Puisi-puisi Beni Satria

Daur ingatan
Ingatan bukan arsip. Ia ruang lembap di bawah tengkorak, tempat suara-suara membusuk tanpa bau. Aku turun ke sana dengan senter yang baterainya separuh mati. Di dindingnya menempel tanggal-tanggal yang sudah kehilangan angka. Waktu mengelupas seperti cat tua, menyisakan serpih yang tajam bila disentuh.
Tubuh menyimpan lebih rajin daripada kepala. Lutut mengingat hujan pertama yang gagal, punggung mengingat kursi-kursi yang tak pernah benar-benar menerima beratku. Bahkan kulit menyimpan sidik jari yang tak lagi punya pemilik. Semua tersusun bukan sebagai cerita, melainkan serpihan yang saling menolak direkatkan.
Aku pernah mencoba membakar satu kenangan. Api hanya memindahkannya menjadi bayangan. Ia berdiri lebih tinggi dari tubuhku, menertawakan niat baik yang terlalu terang. Sejak itu aku paham: ingatan tidak mati, ia berkamuflase. Hari ini ia menjadi kebisuan, besok menjelma kebiasaan menghindari cermin.
Di dalam kepala ada mesin tanpa tombol mati. Ia menggiling peristiwa menjadi debu halus, lalu meniupkannya kembali ke paru-paru. Kita menghirup masa lalu tanpa sadar. Batuknya disebut refleksi. Sesaknya disebut kedewasaan. Kita memakainya seperti mantel yang tak pernah benar-benar kering.
Nama-nama rontok dari wajah. Wajah rontok dari perasaan. Yang tersisa hanya tekstur: kasar, dingin, berdenyut. Aku berjalan di lorong-lorong itu tanpa peta, menabrak pintu yang ternyata adalah diriku sendiri. Setiap benturan melahirkan gema. Gema itu tumbuh, membentuk ruangan baru yang lebih sempit.
Ingatan berputar seperti sumur tanpa air. Kita menimba, yang terangkat hanya bayangan timba itu sendiri. Namun, kita tetap menimba. Ada kesetiaan aneh pada kekosongan. Seolah-olah dari dasar yang gelap itu, suatu hari, akan muncul versi lain dari diri yang belum sempat rusak.
Daur itu tidak selesai. Ia hanya mengganti kulit. Yang pernah menjadi luka kini menjadi bentuk diam. Yang pernah menjadi cinta kini menjadi sudut tajam pada kalimat. Aku hidup di antara serpihan itu, bukan sebagai pusat, melainkan sebagai sisa—yang terus didaur, tanpa pernah utuh kembali.

Pamulang, 2025

Harga Beras dan Harga Diri
Di pasar pagi, matahari menanak dirinya sendiri.
Butir-butir cahaya jatuh ke karung beras
Seperti huruf putih yang lupa menjadi kata.
Pedagang menimbang waktu dengan timbangan tua.
Jarumnya gemetar—
seperti penyair yang baru sadar
Bahwa puisi pun harus makan.
Harga beras hari ini meloncat
Seperti belalang yang belajar ekonomi.
Ia hinggap di papan harga,
Lalu melompat lagi
ke dalam perut-perut yang belum sarapan.
Sementara itu, harga diri duduk di bangku bambu.
Ia melipat lututnya sendiri
Seperti kertas bekas pembungkus gula.
Tidak protes.
Hanya sesekali berdehem
Agar tetap terdengar hidup.
Di dapur, panci berbisik kepada air:
“kita akan menjadi nasi,
atau sekadar uap yang gagal pulang.”
Sendok-sendok berdentang kecil—
Seperti sajak yang tersandung rimanya sendiri.
Butir nasi berbaris di piring
bagaikan konstelasi kecil
Yang menolak disebut miskin.
Aku mengambil satu butir
dan mendengarnya berima pelan:
beras — keras — waras.
Entah kenapa rimanya selalu kembali ke perut.
Di televisi, grafik naik seperti layang-layang
Yang talinya dipegang angin.
Para ahli menjelaskan inflasi
dengan suara yang licin
Seperti minyak goreng di wajan baru.
Di sini, di meja kayu yang agak goyah,
Harga diri belajar menjadi lauk sederhana.
Ia tidak digoreng.
Tidak pula direbus.
Ia hanya duduk di samping nasi
dan berkata dengan lirih:
“makanlah dulu—
Puisi bisa menunggu.”

