Festival Fulan Fehan 2026, Panggung Alam di Perbatasan yang Memukau Dunia
Oleh : Fafa Utami*
Belu, Nusa Tenggara Timur, Sabtu 27 Juni 2026 – Hamparan Padang Savana Fulan Fehan di Desa Dirun, Kecamatan Lamaknen, kaki gunung Lakaan, Kabupaten Belu, siang itu kembali menjadi saksi sebuah pertunjukan budaya yang berskala monumental. Festival Fulan Fehan IV berhasil menyatukan sekitar 3.900 penari dalam sebuah pertunjukan kolosal dengan tema “Dance for Friendship”, yang memadukan kekayaan budaya masyarakat Belu dengan semangat persahabatan lintas bangsa.
Hamparan savana Fulan Fehan berubah menjadi panggung raksasa yang menyatukan ribuan tubuh dalam satu irama. Sebanyak 3.900 penari Likurai muncul perlahan dari berbagai penjuru padang, seolah-olah lahir dari lekuk-lekuk perbukitan dan bentangan alam Belu. Kemunculan mereka tidak serentak, melainkan bertahap, membentuk aliran manusia yang bergerak menuju titik temu dengan keteraturan yang nyaris sempurna. Dari kejauhan, barisan-barisan itu tampak seperti garis-garis hidup yang mengukir lanskap, dua garis lurus di depan, lingkaran besar ditengah, samping kanan kiri dan garis-garis yang seperti membentuk formasi dan symbol kemudian bertransformasi menjadi formasi-formasi geometris yang mencerminkan harmoni, persatuan, dan kekuatan kolektif masyarakat.
Ketika tabuhan Likurai mulai menggema, seluruh ruang Fulan Fehan dipenuhi oleh derap kaki yang menghentak tanah secara serempak. Setiap langkah menghadirkan resonansi yang berbaur dengan suara angin pegunungan dan sesekali kabut tipis langit yang membiru menciptakan irama hidup dan berdenyut bersama alam. Ketukan-ketukan tersebut bukan sekadar penanda tempo, melainkan menjadi simbol semangat, keberanian, dan daya hidup tradisi yang diwariskan lintas generasi.
Gerakan tangan para penari mengalir lembut mengikuti ritme. Lambaian yang gemulai berpadu dengan perubahan arah tubuh yang terukur menghadirkan kontras yang indah dengan ribuan kokohnya hentakan kaki. Kelembutan dan kekuatan menyatu dalam satu bahasa gerak yang khas, memperlihatkan bahwa Tari Likurai tidak hanya mengandung energi perayaan, tetapi juga menyimpan keanggunan dan nilai-nilai budaya masyarakat Timor.
Puncak pertunjukan terjadi ketika ribuan penari secara bersamaan mengibaskan kain tenun yang mereka kenakan dengan menggenggam. Dalam sekejap, hamparan warna-warna tenun tradisional membentuk gelombang visual yang menyapu seluruh padang rumput Fulan Fehan. Kibasan kain mengikuti hembusan angin pegunungan, menghasilkan panorama yang begitu megah hingga menghadirkan sensasi haru dan kekaguman. Perpaduan warna, gerak, irama, dan bentang alam menciptakan pengalaman estetik yang sulit diungkapkan dengan kata-kata; sebuah momen yang membuat bulu kuduk meremang dan meninggalkan kesan mendalam bagi setiap pasang mata yang menyaksikannya.
Pertunjukan kolosal ini tidak hanya menunjukkan kemampuan artistik ribuan penari dalam menjaga keserempakan gerak, tetapi juga menjadi representasi nyata dari solidaritas, gotong royong, dan identitas budaya masyarakat Belu. Alam Fulan Fehan tidak lagi sekadar menjadi latar, melainkan menjadi bagian yang menyatu dengan koreografi. Padang savana, langit terbuka, angin pegunungan, irama Likurai, dan ribuan penari berpadu menjadi sebuah komposisi budaya yang menghadirkan pengalaman visual sekaligus emosional. Festival Fulan Fehan 2026 pun menjelma sebagai peristiwa budaya yang bukan hanya memecahkan skala pertunjukan, melainkan juga memperlihatkan bagaimana tradisi dapat hidup, berkembang, dan menggetarkan hati melalui kekuatan gerak, musik, dan kebersamaan, begitu sangat memukau, membuat merinding dan pecah airmata.
Sebanyak 25.000 masyarakat dari berbagai wilayah di Kabupaten Belu dan Nusa Tenggara Timur hadir. Ribuan pengunjung memenuhi lereng-lereng bukit lapis luar dan melingkar di sebrang lembah yang dipakai sebagai panggung penari dan mereka datang sejak pagi hari untuk menyaksikan pertunjukan budaya terbesar yang pernah digelar di kawasan perbatasan Indonesia -Timor Leste.
