L.K. Ara dan Poetika Kesetiaan: Membaca Dunia Puitik Seorang Maestro dari Tanah Gayo

oleh: Abdul Wachid B.S.*

  1. Mengapa L.K. Ara Perlu Dibaca Kembali

Penganugerahan Anugerah Kepenyairan Adiluhung kepada L.K. Ara membuka kembali percakapan mengenai salah satu penyair yang telah menempuh perjalanan panjang dalam sastra Indonesia. Namun, penghargaan semacam itu sesungguhnya bukan titik akhir pembacaan, justru kesempatan untuk mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana dunia puitik yang dibangun L.K. Ara selama puluhan tahun bekerja di dalam puisi-puisinya sendiri? Pertanyaan ini terasa penting karena perhatian terhadap dirinya selama ini lebih sering bergerak di sekitar kiprah kesusastraannya, sementara pembacaan yang menempatkan keseluruhan puisinya sebagai satu bangunan estetik belum banyak dilakukan.

Keadaan tersebut melahirkan sebuah paradoks. Nama L.K. Ara cukup dikenal dalam sejarah sastra Indonesia, terutama melalui perannya sebagai penyair, editor, penggerak kebudayaan, dan perawat khazanah sastra Gayo. Akan tetapi, ketika pembaca memasuki puisi-puisinya, segera tampak bahwa karya-karya itu tidak sekadar menghadirkan tema-tema daerah, religiusitas, atau kenangan masa silam sebagaimana sering diringkas dalam berbagai pengantar. Ada sebuah orientasi batin yang terus berulang, meskipun mengambil bentuk yang berbeda-beda. Orientasi itu hadir ketika dia menulis tentang danau, sungai, gunung, jalan kampung, kuburan leluhur, embun, doa, bahkan tentang seorang tua yang berjalan di jalan yang sama setiap hari.

René Wellek dan Austin Warren dalam Theory of Literature mengingatkan bahwa karya sastra sepatutnya dipahami sebagai suatu keseluruhan yang memiliki dunia dan hukum estetiknya sendiri (Wellek & Warren, 1949). Oleh karena itu, pembacaan terhadap seorang penyair tidak cukup berhenti pada inventarisasi tema ataupun penelusuran biografinya. Yang lebih menentukan ialah menemukan prinsip yang menghubungkan seluruh karya sehingga masing-masing puisi tidak berdiri sendiri, tetapi saling menjelaskan sebagai bagian dari satu dunia puitik. Perspektif semacam ini memberi landasan untuk membaca perpuisian L.K. Ara sebagai sebuah bangunan estetik yang utuh.

Pembacaan terhadap dunia puitik tersebut pada hakikatnya merupakan sebuah dialog. Hans-Georg Gadamer melalui Truth and Method menjelaskan bahwa memahami sebuah karya selalu melibatkan perjumpaan antara horison pembaca dengan horison tradisi yang dibawa karya itu (Gadamer, 1975). Dalam pengertian tersebut, puisi-puisi L.K. Ara tidak berhenti sebagai ekspresi pengalaman masyarakat Gayo pada suatu masa, ia terus membuka kemungkinan percakapan baru dengan pembaca dari ruang budaya yang berbeda. Tradisi yang hidup di dalam puisinya tidak membeku sebagai peninggalan masa silam, tetapi terus memperoleh makna baru setiap kali dihadapkan pada pengalaman pembacanya.

Arah pembacaan itu semakin memperoleh pijakan apabila dikaitkan dengan pemikiran Paul Ricoeur dalam Interpretation Theory: Discourse and the Surplus of Meaning. Ricoeur menegaskan bahwa setiap teks membangun dunianya sendiri dan mengundang pembaca untuk memasukinya (Ricoeur, 1976). Dunia teks bukan sekadar cermin kenyataan yang telah lewat, namun ruang kemungkinan bagi lahirnya pemahaman baru tentang kehidupan manusia. Dari sudut pandang inilah puisi-puisi L.K. Ara layak dibaca kembali. Dunia yang dibangunnya memang berakar pada Tanah Gayo, tetapi pengalaman yang ditawarkannya melampaui batas geografis karena bertumpu pada relasi manusia dengan tempat, ingatan, sesama, dan Yang Transenden.

Karena itu, membaca L.K. Ara melalui pengelompokan tema-tema seperti alam, lokalitas, atau religiusitas saja belum cukup menjelaskan kekhasan perpuisiannya. Unsur-unsur tersebut memang tampak menonjol, tetapi lebih merupakan wajah luar dari suatu cara memandang dunia. Alam dalam puisinya tidak hadir sebagai pemandangan yang dipisahkan dari manusia. Kampung tidak berhenti sebagai lokasi geografis. Religiusitas pun tidak tampil sebagai rangkaian pernyataan moral. Ketiganya bertemu dalam pengalaman hidup yang saling menghidupi sehingga setiap puisi terasa berangkat dari hubungan yang telah lama dijaga, bukan dari keinginan menghadirkan efek estetik sesaat.

Di sinilah pembacaan terhadap korpus puisi L.K. Ara menjadi menarik. Jika puisi-puisi itu diletakkan berdampingan (mulai dari “Laut Tawarku”, “Tak Ada Lagi”, “Catatan pada Daun”, “Seorang Tua Berjalan”, “Jabal Ghafur”, hingga “Laut Sigli”) akan terlihat adanya benang yang menghubungkan semuanya. Benang itu tidak dibangun oleh kesamaan bentuk; ia dibangun oleh kesetiaan pada ruang hidup, pada ingatan, pada manusia-manusia biasa, pada bahasa yang bersahaja, dan pada hubungan transendental yang tidak pernah dipertontonkan secara retoris. Dunia puitiknya tumbuh melalui tindakan merawat, mengingat, dan terus kembali kepada sumber pengalaman yang sama. (Sumber: https://www.jendelasastra.com/dapur-sastra/dapur-jendela-sastra/lain-lain/puisi-puisi-lk-ara).

Esai ini berangkat dari dugaan bahwa benang tersebut merupakan inti yang memberi kesatuan pada perpuisian L.K. Ara. Oleh sebab itu, pembahasan berikutnya tidak diarahkan untuk menginventarisasi tema-tema puisinya, tetapi menelusuri bagaimana keseluruhan karya itu membentuk apa yang dapat disebut sebagai “poetika kesetiaan”: suatu cara berpuisi yang menjadikan kesetiaan kepada ruang hidup, ingatan budaya, dan pengalaman kemanusiaan sebagai sumber utama kekuatan estetiknya. Dengan titik tolak itu, penghargaan yang diterimanya tidak lagi dipahami sebagai alasan untuk memuji seorang penyair, tetapi sebagai momentum untuk membaca kembali dunia puitik yang telah dibangunnya dengan tekun selama lebih dari setengah abad.

  1. Tanah, Air, Gunung, Kampung, dan Ingatan sebagai Rumah Puitik

Membaca puisi-puisi L.K. Ara segera membawa pembaca memasuki sebuah ruang yang memiliki koordinat geografis yang jelas. Danau, gunung, sungai, kampung, sawah, hutan cemara, kabut, embun, hingga jalan berliku bukan sekadar penanda tempat, melainkan dunia tempat manusia menjalani hidupnya. Ruang-ruang itu terus muncul dalam berbagai puisinya, seolah penyair sedang menyusun satu peta batin yang dibangun dari tanah kelahirannya sendiri. Karena itu, dunia puitik L.K. Ara tidak pernah bergerak di ruang yang abstrak. Dia selalu berangkat dari bumi yang dipijak.

