Mengunyah Pidato Doktor Mikke Susanto

Oleh: PAXSML*

Dari Algoritma Ruang Tamu hingga Kuasa Digital Global

Museum di Ruang Tamu

Jika Anda bertamu ke rumah orang Indonesia, terutama manusia Jawa, ruang pertama yang menyergap Anda bukanlah ruang makan yang penuh aroma semur daging, melainkan ruang tamu. Di sana, sebuah tradisi lama dimulai. Tuan rumah akan menyilangkan tangan, tersenyum takzim, lalu berujar dengan intonasi yang diatur sedemikiran rupa, “Silakan masuk, silakan duduk.”

Bagi antropolog Jepang seperti ibu Saya Shiraishi, kalimat itu bukan sekadar basa-basi pengusir pegal di kaki. Itu adalah kalimat pembuka pertunjukan panggung teater. Di ruang tamu itulah, sebuah keluarga menggelar pameran pembangunan skala mini. Anda dipersilakan duduk di kursi jengki atau sofa beludru, tetapi mata Anda dipaksa mengarungi dinding. Di sanalah tertata rapi potret-potret keluarga, anak sulung memakai toga sarjana, si nomor dua berbaju pelaut, dan sebuah foto hitam-putih sang kakek dengan tatapan mata menembus zaman. Di ruang inilah, sebuah keluarga mendefinisikan dirinya di hadapan orang lain.

Saderani, Takdir Sebuah Nama dan Ingatan

Di titik ini, kita dipaksa berhenti untuk mengunyah kembali pidato ilmiah berjudul “Album Foto Keluarga: Kita, Tata Kelola Arsip, dan Algoritma” yang disampaikan oleh Dr. Mikke Susanto, S.Sn., M.A. dalam Sidang Senat Terbuka Dies Natalis ke-42 Institut Seni Indonesia Yogyakarta pada 3 Juni 2026. Mikke, dengan kecerdasan seorang kurator yang jeli melihat debu sejarah, menyodorkan sebuah dokumen keluarga yang luar biasa, foto kakeknya yang bernama Mbah Saderani.

Namun, mari kita periksa nama Saderani ini. Nama ini bukanlah sebuah kebetulan linguistik belaka. Dalam telisik budaya Jawa, nama Saderani menyimpan getaran fonetis dan spiritual yang lekat dengan kata Nyadran atau Sraddha.

Dua foto potret diri Mbah Saderani, dan lambang PSII. Koleksi Mikke Susanto/ Dicti Art Lab

Menyusuri lorong waktu ke abad ke-14, Sraddha adalah upacara kenegaraan super-mewah di bawah panji Kerajaan Majapahit, sebagaimana terekam dalam kitab Nagarakretagama karya Mpu Prapanca pada tahun 1362 Masehi saat Raja Hayam Wuruk memperingati wafatnya Gayatri Rajapatni. Ritus kuno menghormati arwah leluhur ini kemudian bermutasi di lidah masyarakat Islam-Jawa menjadi Nyadran—sebuah aktivitas membersihkan makam, menata nasi ambengan, dan merawat ingatan kolektif menjelang Ramadan. Ketika kakek Mikke diberi nama Saderani, tubuh dan identitas sang kakek sejak lahir telah ditakdirkan menjadi ingatan yang dirawat. Saderani adalah perwujudan hidup dari laku pengarsipan memori itu sendiri.

Jas Putih, Kumis Cokroaminoto, dan Senjata di Dinding

Maka tidak mengherankan jika dalam foto pusaka keluarga Mikke Susanto, Mbah Saderani tampil sebagai sosok yang memancarkan kuasa dan kesadaran sejarah yang tinggi. Beliau bukan sekadar kakek biasa. Beliau adalah pengelola ranting Partai Sarikat Islam Indonesia (PSII) di Jember pada masa kolonial Belanda akhir. Di dalam foto tersebut, Mbah Saderani berpose mentereng dengan peci, jas putih, dan sarung, meniru persis gaya perlente sang Raja Jawa Tanpa Mahkota, H.O.S. Tjokroaminoto.

Mbah Saderani dan keluarga, dicetak sekitar dekade 1930an akhir. Koleksi Mikke Susanto/ Dicti Art Lab

Pilihan ideologi Mbah Saderani sangat klop dengan bentang waktu tempatnya berpijak. Jember di awal abad ke-20 adalah kawah candradimuka pergerakan kaum santri, pedagang pasar, dan buruh perkebunan tembakau. Di tanah Tapal Kuda inilah, H.O.S. Tjokroaminoto menancapkan kuku pergerakannya dari Surabaya, mengonsolidasikan massa melawan modal asing. Ketika Sarekat Islam bermutasi menjadi PSII pada tahun 1929, jaringan rantingnya merembes hingga ke urat nadi pedesaan Jember—daerah-daerah agraris seperti Ambulu, Balung, hingga Tanggul.

Menjadi pengurus ranting di tingkat desa berarti menjadi ujung tombak pergerakan lokal. Di sanalah Mbah Saderani bergerak. Melalui analisis Takashi Shiraishi dalam kitab babon Zaman Bergerak, kita diajak bahwa pada masa itu, busana adalah senjata politik. Ketika kaum bumiputera menanggalkan kain sarung kumal dan menggantinya dengan jas serta blangkon gaya Cokroaminoto, mereka sedang berteriak kepada pemerintah kolonial Hindia Belanda, “Kami ini manusia modern, kami setara dengan kalian!”  Foto Mbah Saderani yang bergaya Tjokroaminoto ini dengan tegas memperlihatkan minat politik, aspirasi sosial, dan posisi terhormatnya di hadapan pemerintah kolonial saat itu.

