Ketika Loro Sa’e Bernyanyi Bersama Iwan Fals: Sebuah Mimpi yang Menjadi Kenyataan

Oleh: Almeida Ganefabra*

Kehadiran Iwan Fals di TasiFest 2026 edisi  ke tiga di Tasi Tolu, Dili, Timor-Leste, menjadi salah satu peristiwa kebudayaan paling berkesan bagi publik Timor-Leste tahun ini. Bagi banyak pecinta musik di bumi Loro Sa’e, konser ini bukan sekadar pertunjukan musik, melainkan momentum emosional dan historis untuk menyaksikan secara langsung seorang musisi legendaris yang selama puluhan tahun dikenal melalui lagu-lagu kritik sosialnya. Sosok Iwan Fals telah lama memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat Timor-Leste karena lirik-liriknya dianggap dekat dengan realitas kehidupan rakyat, tentang ketidakadilan sosial, perjuangan hidup, kritik kekuasaan, dan suara orang-orang kecil.

Panggung TasiFest – Iwan Fals & Band Sumber foto: Seday Ganefabra

Iwan Fals dan rombongan band tiba di Dili pada 28 Mei 2026 siang hari dan disambut dengan antusias oleh publik serta panitia penyelenggara TasiFest. Pada sore harinya, ia menghadiri agenda resmi di Istana Negara Presidente Nicolau Lobato, Dili. Kunjungan tersebut mencerminkan pengakuan dan penghormatan yang diberikan oleh negara terhadap seorang figur budaya yang memiliki pengaruh signifikan dalam lanskap musik dan kesadaran sosial di Asia Tenggara.

Iwan Fals dan rombongan band tiba di Dili pada 28 Mei 2026 siang hari dan disambut dengan antusias oleh publik serta panitia penyelenggara TasiFest. Pada sore harinya, ia menghadiri agenda resmi di Istana Negara Presidente Nicolau Lobato, Dili. Kunjungan tersebut mencerminkan pengakuan dan penghormatan yang diberikan oleh negara terhadap seorang figur budaya yang memiliki pengaruh signifikan dalam lanskap musik dan kesadaran sosial di Asia Tenggara.

Presiden Timor-Leste bersama Iwan Fals & Band Sumber foto: Facebook Oficial Presidência da República de Timor-Leste

Pada malam harinya, setelah berlangsungnya konferensi pers, Iwan Fals dan rombongan memenuhi undangan makan malam bersama Presiden Timor-Leste, José Ramos-Horta. Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana hangat dan akrab, merefleksikan karakter kepemimpinan Ramos-Horta yang dikenal sederhana, humanis, dan tidak berjarak dengan masyarakat maupun para tamunya. Di luar formalitas kenegaraan yang lazim melekat pada seorang kepala negara, Ramos-Horta menunjukkan pendekatan yang lebih personal dan egaliter, sehingga menciptakan ruang dialog yang cair antara pemimpin negara dan pelaku kebudayaan.

Konferensi Pers di Hotel Timor Sumber foto: Facebook Oficial TT TasiFest

Dalam konferensi pers, Iwan Fals mengungkapkan bahwa tampil di Dili merupakan impian lama yang telah ia simpan sejak tahun 1975. Keinginan tersebut akhirnya dapat terwujud pada tahun 2026 melalui undangan dari penyelenggara TasiFest edisi ketiga. Mengingat hubungan historis dan emosional yang ia rasakan terhadap Timor-Leste sejak masa Timor-Timur dahulu. Iwan juga mengingat kembali bahwa pada tahun 1979 dirinya pernah menyanyikan lagu berjudul “Puing”, sebuah lagu yang berkaitan dengan Timor-Timur pada masa konflik dan pergolakan sosial.

 

Perdana-Mentri Xanana bersama Iwan Fals di Gabinet PM Sumber foto: Facebook Oficial Primeiro-Ministro RDTL: Kay Rala Xanana Gusmão

Selain membicarakan hubungan emosionalnya dengan Timor-Leste, Iwan Fals juga menyampaikan kekagumannya terhadap negeri dimana matahari terbit. Ia mengaku sangat menyukai panorama alam Timor-Leste yang menurutnya memiliki garis pantai yang indah ketika dilihat dari atas udara. Tidak hanya alamnya, Iwan juga memuji keramahan masyarakat Timor-Leste yang menurutnya memberikan sambutan hangat dan penuh penghormatan selama dirinya berada di Dili.

Galaxy Band di TasiFest, Dili Timor-Leste Sumber foto: Seday Ganefabra

Konser TasiFest 2026 sendiri dimulai pada pukul 21.00 malam dengan penampilan band lokal Galaxy yang berhasil membangun suasana dan antusiasme penonton. Ribuan masyarakat memadati area konser Tasi Tolu dengan energi yang terus meningkat menjelang penampilan utama. Tepat sekitar pukul 22.30, Iwan Fals dan band naik ke atas panggung dan langsung disambut sorak meriah penonton yang telah lama menunggu kehadirannya.

