Film Tari, Membaca Kebudayaan
Oleh: Purnawan Andra*
Di masa kini, penyebaran unsur-unsur kebudayaan berlangsung sangat cepat, salah satunya melalui film. Film bukan hanya sebagai representasi, tetapi juga pengalaman dan tindakan melihat. Film menjadi tindakan melihat (act of viewing) dunia seperti yang terlihat, juga sebuah kemampuan (faculty) yang mampu menjembatani dua cara melihat dunia, antara satu cara yang berdasar pada pemikiran-representasi dan cara lain yang bersandar pada praktik-pengalaman. (Marleau-Ponty dalam Fauzanafi, 2005).
Kemampuan kamera untuk mengangkat, merendahkan, menginterupsi, mempercepat, mereduksi dan membesarkan obyek-obyek di sekitarnya mampu mengantarkan pada berbagai hal yang selama ini tidak disadari oleh penglihatan (unconscious optics). Kamera bekerja seperti dokter yang membedah dan membongkar tubuh manusia. Kamera dalam hal ini menjadi bagian dan kepanjangan tubuh si pembuat film untuk “menyentuh” dan “membuka” persepsi baru tentang dunia.
Maka jika obyek yang diambil adalah seni pertunjukan, ia bisa menjadi dokumentasi seni. Pengembangan kajian sinema yang berbasis beragam ekspresi seni lain dalam mengungkap fungsi dan sistem tanda seni sebagai ekspresi sinematografis, sesungguhnya bisa menjadi bidang baru yang memberi angin segar bagi peragaman studi-studi ilmu budaya. Sinema bisa menjadi sebuah bangunan logika, konstruksi psikologi, persepsi dan teori budaya.
Kreasi Bentuk Seni
Kini telah lahir bentuk seni baru akibat peleburan kreatif antara tari dan media yang dikenal sebagai film tari (dancefilm). Menurut Rhoda Grauer, di Amerika Serikat kehadiran film tari baru saja muncul pada dekade 1960-an. Amerika sebagai salah satu perintis tari modern lewat nama-nama besar seperti Isadora Duncan pada 1920-an, baru meluncurkan sebuah festival film tari yang dinamai Dance on Camera pada 1971. Namun, eksistensi festival ini baru “diakui” secara internasional pada 1999 (Utari, 2005).
Sebagai genre, film tari (Rhoda Grauer menyebutnya dancevideo) merupakan kreasi lengkap bentuk seni yang mengeksplorasi disiplin baru dan tidak semata-mata kemampuannya dalam mendokumentasikan apapun secara audio visual. Filmografi itu sendiri hanya mungkin diapresiasi secara artistik karena sifat-sifat produksi sekunder, bahkan tersier.
Menurut Erin Brannigan, kurator festival film tari ReelDance International Dance on Screen, disatu sisi dancefilm menegaskan eksistensi penari sebagai performer. Penonton mungkin tidak bisa ikut bergerak dengan penari, tetapi mereka bisa melihat dari dekat peluh, ekspresi wajah, tarikan nafas penari dengan lebih tajam dan cermat. Gerak tubuh penari menjadi optimal dengan juga akan mengedepankan penekanan terhadap kinestetika (estetika gerak) yang berujung pada sebuah komunikasi kinestetis.
Langer (1988) menyebutnya sebagai citra dinamis, bahwa apa yang terpancar dari gerak tari lewat tubuh adalah suatu fenomena atau perwujudan dari laku yang secara tepat meyakinkan bagi persepsi audience, tidak melalui materi-materi fisik, maupun elemen-elemen seni pertunjukan (kostum, tata rias, tata cahaya, tata panggung dan lainnya).
Film tari bukan semata-mata film tentang (dokumentasi) tari. Lebih dari itu, yakni sebuah format sinematografi yang dituturkan lewat kreasi dancing bodies, pola musikal, efek audio-visual dan teknologi secara proporsional. Ia lahir sebagai bentuk sinema yang mencari cara baru memahami kebudayaan. Ketika film naratif cenderung menjelaskan budaya melalui cerita, tokoh, dan dialog, film tari justru membacanya melalui tubuh, ruang, ritme, dan gerak. Karena itu, film tari mampu menghadirkan lapisan-lapisan budaya yang sering luput dari sinema konvensional.
Dari perspektif embodied spectatorship, film tari mengajak penonton tidak hanya “melihat” tetapi juga “merasakan” gerak melalui tubuh mereka sendiri. Kamera yang bergerak mengikuti napas penari atau membingkai detail tangan yang meraba udara menciptakan ilusi kedekatan emosional yang jarang dicapai di panggung.
Membicarakan Kebudayaan
Ada sesuatu yang menarik pada banyak film tari mutakhir. Semakin jauh ia bergerak dari sekadar menampilkan tari, semakin dekat ia dengan persoalan-persoalan kebudayaan. Mengapa ketika sineas ingin berbicara tentang identitas, sejarah, ruang, atau masyarakat adat, sebagian dari mereka justru memilih film tari? Apa yang dimiliki film tari sehingga mampu mengungkap lapisan kebudayaan yang sering luput dari sinema naratif?
Bisa jadi karena film naratif bekerja melalui cerita. Cerita membutuhkan tokoh, konflik, dialog hingga alur. Akibatnya, kebudayaan sering hadir sebagai latar, kostum, adat, atau identitas tokoh. Dengan kata lain, budaya menjadi sesuatu yang diceritakan. Padahal, kebudayaan tidak selalu bekerja seperti itu.
Kebudayaan pertama-tama bekerja melalui tubuh. Budaya mengatur cara berjalan, cara duduk, cara menyapa, cara berkabung, cara menyentuh, cara menjaga jarak, hingga cara bergerak. Artinya, budaya sebenarnya adalah pola gerak.
Pada saat yang sama, budaya juga tidak hidup pertama-tama pada benda. Bukan pada rumah adat, pada batik, atau candi. Tapi pada cara tubuh memakai semuanya. Rumah adat tanpa tubuh hanyalah bangunan. Batik tanpa tubuh hanyalah kain. Candi tanpa tubuh hanyalah batu. Budaya baru hidup ketika tubuh menghidupkannya.
Karena itu, ketika film ingin memahami kebudayaan secara lebih dalam, yang harus dibaca bukan hanya ceritanya, tapi tubuhnya. Juga ketika semakin kompleks persoalan kebudayaan, makansemakin kita membutuhkan film yang tidak tergesa-gesa menjelaskan. Di sinilah film tari menjadi relevan. Jika film naratif menceritakan kebudayaan, maka film tari memperlihatkan bagaimana kebudayaan bekerja.
Tubuh sebagai Alat Observasi
Film tari mengubah posisi tari bukan lagi pertunjukan, tapi metode membaca budaya. Ia menjadi penting karena tidak memakai tari sebagai hiburan. Ia memakai tubuh sebagai alat observasi. Karena tubuh menyimpan ingatan, nilai, kuasa, identitas, bahkan konflik.
Contohnya seperti film And Then We Danced (2019) karya Levan Akin (Swedia/Georgia), yang memperlihatkan bahwa tubuh penari menjadi ruang tempat nilai-nilai tentang maskulinitas, patriotisme, dan tradisi diproduksi dan dipertahankan. Film yang premier di Directors’ Fortnight, Cannes Film Festival dengan standing ovation sekitar 15 menit, juga dipilih sebagai wakil Swedia untuk kategori Best International Feature di Academy Awards seperti hendak menyampaikan bahwa maskulinitas ternyata adalah koreografi budaya.