Keindahan lembah Fulan Fehan menjadi panggung alami yang sulit ditandingi. Perbukitan hijau, langit yang membiru dan membentang luas sejauh mata memandang, dan siluet Gunung Lakaan menghadirkan suasana spektakuler sekaligus magis yang membuat festival ini berbeda dari pertunjukan seni budaya pada umumnya. Tidak diperlukan panggung megah berbahan baja ataupun tata artistik buatan; alam menjadi panggung utama yang menyatu dengan gerak tubuh penari, hentakan kaki, tepukan Likurai sekaligus menjadi ajang pameran tenun terbanyak dari 3.900 yang dipakai oleh penari baik yang dikenakan sebagai sarung, selendang didada maupun yang digunakan sebagai property.
Festival dibuka secara resmi oleh Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian, didampingi Ketua Umum TP PKK Tri Tito Karnavian. Hadir pula Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena beserta istri, Wali Kota Darwin, Australia, serta Menteri Muda Bidang Kebudayaan Republik Demokratik Timor-Leste, bersama sejumlah pejabat nasional, daerah, tokoh adat, dan tamu internasional lainnya. Kehadiran para tamu kehormatan tersebut menunjukkan bahwa Festival Fulan Fehan telah berkembang menjadi agenda budaya yang memiliki perhatian nasional bahkan internasional.
Dalam sambutannya, Menteri Dalam Negeri mengungkapkan kekagumannya terhadap penyelenggaraan Festival Fulan Fehan. Menurutnya, selama ini ia sering menyaksikan pertunjukan kolosal di berbagai kota besar Indonesia yang menggunakan stadion atau panggung buatan manusia. Namun di Fulan Fehan, keagungan alam justru menjadi panggung utama yang menghadirkan pengalaman artistik yang sangat berbeda. Beliau menilai bahwa bentang alam Fulan Fehan merupakan anugerah luar biasa yang dimiliki masyarakat Belu. Perpaduan antara lanskap savana, budaya masyarakat adat, dan semangat persahabatan lintas negara menjadikan festival ini memiliki karakter yang unik dan layak dikembangkan sebagai festival budaya bertaraf internasional.
Pertunjukan utama festival menghadirkan ribuan penari dari empat kelompok etnis yang hidup berdampingan di Kabupaten Belu. Mereka bergerak serempak mengikuti irama musik tradisional dengan balutan kain tenun khas Belu yang berwarna-warni. Dari kejauhan, ribuan penari tampak membentuk gelombang warna yang menyelimuti hamparan padang rumput, menciptakan panorama yang memukau setiap pasang mata. Pertunjukan kolosal tersebut melibatkan representasi dari empat suku besar di Kabupaten Belu, yaitu: Suku Tetun, Suku Kemak, Suku Marae dan Suku Bunak.
Festival Fulan Fehan bukan sekadar pertunjukan tari kolosal, lebih dari itu, festival ini menjadi ruang diplomasi budaya yang mempertemukan Indonesia dengan negara-negara tetangga. Kehadiran delegasi dari Timor-Leste dan Australia memperlihatkan bahwa seni mampu menjadi bahasa universal yang membangun persahabatan, saling pengertian, dan kerja sama antarbangsa. Seperti tema besar yang digagas oleh koreografer Eko Supriyanto yang sekaligus menggarap festival ini bersama Ekosdance Company yang melibatkan beberapa guru tari dari Belu beserta Alumni dan Mahasiswa Program Pasca Sarjana ISI Surakarta bahwa; semangat “Dance for Friendship” mengandung pesan kuat bahwa keberagaman bukanlah sumber perpecahan, melainkan kekuatan untuk membangun persahabatan. Ribuan penari yang bergerak dalam satu irama menjadi simbol persatuan masyarakat yang hidup berdampingan di kawasan perbatasan. Seperti pada sinopsis yang dituliskan:
“Tanah perbatasan bukan sekedar garis di atas peta. Ia bukan tembok yang memisahkan darah, Bahasa, ingatan, dan persaudaraan. Di Rai Belu, Batas bukan akhir dari perjumpaan. Batas adalah ruang untuk saling menjaga, saling mengenal, dan saling merawat kehidupan.
Di bawah tatapan agung Gunung Lakaan, di atas bentangan hijau Sabana Fulan Fehan, hari ini ribuan tubuh berdiri sebagai saksi zaman. Mereka bukan hanya penari. Mereka adalah anak-anak tanah yang merawat dan pewaris ingatan leluhur, penjaga napas adat dan pembawa pesan persahabatan dan beranda terdepan Indonesia.
Rai Belu memanggil empat kekuatan besar tanah Belu: Tetun, Bunak, Kemak, dan dawan. Empat akar budaya, empat denyut kehidupan, empat suara yang hari ini tidak berdiri sendiri-sendiri. Tetapi bertemu dalam satu panggung alam, satu irama, satu getaran, dan satu janji bersama. Bersama saudara serumpun dari Timor Leste, mereka enegaskan bahwa persaudadaraan tidak pernah selesai hanya karena garis batas negara ditarik di atas tanah yang sama-sama kita cintai.