Puisi seperti “Laut Tawarku”, “Lawee Bulan”, “Kutacane”, “Sungai Pesangan”, “Gunung Singah Mata”, dan “Angin Hutan Cemara” memperlihatkan kecenderungan tersebut dengan sangat konsisten. Nama-nama tempat tidak dipilih sebagai penanda geografis belaka. Setiap tempat menyimpan pengalaman, sejarah, kerja manusia, dan hubungan batin yang terus dipelihara. Pembaca tidak sedang diajak berwisata menuju Tanah Gayo, pembaca diajak memasuki cara pandang yang tumbuh dari kehidupan masyarakatnya.

Cara menghadirkan ruang semacam itu mengingatkan pada pemikiran Gaston Bachelard dalam The Poetics of Space. Bagi Bachelard, ruang yang sungguh bermakna bukanlah ruang yang diukur melalui peta atau koordinat, melainkan ruang yang dihuni oleh pengalaman, kenangan, dan imajinasi manusia (Bachelard, 1964). Tempat menjadi bagian dari kehidupan karena di sanalah seseorang pernah tinggal, bekerja, mencintai, kehilangan, dan berharap. Perspektif ini membantu melihat bahwa Tanah Gayo dalam puisi-puisi L.K. Ara bukanlah latar yang ditempelkan pada puisi, melainkan ruang batin yang terus menghidupi pengalaman puitiknya.

Dalam “Laut Tawarku”, misalnya, penyair tidak menggambarkan danau melalui keluasan air atau keelokan panorama. Yang lebih dahulu hadir justru hubungan personal antara aku lirik dengan danau yang disapanya.

parasmu diusap senja

alangkah tenang

salam sederhana kau ulurkan padaku

tanpa iringan gelombang

“Laut Tawar” diperlakukan seperti sahabat lama yang menyambut kepulangan seseorang. Sapaan “kau” membuat “danau” kehilangan jarak sebagai objek alam. “Danau” berubah menjadi subjek yang memiliki kehadiran. Bahkan, ketika penyair menuruni jalan menuju tepian “danau”, yang dirasakan bukan semata perpindahan ruang, tetapi perjumpaan batin.

jalan menurun ke jantungmu

lembut oleh siraman embun

yang menetes teduh

menjamah langkahku

satu satu

Ungkapan “ke jantungmu” memperlihatkan bahwa “danau” dipahami sebagai tubuh yang hidup. Air, embun, dan jalan menjadi bagian dari relasi yang akrab antara manusia dan alam. Tidak ada usaha memperbesar metafora secara berlebihan. L.K. Ara justru membiarkan pengalaman konkret berbicara melalui larik-larik yang tenang.

Hubungan yang sama tampak dalam “Lawee Bulan”. Sungai bukan sekadar aliran air yang membelah wilayah, namun ruang tempat kehidupan berlangsung dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sungai menerima tubuh para pekerja yang pulang dari ladang, menjadi tempat gadis-gadis membasuh wajah, menyimpan ingatan tentang para pemuda yang gugur mempertahankan negeri, lalu sepanjang malam menyirami sawah.

pagi sebelum fajar

mencium wajahmu sejuk

gadis-gadis merebahkan pipi

menyentuhkan tubuhnya di arusmu

Adegan itu sangat sederhana. Namun, justru melalui kesederhanaan itulah sungai memperoleh makna sebagai ruang bersama. Air menjadi tempat manusia menghubungkan tubuhnya dengan kehidupan yang lebih luas. Ketika kemudian muncul pertanyaan “… / berapa banyak pemuda di muara/ yang rubuh mempertahankan negeri// …”; sungai berubah menjadi penyimpan sejarah. Air mengalir, namun ingatan tidak ikut hanyut. Alam menjadi medium yang merawat kenangan kolektif.

Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran Yi-Fu Tuan dalam Space and Place. Tuan membedakan ruang (space) sebagai keluasan yang masih terbuka dengan tempat (place) sebagai ruang yang telah dipenuhi pengalaman manusia (Tuan, 1977). Tempat lahir ketika manusia membangun hubungan yang berulang dengan lingkungan sekitarnya. Dari sudut pandang ini, danau, sungai, gunung, maupun kampung dalam puisi-puisi L.K. Ara tidak lagi dipahami sebagai bentang geografis, melainkan sebagai tempat yang memperoleh makna karena terus dihuni oleh ingatan, pekerjaan, kasih sayang, dan sejarah masyarakatnya.

Hal serupa dapat ditemukan dalam “Sungai Pesangan”. Arus sungai bergerak membawa legenda Putri Hijau, menyaksikan seorang gadis mencari bayang cintanya yang hilang sekaligus memantulkan cahaya bulan pada riak-riaknya yang kecil. L.K. Ara tidak memisahkan mitos, pengalaman sehari-hari, dan keindahan alam ke dalam ruang-ruang yang berbeda. Semuanya hidup berdampingan di dalam satu lanskap budaya. Sungai menghubungkan cerita rakyat, kehidupan sosial, dan pengalaman personal tanpa harus dijelaskan secara konseptual.

Puisi “Kutacane” memperlihatkan kecenderungan yang sedikit berbeda. Kota tidak diperkenalkan melalui bangunan, jalan raya, atau pusat pemerintahan, tetapi melalui manusia yang menghidupinya. Tanah menjadi subur karena keringat petani. Sungai menghadirkan nelayan. Dongeng-dongeng lama diwariskan dari rumah ke rumah. Bahkan, ketika penyair menyebut benteng tua dan rumpun bambu yang menyimpan darah, kota itu tetap dibaca melalui pengalaman manusianya; bukan melalui benda-benda yang berdiri di atasnya. Tempat memperoleh makna karena manusia mengisinya dengan kerja, cerita, dan pengorbanan.

Dalam “Angin Hutan Cemara”, perhatian penyair berpindah kepada sesuatu yang nyaris tak berwujud: angin. Namun, angin itu tidak pernah hadir sebagai gejala alam yang netral. Angin menyongsong petani yang mendaki gunung, mengusir panas dari tubuh para pekerja, menemani pengambil kayu, nelayan, dan penggembala pulang ke rumah. Bahkan, ketika L.K. Ara menyinggung puluhan ribu hektare hutan cemara yang belum dikelola, kritik sosial lahir dari pengalaman yang sangat konkret. Alam dan kehidupan masyarakat kembali hadir sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Sementara itu, “Gunung Singah Mata” memperlihatkan cara pandang yang khas terhadap pegunungan. Dari puncak gunung, penyair melihat panorama yang indah: awan berguguran, burung beterbangan, kijang berkejaran, cahaya pagi menyentuh pepohonan. Akan tetapi, pemandangan itu tidak berhenti sebagai lanskap yang memanjakan mata. Tatapan penyair kemudian beralih kepada tanah yang menyimpan “darah dan keringat” serta “riwayat derita di bawah sangkur penjajah”. Keindahan alam dan sejarah penderitaan berada dalam satu cakrawala pandang. Gunung tidak menghapus sejarah. Gunung justru menjadi saksi yang menyimpannya.