Pamulang, 2025

Loading Demokrasi
Layar pagi menyala seperti kolam kecil
Tempat ikan-ikan berita berenang mundur.
Di sudutnya ada lingkaran berputar—
Demokrasi sedang memuat dirinya sendiri.
87%.
Angka itu menggantung seperti balon helium
yang lupa kepada anak kecil.
Ia tidak naik, tidak turun,
Hanya melayang di antara jempol dan janji.
Di server yang dingin
para algoritma duduk bersila,
menghitung denyut bangsa
Dengan sempoa cahaya.
Klik—
Sebuah opini menetas.
Scroll—
seekor harapan tergelincir.
Share—
Sebuah kebenaran tumbuh sayap plastik.
Sementara itu, bilik suara
menjadi jendela pop-up
yang bertanya pelan:
Apakah Anda yakin ingin melanjutkan?
Di jalan raya, baliho-baliho tersenyum
Seperti gigi besar yang lupa mulutnya.
Angin membaca slogan-slogan
Lalu mengembalikannya sebagai debu.
87%.
Masih 87%.
Progress bar itu seperti puisi setengah jadi—
barisnya ada,
maknanya buffering.
Rakyat berjalan membawa sinyal lemah.
Percakapan patah-patah
seperti radio tua di tengah hujan.
Seseorang berkata demokrasi adalah suara.
Seseorang lain berkata ia adalah data.
Aku hanya melihat angka itu
berkedip kecil
di dalam layar yang retak.
Loading…
Loading…
Negara sedang memperbarui dirinya.
Mungkin sebentar lagi selesai.
Mungkin juga tidak pernah 100%.

Pamulang, 2026

Mencatat Sunyi, Menyimpan Nyala

tubuhku menyalin sunyi
dengan aksara yang menguap
Di permukaan nadi yang tipis.
Kuberi tanda kecil
pada setiap langkah pengembaraan
sebab jalan sering lupa
Siapa yang pertama kali menjalankannya?
di antara kelahiran yang tergesa
dan kematian yang diam-diam
kita menemukan pertemuan
yang sebentar
lalu perpisahan
Yang lebih lama dari cuaca.
aku melihat seorang penyair
menyimpan dingin
di saku jaket yang robek
agar hangatnya
Tak habis dipakai dunia.
sementara itu
seribu rahasia masih berdiri
di luar pintu yang tak pernah benar-benar tertutup;
sunyi menyalakan lampu kecil
di leher malam
dan menggantungkan pikiranku
Pada kepala yang terlalu ramai.
tubuhku kembali mencatat Sunyi
& beberapa mantra sederhana
yang nilainya mungkin tak lebih
dari secangkir tenang
di tengah riuh perjalanan.
sebab kesedihan
bukan untuk dihapus
melainkan disimpan
seperti es
yang pelan-pelan menjaga
sebuah nyala.
lama-lama kudengar suara
entah dari mana datangnya:
“sunyi, bekerjalah pelan
agar hidup ini
tidak lekas padam.”