Melalui Kibasan Tais, hentaka kaki, suara music tradisi dan gerak ribuan tubuh, Fulan fehan menjelma menjadi altar kebudayaan Likurai, Bidu, Antama, Hatsoke, dan Tebe tidak lagi hadir sebagai tarian yang terpisah, melainkan sebagai Bahasa tubuh kolektif yang merajut ingatan, harga diri dan martabat masyarakat perbatasan.
Inilah “Rai Belu: The Guardians of Frienship”. Sebuah karya kolosal tentang tanah yang menjaga manusia, manusia yang menjaga budaya, dan budaya yang menjaga persahabtan. Dari sabana ini kita belajar bahwa kebudayaan bukan masal lalu yang tetapi kekuatan hidup yang terus bergerak, menari dan menyatukan.
Hari ini Rai Belu menjadi saksi. Di tanah perbatasan ini, ber-ribu tubuh berdiri tegak. Bukan untuk membangun jarak, tetapi untuk merayakan kedekatan. Bukan untuk menandai perbedaan, tetapi untuk merawat persaudaraan. Sebab persahabatan sejati mudah retak oleh waktu. Ia ditenun oleh ingatan, dijaga oleh adat, digerakkan oleh tubuh, dan diwariskan dari generasi ke generasi. “
Festival Fulan Fehan juga menjadi bukti bahwa wilayah perbatasan bukan lagi dipandang sebagai halaman belakang Indonesia, melainkan sebagai beranda depan bangsa yang menyimpan kekayaan budaya luar biasa. Melalui seni dan budaya, Belu memperlihatkan wajah Indonesia yang damai, ramah, dan penuh keberagaman.
Keberhasilan penyelenggaraan festival ini juga semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu festival budaya terbesar di Indonesia bagian timur. Dengan dukungan pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, Pemerintah Kabupaten Belu, masyarakat adat, komunitas seni, dan seluruh warga, festival ini diharapkan terus berkembang menjadi agenda budaya internasional yang mampu menarik wisatawan mancanegara sekaligus memperkuat diplomasi budaya Indonesia. Terdapat persembahan pula dua tarian dari Republik Demokratik Timor-Leste, tampak pula sebagai salah satu tamu kehormatan adalah Walikota Darwin, Australia.
Saat matahari mulai condong ke ufuk barat seiring kabut tipis turun dan cahaya keemasan menyelimuti Padang Savana Fulan Fehan, ribuan penari menutup pertunjukan dengan tarian persahabatan berbaur dengan tamu yang mengundang decak kagum seluruh penonton. Bukan saja tepuk tangan panjang yang menggema di seluruh lembah, tetapi juga sebagian mata berderai airmata karena haru menjadi penanda bahwa Festival Fulan Fehan 2026 bukan sekadar sebuah pertunjukan, melainkan sebuah perayaan identitas, persaudaraan, dan kebanggaan masyarakat Belu yang akan terus dikenang sebagai salah satu momentum budaya paling spektakuler di Indonesia.

Pemerintah Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur dan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta berkolaborasi mempersembahkan pagelaran “Menari Untuk Persahabatan” pada Festival Fulan Fehan 2026 (Dokumentasi-Fafa Utami).
Pemerintah Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur dan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta berkolaborasi mempersembahkan pagelaran “Menari Untuk Persahabatan” pada Festival Fulan Fehan 2026 (Dokumentasi-Fafa Utami).

Detil formasi ribuan penari yang mengalir keluar dari berbagai penjuru Bukit Fulan Fehan (Dokumentasi: Fafa Utami).
Likurai di Lembah Fulan Fehan dari Ritual ke Panggung Kolosal
Terdapat perjalanan panjang yang tidak terlihat oleh ribuan pasang mata yang memenuhi Padang Savana Fulan Fehan. Sorak-sorai penonton dan tepuk tangan yang mengiringi penampilan sekitar 3.900 penari sesungguhnya merupakan puncak dari proses kreatif, latihan, koordinasi, dan kerja kolektif yang berlangsung selama berbulan-bulan.
Tarian yang telah lama dikenal sebagai identitas budaya masyarakat Belu ini ditampilkan dalam format yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Dari sebuah tarian ritual yang tumbuh dalam ruang-ruang adat, tari Likurai dihadirkan dalam skala kolosal dengan ribuan penari yang bergerak serempak di atas bentang alam Fulan Fehan. Secara historis, tari Likurai merupakan bagian dari tradisi masyarakat Belu yang berkaitan dengan kehidupan sosial dan budaya. Tarian ini dikenal sebagai tarian penyambutan sekaligus memiliki akar dalam tradisi ritual masyarakat. Iringan tabuhan Tihar, gerak kaki yang ritmis, ayunan tubuh yang tegas, dan semangat kebersamaan menjadi ciri yang membedakan Likurai dari berbagai tari tradisional lainnya di Nusa Tenggara Timur.
