Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.
BALADA SULUK ABDUL JALIL
pasar hampir selesai siang
matahari tergantung
di atas pohon asam
debu jalan
masih menempel
pada kaki orang-orang
yang pulang membawa
garam
cabai
dan beras
seekor anjing tidur
di bawah gerobak kosong
lalat berputar
di kulit nangka
yang terbelah
tidak ada yang aneh
semua berjalan
seperti biasanya
namun di tengah hiruk itu
seorang lelaki duduk
di dekat sumur tua
ia memandang air
air memandang langit
dan langit
jatuh perlahan
ke dalam air
entah yang mana bayangan
entah yang mana wajah
angin lewat
daun asam jatuh
ke permukaan sumur
lingkar-lingkar kecil bergerak
lalu hilang
seperti nama manusia
yang sebentar muncul
di dunia
kemudian tenggelam
ke dalam waktu
“Sira iku sejatine Allah”
kalimat itu jatuh
pelan
seperti biji asam
yang lepas dari tangkainya
tidak meledak
tidak mengguncang bumi
hanya masuk
ke dalam dada orang-orang
yang lama mengira
dirinya berdiri sendiri
pasar masih berlangsung
seorang perempuan
menakar beras
seorang lelaki
mengikat tali kambing
seorang anak
mengejar layang-layang putus
namun segala sesuatu
terasa saling meminjam wujud
angin meminjam daun
daun meminjam ranting
ranting meminjam pohon
pohon meminjam tanah
dan tanah
diam-diam meminjam hujan
tidak ada yang benar-benar memiliki dirinya
seperti air sumur
yang selalu tampak tinggal
padahal terus bergerak
ke tempat yang tidak terlihat
dari langgar dekat pasar
suara orang mengaji
lewat bersama angin
tipis
seperti asap kayu bakar
yang naik dari dapur-dapur kampung
sebentar terdengar
sebentar hilang
di sela daun asam
orang-orang tidak berhenti bekerja
seorang pedagang
masih menata karung beras
seorang ibu
masih memilih cabai
seorang anak
masih berlari
di tepi jalan tanah
tetapi ada sesuatu
yang bergerak pelan
di dalam dada mereka
seperti air sumur
yang disentuh daun jatuh
di bawah pohon asam
lelaki itu masih duduk
air sumur masih menyimpan langit
dan langit masih menyimpan air
tak ada yang lebih tinggi
tak ada yang lebih rendah
seperti wajah
yang bertemu bayangannya sendiri
lalu lupa
siapa yang sedang melihat
dan siapa yang dilihat
petang turun perlahan
pasar kehilangan suaranya
debu mulai diam
burung-burung pulang
ke ranting yang sama
asap dapur naik
dari rumah-rumah bambu
sementara jalan tanah
tetap terbuka
bagi langkah yang datang
dan langkah yang pergi
orang-orang pulang
membawa keranjang kosong
membawa tubuh yang letih
membawa nama-nama
yang sejak pagi dipanggil
namun petang itu
nama terasa lebih ringan
seperti daun asam
yang jatuh
dan hanyut
di permukaan air
Abdul Jalil tidak tinggal
pada nama
ia tinggal
seperti air di dalam sumur
yang tidak pernah berkata
bahwa ia ada
yang tidak pernah meminta
untuk dipuji
yang tidak pernah berjalan
mencari pengikut
tetapi selalu memberi minum
kepada siapa saja
yang menundukkan wajahnya
malam turun
ke pohon asam
ke bibir sumur
ke jalan tanah
ke pasar yang sepi
ke kandang kambing
ke atap-atap rumah
dan ke dada manusia
yang perlahan belajar
bahwa air
tidak menjadi jernih
karena memuji dirinya sendiri
dan sumur
tidak menjadi dalam
karena menyebut kedalamannya
bahwa yang dekat
tidak selalu dapat digenggam
bahwa yang memberi hidup
sering tidak menyebut namanya
seperti air
yang diam di bawah tanah
namun mengalir
ke mana-mana
2026
BALADA KIDUNG SAHADAT SAJATI
pagi belum selesai
di pelabuhan Cirebon
perahu-perahu kayu
masih bergoyang pelan
di antara air pasang
tali tambang basah
menempel pada tiang dermaga
bau ikan asin
bercampur bau terasi
dan angin laut
yang datang dari jauh
burung-burung pantai
berputar rendah
di atas keranjang
hasil tangkapan
para nelayan turun
memanggul jaring
memikul laut
yang semalaman melekat
di pundak mereka
air menetes
dari tali
dari jaring
dari ujung dayung
lalu jatuh
ke papan dermaga
