Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.
BALADA PINTU CHAMPA JUMADIL KUBRO
tanah masih basah di telapak pekerja tambak
belum selesai mengeras menjadi pijakan
laut menarik garisnya sendiri dengan tali jala
yang tersangkut di paku dermaga
di antara Samarkand yang jauh
dan angin yang menempel di layar robek
peta disimpan di peti kayu
tinta di dalamnya masih bau damar
tidak ada arah yang berhenti bergerak
kompas tua berputar di atas meja kapal
jarumnya goyah
seperti orang yang baru bangun dari doa
di kejauhan
kayu kapal saling memukul lambung
seperti jam yang kehilangan pemukulnya
seorang lelaki turun ke dermaga
tidak membawa nama di dada
hanya kain basah yang menempel di bahu
pasir menekan telapak kakinya
menyimpan jejak
seperti luka kecil yang enggan kering
tidak ada sorak
tidak ada tanda keberangkatan
hanya langkah
yang hilang di antara air dan kayu
Samarkand tinggal di lipatan kain tua
yang disimpan di peti perjalanan
pasar lama masih berbau lada dan besi
suara pedagangnya sudah
seperti doa yang habis diucapkan terlalu sering
semua menjauh
tetapi masih tersangkut di rongga dada
seperti serpih garam di tenggorokan
angin membuka daun pintu gudang kapal
pintu itu berderit
seperti orang tua yang lupa nama sendiri
laut tidak menolak siapa pun
tapi tidak pernah memberi tempat duduk
kapal mengangkat layar
kainnya basah, berat,
seperti kulit yang baru dilepas dari tubuh malam
ombak memukul papan dermaga
bunyi kayu retak
seperti dada yang ditahan terlalu lama
lelaki itu duduk di palka kapal
tidak berbicara
hanya menatap air yang masuk lewat sela papan
bajunya dingin oleh uap malam
dan bau ikan yang belum sempat dijual
Champa muncul di celah layar sobek
seperti pintu yang tidak punya engsel
hanya kain yang terus berkibar tanpa rumah
bahasa asing menempel di lidah awak kapal
kata-kata jatuh seperti biji lada di lantai kayu
di sana
iman tidak diumumkan
hanya dikenali dari cara orang mengikat tali layar
agar tidak lepas saat angin berubah
lelaki itu lewat di antara lampu minyak gantung
cahaya menggantung rendah
mengayun seperti napas yang ditahan
bayangannya menempel di dinding bambu
lalu patah di sudut gudang
ia tidak membawa bekas
hanya perubahan kecil pada cara api bergerak
dari satu dermaga ke dermaga lain
dari satu bahasa ke bunyi lain
air asin naik ke serat kayu
mengubah warna papan tanpa suara
di sudut pelabuhan
seorang perempuan memanggil ke laut
namanya jatuh ke air
tidak kembali dalam bentuk apa pun
hanya riak kecil
yang hilang di antara tali dan jaring
Champa bukan tempat
ia seperti layar yang terus dibentangkan
meski tiang sudah retak
orang datang
orang pergi
tali kapal dibiarkan longgar
berayun seperti lupa siapa yang mengikatnya
di kejauhan
tanah Jawa masih berupa lumpur yang dipijak perlahan
kerajaan besar seperti badan gajah tidur
napasnya membuat daun jati bergerak pelan
lelaki itu tidak menjadi pusat cerita
angin lewat di wajahnya
meninggalkan dingin
seperti air yang baru diangkat dari sumur
ia hanya jejak
yang membuat kapal lain bisa berangkat
setelah ia lewat
lampu minyak tetap menyala
sumbu-sumbunya memendek
tetapi api masih menempel di udara
laut tetap laut
tidak berubah nama
dan pintu-pintu yang pernah disentuh
tidak pernah benar-benar tertutup
karena kayu sudah menyimpan jejak tangan
lebih lama daripada orang yang membukanya
tidak ada ujung yang selesai dipaku
tidak ada nama yang kering di mulut
hanya bunyi kayu kapal
yang menjauh pelan di air malam
seperti doa yang tidak kembali
tapi masih basah di udara
2026
BALADA PEPALI MAULANA MALIK IBRAHIM
pelabuhan belum selesai menjadi nama
perahu masuk pelan
lambungnya menggesek air coklat muara
tidak ada tabuh
tidak ada kain dikibarkan
garam menempel di papan kayu
seperti kerak yang lahir dari perjalanan panjang
angin membawa bau ikan dan lumpur tambak
orang-orang menunduk di bawah karung beras
tanpa sempat melihat laut seluruhnya
di sela itu
seseorang berdiri terlalu lama di tepi air
