Satu Tombol, Seribu Luka: Tipisnya Batas Jarak dan Kemanusiaan
Oleh Bambang Supriadi*

Drone, Rudal dan Generasi yang Sirna
Saat jarak menghapuskan pertemuan langsung antar-lawan di medan tempur, esensi kemanusiaan dalam perang pun kian terkikis. Ia tidak lagi hadir sebagai benturan fisik, melainkan sebagai sistem yang bekerja dari kejauhan, rapi, terukur, dan tampak bersih. Perang berubah menjadi operasi, dan manusia menjadi operatornya.
Seperti dibaca oleh Grégoire Chamayou, teknologi drone menggeser perang dari keberanian fisik menjadi kendali jarak jauh, di mana membunuh tidak lagi menuntut kehadiran di medan tempur (Chamayou, 2015). Sementara itu, Zygmunt Bauman mengingatkan bahwa modernitas menciptakan jarak moral, menjauhkan manusia dari konsekuensi kemanusiaan atas tindakannya (Bauman, 1991).Di titik ini, peradaban menampakkan paradoksnya: kemajuan teknologi tidak meredam kekerasan, melainkan membuatnya semakin kejam.
Perang modern tidak lagi berlangsung secara tatap muka. Dalam konflik yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran, jarak secara teknologis hampir telah dihapuskan. Namun kekerasan tidak ikut hilang. Ia hanya didistribusikan ulang dengan dampak porak poranda yang lebih mengerikan.
Inilah paradoks utama dalam perang kontemporer. Kemajuan teknologi militer kerap dipuji karena presisi dan efisiensinya. Teknologi tersebut dirancang untuk meminimalkan risiko bagi para penggunanya. Namun, dalam pandangan saya, kemajuan yang sama justru secara diam-diam mengalihkan beban kekerasan kepada pihak yang paling tidak terlindungi dan paling tidak terlibat, yaitu masyarakat sipil. Sebagaimana dicatat dalam kajian perang modern, presisi tidak selalu berarti berkurangnya dampak, melainkan perubahan cara dampak tersebut disalurkan (Shaw, The New Western Way of War, 2005).
Berbeda dengan perang masa lalu, konflik hari ini tidak lagi membutuhkan kedekatan fisik. Rudal dan drone memungkinkan serangan dari jarak ratusan hingga ribuan kilometer. Keputusan diambil melalui layar, berbasis citra satelit dan analisis data, bukan perjumpaan langsung. Dalam konteks ini, Paul Virilio melihat perang modern sebagai persoalan persepsi dan kecepatan, di mana kemampuan melihat lebih dahulu menentukan kemampuan menyerang.
Teknologi telah menghapus jarak, tetapi tidak menghilangkan dampak kemanusiaan. Ia justru mengubah distribusinya. Risiko bagi tentara dapat ditekan melalui sistem jarak jauh, sementara masyarakat sipil tetap berada dalam jangkauan kehancuran tanpa kendali. Ketimpangan ini mencerminkan apa yang disebut Zygmunt Bauman sebagai adiaphorisasi kekerasan, ketika tindakan terlepas dari penilaian moral melalui sistem.

Ketika area sipil menjadi sasaran baru
Batas antara ruang sipil dan militer semakin kabur. Infrastruktur seperti kamera pengawas dapat beralih fungsi menjadi alat militer untuk memantau, membaca pola, dan menentukan target, sebagaimana dalam logika perang hibrida.
Di sisi lain, invisibilitas tidak lagi mutlak. Teknologi siluman tetap meninggalkan jejak yang dapat dilacak dan diserang balik. Prinsip ini sejajar dengan gerilya yang sama sama mengandalkan penghindaran keterlihatan, namun berbeda pada sarana: gerilya bertumpu pada tubuh dan lanskap, sementara perang kontemporer pada data dan sinyal.
Dengan demikian, perang hari ini bukan hanya soal menyerang, tetapi pertarungan antara terlihat dan tidak terlihat dalam medium yang berbeda. Namun satu hal tetap: kehancuran. Bangunan runtuh, ledakan menghasilkan puing, dan kehilangan terus mengubah hidup manusia. Yang berubah bukan hasilnya, melainkan proses dan siapa yang menanggung akibatnya.
Masyarakat sipil kini berada dalam posisi yang semakin rentan. Mereka tidak terlibat dalam pengambilan keputusan strategis. Mereka tidak mengoperasikan sistem pertahanan canggih. Namun merekalah yang paling sering merasakan dampak langsung dari aksi militer. Serangan dapat terjadi tanpa peringatan, datang dari sumber yang jauh dan tidak terlihat, serta dikendalikan oleh logika yang tidak sepenuhnya mereka pahami. Dalam kajian keamanan kontemporer, kondisi ini sering dipahami sebagai pergeseran risiko, bukan pengurangan risiko (Beck, World at Risk, 2009).
Dalam konteks ini, teknologi tidak menghapus korban. Ia menggantinya. Mereka yang dahulu berada di garis depan kini sebagian digantikan oleh mesin, algoritma, dan sistem kendali jarak jauh. Risiko terhadap personel militer dapat berkurang, tetapi kekerasan itu sendiri tidak hilang. Ia hanya berpindah, dari mereka yang siap menghadapi konflik kepada mereka yang tidak pernah diberi pilihan, dari mereka yang terlindungi kepada mereka yang terekspos.
Perbandingan dengan masa lalu memperjelas perubahan ini. Pada masa kejayaan Achaemenid Empire, perang menuntut keterlibatan langsung. Pasukan bertemu dalam ruang yang sama, waktu yang sama. Mereka saling melihat dan mendengar. Kekerasan terjadi secara konkret dan tidak terelakkan bagi mereka yang terlibat (Briant, From Cyrus to Alexander, 2002).