yang telah lama mengenal
langkah manusia
tak jauh dari pelabuhan
pasar mulai membuka dirinya
tikar digelar
keranjang diturunkan
ikan, garam, beras, cabai
dan minyak kelapa
berpindah tangan
seorang perempuan
menakar beras
seorang lelaki tua
mengikat kembali tali pikulannya
seorang anak
membawa ember kecil
berisi ikan yang masih bergerak
suara tawar-menawar, naik turun
seperti ombak kecil
yang menyentuh tepian
sementara dari arah keraton
matahari pagi
jatuh di dinding bata
menyentuh ukiran kayu
menyentuh pintu-pintu tua
yang sejak lama
membuka jalan
bagi banyak langkah
keraton tidak berdiri
jauh dari rakyat
bau laut masuk
ke halaman-halamannya
suara pasar masuk
ke serambinya
dan angin pesisir
menggerakkan tirai-tirai kayu
seperti tangan tak terlihat
yang terus menghubungkan
laut, pasar, dan doa
di sebuah tajug
lampu minyak yang semalam menyala
masih menyisakan bau jelaga
tikar pandan terbentang
tiang-tiang kayu
menyimpan dingin subuh
beberapa orang duduk
tanpa tergesa
mendengarkan kidung
yang mengalir pelan
lebih pelan daripada angin laut
lebih pelan daripada air pasang
“liwang liwung
randuk kurung
gunung sembung”
suara itu bergerak
melewati serambi
melewati halaman
melewati pagar
lalu turun
ke jalan-jalan kampung
seperti air
yang mencari tempat rendah
“taming ana pasangane damar
pangoning lingging
korsi gading gilang kencana”
damar menyala
cahayanya kecil
namun cukup
untuk mengenalkan wajah
cukup
untuk membedakan jalan
dan jurang
cukup
untuk membuat manusia
ingat arah pulang
sementara laut
terus mengirim baunya
ke pasar
ke keraton
ke rumah-rumah bambu
yang berdiri
di sepanjang pesisir
“samue sahadat iman
tekene sahadat sajati”
syahadat tidak tinggal di mulut
ia turun
ke telapak tangan
yang mengangkat jaring
ke pundak
yang memikul garam
ke timbangan
yang dijaga tetap lurus
ke periuk
yang menyisakan nasi
untuk tetangga
orang-orang tidak banyak
membicarakannya
mereka hidup di dalamnya
seperti ikan hidup di dalam laut
tanpa setiap saat menyebut nama air
matahari bergerak naik
pasar semakin ramai
namun tidak semua yang datang
membawa uang
ada yang datang membawa harapan
ada yang datang membawa kebutuhan
ada yang datang membawa lapar
dan di antara mereka
selalu ada tempat bagi yang lemah
selalu ada ruang bagi yang kekurangan
“ingsun titip tajug
lan fakir miskin”
kalimat itu
tidak terdengar seperti perintah
ia tinggal
seperti bau laut yang menetap
di kayu dermaga
seperti garam yang tinggal
di telapak nelayan
tajug dijaga
agar manusia tidak lupa langit
fakir miskin dijaga
agar manusia tidak lupa bumi
yang satu menegakkan doa
yang satu menegakkan kasih sayang
dan keduanya tidak pernah dipisahkan
petang turun perlahan
perahu-perahu kembali
membawa cahaya senja
di lambungnya
pasar mulai
merapikan suara
keranjang diangkat
tikar digulung
lampu-lampu dinyalakan
di rumah-rumah pesisir
sementara angin laut masih berjalan
melewati dermaga
melewati tajug
melewati keraton
melewati pasar
seperti kidung tua
yang tidak selesai pada satu mulut
ia berpindah
dari nelayan ke pedagang
dari pedagang ke santri
dari santri ke anak-anak
yang berlari di jalan kampung
lalu masuk
ke dalam hidup mereka
tanpa banyak bunyi
sebagaimana laut
yang setiap hari menyentuh pantai
tanpa pernah mengumumkan
kedatangannya
dan sebagaimana syahadat
yang tidak meminta untuk dipuji
tetapi hidup
di dalam tangan
yang menolong
di dalam timbangan
yang jujur
di dalam perut
yang rela berbagi
di dalam tajug
di dalam timbangan
di dalam perahu
yang pulang membawa ombak
dan di dalam hati
yang tetap memberi tempat
bagi sesama
sebagaimana laut
yang menerima
sungai-sungai
dari segala arah
2026
BALADA LAWANG SANGA
“liwang liwung randuk kurung”
fajar masih basah
di pelabuhan Cirebon
perahu-perahu kayu menghadap laut
yang mulai terang
