Kafka Pulang ke Eropa sebagai Wayang
oleh : Sigit Susanto*
Langit kota Zug biru bertabur cahaya matahari hangat, Sabtu, 9 Mei 2026. Kafe Zündhölzli yang berada di depan stasiun kereta api Zug, tepatnya di Alpenstrasse. 13, kota Zug mulai didatangi tamu. Pentas wayang kulit lakon Metamorfosis karya Kafka akan digelar dua kali dari pukul 15.30-16.15 dan 17.00-17.45.
Menjelang pukul 15.00 beberapa orang memasuki kedai dan kursi sudah mulai dipenuhi orang, tampak dua gadis kecil duduk di lantai. Tercatat ada 12 hadirin.
Hans Peter, pembawa acara membuka secara singkat, bahwa pertunjukan wayang kulit berlakon Metamorfosis karya Franz Kafka akan digelar selama 45 menit. Sigit Susanto memesan wayang kulit ini dari seorang maestro, perajin wayang kulit di Jawa. Wayang itu dibuat dari bahan kulit sapi. Dalam bahasa Jerman Schattenspiel artinya wayang kulit. Tetapi kali ini tidak memakai layar, maka langsung bisa melihat wayangnya. Dan wayang kulit ini sudah ratusan tahun sebagai kesenian tradisional yang dicintai rakyat Indonesia. Pertunjukan ini tanpa dipungut biaya, tetapi nanti silakan bisa memberikan sumbangan suka rela atau Kollekte dan taruh di topiku di sana. Selamat menikmati!
Aku sudah duduk bersila di lantai kayu menghadap penonton, sementara wayang-wayang sudah aku siapkan di sekitarku. Mikrofon menonjok di depanku. Panos, teman asal Yunani duduk di samping kiriku, memelototi laptop,, karena ia mengatur musik sebagai pengiring.

Musik mulai bertalu, aku mulai bercerita menggunakan bahasa Jerman. Narasi pembuka bahwa keluarga Samsa tinggal di apartemen besar, namun terjerat utang, karena bisnis sang ayah bangkrut. Gregor pinjam uang dari atasannya untuk melunasi utang sang ayah.
Pada momen seperti ini, terjadi perubahan drastis pada keluarga, karena Kafka membuka dengan kalimat legendaris terkenal sebagai berikut;
Pembuka Kalimat Legendaris
Als Gregor Samsa eines Morgens aus unruhigen Träumen erwachte, fand er sich in seinem Bett, zu einem ungeheuren Ungeziefer verwandelt.
Ketika Gregor Samsa pada suatu pagi bangun dari mimpi buruk, ia dapati tubuhnya sudah berubah menjadi kecoak raksasa yang menjijikkan di ranjangnya.
Saat pengucapan kalimat panjang pembuka Metamorfosis itu aku sengaja dengan intonasi lebih tinggi dan melodius. Berkat input dari Tubagus Svarajati, teman dari Semarang yang menyaksikan aku saat latihan mendalang di kampung. Ia sarankan, suaranya harus menggelegar.
Sosok per sosok di wayang Kafka mulai kuperagakan. Pada waktu yang sama, kulihat juga wajah penonton tampak semua tegang, termasuk dua bocah perempuan yang duduk di lantai.
Dari adegan ke adegan, cerita mengalir lancar bersamaan munculnya para tokoh. Kadang ada suara, Achdari hadirin. Sosok kecoak Gregor keluar dalam formasi berdiri, membuat semua mata lebih melotot memandangnya. Disusul sosok Gregor merangkak.
Sosok Gregor muncul dalam empat bentuk; Gregor tidur di ranjang, Gregor di bawah sofa, Gregor berdiri dan Gregor merangkak.

