Mengukur Kemabruran Haji: Merintis Jalan Menuju Kesalehan Sosial

Oleh: Prof Dr Fauzi M.Ag*

Pada musim haji 2026M/1447H ini, jamaah haji Indonesia berjumlah 221.000 jamaah yang terdiri dari 203.320 jamaah haji reguler dan 17.680 jamaah haji khusus. Mereka saat ini telah melaksanakan inti haji yaitu wukuf di Arofah, dan tengah melanjutkan menyelesaikan rangkaian rukun dan wajib haji. Seluruh rangkaian ibadah yang dijalankan bertujuan pada target utama berharap menjadi haji mabrur.

Haji mabrur menjadi tujuan puncak yang ingin diperoleh oleh orang yang berhaji. Ada motivasi spiritual yang menjadi harapan dan orientasi tertinggi orang yang berhaji yaitu surga. Tempat termulia di akherat kelak. Hal ini sesuai dengan Hadits Nabi SAW bahwa “tidak ada balasan (yang lebih pantas diberikan)  bagi haji mabrur kecuali surga (HR Bukhari)”. Sehingga impian dan target yang pasti dituju oleh setiap jamaah haji adalah menjadi haji mabrur.

Ada hal penting yang harus dikuatkan dan ditekankan pada diri setiap jamaah haji yaitu untuk memastikan seluruh rangkaian ibadahnya betul-betul dilaksanakan dengan baik dan benar. Untuk dapat menjalankan seluruh rangkaian ibadah haji dengan baik dan benar, tidak cukup hanya berbekal ilmu dan pengetahuan tentang manasik haji. Orang berhaji perlu stamina yang baik, butuh kesehatan prima, perlu menjaga kondisi fisik agar bisa menjalankan ibadah yang semuanya membutuhkan kekuatan fisik dan kesehatan yang prima.

Pemerintah melalui Kementerian Haji dan Umrah RI beserta seluruh jajaran dan petugas haji yang ada di lapangan secara terus-menerus menghimbau kepada para jamaah haji untuk dapat menjaga kesehatannya, menjaga kondisi fisiknya agar prima sehingga saat melaksanakan inti dan puncak ibadah haji dalam keadaan sehat. Karena hal inilah yang akan menjadi salah satu kekuatan penting dan penentu bagi jamaah haji supaya sukses dalam menjalankan rukun haji, wajib haji, sampai kepada sunah haji.

Pertanyaan penting untuk diajukan pada diri setiap jamaah haji: apakah betul-betul dapat menjadi haji mabrur? Pertanyaan ini bukan dalam rangka timbulnya pesimisme, tetapi menjadi ruang refleksi kritis serta tantangan untuk berusaha keras agar harapan menjadi haji mabrur dapat diraih, sekaligus memastikan untuk tidak melakukan hal-hal yang menjadi penghambat atau penghalang menjadi haji mabrur.  Pada prinsipnya semua jamaah haji memiliki akses terbuka dan kesempatan sama untuk mendapatkan haji mabrur, dengan menjalankan seluruh ketentuan ibadah haji dengan baik dan benar.

Pertanyaan lanjutannya adalah apa parameternya, ukuran atau indikator  haji mabrur? Rasulullah SAW pernah menyampaikan ada beberapa indikator atau penanda seseorang mendapatkan Haji mabrur. Diantaranya pertama, hadits yang  diriwayatkan Imam Ahmad dalam Musnad-nya.

 قالوا: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا الْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ؟ قال: “إِطْعَامُ الطَّعَامِ، وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ

Artinya, “Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apa itu haji mabrur?’ Rasulullah menjawab, ‘Memberikan makanan dan menebarkan kedamaian’.

Kedua, Hadits Nabi SAW:

 سئل النبي ما بر الحج قال إطعام الطعام وطيب الكلام وقال صحيح الإسناد ولم يخرجاه

Artinya, “Rasulullah SAW ditanya tentang haji mabrur. Rasulullah kemudian berkata: ‘Memberikan makanan dan santun dalam berkata.’ Al-Hakim berkata bahwa hadits ini sahih sanadnya tetapi tidak diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.”

Merujuk pada dua hadits di atas,  dapat diambil simpulan bahwa sebagian dari tanda kemabruran haji seseorang yaitu memberikan makan atau mengenyangkan orang lapar (ith‘amut tha‘am), menebarkan kedamaian (ifsya’us salam), dan santun dalam bertutur kata, baik ucapannya (thayyibul kalam).

Semua indikator haji mabrur ini jika dipahami secara mendalam sesungguhnya berdimensi sosial, berhubungan dengan orang lain yakni perilaku baik yang memberikan dampak terhadap orang lain. Kemabruran haji seseorang sangat ditentukan oleh parameter yang bersifat sosial, ditentukan oleh kepekaan dirinya kepada orang lain dan lingkungan kehidupannya.

Dalam realitasnya, problem-problem sosial seringkali muncul bersumber dari tiga hal merujuk kepada pernyataan Nabi di atas, yaitu problem kemiskinan, ujaran kebencian (statemen yang tidak pantas ataupun tutur kata yang tidak baik), dan problem yang bersumber dari konflik sosial. problem-problem sosial ini menjadi tantangan sekaligus ada mandat khusus kepada jamaah haji untuk menjadi pengurai dan pemberi solusi.

Problem kemiskinan dapat dilihat masih ditemukan adanya masyarakat yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasarnya yaitu pangan. Kebutuhan pangan (makan) menjadi parameter dasar bagi kesejahteraan seseorang. Ketika ditemukan masih ada orang yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar berupa pangan, maka sesungguhnya kemiskinan masih ada di tengah-tengah kehidupan kita. Indikator haji mabrur dengan perintah untuk berbagi makan menegaskan bahwa kebaikan seorang yang telah berhaji diantaranya ditentukan dengan kerelaannya mengenyangkan orang-orang kelaparan dengan makanan. Pesan terdalamnya bahwa ada tanggung jawab sosial bagi jamaah haji untuk mengentaskan kemiskinan.