Jagakarsa, 8 Maret, 2026

Kronologi yang Tidak Percaya pada Kalender
: catatan kecil dari tubuh yang menolak tanggal
tubuhku mencatat waktu
dengan aksara yang samar
di halaman nadi yang tipis.
Kuberi tanda kecil
pada perjalanan yang tak selesai—
sebab jam sering lupa
siapa yang pertama kali berjalan
Di dalam detiknya sendiri.
kalender menggantung rapi
di dinding yang terlalu percaya
pada angka.
sementara hari-hari
datang seperti tamu
Yang lupa menyebut namanya.
di antara kelahiran yang tergesa
dan kematian yang diam-diam
aku menemukan peristiwa
yang tidak pernah mau
Dituliskan tanggalnya.
seorang pengembara berkata:
waktu tidak berjalan lurus
ia hanya berputar
seperti dzikir
Yang kembali ke dada manusia.
kata Jalaluddin Rumi,
cinta membuat jam kehilangan jarumnya—
segala detik larut
di dalam lingkaran rindu.
sementara Ibn ‘Arabi,
menyebut setiap saat
sebagai penciptaan yang baru:
dunia lahir lagi
pada setiap napas
lalu lenyap
Sebelum kita sempat menamainya hari.
maka tubuhku berhenti percaya
Pada kalender.
sebab angka hanya tahu menghitung
tetapi tidak pernah mengerti
bagaimana kenangan
berjalan mundur
di dalam kepala.
di luar sana
masih berdiri ribuan misteri waktu:
pertemuan yang datang terlalu awal
perpisahan yang terlambat pulang
dan doa-doa
yang tiba lebih dulu
daripada takdirnya.
tubuhku kembali mencatat sunyi
dan beberapa petunjuk kecil
yang pernah disimpan Al-Ghazali,
di antara halaman kesadaran:
bahwa dunia
hanyalah persinggahan
Bagi jiwa yang sedang belajar pulang.
lama-lama kudengar suara
entah dari mana datangnya:
“lepaskan angka-angka itu—
keabadian
Tidak pernah mengenal tanggal.”

Pamulang, 30 Febuari 2026

Sisa Detik di Kantong Para Musafir

di saku para musafir
waktu tidak berbentuk jam
ia hanya serpih detik
seperti pecahan kaca
Yang tersisa dari peristiwa.
tubuhku memungut beberapa
lalu memasukkannya ke kantong jaket—
seolah waktu bisa dibawa
seperti logam kecil
Yang lupa nilainya.
jalan terus memanjang
tanpa peduli
Siapa yang lewat di atasnya.
sementara kota
sibuk mengarsipkan hari
dengan angka-angka rapi
Seperti pegawai yang takut pada kekosongan.
para musafir tahu
Urutan itu hanya ilusi.
sebab setiap langkah
diam-diam mengubah masa lalu
sedikit saja
seperti air yang menggeser batu
Tanpa suara.
Ibn ‘Arabi, pernah berbisik
bahwa dunia tidak pernah tetap—
ia diciptakan ulang
pada setiap kedipan mata.
maka kronologi runtuh
seperti jembatan kayu
Yang terlalu lama dipercaya.
di dalam kantong para pengembara
detik-detik berdesakan
tanpa urutan
tanpa disiplin.
beberapa detik berbau hujan
beberapa detik lain
Mengandung karat dari kenangan.
aku menemukan satu yang aneh:
detik itu masih hangat
seperti baru saja ditinggalkan Tuhan
Di ambang keberadaan.
Al-Ghazali, mungkin benar
ketika ia mencurigai dunia
Sebagai mimpi yang terlalu panjang.
sebab para musafir
tidak benar-benar berjalan di bumi—
mereka hanya menyeberangi
Lapisan tipis kesadaran.
sementara waktu
diam-diam menggerogoti dirinya sendiri
seperti hewan kecil
yang lapar pada bayangannya.
maka kami berjalan terus
Tanpa memastikan tujuan.
di saku yang gelap
detik-detik bergesekan pelan
Mengeluarkan suara logam.
lama-lama aku mengerti:
yang dibawa para musafir
bukanlah waktu—
melainkan sisa-sisa
dari dunia
Yang belum sempat menjadi nyata.

Pamulang, 16 Febuary 2026

Beni Satria, seorang pria kelahiran Jakarta pada bulan September, saat ini berdomisili di Gg. H.Saidin, Bambu Apus, Pamulang, Tangerang Selatan. Ia menyelesaikan pendidikan di SMK Sasmita Jaya dengan jurusan Teknik Mesin, kemudian pada tahun 2005 melanjutkan kuliah di Universitas Pamulang mengambil jurusan yang sama. Selain menulis dan menghabiskan waktu di antara tumpukan buku, ia juga aktif di beberapa komunitas literasi dan pecinta alam, seperti Komunitas Sastra Indonesia Tangerang Selatan, Malam Puisi Tangerang, Dapoer Sastra Tjisaok, Roeang Kata, dan Literary Indonesian Collective. Ia juga merupakan salah satu penggagas Festival Literasi Tangerang Selatan, serta saat ini terlibat sebagai salah satu penggagas acara Semaan Puisi di Kaffe Ada Kopi.