jubahnya basah di ujung
lalu ia berjalan
dan hilang di antara bau damar dan suara tali kapal
di serambi yang separuh lembap oleh angin laut
orang sakit dibaringkan di tikar pandan
air dari tempayan dituang perlahan
melewati lengan kurus
yang panasnya naik sampai leher
tidak ada mantra keras
tidak ada tangan yang menekan langit
hanya kain basah di dahi
dan napas yang mulai turun pelan
seperti ombak kecil meninggalkan pasir
kadang tetes air menggantung di bibir tempayan
belum jatuh
belum kembali
dagangan berpindah tangan tanpa gaduh
beras turun dari karung goni
ikan asin ditimbang di tampah bambu
garam berpaut dari kuku ke kuku
uang tembaga jatuh ke meja kayu
bunyinya pendek
seperti biji saga dilempar ke lantai
tidak ada tangan menggenggam terlalu lama
barang dilepas
sebelum telapak menjadi panas oleh ingin memiliki
satu keping tertinggal di sudut meja
tidak diambil siapa pun
malam hanya menyimpan bunyinya
lebih lama dari biasanya
kata-kata duduk rendah di lantai kayu
beberapa berhenti di tenggorokan
seperti asap yang tidak jadi keluar dari dapur
orang-orang mendengar sambil membetulkan jala
atau menampi beras yang masih bercampur batu kecil
tidak ada suara meninggi
hanya bunyi kayu rumah
dan ayam yang sesekali turun dari kandang bambu
tetapi ada kalimat pendek
yang tinggal lebih lama dari suara pasar
anak-anak tetap bermain di pasir basah
orang tua duduk di bangku pendek
mengupas ketela rebus dengan kuku yang pecah
tidak ada kursi lebih tinggi dari bahu orang lain
yang dijaga hanya agar tangan
tidak lebih cepat memukul
daripada memahami lapar sesamanya
di satu malam yang tidak berbeda dari malam lain
seseorang berhenti bernapas
tidak ada pintu dibuka lebar
tidak ada lampu ditinggikan
tubuh dibaringkan pelan
tanah menunggu tanpa tergesa
orang-orang lewat sambil membawa air
dan suara sandal mereka hilang di jalan basah
tetapi seekor anjing terus menggonggong
ke arah laut gelap
dan angin tidak membawa jawab apa pun
kebaikan lewat seperti orang membawa bakul subuh
tidak singgah lama
tidak menunggu dipanggil kembali
tangan yang memberi segera sibuk lagi
membilas ikan
mengangkat jala
atau memeras kain garam
jejaknya hilang di tanah becek pelabuhan
yang tertinggal hanya bau nasi hangat
di rumah yang semalam masih kosong periuknya
laut tetap bergerak pelan
angin mengangkat ujung layar
tanpa memilih kapal mana yang lebih penting
pelabuhan masih setengah jadi
paku belum seluruhnya masuk ke papan
dan beberapa tiang miring ke arah air pasang
tidak ada penutup kisah
hanya bunyi tambang kapal yang saling bergesek
dan langkah orang-orang
yang terus hilang
di antara pasar
air
dan kabut garam
2026
BALADA ENEM LAKU SYEKH IBROHIM ASMOROQONDI
malam turun di bandar Tuban
seperti garam hitam
yang larut di mulut angin
kapal-kapal asing datang
membawa lada
membawa sutra
membawa arak
membawa bahasa-
bahasa yang pecah di bibir pelaut mabuk
ombak memukul tiang dermaga
seperti dada manusia
yang terlalu lama menyimpan gaduh
lampu minyak bergoyang di sepanjang pelabuhan
dan laut
tercium seperti tubuh peradaban
yang letih menjaga dirinya sendiri
di pasar malam
dadu berputar di atas tikar kusam
nasib dilempar
berulang-ulang
hingga hidup terasa lebih murah daripada
suara uang logam
lelaki-lelaki tertawa terlalu keras
mata mereka kosong
seperti rumah
yang pintunya telah lama dicuri malam
di gang sempit dekat bandar
perempuan-perempuan duduk di bawah cahaya redup
wajah mereka basah oleh bedak dan lelah
mereka menunggu cinta
yang tidak pernah benar-benar datang
angin laut masuk ke rambut mereka
membawa bau asin
dan tubuh yang terlalu sering dilupakan
asap candu naik perlahan
melilit tiang-tiang kayu
melilit kepala manusia
melilit waktu
hingga malam berjalan sempoyongan
di dalam pikiran orang-orang
dan di sudut lain
tangan-tangan kurus bergerak cepat
kantung dibuka diam-diam
pisau diselipkan pelan
kepercayaan dicuri
lebih mudah daripada mencuri emas
manusia saling memakan hidup sesamanya
tanpa sadar