Dengan begitu, ruang dalam perpuisian L.K. Ara selalu memiliki dimensi etis. Alam tidak diperlakukan sebagai sesuatu yang berada di luar manusia. Alam sebagai bagian dari kehidupan yang membentuk watak, cara bekerja, cara mengingat, dan cara memaknai keberadaan. Karena itulah, pembacaan terhadap ruang dalam puisi-puisinya selalu berujung pada pembacaan terhadap manusia yang mendiaminya. Tanah, air, dan gunung memperoleh makna karena di sanalah pengalaman hidup terus berlangsung.

Dari berbagai puisi tersebut tampak bahwa tanah, air, gunung, dan kampung selalu berhubungan dengan ingatan. Ingatan itu bukan nostalgia yang sibuk mengenang masa lalu sebagai sesuatu yang telah selesai. Yang berlangsung ialah usaha terus-menerus untuk menjaga hubungan manusia dengan ruang hidupnya. Tempat-tempat itu menjadi rumah karena di sanalah kerja, cinta, doa, cerita rakyat, dan sejarah memperoleh bentuknya.

Pembacaan semacam ini memperlihatkan bahwa dunia puitik L.K. Ara dibangun dari kesetiaan kepada ruang kehidupan yang konkret. Dia tidak mengangkat alam sebagai lambang yang mengambang, juga tidak menjadikannya sekadar latar bagi peristiwa manusia. Tanah, air, gunung, dan kampung adalah bagian dari keberadaan manusia itu sendiri. Ketika ruang-ruang itu hadir berulang kali dalam puisinya, yang sedang dipertahankan sesungguhnya bukan panorama Tanah Gayo. Yang istiqamah ialah cara L.K. Ara memandang dunia, yang lahir dari kedekatan manusia dengan tempat yang membesarkannya. Dari sinilah gagasan tentang poetika kesetiaan mulai menemukan pijakan estetiknya: kesetiaan kepada ruang hidup sebagai sumber identitas, pengalaman, dan makna.

  1. Ketika Ingatan Menjadi Sikap Puitik

Jika pada bagian sebelumnya tampak puisi L.K. Ara selalu berangkat dari ruang hidup yang konkret, pembacaan berikutnya mengantar kepada pertanyaan lebih mendasar; mengapa ruang-ruang itu terus kembali di dalam puisinya? Jawabannya tidak cukup dicari pada tema alam, kampung halaman, ataupun pengalaman masa lalu. Jauh lebih mendalam ialah suatu bentuk kesetiaan, yang dipahami sebagai sikap tidak sentimental terhadap masa lampau.

Dalam perspektif ini, ingatan tidak lagi dipahami sebagai kemampuan psikologis untuk mengenang sesuatu yang telah lewat. Paul Ricoeur menunjukkan bahwa ingatan selalu berhubungan dengan upaya manusia mempertahankan kebenaran pengalaman agar tidak tenggelam oleh waktu (Ricoeur, 2004). Karena itu, ketika seorang penyair terus kembali kepada ruang, nama, atau jejak yang sama, dia sesungguhnya sedang memperjuangkan keberlangsungan makna. Ingatan menjadi tindakan etis sekaligus estetik. Melalui puisi, pengalaman yang rapuh memperoleh bentuk yang memungkinkan dirinya tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Puisi berikut dapat dibaca sebagai salah satu teks yang paling jernih untuk memahami kecenderungan tersebut.

CATATAN PADA DAUN

Kau mencatat pada daun

Sebuah pesan

Ketika langit sempat biru

Tanpa awan

Setelah kau pergi

Jauh

Kubaca pesanmu

Lalu kusimpan

Jauh

Dalam diriku

Kini pesan itu

Mengalir dalam darahku

Dan bila aku mati

Ia kusimpan di syair sunyi

Puisi pendek ini hampir tidak menghadirkan peristiwa yang rumit. Tidak ada konflik yang mencolok, tidak pula ledakan emosi. Namun, justru dalam kesederhanaannya tersimpan inti cara berpuisi L.K. Ara. Pesan yang ditulis “pada daun” tidak berhenti sebagai kenangan. Ia dibaca, disimpan, lalu mengalir ke dalam darah. Perubahan itu penting. Ingatan tidak tinggal sebagai arsip, ia menjelma menjadi bagian dari diri penyair. Bahkan, ketika tubuh telah tiada, pesan itu masih hendak diteruskan melalui “syair sunyi”. Dengan kata lain, puisi menjadi cara menjaga agar sesuatu tidak lenyap.

Di sinilah kiranya perlu dibedakan antara rindu dan kesetiaan. Rindu, terutama menunjuk pada perasaan kehilangan terhadap sesuatu yang jauh. Kesetiaan, melangkah lebih jauh daripada itu. Kesetiaan adalah keputusan batin untuk tetap memelihara hubungan dengan yang dirindukan. Karena itulah, puisi-puisi L.K. Ara hampir tidak pernah berhenti pada ungkapan kerinduan. Rindu diubah menjadi tindakan puitik: mengingat, menyimpan, menyebut kembali, dan mewariskan.

Puisi “Tak Ada Lagi” memperlihatkan hal tersebut secara lebih luas. Repetisi “tak ada lagi yang kucari di sini” mula-mula terdengar seperti pengakuan seseorang yang telah selesai dengan masa lalunya. Akan tetapi, setiap pengulangan justru diikuti oleh penemuan baru: sinar bulan, rintih angin di air danau, kuburan nenek moyang, embun yang membasuh wajah rakyat, gema doa orang-orang yang menderita, hingga kasih Tuhan yang terus menyirami bumi. Repetisi itu bukan gerak menjauh, tetapi gerak kembali. Yang dicari penyair bukan benda-benda yang hilang, ialah hubungan yang tetap hidup di antara manusia, sejarah, dan Yang Ilahi.

Dalam konteks itulah, gagasan Jan Assmann mengenai memori budaya memperoleh relevansinya. Assmann menjelaskan, suatu kebudayaan bertahan bukan semata-mata karena keberadaan dokumen sejarah, tetapi karena masyarakatnya terus menghidupkan kembali ingatan melalui simbol, bahasa, ritus, dan narasi (Assmann, 2011). Puisi-puisi L.K. Ara menjalankan fungsi tersebut. Danau, gunung, kuburan leluhur, sungai, ataupun nama-nama kampung bukan sekadar unsur latar; semua itu menjadi penyangga memori budaya yang terus diperbarui melalui bahasa puitik. Kesetiaan penyair terhadap ruang hidupnya, dengan demikian, menjadi kesetiaan untuk menjaga keberlangsungan ingatan kolektif masyarakatnya.

Perhatian kepada leluhur juga hadir tanpa romantisasi yang berlebihan. Kuburan tua dalam “Tak Ada Lagi” tidak diperlakukan sebagai monumen masa silam. Tempat itu menjadi pengingat bahwa kehidupan hari ini bertumpu pada jejak mereka yang telah mendahului. Kesetiaan kepada leluhur tidak dinyatakan melalui slogan kebudayaan, tetapi melalui kesediaan untuk terus menyebut keberadaan mereka di dalam puisi.