Tubuh Saling Berjibaku
Hari ini, kedekatan itu telah digantikan oleh jarak. Perang menjadi lebih “bersih” bagi pelakunya, tetapi tidak bagi korbannya. Ia menjadi lebih presisi, tetapi tidak lebih manusiawi. Teknologi memungkinkan kehancuran terjadi tanpa kehadiran langsung, dan dalam ketidakhadiran itu, sesuatu yang mendasar ikut hilang, yaitu pengalaman akan konsekuensi. Tanggung jawab menjadi tersebar, empati berisiko melemah. Sejalan dengan itu, Jean Baudrillard pernah mengingatkan bahwa perang modern berpotensi berubah menjadi tontonan yang dimediasi, di mana realitas disaring dan dijauhkan melalui representasi.
Pertanyaan yang paling penting bukan lagi seberapa canggih teknologi militer yang dimiliki manusia. Yang lebih mendesak adalah bagaimana teknologi itu mengubah relasi manusia dengan kekerasan itu sendiri. Ketika jarak berhasil dihapus, siapa yang sesungguhnya semakin dekat dengan kehancuran?
Kegelisahan ini sejalan dengan peringatan Albert Einstein yang menegaskan bahwa pengetahuan dan teknologi tidak pernah netral. Nilainya ditentukan oleh niat dan tujuan penggunaannya. Tanpa arah kemanusiaan, kemajuan justru berpotensi memperluas kehancuran (Einstein, 1954).

Tawaran Albert Enstein
Dalam konteks budaya, perubahan ini tidak hanya menggeser cara manusia berperang, tetapi juga cara manusia membayangkan kekerasan. Ketika perang hadir sebagai citra, data, dan simulasi, ia perlahan menjauh dari pengalaman inderawi dan emosional. Kekerasan tidak lagi sepenuhnya dirasakan, melainkan dikonsumsi, dipahami sebagai informasi, atau bahkan dinormalisasi dalam imajinasi kolektif.
Di titik ini, persoalannya bukan lagi sekadar teknologi, tetapi bagaimana budaya merespons dan membingkai penggunaannya. Seolah Albert Einstein sendiri tengah mengulurkan kedua tangannya, menawarkan pilihan yang tak pernah netral: digunakan untuk kebajikan atau sebaliknya. Sebab ketika niat bergeser dan tujuan menjadi kabur, yang terancam bukan hanya kehidupan, tetapi juga cara manusia memaknai kemanusiaannya sendiri.
—
*Bambang Supriadi, Indonesian Cinematographers Society.
—
Daftar Pustaka (APA Style):
Baudrillard, J. (1995). The Gulf War did not take place. Bloomington: Indiana University Press.
Bauman, Z. (1991). Modernity and the Holocaust. Ithaca: Cornell University Press.
Beck, U. (2009). World at risk. Cambridge: Polity Press.
Briant, P. (2002). From Cyrus to Alexander: A history of the Persian Empire. Winona Lake: Eisenbrauns.
Chamayou, G. (2015). A theory of the drone. New York: The New Press.
Einstein, A. (1954). Ideas and opinions. New York: Crown Publishers.
Shaw, M. (2005). The new Western way of war: Risk-transfer war and its crisis in Iraq. Cambridge: Polity Press.
Virilio, P. (1989). War and cinema: The logistics of perception. London: Verso.
***




