Mencari Celah Tumbuh dan Berkembangnya Sastra di Kampus Banyumas
Saya sebetulnya kurang begitu percaya, lembaga pendidikan (khususnya universitas) dapat menghasilkan para penulis hebat, apalagi sastrawan. Walaupun kita tidak bisa mengesampingkan bahwasanya kampus memiliki andil penting dalam membentuk pola pikir siapapun yang berada di dalamnya –tidak hanya mahasiswa yang belajar– tetapi juga pengajarnya.
Sederet nama-nama besar sastrawan Indonesia seperti Pramoedya Ananta Toer, Chairil Anwar, dan Sutardji Calzoum Bachri tidak lahir di ruang kelas bernama universitas. Nama-nama tersebut melahirkan karya-karya monumentalnya dari hasil berselingkung pada pengalaman hidup dan situasi masa lalu yang beraneka rupa. Selain tiga nama tersebut, yang nenarik terdapat sastrawan bernama Ajip Rosidi yang bahkan diketahui tidak memiliki ijazah pendidikan formal, tetapi memiliki pengaruh luar biasa dalam buku-buku teori sastra di kampus-kampus Indonesia.
Sebagai counter pernyataan di awal pembuka tulisan ini, banyak juga sederetan nama yang lahir dan berkembang dalam kampus, akan tetapi dengan catatan mengikuti juga komunitas sastra dan budaya. Sebutlah seperti W.S. Rendra yang pernah tercatat sebagai mahasiswa Sastra Inggris di UGM (walaupun tidak diselesaikannya), kemudian terdapat nama seperti Faisal Oddang, ia merupakan Sastrawan yang lahir Sastra Indonesia di Universitas Hasanuddin. Selanjutnya terdapat nama Niduparas Erlang, yang lahir dari Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Untirta Banten. Rekam jejak Niduparas Erlang juga mengikuti komunitas sastra seperti Belistra (bengkel menulis sastra) dan komunitas kubah budaya yang didirikan penyair Wan Anwar.
Sekian nama dan sederetan kampus serta komunitas tersebut merupakan bagian-bagian kecil saja dari luasnya perkembangan sastra di Indonesia. Lalu bagaimana dengan Banyumas? Ini yang menarik. Banyumas memiliki sastrawan besar bernama Ahmad Tohari. Nama tersebut tidak perlu diragukan lagi dalam jagat kesusastraan di Indonesia dan Dunia. Beragam karya sastranya sudah diterjemahkan ke banyak bahasa. Akan tetapi, roh sastra Ahmad Tohari juga tidak lahir kampus. Kepiawainnya dalam menulis lahir ketika menjadi wartawan di harian Merdeka (Jakarta).
Sebagai menara gading dalam jagat kesusastraan di Banyumas, Ahmad Tohari memainkan peran penting. Beliau menjadi doksa dan mitos yang mengalir dalam darah kepenulisan sastra Indonesia di Banyumas. Dalam riset yang dilakukam oleh Prof. Sukirno, dkk. dalam buku Realitas Sosial dan Kultur Masyarakat Banyumas dalam Karya Sastrabeliau menekankan bahwa penulis sastra Indonesia di Banyumas menjadikan ideologi ‘kedesaan’ khas Ahmad Tohari menjadi pintu masuk ide. Genealogi sastra semacam ini, akhirnya mengukuhkan dan melanggengkan Ahmad Tohari sebagai mitos dan doksa yang terus lestari.
Dalam jagat kampus yang berkembang di Banyumas, masyarakat umum mengenal Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) sebagai kampus utama yang paling terkenal di Banyumas Raya. Akan tetapi dalam pergerakan sastra, arus sastra di Banyumas justru lahir di Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Pergerakan sastra secara komunal di kampus dibawa oleh penyair Abdul Wachid B.S. Dari pemantiknya di UMP akhirnya lahir Komunitas Penyair Institut yang diinisiasi oleh Irfan Nuhroho. Dari kampus dan komunitas yang terdapat di UMP ini lahir penulis-penulis sastra seperti Teguh Trianton, Achmad Sultoni, Hendrik Efriyadi, Arif Hidayat, Eri Setiawan, Abdul Aziz Rasjid. Dari pemantik AWBS itu juga lahir Heru Kurniawan yang di kemudian hari mengembangkan Rumah Kreatif Wadas Kelir yang melahirkan mahasiswa UMP seperti Endah Kusumaningrum dan Umi Khomsiyatun sebagai penulis buku sastra anak.