Sumber foto: imdb.com

Sumber foto: abc.com
The Ferryman (2016, Prancis) menyajikan eksplorasi koreografer Belgia-Prancis Damien Jalet atas lanskap dan budaya Bali, Jepang, Skotlandia, dan Prancis untuk menyelidiki hubungan manusia dan alam. Ia memaknai praktik modern ritus dan upacara lama untuk membayangkan kemungkinan tentang bagaimana sejarah melintasi waktu. Film ini memperlihatkan bahwa film tari mampu menghadirkan pengalaman spiritual dan ekologis tanpa harus menjelaskannya lewat dialog karena seluruh narasi dibangun melalui gerak tubuh, lanskap, dan ritus.


Sumber foto: damienjalet.com
Karya-karya dari Indonesia, ada Exodus (Wanita yang Berlari) (2003) karya koreografer Chendra Effendy Panatan dan sutradara Singapura, Sherman Ong. Inilah tonggak awal dance film kontemporer Indonesia, bahkan dalam sejarah film tari Indonesia, Exodus hampir selalu disebut sebagai salah satu karya pertama yang secara sadar menggarap format dance film, bukan dokumentasi tari. Setelah itu, Chendra bahkan menyelenggarakan festival Dance(E)Motion, yang menjadi salah satu upaya awal membangun ekosistem film tari di Indonesia.


Sumber foto: https://www.berlinale-talents.de/
Film berdurasi sekitar 30 menit ini berkisah mengenai hubungan emosional dua perempuan dan seorang laki-laki. Tetapi ceritanya hampir seluruhnya dibangun melalui koreografi, musik Jawa, gerak tubuh, dan komposisi visual, bukan dialog yang dominan. Latar budaya Jawa menjadi atmosfer yang sangat kuat, sementara relasi antartokohnya disampaikan lewat tubuh dan gerak.
Exodus menciptakan koreografi khusus untuk kamera. Artinya, kamera sejak awal dianggap bagian dari koreografi. Ini yang sekarang menjadi ciri utama dance film.
Film ini diputar di berbagai festival internasional, seperti International Film Festival Rotterdam, Bangkok International Film Festival, Barcelona Film Festival, Los Angeles Film Festival juga memperoleh Special Jury Prize di Malaysia Video Awards 2004, Best Experimental Film pada 6th International Panorama of Independent Filmmakers di Yunani dan Special Jury Prize pada Hong Kong International Film Festival.
Ada lagi Suku Yola (2011), koreografer dan sutradara Yola Yulfianti. Berbeda dengan Exodus sebagai tonggak dance film, maka Suku adalah eksperimen akademik yang memperluas kemungkinan dance film di Indonesia dengan mampu menunjukkan bahwa batas antara koreografer dan pembuat film mulai mencair.