Nada yang sama terasa dalam “Jabal Ghafur”. Penyair menembus sawah, kebun kelapa, desa-desa tua, bahkan “sejarah gelap masa lalu”, sebelum akhirnya sampai kepada tempat yang dipanggilnya sebagai “rumah di bawah langit biru”. Perjalanan itu tampaknya bersifat geografis, padahal sesungguhnya merupakan perjalanan batin. Rumah bukan sekadar tujuan fisik. Rumah ialah pusat tempat kasih Tuhan “menitik”. Dengan begitu, kesetiaan kepada kampung halaman selalu berkelindan dengan kesetiaan kepada nilai-nilai yang membentuk kehidupan masyarakatnya.

Dalam “Banda Aceh”, gagasan yang sama dipadatkan hanya ke dalam beberapa larik. Kota dikenang bukan melalui keramaiannya, dikenang lewat “pahatan sejarah di batu” yang “kuraba dengan rindu”. Yang disentuh penyair sebenarnya bukan batu, tetapi sejarah yang melekat padanya. Ingatan hadir melalui benda-benda yang tetap bertahan ketika manusia silih berganti datang dan pergi.

Sementara itu, puisi “Laut Sigli” memperlihatkan bentuk kesetiaan yang lain. Laut menjadi tempat segala kegelisahan disampaikan: keluh, risau, derita, rindu, bahkan rasa menyerah. Menariknya, pada akhir puisi, laut dipanggil dengan satu kata yang sangat sederhana: “Ibu”. Sapaan itu mengubah laut dari bentang alam menjadi tempat pulang. Di hadapan laut, manusia dapat meletakkan seluruh beban hidupnya tanpa kehilangan martabatnya.

Adapun puisi “Mencari Jejak” menghadirkan pengalaman keterasingan. Aku lirik terlempar ke sebuah kota, pintu-pintu tertutup, tubuhnya roboh di emper toko, tetapi mimpinya tetap mengalir “mencari jejakmu”. Jejak itulah yang membedakan puisi ini dari sekadar catatan kesepian. Penyair tidak berhenti pada pengalaman tercerabut; dia terus mencari hubungan yang memungkinkan dirinya kembali menemukan arah. Kesetiaan, sekali lagi, hadir sebagai daya yang menggerakkan pencarian.

Maurice Halbwachs mengemukakan, ingatan manusia pada dasarnya selalu bertumpu pada kerangka sosial tempat dia hidup (Halbwachs, 1992). Pembacaan terhadap puisi-puisi L.K. Ara memperlihatkan hal itu secara nyata. Yang diingat penyair bukan pengalaman individual yang terputus dari lingkungannya, tetapi pengalaman yang dibentuk oleh keluarga, masyarakat, sejarah daerah, bahasa, dan tradisi. Karena itu, ketika L.K. Ara mengingat kampung, sungai, atau leluhurnya, sesungguhnya dia sedang menghadirkan kembali jaringan kehidupan yang membentuk identitas bersama. Puisi menjadi ruang tempat ingatan pribadi bertemu dengan ingatan kolektif.

Dari keseluruhan puisi, tampak bahwa ingatan dalam perpuisian L.K. Ara selalu dihadirkan secara etis. Ingatan, bukan museum yang menyimpan benda-benda lama. Ingatan, menjadi tenaga yang menjaga hubungan manusia dengan kampungnya, sejarahnya, rakyatnya, bahasa yang membesarkannya, dan akhirnya dengan Tuhan. Karena itu, puisi-puisi L.K. Ara tidak sibuk meratapi masa lalu. Perpuisiannya, justru memperlihatkan bagaimana masa lalu terus hadir di dalam kehidupan sekarang.

Dengan begitu, kesetiaan dalam perpuisian L.K. Ara bukanlah tema yang sesekali muncul, tetapi prinsip yang mengorganisasi keseluruhan dunia puitiknya. Cara memilih ruang, menghadirkan tokoh, menyebut nama tempat, mengolah ingatan, bahkan membangun ritme bahasa yang tenang, semuanya bergerak ke arah yang sama: menjaga hubungan manusia dengan sumber maknanya. Alam, kampung, sejarah, doa, bahkan kata-kata yang dipilihnya, segalanya diarahkan untuk: menjaga sesuatu agar tidak tercerabut dari akar maknanya.

Pada persepsi ini poetika kesetiaan dapat dipahami sebagai prinsip estetik yang menyatukan seluruh perpuisian L.K. Ara. Kesetiaan bukan sekadar isi puisi, tetapi cara puisi itu sendiri dihadirkan. Justru karena itulah, puisi-puisi L.K. Ara tetap terasa hidup hingga kini: perpuisiannya mengingat dunia sekaligus ikut merawat keberlangsungannya melalui bahasa.

  1. Bahasa yang Sederhana, Makna yang Dalam

Sesudah membaca dunia puitik dan prinsip kesetiaan yang menggerakkannya, melalui bahasa seperti apa L.K. Ara menghadirkan dunia tersebut? Pertanyaan ini penting karena kekuatan puisinya tidak lahir dari metafora yang berlapis-lapis atau permainan bahasa yang rumit. Justru sebaliknya. L.K. Ara memilih jalan yang tenang. Diksinya dekat dengan percakapan sehari-hari, lariknya pendek, ritmenya lambat, dan citraan yang digunakannya mudah dikenali. Namun, kesederhanaan itu tidak membuat puisinya menjadi dangkal. Di tangan L.K. Ara, bahasa yang bersahaja menjadi medium bagi pengalaman batin yang mendalam.

Kesederhanaan semacam ini, bukan berarti bahasa puisi kehilangan sifat puitiknya. Roman Jakobson menjelaskan, fungsi puitik bahasa lahir ketika perhatian diarahkan kepada cara bahasa bekerja membangun makna, bukan semata-mata kepada informasi yang disampaikan (Jakobson, 1960). Dalam puisi-puisi L.K. Ara, fungsi tersebut tidak diwujudkan melalui kerumitan bunyi atau metafora yang bertumpuk, justru melalui keteraturan ritme, pengulangan, keseimbangan larik, dan ketepatan pilihan kata. Bahasa tetap menjadi bahasa puisi sekalipun tidak pernah memutus hubungan dengan pengalaman sehari-hari.

Salah satu ciri yang paling menonjol ialah penggunaan repetisi. Akan tetapi, repetisi dalam puisi-puisinya bukan sekadar pengulangan bunyi atau bentuk. Repetisi menjadi cara membangun irama perenungan. Dalam puisi “Seorang Tua Berjalan”, larik “di jalan itu juga” berulang berkali-kali. Pengulangan tersebut tidak menimbulkan kesan monoton. Sebaliknya, pembaca merasakan keteguhan langkah seorang tua yang setiap hari menempuh jalan yang sama. Jalan itu perlahan berubah menjadi lambang perjalanan hidup. Ketika pada bagian akhir penyair menulis, “Setiap langkah / Ia mengucap Allah”, pembaca menyadari, yang ditempuh bukan hanya jalan fisik, namun juga jalan spiritual. Repetisi menumbuhkan kedalaman makna melalui irama, bukan melalui kerumitan bahasa.

