Penciptaan Seni yang Otentik
Oleh: Jonnie Kirman*
Wilayah penciptaan seni rupa memiliki kompleksitas dari proses kesejatian seorang seniman yang memiliki khasanah personalifikasi otentik, dan pergulatan spiritual, serta tanggung jawab etik tidak tendensius untuk mendegradasi karya yang telah dilahirkan, walau, kadang terjadi interaksi di dalam pikiran diri kita sendiri, mempertanyakan, pertanyaan yang berputar-putar di atas kepala sang kreator. Apakah idealisme yang kita bangun telah memiliki akar fondasi kebenaran, dan kejujuran yang terintergrasi dalam konstruksi Rasa, (Geist) Kenapa kesadaran eksistensial manusia pada titik tertentu seringkali membawa suara kebisingan, bahkan bawah alam sadarnya telah menciptakan jebakan-jebakan, atau kebingungan dalam ruang yang terpolarisasi secara absurd, sehingga apa yang telah dikerjakannya menjadi kontradiktif dan tidak utuh.
Pertanyaan dan pernyataan sikap seseorang seringkali memiliki kontradiksi atas apa yang hanya terlihat dipermukaan, tanpa menyadari kesadaran hal yang esensial, serta kesadaran untuk menyelidiki latar belakang filosofi yang uniq dan tersembunyi, sehingga terjadi persinggungan psikologis yang membawa dampak keriuhan riak-riak di atas permukaan air laut yang lama-kelamaan berubah menjadi sebuah kebenaran.? Kebanyakan manusia hanya melihat, mengutip, serta meniru ke-Bebas-an seorang Marcel Duchamp dalam mengeksploitasikan Urinoir sebagai sebuah karya estetik yang dapat diekspresikan lewat etalase publik, tanpa pernah menggugat atau mempertanyakan Esensi keberaniannya dalam mengkritik hegemoni ke-Kuasa-an institusi agama yang Korup dan Bobrok.
Pernyataan seni yang menyentuh perdebatan klasik di dalam filsafat estetika, mempertentangan antara seni untuk seni ( L’art pour l’art ) dengan seni yang memiliki fungsi sosial, Etika, Spiritual, dan tanggung jawab Moral, jika kita beragumentasi pada sebuah kritik seni yang tajam, yang tidak hanya berputar-putar berpusat pada dirinya sendiri, estetika murni tanpa konteks diluar seni. Maka proeses penciptaan seni akan kehilangan “Roh” ( Geist dalam dialektika Hegel ) dan akan mendekontruksi fondasi idealisme penciptaan seni yang dibangun atas dasar kebenaran, dan kejujuran yang terintegrasi dengan “Rasa” atau Geist. Definisi seni versus seni, maka dapat kita bangun lewat sebuah ruang
dialektika, bahwa pandangan nilai intrinsik seni tidak terlepas dari fungsi didaktik spiritual, etika dan tanggung jawab moralitas di dalam tatanan sosial masyarakat.
Jika fokusnya adalah seni hanya berpusat pada keindahan bentuk yang form, dan sensasi visualisasi-nya saja, maka seni telah mendegradasi dirinya seni, pada sebuah kondisi dimana seni menjadi komoditas yang dangkal, atau hanya sekadar latihan teknis yang kosong, karena memutus hubungan dengan realitas ke-Manusia-an dan tanggung jawab etik.
Parameter wilayah penciptaan seni yang ideal memiliki proposisi idealisme menurut proposisi-nya sehingga :
- Keutamaan khasanah personalifikasi estetik memiliki “sidik jari” yang otentik dari sang seniman.
- Karya seni bukan hanya sekedar meniru alam semesta, melainkan hasil kurasi dari kontemplasi spiritualitas, dan bijaksana.
- Sejauh mana hasil karya yang diciptakan tersebut dapat merefleksikan ke-Jujur-an, gaya, serta memiliki keunikan visi artistk dari penciptaan-nya, tanpa harus tunduk, terhadap selera pasar yang beragam.
Pergulatan Spiritual yang otentik dalam penciptaan seni di anggap sebagai manifestasi dari pencarian makna yang lebih mendalam, adanya ke-dalam-an yang melampaui dari fisik karya, dan melibatkan instuisi transendensi, serta imanensi dari proses seniman untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan eksistensial. Tanpa “Roh” seni itu hanya menjadi sebuah kerajinan tangan yang indah namun diam membisu. Tanggung jawab Spiritual ini merupakan antitesis dari Seni untuk Seni. Seniman sejati tidak hidup di ruang hampa, ia adalah bagian dari struktur kehidupan, di dalam suatu tatanan sosial masyarakat yang luas. Maka sejauh mana karya seni yang dilahirkan tersebut dapat memberikan dampak sosial bagi ke-manusia-an manusia sehingga ia dapat menggugah kesadaran eksistensial, atau se-Tidak-nya, ia tidak menghianati nilai-nilai Etika universalitas yang hanya demi mengejar estetika semata.
Jika unsur ke-harmoni-an dari sebuah karya seni yang hanya mementingkan Estetika, maka ia akan menjadi Narsistik. Sebaliknya jika seni hanya mementingkan Etik tanpa estetika maka ia berubah menjadi pamflet propaganda yang kering. Seni yang mendegradasi dirinya sendiri bisa terjadi saat “sang kreator” seniman tersebut berhenti berkomunikasi dengan kedalaman Rasa spiritualnya, dan ia hanya sibuk dengan tataran teknik serta terus berputar-putar dengan tren sesaat saja. Penciptaan seni adalah sebuah proses pertarungan melawan diri-nya sendiri, hingga kesadaran Eksistensial diri-nya yang otentik di-sadar-i serta berkelindan dalam ruang spiritual transenden, dan yang imanen.
Secara teologi form transendensi penciptaan dari Tuhan Semesta Alam merupakan Creatio ex nihilo dari sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Maka proses penciptaan karya seni dari manusia merupakan sebuah metodologi dari Tesis, Antitesis, menjadi Sintesis. Proses penciptaan seni yang otentik tidak selalu hadir dalam rentang waktu yang panjang, atau waktu yang pendek, namun ia memiliki ruang ke-Sadar-an Rasa pada proses yang hening, dengan ke-Dalam-an spiritual untuk memaknai suatu nilai yang bersifat Noumena dan ia akan tercatat dalam sejarah. Sebab keriuhan riak-riak permukaan air laut ditepi pantai hanya merupakan sebuah fenomena yang tampil dipermukaan, dan ia akan terlihat seperti sebuah garis panjang kronologi dalam hidup keseharian saja.
Penulis merupakan seorang seniman Lukis & Patung yang berdomisili di Junrejo, Kota Batu. Saalam Spirit Seni Jonnie Kirman

Series Spirit of Rose #2 Judul: Andromeda, dengan media cat minyak di atas kanvas ini merupakan hasil sebuah proses penciptaan karya seni yang telah melalui suatu pergulatan spiritual transenden, dan imanen.
Series Spirit of Rose #2 Judul: Andromeda, dengan media cat minyak di atas kanvas ini merupakan hasil sebuah proses penciptaan karya seni yang telah melalui suatu pergulatan spiritual transenden, dan imanen.
*Jonnie Kirman, penulis merupakan seorang seniman Lukis & Patung yang berdomisili di Junrejo, Kota Batu.