Dalam penyajian tradisional, ruang pertunjukan Likurai relatif terbatas. Penari membentuk lingkaran atau barisan yang memungkinkan komunikasi langsung antar penari maupun dengan masyarakat yang menyaksikan. Namun, kondisi tersebut berubah ketika tari Likurai dipentaskan dalam Festival Fulan Fehan. Hamparan savana yang mencapai puluhan hektare menghadirkan tantangan artistik yang sama sekali berbeda. Koreografi tidak lagi disusun untuk puluhan penari, melainkan ribuan penari yang tersebar dalam formasi sangat luas. Bisa dibayangkan langkah kaki ribuan, teknik lari tetap sambil bergerak artistik untuk mencapai pola lantai tertentu.
Luasnya arena pertunjukan menjadi tantangan pertama yang harus dihadapi tim artistik. Jarak antar kelompok penari mencapai puluhan meter sehingga setiap perubahan formasi harus dihitung secara presisi. Gerakan yang dalam pertunjukan biasa dapat dikendalikan melalui aba-aba langsung, di Fulan Fehan memerlukan sistem koordinasi yang jauh lebih kompleks. Terlebih penari didukung dari berbagai daerah di Kabupaten Belu yang jaraknya satu hingga dua jam ke lembah Fulan Fehan.
Tim koreografer harus menyesuaikan desain gerak agar tetap dapat terbaca dari berbagai sudut pandang. Penonton yang berada di lereng bukit melihat pola lantai secara keseluruhan, sementara tamu undangan di area utama menikmati detail ekspresi para penari. Dengan demikian, koreografi tidak hanya mempertimbangkan keindahan gerak, tetapi juga keterbacaan visual dalam ruang terbuka yang sangat luas.
Tantangan berikutnya adalah proses latihan, ribuan penari yang terlibat berasal dari berbagai sekolah menengah, sanggar seni, komunitas budaya, hingga kelompok masyarakat dari berbagai kecamatan di Kabupaten Belu. Masing-masing memiliki pengalaman, kemampuan teknis, dan jadwal kegiatan yang berbeda. Menyatukan ribuan orang dalam satu koreografi memerlukan disiplin organisasi yang tinggi.
Selama masa persiapan, latihan dilakukan secara bertahap. Pada tahap awal, setiap sekolah berlatih secara mandiri berdasarkan materi gerak yang telah disusun oleh tim koreografer. Setelah seluruh peserta menguasai bagian masing-masing, latihan dilanjutkan dalam kelompok-kelompok besar sebelum akhirnya seluruh penari dipertemukan di lokasi pertunjukan. Koordinasi menjadi pekerjaan yang tidak sederhana. Jadwal latihan harus menyesuaikan kalender pendidikan, aktivitas masyarakat, serta kondisi geografis wilayah Belu yang cukup luas. Banyak peserta harus menempuh perjalanan panjang dari daerah asal menuju lokasi latihan bersama.
Di lapangan, tantangan teknis juga tidak kalah besar. Sistem tata suara harus mampu menjangkau seluruh arena sehingga aba-aba musik dapat terdengar hingga kelompok penari yang berada di bagian paling luar. Komunikasi antara koreografer, koordinator lapangan, dan pemimpin kelompok dilakukan melalui jaringan radio komunikasi serta penanda visual agar setiap perubahan formasi berlangsung serempak. Selain itu, kondisi alam Fulan Fehan menghadirkan dinamika tersendiri. Berbeda dengan pertunjukan di gedung atau stadion, seluruh proses latihan berlangsung di ruang terbuka yang sangat dipengaruhi cuaca.
Salah satu momen yang paling berkesan terjadi saat gladi bersih sehari sebelum festival. Ketika seluruh penari mulai memasuki formasi, kabut perlahan turun dari perbukitan dan menyelimuti lembah Fulan Fehan. Dalam waktu singkat, jarak pandang berkurang drastis. Kelompok-kelompok penari yang semula terlihat jelas berubah menjadi siluet-siluet samar di balik kabut putih yang bergerak perlahan mengikuti embusan angin yang lumayan kencang. Situasi tersebut memaksa tim pelaksana menghentikan latihan sejenak. Para koordinator memastikan seluruh peserta tetap berada pada posisi masing-masing sambil menunggu kabut mulai menipis. Meskipun sempat mengganggu proses gladi, suasana itu justru menghadirkan pengalaman yang tidak terlupakan.