setelah malam melepaskan jangkar-jangkarnya
tali tambang basah
menempel pada tiang dermaga
bau ikan asin
bau terasi
dan angin laut
bercampur di jalan-jalan kampung
burung-burung pantai
berputar rendah
di atas keranjang hasil tangkapan
para nelayan turun
memanggul jaring
memikul laut
yang semalaman melekat di pundak mereka
sementara dari arah
Gunung Sembung
angin datang
membawa bau tanah
ke antara bau laut dan bau garam
Gunung Jati
Gunung Amparan
dua punggung sunyi
yang sejak lama memandang pesisir
dan di antaranya
lawang sanga tetap terbuka
seperti jalan angin
yang tidak pernah bertanya
siapa yang akan dilaluinya
bukan pintu
bukan batas
hanya ruang
yang terus bernapas
“taming ana pasangane damar”
matahari jatuh
di dinding bata keraton
namun halaman-halamannya
lebih banyak menyimpan angin
daripada suara
lorong-lorong panjang
membiarkan cahaya berjalan
dari pintu ke pintu
dari serambi ke serambi
tanpa pernah menetap
terlalu lama
seakan bangunan itu
tidak dibangun untuk menahan manusia
tetapi untuk meloloskan perjalanannya
di sebuah serambi
damar menyala kecil
siangnya hampir tak terlihat
namun menjelang petang
orang-orang tahu
ke mana cahaya itu akan pulang
damar tidak menyala
untuk dirinya sendiri
ia menyerahkan tubuhnya
agar gelap mengenali arah
“samue sahadat iman
tekene sahadat sajati”
tak jauh dari pelabuhan
jalan-jalan bertemu
pada sebuah simpang
yang sejak lama mengenal langkah manusia
dari laut
dari pedalaman
dari perbukitan
orang datang
membawa hasil bumi
membawa hasil air
membawa cerita
yang belum selesai dituturkan
suara-suara berpapasan
lalu berpisah kembali
seperti jalan
yang saling bersilangan
tanpa saling memiliki
matahari bergerak
di atas kepala
namun simpang itu
tetap menyimpan jejak perjumpaan
yang tak dapat ditimbang
dengan neraca apa pun
“anjembarakeun wiar… wiar…”
angin pesisir bergerak
melewati halaman keraton
melewati tajug
melewati simpang-simpang jalan
melewati rumah-rumah bambu
yang berdiri di sepanjang pantai
cahaya singgah
pada jaring yang dijemur
pada lesung yang ditumbuk
pada kitab yang dibaca
pada perahu yang sedang ditambal
Caruban Nagari
tidak hanya menjadi kota
ia seperti simpul jalan
tempat banyak jalan
datang membawa nama masing-masing
lalu melepaskannya
ke dalam keluasan
tempat banyak arah
tidak saling menghapus
hanya saling menemukan
asalnya
“cukup awung oranana papa”
siang bergerak ke petang
burung-burung mulai rendah
di atas air
perahu-perahu kecil
kembali menuju darat
tak semua perjalanan
tiba sebagai kemenangan
tak semua langkah
membawa apa yang dicari
namun cukup
untuk menjaga nyala
di dalam rumah-rumah
cukup
untuk mengepul
di periuk tanah
cukup
seperti garam yang larut
tanpa meminta dikenali
“ya hu … oranana papa”
senja merundukkan cahaya
simpang mulai lengang
keranjang diangkat
tikar digulung
dan dari tajug
azan melintas
di atas atap-atap rumah
lalu bergerak
ke arah pelabuhan
ke arah keraton
ke arah Gunung Sembung
seperti burung
yang tidak memilih
satu pohon saja untuk hinggap
Gusti tidak tampak
tetapi layar bergerak
ombak berubah arah
dan orang-orang tahu
angin sedang lewat
“Mugia pasangan damar”
lampu-lampu mulai menyala
di rumah-rumah pesisir
damar berpindah
dari serambi ke serambi
dari tangan ke tangan
dari usia tua
ke usia yang lebih muda
seperti kisah
yang tidak habis diceritakan
seperti jalan
yang tidak habis dilalui
terang bukan benda
terang adalah
perjalanan pulang
“angsalsiraman banyu suci
saking ghaibe pangeran”
malam turun
ke pelabuhan
ke simpang
ke tajug
ke keraton
ke jalan tanah
embun mulai menempel
pada daun-daun
dan laut menyimpan cahaya bulan
seperti sumur
menyimpan bayangan langit
orang-orang pulang
membawa tubuh mereka
masing-masing
tetapi angin
masih bergerak
di antara rumah-rumah
di antara pohon-pohon
di antara doa-doa
