Tubuh adalah Tanah yang Tertunda
Oleh : Suroto M.Sn.
Catatan Dramaturg atas “Mantau: Hutan yang Tidak Memberi Izin
Bagaimana cara membalik panggung semen yang beku, lalu menumbuhkan hutan di atasnya? Pertanyaan ini bukan sekadar urusan teknis tata panggung (scenography), melainkan sebuah gugatan ontologis yang mendasar. Dalam karya koreografi “MANTAU: Hutan yang tidak Memberi Izin” karya Raflesia Meirina, yang dipresentasikan dalam pergelaran Karya Penciptaan Seni Program Doktor, Panggung Humardani ISI Surakarta, 10 Juni 2026, kita tidak sedang menonton sebuah tarian tentang alam; kita sedang menyaksikan sebuah kesaksian kinetik di mana tubuh mengembalikan dirinya menjadi tanah, menjadi air, dan menjadi jeritan ranting yang patah.
Sebagai dramaturg yang menemani proses ini, mengarahkan sudut pandang “MANTAU” berarti menyuarakan tentang kegelisahan Orang Rimbo yang terjepit oleh semakin menyempit atau bahkan hilangnya ruang hidup karena aktivitas proses industri yang datang begitu cepat. Hutan kehilangan pohon dan hewan, ia berubah wujud menjadi tanah kerontang, dan akhirnya berganti menjadi perkebunan sawit.
Saya berdiskusi dengan pengkarya, tim artistik, dan tentu, pembimbing. Kami sepakat memberikan fokus penjelajahan kami untuk menancapkan secara mendalam pada kerangka konsep Tubuh Ekologis. Kami membaca pertunjukan ini bukan sebagai bentuk representasi visual belaka, melainkan sebagai bentuk kritik tajam terhadap relasi kuasa antara manusia dan alam, sekaligus sebuah produksi kesadaran ekologis yang lahir dari pengalaman artistik yang intim. Kami meruntuhkan ketegaran panggung semen yang massif menjadi tanah tandus dan sisa-sisa batang pohon yang ditinggalkan setelah mesin-mesin gergaji dengan ganas menebar kebencian atas kehidupan. Elemen artistik tanah, ranting, warna cahaya, dan visual mapping akan memberi aksen suasana sebagai alur dramaturginya.
Ketika Hutan Menolak Menjadi Objek Pasif
Selama berabad-abad, dalam narasi modernisme yang eksploitatif, alam selalu diposisikan sebagai objek pasif—sebuah latar belakang statis yang pasrah untuk dikuasai, ditebang, dan dipetakan. MANTAU membalikkan logika tersebut secara radikal. Karya ini menawarkan sebuah model pertunjukan yang berbasis pada etika izin ekologis. Di sini, hutan bukan sekadar setting tempat penari melompat, juga bukan sekadar bahan kritik yang berjarak. Hutan diposisikan sebagai subjek kultural-spiritual yang memiliki agensi, otoritas, dan batasan hukumnya sendiri terhadap tindakan manusia.
Konsep Mantau diposisikan sebagai sebuah etika mendasar: sebuah kesadaran kolektif bahwa hutan tidak pernah memberikan izin bagi keserakahan manusia. Melalui jalinan proses kreatif—mulai dari pembacaan atas ranting, metode visual mapping, eksplorasi bunyi, hingga interaksi langsung antara tubuh, tanah, dan air—dramaturgi dalam karya ini menjelma menjadi sebuah argumen artistik yang solid mengenai kuasa dan kehancuran lingkungan. Persoalan yang diangkat tidak berhenti pada hilangnya hutan secara fisik atau gundulnya pepohonan yang tampak oleh mata. Lebih jauh dari itu, MANTAU menggugat hilangnya otoritas pengetahuan lokal (indigenous knowledge) yang selama ini menjadi kompas kultural dalam menentukan batas-batas hubungan harmonis antara manusia dan ruang hidupnya. Ketika pengetahuan lokal itu dikikis oleh modernitas kapitalistik, manusia kehilangan “haluan” moralnya terhadap alam.