Ketika kabut mulai terangkat dan sinar matahari perlahan menembus lembah, hamparan ribuan penari kembali tampak memenuhi savana. Pemandangan tersebut menghadirkan kesan dramatik yang membuat banyak peserta merasa seolah sedang menjadi bagian dari sebuah panggung alam yang hidup. Luar biasa .. !!
Pengalaman menghadapi perubahan cuaca itu menjadi pengingat bahwa Fulan Fehan bukan sekadar lokasi pertunjukan, melainkan ruang budaya yang memiliki karakter ekologisnya sendiri. Alam bukan hanya latar belakang pertunjukan, tetapi juga aktor yang ikut menentukan dinamika penyelenggaraan festival. Butuh strategi, butuh mengenal dan memahami bagaimana cuaca begitu tiba-tiba berubah.
Pada akhirnya, seluruh tantangan tersebut terbayar ketika hari pelaksanaan tiba. Ribuan penari mampu menampilkan Tari Likurai dengan disiplin, kekompakan, dan energi yang memukau. Dari kejauhan, gerak serempak para penari membentuk pola-pola visual yang berpadu harmonis dengan lanskap savana. Pertunjukan itu memperlihatkan bahwa tradisi dapat terus hidup melalui inovasi penyajian tanpa kehilangan akar budayanya.
Festival Fulan Fehan 2026 menjadi bukti bahwa Tari Likurai tidak hanya memiliki nilai sebagai warisan budaya masyarakat Belu, tetapi juga memiliki kapasitas untuk berkembang sebagai pertunjukan kolosal yang mampu menyatukan ribuan orang dalam satu ruang, satu irama, dan satu semangat kebersamaan. Di tengah bentang alam perbatasan Indonesia, tarian yang lahir dari tradisi itu tampil sebagai simbol ketahanan budaya, gotong royong, dan identitas masyarakat Belu yang terus hidup dari generasi ke generasi.

Rektor ISI Surakarta, koreografer Eko Supriyanto, tim Pascasarjana, Ekosdance Company pada saat gladi bersih Festival Fulan fehan 2026 Dokumentasi : Fafa Utami).
Membangun Festival dari Perbatasan: Ketika Komitmen Menjadi Fondasi Festival Fulan Fehan
Namun di balik pertunjukan spektakuler itu, terdapat proses panjang yang tidak pernah sederhana. Menyelenggarakan sebuah festival budaya di kawasan perbatasan dengan melibatkan sekitar 3.900 penari, ribuan pendukung, relawan, seniman, guru, pelajar, aparat keamanan, tenaga kesehatan, hingga masyarakat adat merupakan pekerjaan besar yang memerlukan tata kelola yang matang.
Festival Fulan Fehan bukan hanya sebuah pertunjukan seni. Ia merupakan proyek kolaborasi sosial yang mempertemukan pemerintah daerah, masyarakat adat, sekolah, komunitas seni, pelaku UMKM, tokoh agama, aparat keamanan, dan berbagai pemangku kepentingan dalam satu tujuan bersama, yaitu memperlihatkan wajah budaya Belu kepada Indonesia dan dunia.
Salah satu tantangan terbesar dalam penyelenggaraan festival berskala kolosal adalah pembiayaan. Festival budaya dengan ribuan penari tentu membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Mulai dari penyusunan konsep artistik, latihan yang berlangsung selama berbulan-bulan, transportasi peserta dari berbagai kecamatan, konsumsi, kostum, tata suara, dokumentasi, keamanan, kesehatan, hingga penataan kawasan festival menjadi komponen yang harus dipersiapkan secara cermat.

Puluhan ribu penonton – masyarakat yang berjajar melinkar mengitari lembah Fulan Fehan (Dokumentasi : Fafa Utami).
Di sisi lain, lokasi Festival Fulan Fehan yang berada di kawasan pegunungan juga menghadirkan tantangan tersendiri. Berbagai peralatan pertunjukan harus diangkut menuju kawasan savana yang relatif jauh dari pusat kota Atambua. Infrastruktur pendukung harus dipastikan mampu melayani puluhan ribu pengunjung tanpa mengurangi kenyamanan maupun keamanan selama acara berlangsung.
Dalam konteks seperti inilah, tata kelola penyelenggaraan menjadi faktor yang menentukan keberhasilan sebuah festival. Apa yang terjadi pada penyelenggaraan Festival Fulan Fehan 2026 tidak bisa kemudian diatur-atur menggunakan metode, SOP pada festival-festival yang selama ini dijalankan di kota-kota besar khususnya dalam penanganan garapan kolosal. Semua dilaksanakan sangat adaptif dan fleksibel serta kondisional. Pengelolaannya menggunakan kerangka Donald Getz (2020) dalam bukunya yaitu Event Studies: Theory, Research and Policy for Planned Events tentang penyelenggaran festival dengan collaborative governance. Kombinasi tersebut memungkinkan menganalisis dua dimensi sekaligus bagaimana tentang proses manajemen festival dan mekanisme kolaborasi antar aktor antar pemerintah, komunitas, seniman, sektor swasta, dan masyarakat yang menentukan keberhasilan tata kelola festival.