Ketika Ruang Tamu Menjadi Media Sosial Pertama

Foto tersebut kemudian dipajang di ruang tamu. Di sinilah ruang tamu menjelma menjadi media sosial skala rumah tangga dan lingkup warga. Ruang tamu berfungsi layaknya laboratorium sosial tempat algoritma manual bekerja.

Ketika tetangga atau tamu datang, duduk, dan memandangi foto Mbah Saderani, algoritma manual yang berbasis pada interaksi tatap muka, tatapan mata, kekaguman, dan obrolan antarpribadi langsung berputar. Melalui pajangan fisik ini, sebuah keluarga sedang mendisiplinkan citra dirinya, membangun legitimasi sosial, sekaligus menyebarkan pengaruh politik ke lingkup warga sekitar. Jauh sebelum pimpinan PSII Jember duduk sejajar dengan militer dan ulama lokal untuk membidani lahirnya IAIN Jember pada tahun 1964, kekuatan politik itu sudah ditabung secara manual di dinding rumah-rumah pengurus rantingnya.

Foto keluarga bertindak sebagai museum kecil yang multi-fungsi: ruang pamer estetika, dokumen politik, sekaligus benteng pertahanan memori domestik agar tidak layu ditelan waktu.

Layar Gawai yang Telanjang dan Kuasa Digital Global

Namun, di sinilah Doktor Mikke Susanto melempar umpan kritiknya yang paling tajam, yang kemudian memicu kecemasan kultural kita hari ini. Zaman berganti, Bung! Panggung ruang tamu dan museum kecil kita yang dulu begitu sakral, kini telah diperlebar secara paksa ke ranah digital dan publik yang terikat dalam sistem global. Ruang tamu kita hari ini adalah layar gawai setebal beberapa milimeter bernama Instagram, Facebook, atau TikTok. Dinding semen tempat kita memaku bingkai foto Mbah Saderani kini berganti menjadi feeddigital. Akibat dari pelebaran ruang ini adalah transparansi yang telanjang sekaligus rapuh. Kita menjadi sangat mudah membaca ruang tamu orang lain, melihat apa yang mereka makan, ke mana mereka pergi, dan bagaimana mereka merayakan domestisisme mereka. Namun di saat yang sama, kita juga menjadi sangat mudah dibaca, dipetakan, dan dikomodifikasi oleh kekuatan yang jauh lebih besar dari sekadar pemerintah kolonial masa lalu, yaitu korporasi kapitalisme digital global.

Berhala Baru Bernama Algoritma

Jika dahulu yang mengatur susunan foto di ruang tamu kita adalah algoritma manual sosial, berupa rasa hormat pada leluhur, kesantunan etis, dan kebanggaan ideologis. Hari ini ingatan kita didikte oleh makhluk gaib bernama Algoritma Digital. Celakanya, algoritma ini tidak punya rasa takzim.

Foto anak Anda yang sedang juara kelas atau foto kakek Anda yang berjuang demi bangsa bisa dengan mudah ditenggelamkan dan dikucilkan oleh algoritma, kalah populer ketimbang video kucing tetangga yang jatuh dari genteng. Memori visual kita dipreteli maknanya demi mengejar angka likes dan views. Kita mengalami banjir bandang gambar (hyper-production), tetapi kekeringan makna emosional. Kita dipaksa mengingat apa yang ingin algoritma tunjukkan, bukan apa yang berharga untuk diingat.

Menolak Amnesia

Pidato Mikke Susanto sesungguhnya adalah sebuah kenthongan yang nyaring di ruang tengah kebudayaan kita. Beliau mengingatkan bahwa peralihan dari benda fisik menuju memori digital menghadapkan kita pada empat pilar krusial yakni estetika, etika, kearifan lokal, dan algoritma. Jika kita abai terhadap tata kelola arsip mandiri, jika kita menyerahkan seluruh dokumen hidup kita pada pelukan algoritma ponsel yang genit itu, maka kita akan menjadi bangsa amnesia yang memorinya disetir oleh server di Silicon Valley. Maka, setelah mengunyah telaah Doktor Mikke Susanto ini, saran saya sederhana saja, pulanglah ke rumah. Tengoklah ruang tamu fisik Anda. Pandangi kembali foto kakek-nenek Anda, Mbah Saderani-Mbah Saderani Anda sendiri, yang mungkin sudah mulai menguning dimakan rayap. Hormati garis senyum dan minat politik mereka yang beku dalam bingkai kayu. Sebab di dalam guratan fisik arsip mandiri itulah, kemerdekaan ingatan kita sebagai sebuah bangsa bermula. Sebuah ruang di mana kita tetap menjadi manusia yang memberi makna dan emosi, bukan sekadar data mati yang dikelola oleh mesin. Karena pada akhirnya, seperti kata Sapardi Djoko Damono yang dikutip di akhir pidato Mikke, “Yang fana adalah waktu. Kita abadi.” Dan keabadian itu dirawat di ruang tamu kita, bukan di beranda Instagram kita.

*Paxsml adalah perupa kontemporer asal Yogyakarta yang aktif berpameran dan mendalami kerja lintas media secara komunal. Inisiator gerakan seni mural melalui Apotik Komik dan Jogja Mural Forumini kerap bertindak sebagai penata artistik, ko-kurator, serta inisiator seni. Proyek terbarunya, Sraddha Jalan Mulia Art Project, melibatkan kolaborasi dinamis dengan musisi, animator, dalang, dan videografer.