Gregor Samsa Sembunyi di Bawah Sofa

Gregor Samsa Makan Makanan Basi

Gregor Samsa Suka Menempel di Lukisan Perempuan Cantik
Suasana hening dan mencekam itu berakhir, setelah Grete, adik Gregor Samsa bermain biola di dapur. Tapi tak berapa lama, tiga lelaki penyewa kamar marah dan hengkang, karena melihat ada sosok serangga besar di apartemen.
Grete berubah agresif ingin menyingkirkan Gregor dari tempatnya yang sudah hampir dua bulan lamanya. Gregor dipukul sapu dan kursi oleh pembantu, serta dibombardir apel merah oleh ayahnya sendiri. Ia meninggal dan sang ayah merasa lega.
Kisah diakhiri saat keluarga Samsa naik trem menuju kota. Orang tua berharap anak perempuannya yang cantik dan cerdas menemukan pasangan dan masa depannya.
Dari Mana Ide Wayang Kafka?
Tepuk tangan membuncah dan Hans Peter menyilakan hadirin bertanya dan aku siap menjawabnya.
Seorang lelaki tua yang aku sempat perhatikan, menonton dengan saksama bertanya, “Dari mana aku bisa punya ide menghadirkan wayang Kafka?”
Kujawab, “Aku awalnya mendalang wayang klasik beberapa kali dengan lakon Ramayanadan Mahabharata dalam bahasa Jerman. Aku juga menerjemahkan karya-karya Kafka ke dalam bahasa Indonesia, dan salah satunya Metamorfosis. Dari situ aku coba kombinasikan, cerita Kafka ke dalam wayang.”
Ibu yang duduk di sebelah lelaki itu, mungkin istri atau partnernya bilang aku, kalau ia akan nonton lagi yang jam 17.00 apa boleh? Aku jawab silakan. Dalam hati aku berbunga, sampai sejauh itu ketertarikannya. Secara tak langsung, sebuah jawaban, berarti bahasa Jermanku bisa dipahami. Sebab tak mungkin ia akan datang, kalau tak paham yang aku ceritakan.
Kalau mendalang dalam bahasa ibu; bahasa Indonesia, ya lebih mudah, kalau lupa satu kata, bisa diganti secara spontan dengan sinonimnya. Lha, kalau dalam bahasan Jerman, belum tentu tahu, seandainya tahu harus dipikirkan konjugasinya harus tepat, karena dihitung bentuk waktu sekarang atau lampau.
Edgar Keller dari Zürich ikut menonton bersama dua orang Indonesia. Menjelang hadirin pulang, seorang ibu yang duduk paling depan menyalami sambil menyebut, “Ich bin Anita Schorno.”
Wah, aku agak kaget, karena sudah lupa wajahnya. Ia pun mengakui, awalnya lupa denganku, tetapi setelah aku mulai mendalang, ia ingat. Kami sudah beberapa kali bertemu sastrawan Swiss ini sebelumnya. Puisi-puisinya bahasa Schweizedutsch (Swiss Jerman), aku pernah pajang di tepi danau Zug dalam program Gedicht Pflücken (Petiklah Puisi). Usai acara ia mengirim email kepadaku menyebutkan, “Kamu tak nampak grogi, pasti kamu merasakan, para hadirin menikmati dan mengagumi.”
Seorang penonton perempuan dari Meksiko memberitahu aku, bahwa ia menyukai saat Grete bermain biola, sungguh hidup seperti sungguhan.

Leman, Penonton dari Turki
Dua bocah perempuan dan beberapa hadirin ingin memegang wayang kontemporer itu dan mereka berfoto dengan wayang. Dengan demikian pertunjukan pertama tamat.