bahwa yang habis terlebih dahulu
adalah dirinya sendiri
malam terus membesar
dan bandar Tuban
terdengar seperti doa
yang kehilangan arah pulangnya
lalu dari laut yang jauh
sebuah kapal datang perlahan
layarnya pucat diterpa angin musim
air memukul lambungnya
seperti ingatan panjang
yang belum selesai diceritakan
dari kapal itu turun seorang lelaki
jubahnya menyimpan bau garam
dan perjalanan yang terlalu panjang untuk dihitung
matanya tenang
setenang seseorang
yang pernah melewati badai
tanpa ikut menjadi badai
orang-orang tidak mengenalnya
tetapi udara berubah pelan
ketika ia berjalan melewati pelabuhan
seolah malam diam-diam sedang belajar
cara baru memandang manusia
ia datang dari jauh
Samarkand
Champa
laut-laut asing
pelabuhan yang berganti bahasa
tetapi langkahnya tidak membawa kuasa
ia berjalan ringan
seperti pengembara
yang hanya ingin menjaga
agar hatinya tidak rusak oleh dunia
di Gunung Sukasari
ia pernah membaca angin
di laut panjang
ia pernah berbicara kepada sunyi
dan kini
di bandar Majapahit yang mabuk
ia memandang manusia
dengan mata yang belum kehilangan kasih
kebencian datang kepadanya
seperti ombak musim barat
kasar
dingin
memukul karang berulang-ulang
tetapi lelaki itu tetap berbicara pelan
suaranya rendah
seperti air sumur
yang tidak tergesa-gesa menjernihkan dahaga
ia tidak menghardik arak
ia hanya membuat manusia
kembali mendengar isi dadanya sendiri
ia tidak mematahkan meja judi
ia hanya membuat tangan-tangan gemetar
ketika melempar nasibnya sendiri ke lantai malam
dan sesuatu mulai berubah perlahan
laut mengajarkan sabar
ombak datang berkali-kali
tetapi laut tidak kehilangan dirinya
dermaga mengajarkan neriman
kapal asing bersandar
tanpa ditanya
dari negeri mana lukanya berasal
angin mengajarkan ngalah
ia lewat di antara layar-layar
tanpa ingin memiliki lautan
nelayan tua mengajarkan loman
tangkapan dibelah pelan
agar tidak ada anak
yang tidur bersama lapar
layar-layar mengajarkan akas
musim menggila
badai menghitamkan langit
tetapi tali-tali tetap ditarik
dan perahu tetap mencari fajar
lampu minyak mengajarkan temen
ia menyala kecil di sudut bandar
cukup bagi satu wajah
untuk mengenali dirinya sendiri
sebelum kembali tenggelam ke dalam gelap
dan malam mulai berubah bentuk
suara dadu makin jarang terdengar
arak tinggal separuh di kendi
orang-orang mulai pulang
lebih awal daripada biasanya
beberapa tangan
mulai ringan membantu
tanpa perlu disebut saleh
di gang-gang sempit
perempuan-perempuan mulai berani
memandang langit lebih lama
seolah ada harapan kecil
yang diam-diam tumbuh
di antara bau laut dan luka
lalu subuh datang
pelan
sangat pelan
seperti cahaya
yang takut membangunkan
kesedihan manusia terlalu keras
azan naik dari kejauhan
melewati ombak
melewati atap-atap kayu
melewati tubuh bandar
yang semalaman tidak tidur
lampu minyak dipadamkan satu-satu
laut bergerak perlahan
dan wajah-wajah manusia
mulai bisa mengenali dirinya sendiri
Syekh Ibrohim tidak tinggal sebagai nama
ia berubah menjadi jalan sunyi
di dalam dada manusia
jalan kecil
yang menjaga hati
agar tidak mabuk
oleh dunia
dan dirinya sendiri
laut bergerak perlahan
azan subuh menjauh di udara
dan bandar Tuban
akhirnya belajar
bagaimana menjadi sunyi
2026
—-
*Abdul Wachid B.S., lahir 7 Oktober 1966 di Bluluk, Lamongan, Jawa Timur. Buku terbarunya : Kumpulan Sajak Nun (2018), Bunga Rampai Esai Sastra Pencerahan (2019), Dimensi Profetik dalam Puisi Gus Mus: Keindahan Islam dan Keindonesiaan (2020), Kumpulan Sajak Biyanglala (2020), Kumpulan Sajak Jalan Malam (2021), Kumpulan SajakPenyair Cinta (2022), Kumpulan Sajak Wasilah Sejoli (2022), Kumpulan Sajak Kubah Hijau (2023), Sekumpulan Esai Sastra Hikmah (2024), Buku Puisi Balada Kisah untuk Anak Cucu (2025).
Melalui buku Sastra Pencerahan, Abdul Wachid B.S. menerima penghargaan Majelis Sastrawan Asia Tenggara (Mastera) sebagai karya tulis terbaik kategori pemikiran sastra, pada 7 Oktober 2021 (tepat di ulang tahunnya yang ke-55).***