Idealnya problem kemiskinan akan semakin cepat terurai dengan banyaknya donasi sosial melalui bagi makanan dan sumbangan-sumbangan sosial lainnya oleh orang yang sudah haji. Akan terus  berkelanjutan lahir gerakan sosial pengentasan kemiskinan. Setiap tahun akan bertambah para muharik (penggerak) gerakan pengentasan kemiskinan dari para alumni madrasah haji. Haji harus menjadi madrasah tempat pendidikan para muharik pengentasan kemiskinan umat. Dengan demikian haji menjadi pranata sosial bagi gerakan solusi problem kemiskinan di masyarakat.

Dalam relasi sosial juga sering terjadi gesekan atau konflik karena pernyataan  atau pembicaraan yang tidak benar, dan informasi yang meresahkan. Ada problem komunikasi yang sering terjadi dan menjadi bibit terjadinya konflik di tengah masyarakat. Konflik horizontal dan vertikal akan dengan mudah terjadi karena pernyataan yang menyinggung satu pihak kepada pihak lainnya. Di era keterbukaan saat ini dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, beragam informasi yang tidak valid, ujaran kebencian, dan hoax dengan mudah, cepat, dan masif menyebar melalui berbagai media sosial. Kondisi ini akan menimbulkan kekacauan dan sikap saling benci diantara umat manusia.

Alumni madrasah haji harus dapat menjadi teladan dengan ucapan dan pernyataan yang menyejukkan. Ucapan yang memotivasi berbuat kebaikan. Ucapan yang menenteramkan bagi siapa pun yang mendengarkan. Komunikasi yang dibangun harus dengan spirit kesetaraan dalam relasi sosial yang harmonis. Setiap tahun lahir ratusan ribu alumni haji, berarti lahir ratusan ribu para penebar kesantunan, para perintis jalan lahirnya harmoni sosial. Suasana yang sejuk dalam interaksi sosial akan dinikmati oleh seluruh umat manusia.

Dalam konteks global saat ini, dunia masih dihadapkan pada berbagai ketegangan global. Bahkan peperangan masih dihadapi oleh penduduk dunia. Perang yang terjadi di beberapa kawasan dunia menjadi bukti bahwa perdamaian dunia masih belum terwujud. Dibutuhkan gerakan perdamaian dunia, untuk secara masif menyerukan dan melakukan ikhtiar global bagi terwujudnya dunia yang rukun dan damai bebas dari peperangan.

Diantara indikator haji mabrur adalah ifsya’us salam (menebarkan kedamaian). Melalui misi haji akan lahir para penebar keselamatan, penebar kedamaian di dunia ini. Semakin banyak orang haji semestinya akan lahir kehidupan yang lebih damai, lebih aman, dan lebih nyaman karena semakin banyak di seluruh dunia ini bertebaran haji mabrur yang akan menjadi penebar kedamaian dan keselamatan.

Jika di dunia ini banyak orang yang telah haji tetapi kehidupan tidak semakin damai, tidak memunculkan indikator keselamatan maka perlu secara bersama-sama dilakukan refleksi kritis atas peran sosial yang dilakukan oleh orang-orang yang telah berhaji. Oleh karena itu situasi dan kondisi global yang ada menjadi tantangan bersama para jamaah haji di seluruh dunia, bagaimana mewujudkan kehidupan yang damai, tatanan kehidupan sosial global yang lebih sejahtera, lebih selamat dan menyelamatkan.

Nabi SAW secara khusus menaruh perhatian kepada umatnya yang berhaji untuk berperan aktif memberikan solusi atas berbagai problem keumatan. Perjumpaan lintas bangsa dan negara di dunia melalui haji, dapat menjadi media diplomasi global untuk mencari solusi bersama atas krisis perdamaian dunia. Haji harus melahirkan manusia yang memiliki kepedulian, kepekaan, dan kekuatan melakukan transformasi sosial. Pasca haji tatanan kehidupan sosial menjadi lebih baik, kehidupan dunia semakin damai, komunikasi dan interaksi sosial tambah harmonis, kelaparan dan kemiskinan semakin sedikit, kesejahteraan semakin meningkat dirasakan oleh umat manusia.

Dari sini dapat dipahami bahwa untuk menentukan kemabruran haji seseorang ternyata bukan  pada saat jamaah haji berada di haramain atau sedang berada di tanah suci saat sedang prosesi ibadah haji, tapi justru kemabruran itu diukur pasca haji dan berdimensi sosial. Tentu saja proses belajarnya ditempa dalam proses pendidikan di madrasah Haji saat di tanah suci. Parameter  utamanya adalah pasca haji, setelah rangkaian ibadah haji itu selesai: apakah menunjukan pribadi yang peduli dengan kemiskinan sehingga tergerak untuk berbagi, apakah dapat menunjukan komunikasi dan interaksi sosial yang santun dan elegan yang tidak menyakiti sesama, serta apakah menjadi pribadi yang gelisah dengan situasi yang tidak damai sehingga tergerak untuk bersama-sama mewujudkan kehidupan yang rukun, damai, dan saling menyelamatkan. Pembuktiannya akan terlihat dalam perjalanan panjang para dhuyufullah setelah kembali ke masyarakat.

*Prof Dr Fauzi M.Ag Guru Besar Ilmu Pendidikan dan Dekan FTIK UIN Saizu Purwokerto