Dua Bocah Perempuan Foto dengan Wayang Kafka
45 menit berlalu dan 45 menit berikutnya waktu tersisa untuk istirahat. Kini saatnya pertunjukan kedua dimulai. Wayang-wayang yang berserakan aku atur kembali seperti semula, agar saat dalang aku mudah mengambilnya.
Perlahan hadirin memenuhi kafe yang kecil itu. Ada Peter Gisi, seorang novelis dari kota Basel hadir. Ia menulis kisah ibunya orang Belanda yang lahir di Bandung dan saat berusia 7 tahun dimasukkan bui oleh Jepang. Novelnya ia beri judul Mutterskrieg (Ibu di Era Perang). Novel ini sekarang sedang dialihbahasakan dari bahasa Jerman ke bahasa Indonesia oleh Berliany Putri.
Sekitar 7 hadirin menempati kursi yang disediakan. Hans Peter segera memberi pengantar singkat lagi.
Aku bersila menghadap mereka dan seperti ritme sebelumnya, aku mengulangi cerita dalam bahasa Jerman. Sembari aku mendalang, aku juga bisa memperhatikan bagaimana gesture hadirin atau roman yang tersirat. Terutama pada tema tertentu atau diksi tertentu, bagaimana reaksinya.
Bersyukur musik pengiring lancar. Diam-diam rasa grogiku berangsur kurang, tak seperti pada pertunjukan semula. Jika pertunjukan pertama terlewati dengan mulus, maka percaya diri itu lebih gemuk di pertunjukan kedua.
Apa Maksud Kafka dengan Metamorfosis itu?
Pagelaran selesai, tepuk tangan menyusul dan Hans Peter membuka kesempatan penonton untuk bertanya. Seorang ibu tua mengajukan pertanyaan kepadaku, “Sebenarnya apa yang Kafka maksudkan dari Metamorfosis itu?”
Aku coba menjawab, bisa jadi novelet ini sebuah kritik pada masyarakat modern yang selalu sibuk dan tergesa-gesa. Lihatlah, tadi sosok Gregor Samsa harus tergesa-gesa ke stasiun naik kereta api, tapi terlambat bangun. Dan petugas dari kantor datang.”

Zoran, penonton dari Kroasia
Perlahan diskusi berkembang di antara penonton. Peter Gisi mengatakan, bahwa karya Kafka sudah dia kenal dan bahasanya sangat indah. Magdalena, perempuan dari Zug mengaku sudah membaca Metamorfosis tiga kali, tapi tak sampai selesai. Sedang Fabiola, dari Meksiko mengaku belum membaca Metamorfosis, tetapi dari wayang Kafka ini, ia merasa terbantu memahami rumitnya karya Kafka itu.
Baik pada pertunjukan pertama maupun kedua, para penonton memuji pengerjaan wayang Kafka ini. Kecoak begitu detil tatahannya, rumah Kafka sebagai gunungan dan paling sensasional dan banyak orang memegangnya yaitu wayang lukisan perempuan cantik memakai gaun berbulu. Pada wayang ini aku tambahkan, perajinnya mencari bahan ekstra bukan dari kulit sapi, tapi kulit kambing lengkap dibiarkan bulunya tampak masih lebat.
Perlahan kami berkemas. Semua wayang masuk kopor dan alat dari kayu aku ikat, untuk dibawa pulang dengan naik bus umum lagi.
Hans Peter bilang, “Sigit, uangnya dari penonton cukup banyak dan silakan diambil, sebab topinya akan aku bawa pulang.”
Dengan malu-malu uang suka rela dari penonton aku hitung, terkumpul Sfr 210. Kalau aku rupiahkan, sekitar Rp4,5 juta.

Hans Peter, Moderator

Uang Kollekte Swiss Frank dari Penonton
Sore memayung berat dan hadirin seluruhnya pulang. Peter Gisi berpamitan dan bilang, ia akan memberitahu Martina Kuoni, pemilik program Literatur Spur di Basel. Sebuah program napak tilas sastrawan dunia di kafe-kafe atau tempat khusus di beberapa kota di Swiss. Ia berjanji akan mengabari lagi, sekiranya wayang Kafka ini bisa tampil di kota Basel.
Gantungan Kunci Wayang Kafka dari Lombok