Teknik yang sama tampak dalam puisi “Sedekah”. Larik-lariknya disusun hampir menyerupai nasihat lisan. Penyair mengulang pola kalimat tentang bencana, sakit, pencuri, dan amarah Tuhan, sebelum akhirnya menghadirkan jawaban yang sangat sederhana: “Mari kita bersedekah.” Secara estetik, yang menarik bukan isi anjurannya semata, sekaligus cara penyair menahan diri untuk tidak berkhotbah. Dia membangun ketegangan melalui pengulangan persoalan, lalu melepaskannya dalam kalimat yang pendek dan tenang. Pada akhir puisi, sedekah bahkan tidak lagi dipahami sebatas pemberian materi, ia menjadi “embun pagi” yang “menetes ke hati”. Simbol itu lahir dari pengalaman sehari-hari sehingga pembaca menerimanya tanpa merasa sedang digurui.

Kesederhanaan yang sama terlihat dalam “Salam”. Hampir seluruh puisi disusun dari kalimat-kalimat yang diawali kata “Salam kepada….” Pintu, kerikil, bunga, rumput, kendi, tangga, lantai, tikar, hingga penghuni rumah memperoleh sapaan yang sama. Tidak ada metafora yang rumit. Tidak ada simbol yang sengaja disamarkan. Namun melalui paralelisme itu, benda-benda biasa memperoleh martabat baru. Dunia sehari-hari dipandang sebagai ruang yang layak dihormati. Salam tidak lagi berhenti sebagai ucapan, ia menjadi cara memandang kehidupan dengan penuh penghargaan.

Pilihan citraan L.K. Ara juga memperlihatkan kecenderungan yang khas. Citraan puisinya lebih sering menggunakan matahari, embun, angin, daun, batu, sungai, sajadah, atau cahaya daripada lambang-lambang yang sukar ditelusuri acuannya. Dalam “Kening Bulan”, gambaran “cahaya iman” yang melekat di sajadah segera dipertemukan dengan “angin kembara yang nestapa”. Pertemuan dua citraan itu berlangsung tanpa retorika yang berlebihan. Alam dan pengalaman batin saling menyinari. Yang puitik lahir dari kedekatan dengan pengalaman, bukan dari usaha mengejutkan pembaca melalui metafora yang berbelit.

Cara kerja bahasa seperti itu memperlihatkan, makna puisi L.K. Ara tidak dibangun melalui teka-teki simbolik yang mengharuskan pembaca memecahkan sandi-sandi yang rumit. Michael Riffaterre mengingatkan, pembacaan puisi bergerak dari makna harfiah menuju makna puitik melalui hubungan antartanda yang dibangun teks (Riffaterre, 1978). Dalam puisi-puisi L.K. Ara, proses tersebut berlangsung secara tenang. Pembaca mula-mula menerima kata-kata dalam arti sehari-hari, kemudian perlahan menyadari bahwa embun, jalan, daun, cahaya, atau sungai telah memperoleh kepadatan makna karena terus hadir dalam jaringan dunia puitik yang sama. Kedalaman lahir bukan karena bahasa dibuat sulit, tetapi karena pengalaman yang sama terus diperkaya oleh konteks-konteks baru.

Hal yang hampir serupa tampak dalam puisi “Sinar”. Puisi itu hanya terdiri atas beberapa larik. Penyair mengawali dengan kebutuhan yang bersifat universal: matahari bagi seluruh umat manusia. Sesudah itu dia menyebut kebutuhan yang lebih pribadi: sinar mata kekasih yang sanggup “menggorek dosa” dan menggantinya “dengan amal dan iman”. Peralihan dari cahaya matahari menuju cahaya mata kekasih berlangsung sangat alami. Di sini, pengalaman religius dan kemanusiaan tidak dipertentangkan. Keduanya justru saling melengkapi dalam bahasa yang amat hemat.

Puisi “Iya” bahkan memperlihatkan keberanian L.K. Ara menyusun makna dari kata-kata yang sangat sedikit. Larik-lariknya pendek. Kosakatanya sederhana. Namun, sosok ibu dan bapa yang berjalan dengan “sebelah sayap” dan “sebelah kaki” segera menghadirkan kesan pengorbanan yang mendalam. Penyair tidak menjelaskan penderitaan mereka. Dia cukup memperlihatkannya melalui citraan yang ringkas. Pembaca sendirilah yang menyempurnakan makna di dalam benaknya.

Pilihan estetik seperti ini memperlihatkan, L.K. Ara tidak mengejar keindahan yang lahir dari kerumitan bahasa. Dia lebih percaya kepada ketepatan pengalaman. Karena itu, puisi-puisinya tidak dipenuhi metafora yang saling bertumpuk atau simbol yang harus dipecahkan sebagai teka-teki. Yang diutamakan ialah kejernihan hubungan antara kata, pengalaman, dan makna. Bahasa tidak dipaksa menjadi pusat perhatian. Bahasa justru memberi ruang agar pengalaman manusialah yang berbicara.

Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran Cleanth Brooks, puisi memperoleh kekuatannya sebagai sebuah kesatuan organik, yakni ketika setiap unsur saling menopang sehingga tidak ada bagian yang berdiri sendiri (Brooks, 1947). Repetisi, paralelisme, citraan alam, ritme lisan, dan pilihan diksi yang sederhana dalam puisi-puisi L.K. Ara bukanlah “teknik yang bekerja” secara terpisah. Seluruhnya membentuk satu struktur estetik yang utuh. Karena itu, kesederhanaan bahasa tidak dapat dipisahkan dari tema, suasana, maupun pandangan hidup yang diusung penyair. Bentuk dan makna bertumbuh bersama di dalam satu kesatuan puitik.

Di sinilah letak kekhasan estetik L.K. Ara. Kesederhanaan bukanlah keterbatasan ekspresi, tetapi pilihan puitik yang sadar. Dia memperlihatkan, puisi dapat mencapai kedalaman tanpa kehilangan kejernihan. Repetisi, paralelisme, larik-larik pendek, citraan alam, simbol keseharian, doa, dan ritme lisan seluruhnya bekerja untuk satu tujuan: menjaga agar puisi tetap dekat dengan kehidupan manusia. Dengan begitu, bentuk estetik puisi-puisi L.K. Ara sesungguhnya menjadi perpanjangan dari poetika kesetiaan yang telah dibahas sebelumnya. Ia setia bukan cuma kepada tanah, sejarah, dan manusia, tetapi juga kepada bahasa yang tidak menjauh dari pengalaman hidup pembacanya.

  1. Membaca Satu Puisi sebagai Pusat Dunia Puitik L.K. Ara

Puisi “Catatan pada Daun” dapat dipandang sebagai simpul tempat berbagai kecenderungan estetik L.K. Ara bertemu. Puisi ini memang pendek, tetapi justru karena kepadatannya ia menghimpun hampir seluruh unsur yang membentuk dunia puitik penyair: alam, ingatan, kesetiaan, kesunyian, bahasa yang hemat, dan religiositas yang hadir tanpa deklarasi. Jika puisi-puisi lain memperlihatkan unsur-unsur tersebut secara tersebar, “Catatan pada Daun” memadatkannya ke dalam satu gerak puitik yang utuh. Karena itu, membaca puisi ini secara dekat berarti memasuki inti cara L.K. Ara membangun puisinya.