Dramaturgi Tropisme: Antara Berburu Cahaya dan Mengakar ke Inti Bumi
Dalam memperdalam struktur koreografis dan ketubuhan para penari, kami melangkah lebih jauh melampaui metafora sosial. Kami meminjam sistem navigasi paling purba dari dunia tanaman: fototropisme dan gravitropisme . Di tangan para penari, dua konsep biologis ini tidak lagi bekerja sebagai hukum determinisme alam, melainkan bermutasi menjadi metode ketubuhan puitik yang menggerakkan seluruh komposisi ruang pertunjukan.
Mari kita bayangkan tubuh penari sebagai entitas vegetal yang hidup di tengah trauma ekologis. Ketika musik mulai menyeruak dan visual mapping memproyeksikan guratan luka pada sisa-sisa batang pohon, salah satu penari memulai gerak fototropisme artistik . Ini adalah sebuah gerakan berburu kehidupan. Tanaman membengkokkan dirinya menuju arah datangnya cahaya demi fotosintesis; serupa dengan itu, penari merayap, memanjat, dan menanjakkan tubuh mereka ke atas pohon-pohon tiruan di panggung. Pendakian ini bukan sekadar pameran akrobatik, melainkan sebuah visualisasi dramatis dari kerinduan eksistensial akan ruang yang merdeka . Pohon-pohon di panggung Humardani malam itu bukan lagi properti mati, melainkan tangga-tangga vertikal tempat tubuh mencari sisa-sisa oksigen kultural dan jilatan cahaya matahari yang kian mahal akibat pekatnya asap industri.
Namun, kepakan vertikal itu tidak berdiri sendiri. Ia segera diimbangi, atau justru ditarik kembali oleh kekuatan kosmik yang sama kuatnya: gravitropisme puitik. Jika akar tanaman selalu bergerak lurus ke bawah menembus kegelapan tanah untukk mencari kestabilan dan air, maka tubuh penari mengekspresikan dorongan ini melalui teknik grounding yang brutal sekaligus magis. Setelah lelah memburu cahaya di ketinggian, tubuh-tubuh itu meluncur jatuh, runtuh, dan mengempaskan diri kembali ke lantai yang dilapisi tanah tandus. Mereka tidak sekadar jatuh; mereka menyublim bersama debu . Kaki dan lengan mereka mencengkeram tanah, jemari mereka membenamkan diri ke dalam kegelapan magma panggung, menyatu dengan bumi dalam kepasrahan yang melawan.
Komposisi Ruang: Dialektika Vertikal-Horisontal
Perpaduan antara tarikan ke atas (fototropisme) dan jangkar ke bawah (gravitropisme) menciptakan sebuah arsitektur gerak yang renyah namun sarat ketegangan . Komposisi ruang pertunjukan tidak lagi terasa datar atau sekadar simetris-asimetris konvensional. Ruang biosfer Humardani terbelah menjadi dialektika yang menegangkan: bentangan horisontal tanah tandus yang melambangkan kehancuran sosiologis Orang Rimbo, berhadapan langsung dengan poros vertikal pohon tempat spiritualitas yang tersisa mencoba bertahan hidup.
Setiap penari membagi tubuh mereka menjadi dua medan magnet. Bagian atas tubuh—dada, leher, mata, dan jemari tangan—terus-menerus ditarik oleh hasrat fototropis, mendamba kanopi hijau yang telah musnah. Sementara itu, bagian bawah tubuh—panggul, lutut, dan telapak kaki—dikuasai oleh nalar gravitropis, dipaksa untuk mengingat bahwa dari tanahlah mereka berasal dan ke tanahlah seluruh struktur panggung ini harus dikembalikan. Ketegangan internal inilah yang membuat pertunjukan ini terasa begitu renyah untuk dinikmati namun meninggalkan rasa getir yang mendalam di dada penonton. Penonton tidak disuguhi tarian yang mapan, melainkan sebuah proses geologis yang dipercepat di atas panggung.
