisi menjadi bahasa kontemporer tidak dapat dipindahkan melalui dokumen atau surat wasiat.
Semua itu membutuhkan orang-orang yang bersedia mempelajari, menghidupi, dan meneruskannya.
Kepergian Nasirun memperlihatkan bahwa seorang seniman dapat meninggalkan warisan yang jauh melampaui karya-karyanya. Ia meninggalkan cara bergaul, cara bekerja, cara memandang orang lain, dan cara menempatkan seni dalam kehidupan.
Gerakan Nasirunan
Kini, setelah Nasirun pergi, pekerjaan meneruskan warisan itu berada di tangan banyak pihak: keluarga, sahabat, sesama seniman, lembaga seni, peneliti, dan siapa pun yang merasa pernah disentuh oleh kehidupan maupun karya-karyanya. Mereka tidak harus meniru Nasirun untuk menjaga warisannya. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa nilai-nilai yang membuatnya istimewa tetap menemukan tempat dalam kehidupan bersama.
Gerakan “Nasirunan” karena itu menghadapi ujian yang sesungguhnya. Ia tidak cukup hanya menggelar pertemuan, membuat acara mengenang, atau mengulang cerita-cerita menarik tentang sang maestro. Semua itu penting, tetapi belum memadai jika tidak disertai kerja nyata untuk menjaga karya, merawat pengetahuan, membuka akses bagi publik, dan meneruskan semangat saling menolong yang selama ini menjadi bagian dari kehidupannya.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan mengenang Nasirun bukanlah seberapa sering namanya disebut, melainkan seberapa jauh nilai-nilai yang diperjuangkannya terus hidup.
Nasirun telah pergi dan jasadnya telah beristirahat di Giri Sapto. Namun, ada sesuatu yang tidak seharusnya ikut terkubur bersamanya: keberanian menjadi diri sendiri, kesediaan berbagi, keterbukaan terhadap sesama, serta keyakinan bahwa seni bukan sekadar perkara membuat karya, melainkan juga cara memperbaiki kehidupan.
Jangan sampai Nasirun hanya tinggal nama di dinding galeri atau tanda tangan pada lukisan yang berpindah tangan. Sebab, jika yang tersisa hanya benda-benda dan harga pasarnya, sementara cara hidupnya perlahan menghilang, kita mungkin berhasil menyelamatkan karya-karyanya, tetapi kehilangan sesuatu yang justru membuat Nasirun menjadi Nasirun.
Jangan sampai ilang. Itulah tantangan sesungguhnya bagi “Nasirunan”.
***
*Henri Nurcahyo – Budayawan, Penulis, dan Pegiat Budaya Panji




