Stupa induk Candi Borobudur

Keberagaman Stupa di Candi Borobudur

Oleh Karina Chandra

Tidak adanya chattra di 72 stupa pendamping di Candi Borobudur seringkali menjadi salah satu argumen untuk menentang pemasangan kembali chattra hasil rekonstruksi van Erp. Padahal, selain chattra merupakan simbol penting dalam berbagai kitab Buddhis maupun di budaya Nusantara, relief Candi Borobudur sendiri amat sering menggambarkan stupa berchattra sebagai objek penghormatan. Bahkan relief Karmawibhangga secara khusus menganjurkan persembahan chattra sebagai praktik pengumpulan kebajikan. Bukankah aneh jika tidak ada satu pun stupa yang memiliki chattra di Candi Borobudur?

Stupa berchattra di candi Borobudur

Stupa berchattra di relief Gandawyuha, diduga merupakan rujukan visual untuk rekonstruksi chattra oleh Theodoor van Erp (Sumber foto: Borobudurwriters.id)

Persembahan chattra dalam relief Karmawibhangga

Persembahan chattra dalam relief Karmawibhangga
(Sumber foto Borobudurwriters.id)

Jika kita tilik kembali, tidak ada keharusan bagi semua stupa di sebuah candi untuk memiliki bentuk yang sama persis. Tidak seperti bangunan Buddhis lain yang ornamen stupanya cenderung seragam, keberagaman stupa di Candi Borobudur merupakan satu dari sekian banyak hal yang membuat candi tersebut menjadi monumen yang unik dan tak ada duanya di dunia.

Bentuk stupa induk & stupa pendamping Candi Borobudur

Dalam bukunya yang berjudul “Chandi Borobudur”, dr. Soekmono menjabarkan bahwa stupa induk di puncak Candi Borobudur memiliki bentuk yang berbeda dengan 72 stupa lainnya yang ada di bangunan candi. Stupa induk dibangun di atas pondasi dengan diameter hampir 10 meter dan takhta teratai setebal setengah meter. Stupa ini memiliki ruang kosong di dalamnya, tapi dindingnya tertutup sempurna tanpa lubang maupun jalan masuk sama sekali. Ruang ini diduga merupakan tempat menyimpan relik. Dr. Soekmono juga menjelaskan bahwa puncak stupa induk Candi Borobudur tampak terpancung. Sisa-sisa dari bagian puncak stupa yang terpancung inilah yang kemudian digunakan untuk rekonstruksi chattra.

Selain stupa induk, masih terdapat 72 stupa pendamping yang tersebar di tiga lantai teratas candi. Jumlah stupa di lantai bawah lebih banyak dibanding lantai di atasnya. Stupa-stupa ini berukuran jauh lebih kecil dan disusun dalam bentuk lingkaran mengitari stupa induk.

Stupa pendamping menaungi rupang Pancatathagata

Stupa pendamping menaungi rupang Pancatathagata, memiliki lubang berbentuk wajik dan persegi (Sumber foto: haloedukasi.com)

Berbeda dari stupa induk, stupa pendamping di Candi Borobudur memiliki dinding yang berlubang. Sebagian stupa memiliki lubang berbentuk persegi sementara sebagian lagi lubangnya berbentuk wajik. Di dalam stupa terdapat ruang berbentuk wajra yang berisi rupang Pancatathagata.

Beda bentuknya, beda maknanya

Salah satu peneliti yang menganalisis makna dari perbedaan pada stupa ini adalah Julie A. Gifford. Dalam bukunya yang berjudul “Buddhist Practice and Visual Culture”, ia menjelaskan bahwa struktur Candi Borobudur melambangkan visualisasi dalam praktik buddhanusmrti, sebuah metode untuk mentransformasi batin menjadi Bodhisatwa sampai meraih Kebuddhaan itu sendiri dengan merenungkan figur yang sesuai dan memeditasikan kualitas-kualitas unggulnya.