Menolak Semen, Memeluk Rempah Pengetahuan Lokal
Melalui metode tropisme ini, hubungan manusia dan alam yang retak coba dirajut kembali. Panggung semen yang tadinya angkuh dan steril berhasil dilunakkan—bukan oleh linggis atau buldoser, melainkan oleh ketukan puitis telapak kaki penari dan ranting-ranting mengeruk tanah yang membawa memori tanah basah. Hutan yang tidak memberi izin akhirnya mewujud sebagai sebuah monumen kinetik yang hidup.
Ketika pertunjukan berakhir, visual mapping abstrak penuh ilusi warna, dan lampu panggung perlahan meredup menuju kegelapan mutlak, yang tersisa di benak kita bukan lagi keindahan koreografis Raflesia Meirina, melainkan sebuah kesadaran baru yang mengakar. Tubuh kita adalah tanah yang tertunda. Dan selama kita masih memunggungi hutan, selama kita masih menolak mendengar jeritan ranting yang patah, kita sedang berjalan dengan mata tertutup menuju kepunahan arah moral kita sendiri. Karya ini adalah pengingat yang wangi sekaligus perih: bahwa bumi tidak pernah membutuhkan semen kita, tetapi tubuh kitalah yang selamanya cemas merindukan pelukan tanah.
Daftar Referensi
Abram, D. (1996). The Spell of the Sensuous: Perception and Language in a More-Than-Human World. New York: Vintage Books.
Damara, A., Zulkarnain, I., & Herza. (2025). Video Art Sebagai Gerakan Lingkungan (Studi Gerakan Teater Potlot Palembang Sumatera Selatan). Jurnal Penelitian Ilmiah Multidisipliner.
Descola, P. (2013). Beyond Nature and Culture (J. Lloyd, Trans.). Chicago: University of Chicago Press.
Kurniawan, I., & Setiawan, A. (2021). Ekodramaturgi dalam Teater Kontemporer Indonesia: Membaca Relasi Kuasa Manusia dan Alam di Atas Panggung. Jurnal Panggung.
Latour, B. (2004). Politics of Nature: How to Bring the Sciences into Democracy. Cambridge, MA: Harvard University Press.
Plumwood, V. (2002). Environmental Culture: The Ecological Crisis of Reason. London & New York: Routledge.
Praditama, R. (2023). Seni Pertunjukan Berbasis Komunitas dan Aktivisme Lingkungan: Pendekatan Estetika Hijau. Jurnal Pakarena.
Sandi, J. A. (2018). Melindungi Rimba, Merawat Tradisi: Otoritas Pengetahuan Lokal Orang Rimbo di Jambi. Jurnal Antropologi Indonesia, 39(2), 112-128.
Spatz, B. (2015). What a Body Can Do: Technique as Knowledge, Practice as Research. London: Routledge.
Tsing, A. L. (2015). The Mushroom at the End of the World: On the Possibility of Life in Capitalist Ruins. Princeton: Princeton University Press.
Wicaksono, A. (2019). Menggugat Modernitas Eksploitatif: Kajian Pengetahuan Lokal dan Etika Lingkungan Masyarakat Adat di Indonesia. Jurnal Antropologi Indonesia.
*Suroto, M.Sn. dikenal dengan nama panggilan ‘Pincuk’, lahir di Surakarta, 20 Maret 1971 menjalani pendidikan mulai dari sekolah dasar hingga menengat atas di Solo. Melanjutkan studi Tata Rupa Pentas (D3) STSI Surakarta dan kemudian melanjutkan S-1 dan S-2 di ISI Surakarta. Menekuni kesenian dalam basik seni rupa, tari, dan teater. Menjalani aktivitas beberapa produksi seni pertunjukan sebagai stage manager, konseptor, penata artistik, dramaturg, asisten sutradara, dan lain-lain. 10 tahun menjalanipekerjaan sebagai redaktur media-seni pada Majalah Gong. Kini aktif menjadi pekerja seni pertunjukan di EkosDance Company, PT. Sapu Jagat Art Manajemen, dan Staf Pengajar Pada Program Studi Koreografi Inkuiri, Jurusan Tari, Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.