Puisi dibuka dengan larik, “Kau mencatat pada daun / Sebuah pesan.” Kata daun segera menghadirkan dunia alam yang selama ini menjadi ruang hidup puisi-puisi L.K. Ara. Namun, daun di sini tidak berfungsi sebagai hiasan puitik ataupun sekadar citraan alam. Daun, dipilih sebagai tempat menuliskan pesan, seolah-olah alam sendiri menjadi media penyimpan ingatan. Pilihan yang sangat sederhana ini memperlihatkan kecenderungan khas penyair: pengalaman manusia selalu ditempatkan dalam hubungan yang akrab dengan alam. Alam bukan latar yang membingkai kehidupan, tetapi ikut mengambil bagian di dalamnya.

Larik berikutnya, “Ketika langit sempat biru / Tanpa awan,” menghadirkan sebuah waktu, yang ditentukan oleh suasana batin. Kata “sempat” menjadi pusat perhatian. Ia menunjukkan bahwa kejernihan selalu bersifat sementara. Ada saat ketika langit terbuka sehingga pesan dapat dituliskan, tetapi saat itu tidak berlangsung selamanya. Dengan begitu, puisi ini sejak awal memperhadapkan pembaca pada kesadaran bahwa pengalaman yang paling bermakna sering kali hadir hanya sekejap, tetapi justru karena keterbatasannya itulah ia layak disimpan.

Perubahan suasana terjadi ketika muncul larik, “Setelah kau pergi / Jauh.” Menariknya, penyair tidak pernah menjelaskan siapa “kau” yang dimaksud. Ketidakhadiran identitas tersebut bukan kekurangan informasi, justru ruang yang sengaja dibiarkan terbuka. “Kau” dapat dibaca sebagai seseorang yang dicintai, seorang guru, leluhur, kampung halaman, bahkan suatu fase kehidupan yang telah berlalu. Dengan tidak membatasi rujukannya, L.K. Ara membiarkan pembaca menyempurnakan makna melalui pengalaman masing-masing. Kesunyian larik ini justru memperluas daya jangkaunya.

Gerak puisi kemudian berpindah dari kehilangan menuju penjagaan. “Kubaca pesanmu / Lalu kusimpan / Jauh / Dalam diriku.” Kata kerja yang dipilih sangat biasa: membaca dan menyimpan. Tidak ada ratapan, tidak ada luapan emosi, tidak pula pernyataan kehilangan yang berlebihan. Kesetiaan justru dinyatakan melalui tindakan yang tenang. Pesan yang semula berada di luar diri, perlahan dipindahkan ke ruang batin. Di sinilah tampak, bagi L.K. Ara, mengingat bukanlah aktivitas sesaat, melainkan pekerjaan memelihara sesuatu agar tetap hidup.

Puncak puisi terdapat pada larik, “Kini pesan itu / Mengalir dalam darahku.” Larik ini menandai perubahan yang paling penting. Pesan tidak lagi menjadi sesuatu yang disimpan di luar diri. Pesan, telah berubah menjadi bagian dari kehidupan itu sendiri. Kata “darah” mengisyaratkan sesuatu yang terus mengalir dan memberi kehidupan. Ingatan tidak lagi berada di wilayah kenangan yang sesekali dipanggil, ia telah menjadi tenaga batin yang membentuk cara seseorang memandang dunia. Dari sinilah tampak, kesetiaan dalam puisi ini bukan sekadar kesediaan untuk mengenang, tetapi kesediaan membiarkan pengalaman hidup terus hadir di dalam diri.

Penutup puisi menghadirkan salah satu larik yang paling kuat dalam keseluruhan perpuisian L.K. Ara, “Dan bila aku mati / Ia kusimpan di syair sunyi.” Dengan begitu, puisi memperoleh makna yang melampaui pengalaman pribadi. Tubuh manusia memang akan berakhir, namun syair menjadi ruang tempat pesan tetap bertahan. Kata “sunyi” tidak menunjuk pada kehampaan, ia menunjuk pada ruang batin tempat makna dipelihara tanpa perlu dipertontonkan. Syair menjadi bentuk keberlanjutan kehidupan ketika tubuh tidak lagi mampu menyimpannya.

Apabila keseluruhan puisi dibaca sebagai satu kesatuan, akan tampak sebuah gerak yang sangat teratur: pesan ditulis, pembawa pesan pergi, pesan dibaca, disimpan, mengalir dalam darah, lalu diwariskan melalui syair. Tidak ada satu larik pun yang berlebihan. Setiap perpindahan menghadirkan perkembangan makna yang alami. Pembacaan semacam ini memperlihatkan, kekuatan puisi tidak terletak pada kemewahan metafora, melainkan pada hubungan yang dibangun antarlarik. Dalam pengertian inilah pembacaan dekat, sebagaimana dikemukakan Michael Riffaterre, membantu memperlihatkan bahwa makna puisi lahir dari keseluruhan sistem teks, bukan dari arti harfiah kata-kata yang berdiri sendiri (Riffaterre, 1978).

Pembacaan terhadap “Catatan pada Daun” juga memperlihatkan, hampir tidak ada kata yang hadir sebagai hiasan. Diksinya sehari-hari, lariknya pendek, dan struktur kalimatnya sangat sederhana. Namun, justru dari perangkat yang hemat itulah, lahir lapisan makna yang terus berkembang. L.K. Ara tidak mengejar kerumitan simbol ataupun metafora yang sulit dipecahkan. Dia memperlihatkan, kepadatan makna dapat dicapai melalui ketepatan memilih kata, kesabaran mengatur ritme larik, dan kepercayaan kepada pengalaman manusia yang konkret.

Karena itu, “Catatan pada Daun” layak dibaca sebagai miniatur dunia puitik L.K. Ara. Di dalamnya hadir alam yang akrab dengan manusia, ingatan yang menjelma menjadi sikap hidup, kesetiaan yang hadir sebagai prinsip estetik, bahasa yang jernih, serta religiositas yang membumi tanpa perlu dinyatakan secara retoris. Puisi ini sekaligus menegaskan, kekuatan perpuisian L.K. Ara tidak bertumpu pada keinginan menghadirkan kebaruan demi kebaruan; tetapi justru pada kemampuannya menjaga pengalaman manusia tetap hidup melalui kata-kata yang sederhana, jernih, dan tahan lama. Dari sebuah daun, sebuah pesan, dan sebuah syair sunyi, terbentang keseluruhan dunia puitik, yang dengan tekun dibangunnya selama lebih dari setengah abad.

  1. Dari Gayo Menuju Indonesia

Salah satu kekuatan terbesar perpuisian L.K. Ara terletak pada kemampuannya mempertahankan kedekatan dengan tanah kelahirannya tanpa terperangkap dalam batas-batas kedaerahan. Nama-nama seperti “Laut Tawar”, “Kutacane”, “Lawee Bulan”, “Sungai Pesangan”, “Jabal Ghafur”, atau “Banda Aceh”, muncul berulang-ulang dalam puisinya. Semuanya menunjuk kepada ruang yang nyata. Namun, ketika puisi-puisi itu dibaca, yang tinggal dalam ingatan pembaca bukan sekadar nama tempat, tetapi pengalaman manusia yang berlangsung di dalamnya. Itulah sebabnya dunia yang sangat berakar di Tanah Gayo tetap dapat menyentuh pembaca dari berbagai latar budaya.