Sebanyak 72 rupang Buddha yang tersembunyi dalam stupa pendamping yang berlubang hanya bisa diintip melalui lubang-lubang tersebut. Menurut Gifford, susunan ini bisa dimaknai sebagai proses menghilangnya sosok Buddha yang merupakan bagian dari visualisasi buddhanusmrti. Stupa induk yang berukuran lebih besar dan tanpa lubang melambangkan akhir dari proses tersebut, yaitu realisasi penuh akan kesunyataan dalam bentuk paling halus dan paling sempurna, yaitu Tubuh Kebenaran Buddha (Dharmakaya).

Lebih lanjut, Gifford menjelaskan bahwa ketika peziarah mengelilingi dan mendaki Candi Borobudur, ia akan bisa menemui, merenungkan, hingga merealisasikan Kebuddhaan dalam wujud yang semakin tinggi dari bawah hingga ke puncak. Kemudian, perjalanan peziarah ketika turun dari puncak candi dapat dimaknai sebagai praktik mengemanasikan diri kembali ke samsara guna menolong semua makhluk. Berdasarkan interpretasi tersebut, dapat disimpulkan bahwa stupa induk di puncak candi tidak hanya merupakan stupa terbesar, namun juga perwujudan Kebuddhaan yang paling tinggi dan paling sempurna.

Kesimpulan

Perbedaan bentuk stupa induk dan stupa pendamping di Candi Borobudur adalah perbedaan yang bisa kita lihat dengan mata telanjang. Mengingat Candi Borobudur merupakan mahakarya nan agung dengan makna yang begitu mendalam, seharusnya perbedaan bentuk ini tentunya bukan murni karena alasan estetika saja, melainkan berdasarkan pada perbedaan makna yang dilambangkan oleh masing-masing jenis stupa. Hal ini membuka ruang kemungkinan adanya perbedaan ornamen, termasuk dalam hal keberadaan chattra.

Candi Borobudur sebagai mandala yang melambangkan perjalanan spiritual manusia hingga mencapai tingkat tertinggi merupakan pemaknaan yang telah disepakati banyak pihak. Tidaklah sulit untuk membayangkan bahwa stupa induk yang terletak di puncak tertinggi dengan ukuran paling besar melambangkan pencapaian tingkatan tertinggi itu sendiri.

Jika stupa induk melambangkan Dharmakaya seperti yang dinyatakan oleh Gifford, terang sekali bahwa ia memiliki status yang lebih tinggi dibanding stupa-stupa pendamping yang berukuran jauh lebih kecil dan menaungi rupang Pancatathagata, wujud Sambhogakaya atau Tubuh Kenikmatan Buddha.

Sebagai perwujudan Kebuddhaan tertinggi, tidaklah aneh jika stupa induk kemudian diberikan simbol penghormatan khusus berupa chattra yang biasa menjadi simbol kerajaan. Dalam konteks persembahan mandala, chattra atau payung berharga juga biasa hanya berjumlah satu dan ditempatkan di puncak mandala. Karena Candi Borobudur juga merupakan sebuah mandala, sangatlah mungkin sebuah chattra ditempatkan di puncak tertinggi bangunan tersebut, yaitu di puncak stupa induk.

Sejak awal, stupa yang ada di Candi Borobudur memang memiliki bentuk yang tidak sepenuhnya seragam. Jadi, tidak adanya chattra di 72 stupa pendamping seharusnya tidak bisa menjadi alasan untuk menyatakan bahwa tidak pernah ada chattra di stupa induk. Bahkan dari segi bentuk dan makna filosofis, amatlah mungkin bahwa stupa induk Candi Borobudur memang memiliki makna istimewa sehingga layak menjadi satu-satunya stupa yang dihiasi dengan chattra.

————-

Referensi

Gifford, Julie A. 2011. Buddhist Practice and Visual Culture – The Visual Rhetoric of Borobudur. Routledge Critical Studies in Buddhism.

Soekmono, Dr. 1976. Chandi Borobudur – A Monument of Mankind. The Unesco Press.

Jayawardhana, Prawira. 2021. “Apakah Borobudur Sama Sekali Asing dengan Stupa Ber-chattra?”. Borobudurwriters.id (diakses tanggal 7 Mei 2020)

*Penulis adalah mahasiswi S1 Perencanaan Wilayah & Kota ITB serta penulis & ilustrator Lepas