Panitia tidak hanya menyusun jadwal pertunjukan, tetapi juga membangun sistem koordinasi lintas sektor. Pemerintah daerah bekerja sama dengan perangkat kecamatan, pemerintah desa, sekolah, komunitas budaya, aparat TNI dan Polri, tenaga kesehatan, serta masyarakat sekitar agar setiap tahapan dapat berjalan sesuai rencana. Keberhasilan Festival Fulan Fehan menjadi bukti bahwa pengelolaan festival budaya tidak lagi dapat dilakukan secara sederhana. Dibutuhkan perencanaan, manajemen sumber daya manusia, komunikasi yang efektif, serta kemampuan membangun kemitraan dengan berbagai pihak.
Festival Fulan Fehan bukanlah kegiatan yang lahir dalam waktu singkat. Perjalanannya menunjukkan bagaimana sebuah gagasan budaya memerlukan konsistensi agar dapat tumbuh menjadi agenda yang dikenal luas. Sejak pertama kali diselenggarakan pada 2017, Festival Fulan Fehan mulai memperkenalkan potensi kawasan savana sebagai panggung budaya terbuka. Penyelenggaraan berikutnya pada 2019 memperlihatkan peningkatan partisipasi masyarakat sekaligus memperluas perhatian publik terhadap destinasi wisata budaya Belu.
Memasuki 2021, penyelenggaraan festival menghadapi berbagai tantangan akibat situasi global pada masa itu. Meskipun demikian, semangat untuk menjaga keberlanjutan festival tetap dipelihara oleh pemerintah daerah bersama masyarakat. Perjalanan tersebut kemudian berlanjut hingga penyelenggaraan berikutnya, yang kembali memperlihatkan tekad masyarakat Belu untuk mempertahankan Festival Fulan Fehan sebagai ruang ekspresi budaya sekaligus media promosi daerah.
Rangkaian penyelenggaraan dari waktu ke waktu menunjukkan bahwa sebuah festival budaya tidak hanya ditentukan oleh kemeriahan acara pada hari pelaksanaan, tetapi juga oleh kemampuan seluruh pemangku kepentingan menjaga keberlanjutannya.
Komitmen dan gotong royong menjadi modal utama berbeda dengan gaya pengelolaan misalnya Gandrung Sewu di Kabupaten Banyuwangi, 1000 Gambyong yang pernah diadakan di Kota Solo atau Banyumas dengan 10.000 Lengger atau bentuk-bentul festival yang menghadirkan garapan secara kolosal.
Di bawah kepemimpinan Bupati Belu Willybrodus Lay, pembangunan daerah tidak hanya diarahkan pada aspek fisik dan ekonomi, tetapi juga memberikan ruang bagi penguatan identitas budaya masyarakat Belu. Berbagai potensi budaya dipandang sebagai aset strategis yang dapat memperkuat karakter daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Komitmen tersebut tidak berhenti pada penyelenggaraan festival semata. Pemerintah Kabupaten Belu juga mendorong pengembangan berbagai potensi budaya lain, seperti pelestarian rumah adat, penguatan seni pertunjukan tradisional, pengembangan kain tenun khas Belu, pemberdayaan perajin lokal, serta pembinaan generasi muda melalui kegiatan seni dan budaya.
Pendekatan ini memperlihatkan bahwa kebudayaan dipandang sebagai bagian dari pembangunan daerah, bukan sekadar pelengkap kegiatan seremonial. Festival Fulan Fehan juga memperlihatkan bagaimana budaya dapat menjadi penggerak ekonomi masyarakat.
Setiap penyelenggaraan festival selalu diikuti meningkatnya aktivitas pelaku usaha lokal. Para penenun memperoleh kesempatan memperkenalkan karya mereka kepada pengunjung, sementara produk-produk kerajinan tangan, kuliner tradisional, dan hasil usaha masyarakat memperoleh ruang promosi yang lebih luas. Bagi masyarakat Belu, tenun bukan sekadar kain, melainkan identitas yang diwariskan turun-temurun. Demikian pula dengan Tari Likurai, musik tradisional, ritual adat, hingga berbagai bentuk ekspresi budaya lainnya. Keseluruhannya membentuk ekosistem budaya yang saling mendukung dan memperkuat daya tarik daerah.
Melalui festival, seluruh potensi tersebut dipertemukan dalam satu ruang sehingga menciptakan pengalaman budaya yang utuh bagi setiap pengunjung.