Gantungan Kunci Wayang Kafka Made in Lombok
Tiga Minggu sebelum pentas, aku diundang bertemu panitia. Pada pertemuan itu kubawakan beberapa wayang yang akan aku mainkan dan suvenir gantungan kunci dari Lombok bermotif wayang Kafka. Ada sosok Gregor sebagai seekor kecoak dan tokoh-tokoh lain termasuk sosok gadis cantik memakai baju dari bahan bulu. Suvenir indah bermerek Muna Gallery itu kubeli langsung dari artis design grafis bernama Anum pada Car Free Day di jalan Udayana, Mataram. Kesanku, panitia sangat senang mendapatkan kenang-kenangan dari Lombok itu.
5 Derajat Celsius, Satu Wayang Melengkung
Dari belasan wayang Kafka yang kubawa, ternyata ada satu wayang dari kulit kambing itu melengkung. Bisa dipahami, ketika kami datang tak lama berselang, suhu udara turun drastis menjadi 5 derajat celsius.
Aku menghubungi perajinnya, Sulistiyo bagaimana mengatasinya, karena ada wayang kedinginan? Ia sarankan, agar wayang didekatkan kompor dan kulit bisa ditekan, akan kembali tegak lagi.
Setelah kucoba memang benar adanya. Tetapi beberapa hari berselang, wayang melengkung lagi. Krisna Diantha, temanku menyarankan, agar Heizung (pemanas ruangan) disetel hangat. Saran itu pun aku lakukan. Tetapi tetap belum berubah. Akhirnya aku punya cara sendiri, usai wayang aku panasi di atas kompor listrik, maka aku tindih dengan buku-buku tebal. Hasilnya sangat memuaskan. Wayang perempuan itu tegap, tidak melengkung lagi.

Pagelaran Wayang Kafka: Metamorfosis
OTW Wayang Kafka ke Eropa
Sejatinya wayang Kafka ini setelah aku terima dari perajinnya, Sulistiyo di Patean, Kendal hanya 30 menit dari desaku dengan sepeda motor, aku mulai mencoba dan sekaligus menghafalkan cerita Metamorfosis dalam bahasa Indonesia. Perajin Sulistiyo memberitahu, bagaimana cara menggerakkan wayang. Tangan kanan harus lurus dan posisi wayang harus tegak, gagah, tidak membungkuk.
Uji coba pertama di dusun Cening, yang terletak di pedalaman. Kebetulan aku dan Claudia sedang mengunjungi desa tersebut. Aku mainkan di teras rumah orang dan yang nonton anak-anak kecil dan 2-3 ibu muda.
Uji coba kedua di kampungku Bebengan, Boja dan dihadiri banyak anak kecil dan dewasa, juga dalang wayang klasik, Ki Dalang Drs. Tri Agus Gondo Saputro. Dari Ki Dalang Tri Agus aku belajar, bagaimana menirukan suara tokoh. Ia memberi resep, harus melihat wajah wayangnya, sehingga bisa menghayati.
Uji coba ketiga di Balai Budaya, Karangkitri, Yogyakarta, pada acara diskusi 10 buku Apsas (Apresiasi-Sastra) dengan Radio Buku.
Uji coba keempat di perpustakaan Teman Baca di Mataram dan berlanjut diundang untuk workshopwayang Kafka oleh dosen sastra, Rinda Widya di Universitas Mataram, Lombok.
Uji coba ke enam di toko buku Partikular, Denpasar dan berlanjut pentas terakhir di JKP, Renon, Bali.
Ada 7 pentas selama di Indonesia; Jawa, Lombok, Bali, baik durasi pendek maupun penuh yaitu 45 menit. Dari rangkaian pentas itu, aku merasakan, bahwa antusias penonton sangat mengagumkan. Mereka kebanyakan anak muda yang punya pendidikan bagus, tetapi masa depan mereka belum jelas. Tak salah, mereka menyukai karya Kafka yang dianggap simbol dunia gelap itu.
Milena menirukan ungkapan Kafka, bahwa dunia ini diintai oleh setan-setan yang tak kelihatan dan mereka siap menerkam manusia.
Berbekal pengalaman uji coba di tujuh tempat itu, sebagai modal utama untuk pentas di Swiss. Jadwal pentas di Swiss sudah kuketahui sejak aku di Indonesia. Mungkin aku sering mengirimkan foto dan video kepada teman-teman di Swiss, sehingga mereka juga ingin menampilkannya.
On The Way ke Eropa, Kafka telah berwujud sebagai wayang.
*Sigit Susanto, Sastrawan Indonesia yang tinggal di Swiss