Konser TasiFest, Dili Timor-Leste Sumber foto: Seday Ganefabra

Konser dibuka dengan lagu “Belum Ada Judul”, sebuah pilihan pembuka yang segera menciptakan suasana emosional dan intim antara musisi dan publik. Sejak lagu pertama dimainkan, penonton terlihat sangat familiar dengan hampir seluruh repertoar lagu yang dibawakan malam itu. Sepanjang konser, publik turut bernyanyi bersama, menciptakan koor massal yang memperlihatkan kedekatan emosional masyarakat Timor-Leste terhadap karya-karya Iwan Fals.

Di antara lagu-lagu lama yang telah melekat dalam ingatan publik, Iwan Fals juga membawakan sebuah lagu khusus untuk Timor-Leste berjudul “Saudara di Laut Selatan” berirama tebe-tebe. Lagu tersebut ditulis menjelang keberangkatannya ke Dili sebagai bentuk penghormatan dan rasa persaudaraan terhadap masyarakat Timor-Leste. Kehadiran lagu ini menjadi salah satu momen penting dalam konser karena memperlihatkan bahwa hubungan emosional Iwan dengan Timor-Leste tidak berhenti pada nostalgia masa lalu, tetapi juga terus hidup dalam karya baru yang diciptakan secara khusus untuk publik Timor-Leste.

Beberapa lagu yang paling membangkitkan antusiasme penonton antara lain “Tikus Kantor”, “Bongkar”, “Bento”, hingga “Kemesraan” sebagai lagu penutup konser. Ketika lagu-lagu tersebut dimainkan, penonton bernyanyi dengan penuh semangat dan mengikuti setiap lirik dengan sangat hafal. Momen tersebut memperlihatkan bahwa lagu-lagu Iwan Fals telah melampaui batas geografis Indonesia dan hidup sebagai bagian dari ingatan kolektif masyarakat di bumi Loro Sa’e.

PM-Xanana diantara penonton Sumber foto: Facebook Oficial TT TasiFest

Salah satu momen menarik dalam konser tersebut adalah kehadiran Perdana Menteri Timor-Leste, Xanana Gusmão. Berbeda dari tamu kehormatan lainnya, Xanana memilih tidak berada di area VIP, melainkan berdiri di tengah kerumunan penonton di bagian depan panggung bersama masyarakat umum. Kehadirannya di tengah publik memperlihatkan kedekatan seorang pemimpin dengan rakyatnya serta kecintaannya terhadap musik yang dibawakan malam itu. Iwan Fals yang mengetahui keberadaan Xanana sempat meminta beliau untuk naik ke atas panggung, namun Xanana memilih tetap berada di tengah penonton meskipun diajak oleh kerumunan publik untuk maju ke panggung.

Secara sosiologis, konser ini memperlihatkan bagaimana musik dapat berfungsi sebagai ruang solidaritas sosial dan memori kolektif lintas negara. Lagu-lagu Iwan Fals memperoleh resonansi yang kuat di Timor-Leste karena masyarakat menemukan refleksi pengalaman sosial mereka di dalam lirik-lirik tersebut. Kritik terhadap kekuasaan, keresahan hidup rakyat kecil, dan harapan terhadap keadilan sosial menjadi tema-tema yang dekat dengan pengalaman masyarakat.

Di sisi lain, TasiFest 2026 juga menunjukkan pentingnya festival budaya sebagai ruang diplomasi kebudayaan di kawasan Asia Tenggara. Melalui musik, hubungan historis yang kompleks antara Indonesia dan Timor-Leste dapat dipertemukan dalam suasana yang lebih manusiawi dan emosional. Musik menghadirkan ruang dialog yang melampaui politik formal, mempertemukan masyarakat melalui pengalaman bersama sebagai pendengar, penikmat seni, dan manusia yang memiliki memori kolektif.

Pada akhir konser, suasana haru terasa ketika lagu “Kemesraan” dimainkan sebagai penutup. Seluruh penonton bernyanyi bersama dalam atmosfer yang hangat dan emosional. Setelah lagu berakhir, Iwan Fals dan seluruh personel band menyampaikan rasa terima kasih kepada publik Timor-Leste atas kesempatan, sambutan, dan keramahan yang mereka terima selama berada di Dili.

Malam 29 Mei di Dili, yang terwujud bukan hanya impian lama Iwan Fals untuk akhirnya berdiri dan bernyanyi di bumi Loro Sa’e. Yang terwujud juga adalah kerinduan kolektif pecinta musik di Timor-Leste yang selama bertahun-tahun mengenal suara sang legenda melalui radio, kaset, dan berbagai medium lainnya. TasiFest 2026 menjadi ruang perjumpaan yang mempertemukan dua kerinduan yang tumbuh dari waktu yang panjang: kerinduan seorang musisi untuk hadir di Timor-Leste dan kerinduan sebuah bangsa untuk menyaksikan secara langsung legenda yang selama ini mereka dengarkan dari kejauhan.

*Almeida Ganefabra, Mahasiswa Program Pascasarjana ISI Yogyakarta