yang tidak dituliskan
“salamet dunya lan akhirat”
laut kehilangan warnanya
namun tidak kehilangan suaranya
ombak tetap datang
ombak tetap pulang
seperti napas
yang keluar dan masuk
tanpa meminta izin
pada siapa pun
tidak ada dua arah
tidak ada dua dunia
yang ada satu bentang
yang terus berubah nama
namun tidak pernah
berpindah sumber
dan di ujung
yang tidak pernah menjadi ujung
lawang sanga
tetap terbuka
di sana
cakrawala masih menyimpan
jalan-jalan tua
yang hilang perlahan
ke balik laut
tak seorang pun tahu
di mana langkah itu bermula
namun angin pesisir
masih membawa jejaknya
orang-orang tua
menyebutnya
Jumadil Kubro
seperti jalan panjang
yang tetap ada
meski telah hilang
dari pandangan
di tanah
yang dekat dengan air asin
benih-benih tetap berdiam
menunggu musim
menunggu hujan
menunggu tangan
yang akan merawatnya
dan tanah pesisir
masih mengingat
Maulana Malik Ibrahim
seperti benih
yang tidak tergesa menjadi pohon
akar-akar bergerak
di bawah permukaan
menahan air
ketika kemarau panjang
melewati ladang-ladang
dan bumi masih menyimpan jejak
Asmoroqondi
di serambi-serambi
orang belajar
merendahkan suara
sebelum meninggikan ilmu
belajar membersihkan langkah
sebelum memasuki pintu
dan serambi-serambi itu
masih mengingat
Ampel
di antara bambu
angin bergerak
membawa bunyi
yang tidak terlihat
namun membuat hati
terus terjaga
dan malam
masih mengenal
napas Bonang
lampu-lampu kecil
tetap menyala
di rumah-rumah sederhana
yang menampung letih
orang-orang miskin
dan nyala itu
masih mengingat
Drajat
bayang pohon
bergerak bersama musafir
di jalan panjang
yang tidak selalu terang
dan jalan-jalan itu
masih menyimpan langkah
Kalijaga
bukit-bukit jauh
menahan gema
agar suara
tidak hilang
di dalam angin
dan gema itu
masih mengenal
Giri
sementara menara tetap berdiri
di antara waktu
azan dan lalu-lalang manusia
menjaga ingatan
yang mudah tercerai
dan menara itu
masih mengingat
Kudus
kabut turun perlahan
ke sawah-sawah pagi
ke pematang
ke daun-daun muda
yang menyimpan embun
dan kabut itu
masih membawa napas
Muria
di dekat sumur
air diam
namun langit
tetap tinggal di dalamnya
orang-orang menunduk
untuk minum
dan menemukan
bayangannya sendiri
air tidak berkata
betapa dalam dirinya
namun ia memberi minum
kepada siapa saja
dan sumur itu
masih mengingat
Abdul Jalil
sementara cakrawala
tetap membuka dirinya
bagi jejak-jejak
yang datang dan menghilang
orang memberi nama
pada jejak-jejak itu
namun angin
tidak pernah menyimpannya
sebagai milik
Gunung Jati
tetap memandang laut
laut tetap memandang langit
dan di antara keduanya
jalan cahaya
terus berlangsung
tanpa bunyi
semuanya tidak berakhir
sebagai nama
tetapi menjadi cara cahaya
tinggal di dunia
kidung telah jauh
meninggalkan suara
ia menjadi jejak
yang bekerja di dalam manusia
seperti akar yang bekerja
di dalam tanah
tanpa meminta untuk dilihat
sementara Gunung Sembung
tetap berputar
di dalam pusat
yang tidak mempunyai sumbu
dan lawang sanga
tidak lagi tampak sebagai gerbang
tetapi keluasan
tempat segala arah
kembali menjadi
satu angin
2026
*Abdul Wachid B.S., lahir 7 Oktober 1966 di Bluluk, Lamongan, Jawa Timur. Buku terbarunya : Kumpulan Sajak Nun (2018), Bunga Rampai Esai Sastra Pencerahan (2019), Dimensi Profetik dalam Puisi Gus Mus: Keindahan Islam dan Keindonesiaan (2020), Kumpulan Sajak Biyanglala (2020), Kumpulan Sajak Jalan Malam (2021), Kumpulan Sajak Penyair Cinta (2022), Kumpulan Sajak Wasilah Sejoli (2022), Kumpulan Sajak Kubah Hijau (2023), Sekumpulan Esai Sastra Hikmah (2024), Buku Puisi Balada Kisah untuk Anak Cucu (2025).
Melalui buku Sastra Pencerahan, Abdul Wachid B.S. menerima penghargaan Majelis Sastrawan Asia Tenggara (Mastera) sebagai karya tulis terbaik kategori pemikiran sastra, pada 7 Oktober 2021 (tepat di ulang tahunnya yang ke-55).***