Gotong Royong Menjadi Nafas Menatap Masa Depan Festival Fulan Fehan
Keberhasilan Festival Fulan Fehan 2026 menjadi modal penting bagi pengembangan festival pada masa mendatang. Tantangan berikutnya bukan hanya menghadirkan pertunjukan yang lebih besar, tetapi juga memastikan tata kelola festival semakin profesional, berkelanjutan, dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Penguatan kemitraan dengan pemerintah pusat, sektor swasta, perguruan tinggi, komunitas budaya, dan jejaring internasional menjadi langkah strategis agar festival ini terus berkembang sebagai agenda budaya unggulan kawasan timur Indonesia.
Lebih dari itu, Festival Fulan Fehan telah menunjukkan bahwa dari sebuah kawasan perbatasan dapat lahir sebuah peristiwa budaya yang menyatukan ribuan orang, memperkenalkan kekayaan tradisi kepada dunia, sekaligus menggerakkan ekonomi lokal. Di tengah hamparan savana yang membentang luas, Festival Fulan Fehan bukan sekadar panggung pertunjukan. Ia telah menjadi simbol optimisme bahwa budaya mampu menjadi fondasi pembangunan, memperkuat identitas daerah, serta membangun masa depan Belu melalui warisan yang dimiliki masyarakatnya sendiri.
Jika ada satu kata yang mampu menjelaskan keberhasilan Festival Fulan Fehan 2026, maka saya menyebutkan kata itu adalah gotong royong. Festival budaya berskala kolosal yang melibatkan sekitar 3.900 penari dan disaksikan puluhan ribu masyarakat tidak mungkin diwujudkan hanya oleh satu institusi. Ia lahir dari kerja bersama yang mempertemukan pemerintah, masyarakat, dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas seni, dan para relawan dalam semangat yang sama: menjaga sekaligus memperkenalkan kebudayaan Belu kepada dunia.
Di balik megahnya pertunjukan yang berlangsung di Padang Savana Fulan Fehan, terdapat ribuan tangan yang bekerja tanpa banyak terlihat. Ada yang mengatur lalu lintas, menyiapkan panggung alam, memastikan pelayanan kesehatan tersedia, mengatur konsumsi peserta, membersihkan kawasan festival, hingga mengoordinasikan ribuan penari agar dapat tampil dalam satu irama. Semua itu berlangsung melalui kerja kolektif yang terbangun atas dasar saling percaya dan saling mendukung.
Pemerintah Kabupaten Belu menjadi motor penggerak utama yang mengonsolidasikan berbagai sumber daya. Namun keberhasilan festival tidak hanya ditentukan oleh pemerintah daerah semata. Berbagai pihak hadir memberikan kontribusi sesuai dengan kapasitas dan tanggung jawab masing-masing.

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian bersama Gubernur Nusa Tenggara Timur menutup pertunjukan dengan menyanyikan lagu karya Iwan Fals berjudul Dibawah Tiang Bendera, yang mengiringi langkah para penari memasuki arena sambil mengibarkan bendera Indonesia, Timor-Leste, dan Australia. Adegan penutup ini menjadi simbol kuat persahabatan lintas negara, sekaligus menegaskan Festival Fulan Fehan sebagai ruang diplomasi budaya yang mempertemukan masyarakat melalui seni, tradisi, dan semangat kebersamaan (Dokumentasi : Fafa Utami).
Dukungan dari pemerintah pusat melalui berbagai kementerian menjadi bagian penting dalam memperkuat posisi Festival Fulan Fehan sebagai agenda budaya nasional. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur juga memberikan dukungan sehingga penyelenggaraan festival tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Belu, tetapi juga menjadi representasi kekayaan budaya NTT.
Peran dunia usaha melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) turut memberikan kontribusi terhadap penyelenggaraan festival. Dukungan tersebut menjadi salah satu sumber penguatan pembiayaan, mengingat penyelenggaraan festival berskala besar memerlukan sumber daya yang tidak sedikit. Keterlibatan sektor swasta memperlihatkan bahwa pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama yang dapat dilakukan melalui kemitraan yang saling menguntungkan.
Di tingkat pemerintah daerah, hampir seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) bekerja secara terpadu. Dinas yang membidangi kebudayaan menjadi garda depan dalam penyusunan konsep artistik dan koordinasi kegiatan. Dinas Kesehatan memastikan kesiapan layanan medis, ambulans, tenaga kesehatan, serta pos-pos pertolongan bagi peserta maupun pengunjung. Sementara itu, Dinas Perhubungan mengatur rekayasa lalu lintas, pengelolaan area parkir, serta mobilitas kendaraan menuju kawasan Fulan Fehan yang dipadati puluhan ribu orang. Pada saat yang sama, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) berperan dalam memastikan akses menuju lokasi festival dapat dilalui dengan aman dan nyaman, termasuk penataan kawasan pendukung yang diperlukan selama penyelenggaraan.