Dalam pengertian ini, lokalitas dalam puisi L.K. Ara tidak dihadirkan sebagai batas identitas yang tertutup. Ia justru menjadi ruang perjumpaan antara pengalaman yang sangat setempat, dengan pengalaman manusia yang lebih luas. Homi K. Bhabha mengingatkan, kebudayaan tidak pernah hidup sebagai sesuatu yang beku, melainkan selalu bergerak melalui perjumpaan, penerjemahan, dan dialog antarpengalaman (Bhabha, 1994). Perspektif tersebut membantu melihat, Tanah Gayo dalam puisi-puisi L.K. Ara bukanlah wilayah yang mengasingkan pembaca dari luar, tetapi pintu masuk menuju pengalaman kemanusiaan yang dapat dibagikan bersama.

Lihatlah bagaimana “Laut Tawarku” membangun hubungan antara manusia dan danau. Penyair tidak mengajak pembaca mengagumi keindahan bentang alam sebagai objek wisata. Yang dihadirkan ialah perjumpaan yang akrab antara seseorang dengan ruang yang telah membesarkannya. Jalan yang menurun menuju tepian danau, embun yang menyentuh langkah, serta perahu-perahu nelayan yang pulang menjelang fajar; merupakan pengalaman yang sangat khas Gayo. Akan tetapi, perasaan pulang kepada tempat yang membentuk kehidupan merupakan pengalaman yang dapat dikenali siapa pun. Nama danau boleh berbeda, tetapi kedekatan batin terhadap ruang asal merupakan pengalaman manusia yang jauh lebih luas.

Demikian pula “Lawee Bulan”. Sungai yang mengalir di dalam puisi itu tidak hanya membawa air. Ia membawa kerja para petani, kegembiraan anak-anak, kecemasan para ibu, dan kenangan tentang mereka yang gugur mempertahankan negeri. Sungai menjadi tempat berbagai pengalaman hidup bertemu. Pembaca yang tidak pernah mengenal “Lawee Bulan” pun tetap dapat memahami makna sebuah sungai yang menyimpan sejarah masyarakatnya. Yang dihadirkan di sini bukan keluasan geografis saja, namun juga keluasan pengalaman manusia.

Hal yang sama tampak dalam “Kutacane”. Kota itu dibangun melalui keringat petani, nelayan, cerita rakyat, dan ingatan sejarah. Tidak ada usaha menjadikannya lambang abstrak tentang kebangsaan. Justru karena penyair setia kepada rincian-rincian konkret itulah kota tersebut memperoleh daya hidup. Pembaca diajak memasuki sebuah komunitas yang bekerja, bercinta, berkisah, dan menanggung luka. Dari pengalaman yang sangat setempat itulah lahir pengenalan yang lebih luas mengenai kehidupan manusia.

Kecenderungan ini juga menjelaskan mengapa puisi-puisi L.K. Ara hampir tidak pernah kehilangan pijakan sosialnya. Alam selalu dihuni manusia. Sejarah selalu berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Religiusitas tumbuh dari doa yang diucapkan orang-orang biasa. Bahkan, ketika penyair berbicara tentang Tuhan, yang tampak terlebih dahulu ialah embun, angin, jalan, sawah, atau cahaya matahari. Yang transenden hadir melalui pengalaman yang dekat dengan kehidupan, bukan melalui abstraksi yang menjauh dari kenyataan.

Pembacaan tersebut sekaligus memperlihatkan, ruang dalam puisi bukan sekadar latar, namun cara menghadirkan identitas. Edward W. Said menunjukkan bahwa representasi terhadap suatu tempat selalu berkaitan dengan cara manusia memahami dirinya sendiri (Said, 1978). Dalam perpuisian L.K. Ara, Tanah Gayo tidak direpresentasikan sebagai wilayah yang eksotis untuk dipandang dari luar. Tanah Gayo dihadirkan dari dalam pengalaman masyarakatnya sendiri: melalui kerja, bahasa, sejarah, doa, dan hubungan antarmanusia. Karena itu, pembaca tidak sedang melihat Gayo sebagai objek, tetapi memasuki cara hidup yang membentuk makna keberadaan masyarakatnya.

Di sinilah arti penting lokalitas dalam perpuisian L.K. Ara. Lokalitas tidak diperlakukan sebagai identitas yang harus dipertontonkan, apalagi sebagai penanda eksotis yang sengaja ditonjolkan. Tanah Gayo menjadi sumber pengalaman karena di sanalah penyair belajar mengenal alam, sejarah, bahasa, keluarga, kerja, dan keyakinan. Kesetiaan kepada tempat asal akhirnya melahirkan kesetiaan kepada nilai-nilai kemanusiaan yang tumbuh di dalamnya.

Pembacaan seperti ini sekaligus memperlihatkan bahwa keluasan makna sebuah puisi tidak ditentukan oleh jauhnya cakupan geografis, tetapi oleh kedalaman pengalaman yang berhasil diungkapkannya. L.K. Ara tidak berusaha berbicara atas nama seluruh manusia. Dia berbicara dengan tekun tentang dunia yang dikenalnya sendiri. Justru karena ketekunan itulah puisinya melampaui batas daerah tempat dia dilahirkan. Dari Tanah Gayo, dia menghadirkan pengalaman yang dapat dipahami oleh pembaca Indonesia, bahkan oleh siapa saja yang pernah merasakan arti rumah, ingatan, kehilangan, kerja, doa, dan harapan.

Dalam konteks sastra Indonesia, posisi semacam ini memperlihatkan, lokalitas bukanlah lawan dari keindonesiaan. Kuntowijoyo pernah menegaskan, kebudayaan Indonesia tumbuh dari dialog yang terus berlangsung antara keragaman pengalaman lokal dengan kesadaran kebangsaan yang lebih luas (Kuntowijoyo, 2006). Puisi-puisi L.K. Ara memperlihatkan proses tersebut secara alamiah. Ia tidak berusaha menghapus identitas Gayo agar menjadi Indonesia, tetapi justru menghadirkan Indonesia melalui kedalaman pengalaman Gayo yang dihayati secara manusiawi. Dengan begitu, lokalitas tidak mempersempit cakrawala sastra nasional, tetapi justru memperkayanya.

Dengan begitu, perpuisian L.K. Ara menunjukkan, jalan menuju sastra Indonesia tidak selalu ditempuh dengan meninggalkan akar lokal. Pada dirinya, akar itulah yang menjadi sumber tenaga estetik. Tanah Gayo tidak menyempitkan cakrawala puisinya. Sebaliknya, dari tanah itulah tumbuh sebuah dunia puitik yang memperkaya khazanah sastra Indonesia melalui kesetiaan kepada pengalaman manusia yang paling nyata.

  1. L.K. Ara dan Kedudukan Poetika Kesetiaan dalam Sastra Indonesia

Jika keseluruhan puisi L.K. Ara dibaca sebagai satu korpus, tampak bahwa kekuatannya tidak terutama terletak pada keragaman tema ataupun perubahan bentuk yang terus-menerus, tetapi pada keteguhan orientasi puitiknya. Selama lebih dari setengah abad, dia tetap bergerak di sekitar ruang hidup yang sama (Tanah Gayo, danau, gunung, sungai, kampung, rakyat, doa, sejarah, dan Tuhan). Namun setiap kali kembali, pengalaman yang dihadirkannya tidak pernah persis sama. Yang berkembang bukan pusat dunia puitiknya, tetapi cara memandang dunia itu sendiri. Kesinambungan inilah yang membuat perpuisiannya memiliki identitas yang mudah dikenali tanpa kehilangan kemungkinan untuk terus dibaca dari sudut yang berbeda.