Setelah Komunitas Penyair Institut, regenerasi kepenulisan di Kampus ini berlanjut pada Komunitas Sastra 12 Pena yang dipelopori oleh Ilham Rabbani. Ilham, merupakan seorang akademisi sastra dan penyair yang membawa pengaruh Yogya, melalui pendidikannya di UAD dan UGM serta komunitas sastra Jejak Imaji. Dari sini lahir penulis muda potensial bernama Umi Roisatul Mukaromah.
Berawal dari UMP pergerakan sastra juga tumbuh di STAIN Purwokerto (dulu) yang kini menjadi UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Dari kampus yang terkenal sebagai “Kampus Hijau” ini muncul komunitas Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban, yang digawangi oleh Abdul Wachid B.S., lagi. Walaupun hingga hari ini kampus hijau belum memiliki prodi yang berkaitan dengan sastra, namun genealogi sastra berkembang pesat di sini. Pasca Abdul Wachid B.S., Heru Kurniawan, Teguh Trianton, dan Arif Hidayat mengajar di UIN Saizu, dinamika kepenulisan sastra juga berkembang pesat.
Dalam rahim kepenulisan di SKSP, lahir penulis-penulis sastra seperti Yanwi Mudrikah, Dimas Indianto, Wahyu Budiantoro, Irna Novia Damayanti, Dewandaru Ibrahim Senjahaji, Chubby Sauqi, Efen Nurfiana, Bagus Likurnianto, dan Bagus Sulistiyo. Selain dari SKSP, penulis sastra yang juga mahasiswa UIN Saizu ini terdapat nama-nama seperti Titi Anisatul Laely yang aktif menulis sastra anak dan Mukhammad Hamid Samiaji yang aktif menulis esai tentang budaya Banyumasan. Kedua nama ini tumbuh dan berkembang di Rumah Kreatif Wadas Kelir.
Sederet nama-nama tersebut mengalami pasang surut dalam kepenulisan sastra. Beberapa nama ada yang kemudian hilang dalam pusara arus sastra, namun banyak juga yang masih sanggup bertahan dan melahirkan kader-kader baru. Beberapa nama misalnya, Teguh Trianton, Dimas Indianto, Arif Hidayat, dan Mukhammad Hamid Samiaji kini aktif menjadi penulis dan peneliti yang mengulas tentang kebudayaan Jawa dan kebudayaan Banyumasan, Bagus Likurnianto banyak menjuarai lomba kepenulisan puisi, yang terbaru bahkan ia menempati posisi kedua di bawah nama Isbeddy Setiawan dalam sayembara puisi ASEAN.
Dari serpihan narasi di atas, satu hal yang tampak jelas adalah sastra di Banyumas tidak pernah benar-benar lahir dari ruang kelas, melainkan dari pertemuan antara ruang kelas dengan komunitas, antara pengajar yang berdedikasi dengan mahasiswa yang gelisah, antara tradisi Ahmad Tohari dengan keberanian generasi baru untuk melangkah melampaui bayangannya. Celah itulah yang selama ini menjadi tanah subur. Pertanyaannya sekarang, apakah celah itu masih cukup lebar untuk menampung nama-nama berikutnya? Atau justru semakin menyempit karena tekanan zaman yang mendorong kampus menjadi pabrik ijazah semata?
Sebagai penutup esai ini, sejujurnya saya merasakan pola pergerakan sastra di Banyumas masih (dan akan) belum selesai. Narasi dalam esai ini hanya sekadar peta kasar dari sebuah wilayah dengan arus sastra yang masih terus bergerak. Nama-nama yang belum tersebut, komunitas yang belum terdokumentasi, dan karya-karya yang belum terbaca oleh publik yang lebih luas, semuanya masih menunggu untuk dituliskan.