Penyelenggaraan festival jelas tidak dapat diselenggarakan oleh satu organisasi saja, tetapi merupakan hasil kerja sama (co-production) berbagai stakeholder yang saling bergantung. Keberhasilan festival ditentukan oleh kemampuan pengelola membangun kolaborasi, kepercayaan, pembagian peran, dan tujuan bersama antar-stakeholder. Ada istilah stakeholder collaboration, stakeholder engagement, stakeholder participation, co-production, stakeholder networks yang jelas melibatkan masyarakat adat, pemerintah daerah, sanggar seni, sekolah, pelaku UMKM, sponsor, media, perguruan tinggi. Seperti pendapat Donald Getz & Mathilda van Niekerk (2019) dalam Event Stakeholders: Theory and Methods for Event Management and Tourism.
Koordinasi lintas sektor tersebut menunjukkan bahwa sebuah festival budaya pada hakikatnya merupakan kerja multidisiplin. Seni pertunjukan menjadi wajah yang tampak di permukaan, tetapi keberhasilannya ditopang oleh sistem manajemen yang melibatkan berbagai bidang sekaligus. Namun, seluruh dukungan kelembagaan tersebut tidak akan berarti tanpa keterlibatan masyarakat. Dan sesungguhnya, saya menyebutkan bahwa aktor utama Festival Fulan Fehan adalah masyarakat Belu itu sendiri.
Sekitar 3.900 penari yang memenuhi hamparan savana berasal dari berbagai sekolah, sanggar seni, komunitas budaya, serta kelompok masyarakat dari berbagai wilayah di Kabupaten Belu. Mereka datang bukan sebagai penampil profesional yang dibayar untuk sebuah pertunjukan, melainkan sebagai bagian dari masyarakat yang ingin menjaga dan merayakan identitas budayanya. Bahkan rela untuk datang dari jauh menginap di sekolah-sekolah dekat Fulan Fehan bahkan mereka membayar iuran untuk biaya rias dan lain-lain.
Berbulan-bulan mereka mengikuti latihan di sela-sela aktivitas sekolah dan guru-guru mendampingi peserta didik berlatih, orang tua memberikan dukungan, para pelatih meluangkan waktu untuk membina, sementara tokoh-tokoh adat terus memastikan bahwa nilai-nilai budaya yang diwariskan tetap terjaga dalam setiap gerak tari yang dipentaskan.
Kerja sama dengan Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta memberikan penguatan pada aspek konseptual, artistik, serta pengembangan model pertunjukan kolosal yang tetap berpijak pada nilai-nilai budaya lokal. Pendekatan akademik tersebut membantu proses dokumentasi, pengkajian, hingga pengembangan koreografi sehingga festival tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Kolaborasi tersebut diperkuat dengan keterlibatan Universitas Pertahanan Kampus Atambua, yang turut memberikan dukungan melalui perspektif akademik, pengabdian kepada masyarakat, serta penguatan jejaring kelembagaan. Sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan perguruan tinggi menunjukkan bahwa kebudayaan dapat menjadi ruang temu antara praktik sosial dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Keterlibatan kalangan akademisi juga memiliki arti penting dalam mendokumentasikan proses kreatif, mengevaluasi penyelenggaraan festival, serta merumuskan model tata kelola yang dapat menjadi rujukan bagi penyelenggaraan festival budaya di daerah lain. Dengan demikian, Festival Fulan Fehan tidak hanya menghasilkan sebuah pertunjukan yang mengesankan, tetapi juga melahirkan pengetahuan baru mengenai pengelolaan festival budaya berbasis masyarakat.
Pada akhirnya, keberhasilan Festival Fulan Fehan 2026 menunjukkan bahwa pembangunan kebudayaan tidak dapat dibebankan kepada satu pihak saja. Ia tumbuh dari semangat gotong royong, dari kesediaan berbagai elemen untuk bergandengan tangan, berbagi peran, dan saling menguatkan.
Festival Fulan Fehan menjadi bukti bahwa kekuatan terbesar sebuah daerah bukan semata-mata terletak pada sumber daya alam yang dimilikinya, melainkan pada kemampuan masyarakatnya membangun kolaborasi. Dari semangat gotong royong itulah lahir sebuah festival yang tidak hanya membanggakan Kabupaten Belu, tetapi juga memperlihatkan kepada Indonesia dan dunia bahwa kebudayaan adalah kekuatan yang mampu menyatukan, menggerakkan, dan menginspirasi.
Dan keberhasilan sebuah festival tidak melulu diukur dari jumlah yang terlibat, pengunjung yang menyaksikan tetapi juga dampak budaya, social, ekonomi, dan keberlanjutannya.
—
*Fafa Utami : Dr. Fawarti Gendra Nata Utami, S.Sn., M.Sn adalah Koordinator Program Seni Program Doktor pada Institut Seni Indonesia Surakarta sekaligus pengamat dan peneliti Tata Kelola Festival di Indonesia