Seluruh pembacaan dalam esai ini memperlihatkan, kekuatan tersebut lahir dari hubungan yang saling menopang antara unsur-unsur pembentuk puisinya. Ruang, ingatan, bahasa, dan religiositas tidak tampil sebagai lapisan-lapisan yang berdiri sendiri, tetapi bertemu dalam satu jaringan makna. Karena itu, dunia puitik L.K. Ara tidak cukup dipahami melalui tema-tema yang tampak di permukaan. Yang lebih menentukan justru prinsip yang membuat berbagai pengalaman itu tetap terhubung sebagai satu bangunan puitik yang utuh.

Dalam konteks itulah hubungan antara manusia dan ruang dalam puisi-puisi L.K. Ara perlu dibaca. Kampung tidak hadir sebagai objek kerinduan yang dibekukan oleh masa lalu, tetapi sebagai ruang tempat nilai-nilai kehidupan terus berlangsung. Alam pun tidak berhenti sebagai latar keindahan. Alam hadir sebagai bagian dari pengalaman manusia dalam menerima, mengingat, bekerja, kehilangan, dan berdoa. Bahkan, ketika berbicara tentang sejarah atau penderitaan, dia tetap menjaga agar bahasa puisinya tidak berubah menjadi pernyataan yang sloganistik. Pilihan estetik semacam itu membuat puisinya bergerak dengan tenang, tetapi tetap meninggalkan daya gugah.

Dalam terang pembacaan tersebut, penghargaan Anugerah Kepenyairan Adiluhung memperoleh makna yang lebih substantif. Penghargaan itu tidak hanya berkaitan dengan panjangnya perjalanan kreatif, tetapi juga mengakui konsistensi sebuah laku kepenyairan. Melalui puisinya, L.K. Ara memperlihatkan, sastra dapat menjadi ruang untuk merawat kesinambungan ingatan budaya, menjaga hubungan antara bahasa daerah dan bahasa Indonesia, serta menghadirkan pengalaman lokal sebagai bagian dari percakapan sastra nasional.

Dalam peta perpuisian Indonesia, posisi L.K. Ara menunjukkan bahwa kedalaman estetik tidak selalu lahir dari perluasan wilayah pengalaman. Pada diri penyair ini, kedalaman itu justru tumbuh dari kesediaan untuk terus menyelami dunia yang telah membentuknya sejak awal. Dia tidak mencari legitimasi dengan menjauh dari identitas Gayo. Dia terus kembali kepada ruang yang membentuk dirinya hingga ruang itu membuka lapisan-lapisan makna yang semakin kaya. Dari pengalaman yang sangat setempat itulah, lahir persoalan-persoalan yang lebih luas: hubungan manusia dengan tempat, ingatan, kehilangan, harapan, dan makna kehidupan.

Berdasarkan keseluruhan pembacaan tersebut, esai ini mengusulkan poetika kesetiaan sebagai konsep untuk memahami kesatuan dunia puitik L.K. Ara. Konsep ini bukan kategori yang dipaksakan dari luar, tetapi dari pembacaan terhadap korpus puisinya sendiri. Kesetiaan, dalam pengertian ini, bukan sekadar tema yang berulang, tetapi prinsip estetik yang menghubungkan ruang, pengalaman, bahasa, sejarah, religiositas, dan kemanusiaan ke dalam satu bangunan puitik yang koheren.

Tawaran konseptual tersebut memungkinkan pembacaan terhadap L.K. Ara bergerak melampaui pengelompokan tema-tema seperti alam, lokalitas, atau religiositas. Tema-tema itu tetap penting, tetapi belum sepenuhnya menjelaskan mengapa puisi-puisinya selalu menghadirkan kesan berada dalam satu dunia yang sama. Melalui konsep poetika kesetiaan, perhatian diarahkan kepada prinsip yang menggerakkan keseluruhan karya: bagaimana seorang penyair menjaga hubungan dengan sumber pengalaman yang membentuk dirinya, lalu mengolahnya menjadi kekuatan estetik.

Pada akhirnya, kedudukan L.K. Ara dalam sastra Indonesia tidak semata ditentukan oleh panjangnya perjalanan kreatif ataupun penghargaan yang diterimanya. Yang lebih penting ialah kemampuannya membangun sebuah dunia puitik yang tetap utuh karena bertumpu pada kesetiaan terhadap sumber pengalaman yang terus diolah menjadi puisi. Dari Tanah Gayo, dia memperlihatkan bahwa akar lokal tidak membatasi cakrawala kepenyairan. Sebaliknya, dari akar itulah lahir pengalaman puitik yang memperkaya khazanah sastra Indonesia sekaligus menunjukkan bahwa kesetiaan dapat menjadi prinsip estetik yang menjaga kesinambungan sebuah dunia puitik. ***

Daftar Pustaka

Ara, L.K. 1969. Angin Laut Tawar. Jakarta: Balai Pustaka.

Ara, L.K. 1986. Catatan pada Daun. Jakarta: Balai Pustaka.

Ara, L.K. 1988. Dalam Mawar. Jakarta: Balai Pustaka.

Ara, L.K. 2004. Langit Senja Negeri Timah. Jakarta: Yayasan Nusantara.

Ara, L.K. 2012. Angin Perjalanan. Jakarta: Pena.

Ara, L.K. 2021. Jendela Sastra. 2021. “Puisi-Puisi L.K. Ara.” Jendela Sastra. Diakses 1 Agustus 2026. https://www.jendelasastra.com/dapur-sastra/dapur-jendela-sastra/lain-lain/puisi-puisi-lk-ara.

Assmann, Jan. 2011. Cultural Memory and Early Civilization: Writing, Remembrance, and Political Imagination. Cambridge: Cambridge University Press.

Bachelard, Gaston. 1964. The Poetics of Space. Boston: Beacon Press.

Bhabha, Homi K. 1994. The Location of Culture. London: Routledge.

Brooks, Cleanth. 1947. The Well Wrought Urn: Studies in the Structure of Poetry. New York: Harcourt, Brace and Company.

Gadamer, Hans-Georg. 1975. Truth and Method. New York: Continuum.

Halbwachs, Maurice. 1992. On Collective Memory. Chicago: The University of Chicago Press.

Jakobson, Roman. 1960. “Closing Statement: Linguistics and Poetics.” Dalam Style in Language, disunting oleh Thomas A. Sebeok, 350–377. Cambridge, MA: MIT Press.

Kuntowijoyo. 2006. Budaya dan Masyarakat. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Ricoeur, Paul. 1976. Interpretation Theory: Discourse and the Surplus of Meaning. Fort Worth: Texas Christian University Press.

Ricoeur, Paul. 2004. Memory, History, Forgetting. Chicago: The University of Chicago Press.

Riffaterre, Michael. 1978. Semiotics of Poetry. Bloomington: Indiana University Press.

Said, Edward W. 1978. Orientalism. New York: Pantheon Books.

Tuan, Yi-Fu. 1977. Space and Place: The Perspective of Experience. Minneapolis: University of Minnesota Press.

Wellek, René, dan Austin Warren. 1949. Theory of Literature. New York: Harcourt, Brace and Company.

*Abdul Wachid B.S. adalah penyair, Guru Besar Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia, dan Ketua Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura) di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.