Sumber foto: Youtube.com
Yang menarik dari Suku Yola bukan cerita, tapi idenya. Film ini menggunakan tubuh untuk membicarakan identitas, akar budaya, hubungan manusia dengan komunitas, dan jejak-jejak tradisi. Artinya, suku dipahami bukan sebagai kategori etnografis, tetapi sebagai pengalaman tubuh. Suku memperlihatkan arah baru film tari Indonesia dengan mulai bergerak ke wilayah identitas budaya, tubuh kolektif, dan refleksi antropologis.
Pendekatan berbeda terlihat di Mahendraparvata (2022) karya dramaturg Seno Joko Suyono produksi Borobudur Writers & Cultural Festival (BWCF). Film ini mempertemukan dua penari dari Jawa dan Kamboja di situs-situs arkeologis seperti Phnom Kulen dan Borobudur. Di sini, gerak menjadi percakapan lintas peradaban. Kamera merekam kaki menapak batu berusia ratusan tahun, membangun narasi tentang akar budaya yang terhubung dan warisan yang masih hidup.
Dengan bertutur melalui tari sebagai bahasa utama, ia juga membawa narasi sejarah, metafora, semi dokumenter dan dramaturgi yang menjadikannya sebuah dance film dengan pendekatan sinematik-dokumenter dan naratif. Tubuh menjadi medium untuk menghubungkan candi, topeng, sungai, dan memori Asia Tenggara dengan tidak dijelaskan lewat narasi verbal, tapi dihadirkan sebagai pengalaman visual dan kinestetik.


Sumber foto: BWCF
| Film | Yang Dibaca melalui Tubuh |
| And Then We Danced | mengkritik tradisi |
| Body-Buildings | membaca ruang modern |
| The Ferryman | mengalami relasi kosmologis manusia dengan alam |
| Exodus | menggunakan tubuh untuk membaca relasi antarmanusia dan hasrat |
| Suku Yola | membicarakan identitas, akar budaya, hubungan manusia dengan komunitas, dan jejak-jejak tradisi |
| Mahendraparvata | menghubungkan memori sejarah, arkeologi dan lanskap peradaban |
Dengannya, Mahendraparvata bukan sekadar contoh film tari Indonesia. Ia menawarkan kontribusi yang berbeda: film tari sebagai bentuk arkeologi sinematik, yakni ketika koreografi dipakai untuk menggali, menghubungkan, dan menghidupkan kembali jejak-jejak sejarah yang tidak disampaikan melalui eksposisi, melainkan melalui perjumpaan tubuh dengan situs, artefak, dan ruang. Mahendraparvata menjadi contoh yang menunjukkan bahwa film tari Indonesia juga sedang mengembangkan bahasa sinematiknya sendiri.
Semua contoh tersebut membuktikan satu hal yaitu film tari tidak sedang memakai budaya sebagai tema. Ia sedang memakai tubuh untuk membaca budaya.
Tubuh adalah Bahasa
Dengannya, film tari sesungguhnya memperluas kemungkinan sinema. Ia menunjukkan bahwa budaya bukan hanya sesuatu yang dapat diceritakan. Ada bagian-bagian budaya yang hanya bisa dipahami ketika tubuh menjadi bahasa. Karena tubuh menyimpan sesuatu yang sering gagal diterjemahkan oleh dialog.
Di sisi lain, film tari mengingatkan bahwa sinema tidak hanya bertugas menceritakan dunia, tetapi juga menghadirkan cara dunia itu dialami. Ketika tubuh, ruang, dan gerak menjadi pusat pengucapan, kebudayaan tidak lagi tampil sebagai latar cerita, melainkan sebagai pengalaman yang hidup di hadapan penonton.
Mungkin di situlah relevansi film tari hari ini. Bukan karena ia menghadirkan gerak yang indah, tetapi karena ia mengingatkan sinema pada sesuatu yang paling mendasar yaitu bahwa kebudayaan tidak pertama-tama hidup dalam cerita, melainkan dalam tubuh yang bergerak. Ketika tubuh menjadi bahasa sinema, film tidak lagi sekadar menceritakan kebudayaan. Ia memperlihatkan bagaimana kebudayaan bekerja.
*Purnawan Andra, alumnus Jurusan Tari ISI Surakarta, bekerja di Ditjen Pengembangan, Pemanfaatan & Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan




