Perempuan Telanjang Tanpa Payudara (Menafsir Tubuh dalam karya perupa Surabaya Woro Indah Lestari)

Oleh Shalihah Ramadhanita

1

Perempuan dibentuk sebagaimana peradaban membentuknya dengan tujuan untuk memenuhi harapan dari masyarakat. Perempuan tidak dilahirkan sebagai perempuan, melainkan menjadi perempuan (Beauvoir, terjemahan Setiawan, & Juliastuti, 2016b). Perempuan memiliki fungsi biologis pada tubuh yang sangat istemewa yaitu pada rahim dan payudara. Rahim berperan sebagai tempat untuk tumbuh kembang janin, dan payudara menghasilkan air susu untuk memberi makanan para bayi. Namun hal itu menyebabkan masyarakat melihat perempuan hanya berdasarkan fungsi biologisnya. Oleh masyarakat kondisi biologis perempuan dikaitkan dengan mitos kesuburan (Beauvoir, terjemahan Setiawan, & Juliastuti, 2016a). Kesuburan yang dimiliki oleh perempuan menentukan keberlangsungan hidup pada manusia, membuat masyarakat untuk senantiasa berusaha menjaga dan memberikan kontrol terhadap tubuh perempuan. Seorang perempuan harus tahu bagaimana cara berpakaian, menutup rapat tubuhnya ataupun berperilaku supaya terhindar dari objektifikasi lingkungan (pelecehan, kejahatan psikologis atau bentuk penindasan lain) (Sasmita, 2015a).

Tubuh perempuan dalam paradigma masyarakat harus sesuai dengan pandangan (norma) yang berkembang dalam lingkungan tempat ia berinteraksi namun tanpa memiliki parameter yang pasti, hal tersebut terjadi akibat masih terdapat perbedaan pandangan antara laki-laki yang memegang peran superior dan perempuan yang inferior (Sasmita, 2015b). Kontrol ini telah memberikan persoalan kepada perempuan, karena masyarakat memberikan batasan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh perempuan. Tubuh menjadi alat pertama yang menyebabkan subjektivitas saat seseorang dilahirkan, suatu alat yang memungkinkan pemahaman akan dunia (Beauvoir et al., 2016b). Tubuh pun pada akhirnya dimaknai bukan sebatas wadah dari jiwa, namun menyangkut simbolisasi pada ranah sosial. Namun tubuh masih belum cukup untuk mendefinisikan perempuan (Beauvoir et al., 2016a:49). Sehingga bila perempuan ingin melepas kontrol tubuhnya maka ia memerlukan cara.

Untuk membebaskan diri, yang dapat dilakukan oleh perempuan adalah dengan cara menerima atau menolak konsep menjadi perempuan (feminitas), hal ini bisa dilakukan dengan menganggap dirinya bebas melalui ekspresi diri, salah satu caranya melalui seni (Beauvoir et al., 2016b). Melalui seni hal yang tak terkatakan dapat dikatakan. Seni bukan hanya berfungsi untuk menyalurkan ekspresi diri, namun juga menunjukkan kebenaran. Sebagai lembaga kebenaran, seni bersanding dengan ilmu, agama, dan filsafat (Sumardjo, 2000). Upaya untuk mengungkap kebenaran dalam seni disebut sebagai representasi. Representasi bertujuan untuk menghadirkan bentuk-bentuk kebenaran yang di ungkapkan oleh seniman berupa pengalaman dan imajinasi (Sumardjo, 2000). Melalui karya seni perempuan dapat mencurahkan ekspresi diri atas pengalamannya dan keinginannya serta meredefinisi konsep menjadi perempuan. Oleh karena itu perempuan tak hanya dapat merubah dirinya namun berkesempatan untuk memberikan perubahan kepada dunia karena saat karya seni dipamerkan akan menimbulkan perenungan bagi yang menontonnya (Swastika, 2019:70). Hal ini dapat diamati pada karya-karya seniman perempuan di Indonesia.

Menurut Lippard pada karya seniman perempuan terdapat aspek-aspek yang tidak dapat dimunculkan oleh laki-laki, hal ini karena pengalaman politis, biologis dan sosial berbeda dengan laki-laki (Swastika, 2019:70). Lebih lanjut, hakekat dari seni adalah pengalaman manusia yang unik, spesifik dan kompleks (Djatiprambudi, 2008). Keunikan karya perempuan terletak pada pengalaman yang sangat personal. Pengalaman personal ini berkaitan dengan tubuh perempuan yang dikontrol dan dibatasi oleh masyarakat. Maka dari itu muncul ungkapan:

“Sosok seniman perempuan kerapkali dikaitkan dengan tubuhnya. Hal ini tak sepenuhnya salah, memang tak dapat dipungkiri bahwa banyak seniman perempuan menggunakan tubuh sebagai bahasa visualnya” (Utami, 2011a:24).

Pengalaman tubuh perempuan sebagai pengalaman mikro yang selanjutnya digunakan untuk melihat pengalaman secara makro. Pengalaman tersebut berelasi dengan waktu, situasi dan kondisi karya tersebut diciptakan oleh seniman. Hal ini dapat dilihat pada beberapa karya seniman perempuan Indonesia seperti Tita Rubi, Melati Suryodarmo, Dolorosa Sinaga, Melajaarsama, Arahmaiani, Restu Ratnanigtyas, dan Citra Sasmita yang mencoba untuk meredefinisi konsep tubuh perempuan dalam karya yang mereka buat. Karya yang mereka buat menjadi bagian penting untuk meredefinisikan perempuan.

Representasi tubuh perempuan telah menjadi situs yang penting dalam pertentangan ideologi dan wacana seni rupa di Indonesia (Mangalandum & Murti, 2011:117). Hal ini dapat dilihat pada buku terbaru tentang Dolorosa Sinaga yang dilaunching pada tahun 2020, membicarakan tentang “Tubuh, Bentuk, dan Subtansi” yang ditulis oleh Alexsander Supartono dan Sony Karsono kemudian pada diterbitkannya seri Katalog IVAA pada tahun 2011 dengan judul “Rupa Tubuh Wacana Gender dalam Seni Rupa Indonesia tahun 1942-2011” hal ini menunjukkan bahwa Representasi tubuh perempuan merupakan hal yang penting untuk dibahas. Tubuh bagi para perempuan adalah teks yang selalu menyediakan makna baru sesuai konteks yang mengitarinya (Utami, 2011a:30).

Karya-karya perupa perempuan yang merepresentasikan tubuh seringkali menjadi basis yang penting untuk melakukan kritik kepada patriarki selain itu juga untuk mereklaim tubuh mereka (Mangalandum & Murti, 2011:117). Hal ini dapat dilihat pada karya Melati Surodarmo “The Promis” (2002), “Buter Dance” (2000) dan “Der Sekundentarum”, dan karya Arahmayani “Lingga Yoni” (1993) dan “Etalase”(1994) yang menunjukkan bentuk respon seniman perempuan terhadap realitas gender dan sosial. Namun hal ini sebatas dibahas pada karya-karya seniman yang masuk dalam kategori arus utama seni rupa Indonesia yaitu di Jogja, Bandung, Jakarta, dan Bali. Sampai penelitian ini dibuat penelitian tentang seniman perempuan di Surabaya terutama tentang representasi tubuh masih belum banyak dilakukan. Salah satu karya yang menarik untuk dikaji yaitu karya Woro Indah Lestari.

Woro merupakan seniman yang tinggal dan berbasis di Surabaya. Hal menarik pada karya Woro adalah pada figur-figur tubuh telanjang yang ia visualisasikan. Figur-figur tersebut bukan bertujuan untuk menampilkan hasrat seksual namun merupakan sebuah teks. Dalam karyanya Woro ingin menunjukkan ketidak terbatasan, hal ini ditunjukkan pada sikap Woro untuk membebaskan penonton dalam interpetasi karyanya. Namun yang menarik adalah saat ditanya mengenai figur tubuh telanjang pada karyanya, Woro cenderung enggan membahasnya dan mengalihkan pembahasan kepada penjelasan tentang alam. Keengganan tersebut tak dapat dipungkiri bahwa Woro menyimpan banyak rahasia yang ia representasikan pada figur tubuh dalam karya-karyanya.

Untuk membantu dalam penelitian ini saya menggunakan penelitian relevan sebagai berikut: (1)Hardiman, Tubuh Perempuan Representasi Gender Perempuan Seniman Bali (2009);  (2)Miftahul Khairi, Problematika Gender dalam Budaya Jawa yang Direpresentasikan Djoko Pekik Melalui Lukisan Tuan Tanah Kawin Muda (2015); (3)Rindi Setyia Rahayu, Eksistensi Perempuan dalam Kumpulan Cerita Pendek Pemilin Kematian Karya Dwi Ratih Ramadhany (2019); (4)Satriana Didiek, Representasi Tubuh Perempuan dalam Performance Art Karya Melati Suryodarmo (2010). Dari membaca penelitian yang relevan didapatkan bahwa untuk melakukan penelitian “Representasi Tubuh pada Lukisan Woro Indah Lestari” peneliti dapat menggunakan metode membaca karya seni seperti Semiotika milik Roland Barthes untuk menguraikan tanda. Kemudian menggunakan Feminisme Simone de Beauvoir untuk mengetahui pembentukan eksistensi dan cara membebaskan diri Woro.

2

Saya tertarik untuk mengamati dua karya ciptaan Woro Indah Lestari yang disajikan pada Pameran Warna Perempuan #Kartinian. Pameran diselenggarakan pada 23-27 April 2019 di Galeri Prabangkara, UPT Taman Budaya Jawa Timur. Pameran ini merupakan pameran yang diselengarakan Dewan Kesenian Jawa Timur dalam rangka memperingati Hari Kelahiran Raden Ajeng Kartini.  20 pelukis perempuan Jawa Timur mengikuti pameran tersebut antara lain:  Aimee Tri Wahyuni, Susy Zackia, Nana Murtiana, Ucik Retnoasih, Maria Novita, Paulina Soesri Handajani, Afreshawenny Ika Yudiarti, Woro Indah Lestari, Amira Farrass Athayazzaka, Anik Suhartatik, Lis S Toyo, Toetiek Soesiana, Aprilisfiya Handayani, Noery Dyaz, Nabila Dewi Gayatri, Luluk Sri Handayani, Setyaning Harini, Eka Sulistya Dewi, Vivin Amalia, dan Juliascana. Woro merupakan salah satu yang terpilih diantara 20 pelukis yang ikut serta (Katalog Pameran Warna Perempuan Kartinian, 2019).

Pembukaan dilaksanakan pada 23 April 2019 diawali dengan pemberian plakat kepada 20 pelukis perempuan. Ke 20 pelukis perempuan tersebut oleh panitia diwajibkan untuk mengenakan kebaya. Setelah pemberian plakat 20 pelukis perempuan diminta untuk berdiri berjajar di depan Galeri Prabangakara bersamaan dengan para laki-laki tua yang menggunakan pakaian mirip tentara jaman perjuangan dan sepeda untanya. Setelah itu “meriam” ditembakkan dan pameran pun resmi dibuka.

Karya-karya yang dipamerkan semuanya dalam medium lukis. Menurut Pengantar Kepala UPT Taman Budaya Jawa Timur, Edi Iriyanto dan Sambutan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, Sinarto menjelaskan bahwa karya-karya yang dipamerkan merupakan karya terbaik dari 20 pelukis perempuan di Jawa Timur Pada tahun 2019 (Katalog Pameran Warna Perempuan Kartinian, 2019). Lukisan yang dipamerkan memuat topik-topik tentang alam, keperempuan, tokoh inspiratif, dan budaya.

Diantara lukisan-lukisan yang paling menarik perhatian saya adalah dua lukisan Woro Indah Lestari: Mengeja Kultu” dan Bround of Inspiration. Lukisan ciptaan Woro merupakan satu-satunya yang menggambarkan figur tubuh telanjang. Figur tubuh telanjang tersebut memiliki gestur perempuan namun tak memiliki wajah, tak memiliki rambut, dan tak memiliki payudara. Hal ini menarik karena dipamerkan pada pameran Warna Perempuan #Kartinian. Dengan mempertimbangkan asumsi judul pameran, maka karya yang Woro pamerkan merupakan ungkapannya tentang perempuan. Lebih lanjut mempertimbangkan pula kuasa ruang pameran dalam mempengaruhi makna sebuah karya seni maka menurut penulis karya Woro merupakan karya yang paling berani diantara karya-karya yang dipamerkan pada pameran Warna perempuan #Kartinian. Hal ini karena Woro berani manampilkan figur telanjang yang selama ini dianggap sebagai hal tabu serta cenderung dibuat oleh pelukis laki-laki. Pada kedua karya tersebut Woro berusaha untuk meredefinisi makna perempuan serta menunjukkan pamahamannya akan perempuan seperti Kartini.

Woro Indah Lestari lahir di Surabaya pada 26 Mei 1981, ia merupakan alumni dari Jurusan pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Surabaya. Woro menggunakan karya seninya sebagai cara dia menyikapi dunia dan menceritakan hal-hal yang tak dapat disampaikan secara lisan (Wawancara Woro Indah Lestari (39 th) pada 18 Oktober 2019 di Studio Woro). Karya-karya yang dibuat oleh Woro sebagaian besar membicarakan tentang alam. Hal ini dikarenakan sejak kecil Woro sudah diajarkan untuk mencintai alam. Saat Woro di bangku sekolah mengah pertama ia sangat menyukai pelajaran biologi. (Wawancara Woro Indah Lestari (39 th), pada 18 Oktober 2019 di Studio Woro).

Saat sedang berkuliah di Jurusan Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Surabaya, Woro membuat karya-karya dengan tema politik. Namun setelah lulus ia merasakan beban berat karena dalam melukis mau tidak mau Woro harus mendalami tema tersebut. Setelah lulus dari kuliah Woro mulai menciptakan lukisan-lukisan dengan tema alam. Lukisan tentang politik yang dibuat oleh Woro dipengaruhi oleh trend mahasiswa seni rupa saat Woro berkuliah. Karena pada saat itu bagi mahasiswa seni di Surabaya bila karya yang dibuat tidak bernuansa politik maka akan dianggap kurang berbobot. (Wawancara Winarno (46 th) pada 9 Juni 2020, telepon).

Pada perjalanan berkesenian, Woro termasuk seniman perempuan di Surabaya yang memiliki pengetahuan soal seni dan estetika yang baik kerena ia merupakan seniman akademisi yang secara teknik dan konsep mumpuni. Woro tidak hanya mengikuti pameran dengan seniman perempuan saja, namun mampu untuk mengikuti pameran-pameran bergengsi di dalam dan luar negeri (Wawancara Syska Liana (31 th) pada 11 Juni 2020, telepon).

Woro aktif dalam mengikuti pameran beberapa pameran yang pernah Woro ikuti antara lain (2006) Pameran Tunggal “Cine” di Galeri Surabaya; (2015) “New Aged” di Galeri Surabaya, “Jatim Art Forum” di Galeri Prabangkara Surabaya, “Imago Mundi” di Italy; (2016) “Yogya Anual Art #1” di Bale Banjar Sangkring Yogyakarta, “Imago Mundi” di Bentaran Budaya Bali dan Yogyakarta, “Women’s Touch” di DKS Surabaya, “Transformasi” di House of Sampoerna Surabaya. (2017) “Menyapa Sang Hening” di Galeri Orasis Surabaya, “Imago Mundi 3 Nations” di Nuve Hiritage Singapore; (2018) “Imago Mundi 3 Nation” di Nuve Heritage Singapore, di Hulo Hotel Gallery Malaysia, dan di Sun Rise Art Gallery Fairmont Jakarta, “High Value” di Visma Art Gallery Surabaya, Pameran Besar Seni Rupa Indonesia “Panji” di Balai Kota Among Tani Batu, penghargaan yang pernah diperoleh adalah karya terbaik 2 “Surabaya Art Award” (Katalog Pameran Warna Perempuan Kartinian, 2019).

Hal yang menarik dari lukisan Woro yaitu pada figur tubuh telanjang, dengan gestur perempuan namun wajahnya tak terlihat, tidak memiliki atribut feminin seperti rambut dan payudara. Pada sebagian besar karya Woro, figur tubuh telanjang merupakan objek yang paling menonjol. Woro memadukan medium konfensional seperti kanvas dengan medium-medium lain seperti akar, clay, semen dan lain sebagainya. Perpaduan itu membuat karyanya menjadi memiliki dimensi dan terlihat seperti relief candi. Lukisan yang dibuat oleh Woro menggunakan warna-warna tersier yang memiliki kecenderungan pada warna coklat, jingga, kuning, dan hitam.

Figur tubuh yang diciptakan oleh Woro merupakan bentuk simbolisasi yang menyimpan gagasan dan ekspresi emosi yang dimiliki oleh Woro. Pada figur tubuh-tubuh telanjang yang dibuat oleh Woro bukan bertujuan untuk hal seksualitas. Figur tubuh-tubuh telanjang tersebut merupakan sebuah pesan yang tidak bisa Woro katakan secara lisan. Tubuh telanjang yang digambarkan oleh Woro secara gestur menyerupai perempuan namun tak memiliki rambut dan payudara serta pada bagian tubunya terdapat garis-garis lengkung yang terlihat rumit. Beberapa gerakan yang digambarkan juga cukup atraktif. Kerumitan ini seperti menunjukkan kerumitan dalam kehidupan. Sehingga definisi perempuan bagi Woro sangat luas yang tak hanya pada definisi perempuan dalam masyarakat pada umumnya yang memiliki rambut dan buah dada. (Wawancara Syska Liana (31 th) pada 11 Juni 2020, telepon).

Selain pada figur tubuh, objek pendukung dan suasana yang digambarkan oleh Woro terlihat natural hal ini karena dipengaruhi oleh hobinya untuk naik gunung dan pergi ke hutan. Pada saat melukis, Woro akan mengambarkan beberapa objek dikanvas yang kemudian saling mengaitkannya. Woro memiliki hobi untuk menjelajah hutan dan mendaki gunung, darisana ia sering mengambil gambar pohon, lumut, dan seranga, setelah pulang Woro akan menggunakan gambar tersebut sebagai referensi objek yang ia buat (Wawancara Winarno (46 th) pada 9 Juni 2020, telepon).

Saya akan  membedah representasi tubuh pada lukisan karya Woro Indah Lestari menggunakan konsep dari semiotika Roland Barthes dan feminisme Simone de Beauvoir. Menurut konsep Roland Barthes untuk mengkaji suatu tanda dalam lukisan dengan meminjam konsep penanda dan petanda (signifier dan signified) yang menekankan pada tanda-tanda di dalam teks berinteraksi dengan pengalaman personal dan kultural dalam satu lingkup budaya dan memperhatikan hukum konvensi yang ada dalam satu lingkup budaya (Khairi, 2015). Sehingga dalam mengkaji karya Woro Indah Lestari dengan teori ini maka memperhatikan pula aspek historis, pengalaman personal dari tanda dalam karya yang dibuat. Barthes memberikan sebuah model pembacaan yang berdasarkan pada titik tekan pada makna, bentuk bahkan kedua-duanya sekaligus. Pertama dengan memfokuskan pembacaan pada petanda yang kosong, kedua memfokuskan pembacaan pada penanda penuh yang membedakan antara makna dan bentuk serta mampu melihat distorsi (alibi), dan ketiga memfokuskan pada penanda mitis sebagai sesuatu yang secara utuh terdiri dari makna dan bentuk (bukan simbol atau alibi) (Khairi, 2015).

Sementara Simone de Beauvoir termasuk dalam kategori feminisme eksistensialis, Secara umum feminisme adalah ideologi pembebasan perempuan karena perempuan diperlakukan tidak adil oleh masyarakat lantaran bukan terlahir sebagai laki-laki. Feminisme menawarkan berbagai analisis mengenai penyebab, pelaku, dari penindasan perempuan. Lebih lanjut, sebagai teori dan metode feminisme merekapitulasikan realitas yang dicoba untuk dideskripsikan (Humm, 2002). Feminisme Simone de Beauvour ini menggugat ke-liyan-an yang dimiliki oleh perempuan objektifikasi dari laki-laki. Eksistensi perempuan bukan lah kodrat namun merupakan bentukan dari serangkaian mitos serta ajaran yang diterima sejak kecil. Untuk menjadi perempuan bebas dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan menerima dan menolak feminitas (Beauvoir et al., 2016b).

Pada masyarakat Indonesia terutama yang beragama Islam posisi perempuan dimuliyakan. Namun dalam masyarakat konsep ini malah membatasi dan mengatur perempuan. Masyarakat melakukannya atas dasar pemahamannya atas penafsiran yang disampaikan oleh para pemuka agama. Namun para penutur ini kebanyakan adalah laki-laki, bilapun perempuan maka ia berguru kepada laki-laki atau terjebak pada pemahaman laki-laki sebagai Imam keluarga yang harus selalu dituruti dan dianggap benar. Masyarakat Indonesia juga cenderung memilih jawaban pasti yang to the point dibanding jawaban yang membutuhkan perenungan.

3

Lukisan Bround of Inspiration dikerjakan Woro pada tahun 2019 dengan medium akrilik pada kanvas dengan ukuran 108 cm x 153 cm. Terdapat berbagai macam tanda yaitu terdapat figur tubuh telanjang yang sedang berada di jendela. Secara anatomis tubuh yang digambarkan seperti tubuh perempuan, namun digambarkan atribut keperempuanannya seperti rambut, wajah, dan payudara di hilangkan. Perempuan tersebut sedang bangkit dari duduk bersimpuh untuk menatap lebah yang sedang menghampirinya. Pada tangan kirinya sedang memegang sebuah bohlam lampu. Disekitar perempuan tersebut terlihat sebuah tanaman merambat yang memiliki 9 helai daun, tanaman tersebut tumbuh dari dalam celah tembok rumah yang sudah tua.

Lukisan Bround of Inspiration.

(Sumber: Dokumentasi Woro, 2019)

Tampak  objek perempuan adalah objek yang paling menonjol. Hal ini terlihat dari peletakannya yang berada di tengah dan digambarkan dengan warna yang paling menonjol bila dibandingkan dengan objek-objek lainnya. Maka dari itu perempuan pada lukisan ini menjadi point of interest. Signifier-nya adalah perempuan yang berada di jendela dapur. Kemudian Signified-nya adalah perempuan ingin keluar dari dapur. Makna denotasi pada lukisan ini adalah dapur mengurung perempuan dari kebebasan. Akan halnya pada tahap konotasi terdapat kulkas yang terlihat dari jendela yang sedang ditempati oleh perempuan. Hal ini menandakan bahwa perempuan tersebut sedang berada di dapur. Kulkas juga menandakan sebagai alat rumah tangga yang modern sehingga menggambarkan bahwa perempuan yang dimaksut merupakan perempuan saat ini.Tembok yang terkesan menguning menandakan bahwa rumah yang ditempati merupakan rumah tua. Dapat diartikan bahwa pola pikir anggota keluarga perempuan tersebut masihlah kolot. Pemikiran kolot tersebutlah yang mengekang kebebasan perempuan.

Saya melihat signifier lukisan ini adalah dapur mengurung perempuan dari kebebasan. Sementara Signifiednya adalah posisi perempuan dalam keluarga. Dan Significationnya adalah krisis kesetaraan gender.

Saya melihatt signifier lukisan tersebut  terletak pada perempuan telanjang tanpa rambut dan payudara yang sedang bangkit untuk menatap lebah dan membawa bohlam lampu. Kemudian signifiednya adalah pembebasan tubuh perempuan dari feminitas. Makna tanda denotasi pada lukisan ini adalah feminitas yang membelenggu perempuan. Akan halnya pada level konotasi kita meihat gambar perempuan telanjang dan gundul atribut keperempuanannya yaitu rambut dan payudara sengaja dihilangkan. Hal ini menunjukkan bahwa tubuh perempuan merupakan sebuah belenggu yang menjadikannya sebagai sosok yang lain. Warna coklat kemerahan menggambarkan tentang kesuburan serta menggambarkan pula sebuah semangat.

Dilihat dari gerakan tubuhnya terlihat bahwa perempuan pada lukisan tersebut sedang bangkit untuk berusaha bebas dari belenggu yang membelenggunya. Hal ini dapat dilihat dari lokasi perempuan yaitu pada jendela dapur. Dapur yang dalam budaya Jawa dianggap sebagai tempat perempuan, sehingga perempuan sering disebut sebagai konco wingking. Perempuan dalam lukisan tersebut berusaha untuk keluar dari dapur dengan berdiri di jendela karena anggapan konco wingking membelenggu perempuan.Perempuan pada lukisan tersebut sedang bangkit dari duduk bersimpuh. Duduk bersimpuh menggambarkan tentang sikap menyerah dan kepasrahan maka dengan bangkit dari sikap ini menunjukkan bahwa perempuan tersebut sedang berusaha bangkit dari belenggu yang mengikatnya.

Menatap lebah dapat diartikan sebagai berani menghadapi bahaya, karena lebah memiliki sengatan yang dapat melukai manusia. Selain itu lebah juga dapat diartikan sebagai hewan yang kreatif dan pekerja keras. Memegang bohlam dapat diartikan sebagai berfikir. Pada lukisan ini bohlam lampu yang dipegang dalam keadaan mati perempuan tersebut sedang menatap lebah. Bila disatukan dapat diartikan sebagai semangat dan kebebasan dalam mempelajari dunia.

Pada tahap analisis mitis tubuh  feminin yang membelenggu perempuan form sedangkan concept adalah kebebasan dan semangat untuk mengeksplorasi dunia. Significationnya adalah Kebebasan mengeksplorasi dunia diperoleh dengan bebas dari tubuh feminin.

Sementara lukisan Mengeja Kultur merupakan lukisan ciptaan Woro Indah lestari yang ni dikerjakan pada tahun 2019 dengan medium akrilik pada kanvas ukuran 100 cm x 140 cm. Terdapat bermacam-macam tanda pada lukisan ini yaitu pada 3 figur tubuh telanjang, Terdapat sebuah pohon dengan motif batik parang pada lubangnya terdapat lubang yang mirip mulut dan disebelahnya terdapat potongan ranting yang mirip telinga. Pada bagian kanan pohon terdapat dua buah bangunan dengan pintu tertutup namun tak memiliki jendela. Disamping sosok manusia yang paling besar terdapat sebuah sarang yang didalamnya terdapat sebuah gong kecil dan sebuah buku. Disampingnya terdapat balon udara yang sedang terbang, pada background terdapat gambar dari pegunungan yang sangat tinggi.

Lukisan Mengeja Kultur

(Sumber: Dokumentasi Woro, 2019)

Kita melihat secara denotasi dari deskripsi unsur-unsur pada lukisan tersebut, terdapat sosok yang paling menonjol yaitu tubuh yang sedang bergelantungan. Hal ini terlihat dari penggunaan warna yang paling terang dan letaknya di tengah, sehingga point of interest terletak pada tubuh bergelantungan. Berdasarkan deskripsi tersebut maka signifier-nya adalah perempuan telanjang tanpa payudara dan rambut sedang jungkir balik bergelantungan di ranting pohon bermotif batik parang yang sedang menatap sarang yang ditancapi aksesoris rambut, isinya parang yang sedang  menatap sarang yang ditancapi aksesoris rambut, isinya gong dan buku. Kemudian signified-nya adalah kultur yang terus-menerus diajarkan kepada perempuan telah memenjarakannya dalam feminitas. Makna denotasi pada lukisan ini adalah feminitas yang dibentuk oleh kultur telah mempersempit pandangan perempuan akan dunia.

Pada tahap konotasi perempuan telanjang tanpa rambut dan payudara menunjukkan kebebasan atribut feminin pada tubuhnya. Perempuan tersebut sedang bergelantungan pada sebuah ranting pohon yang terdapat motif batik parang dan sebuah lubang yang bentuknya mirip mulut, gambar ini seakan menyampaikan pesan bahwa kultur yang diajarkan terus menerus kepada perempuan telah membuatnya menjadi jungkir balik. Hal ini terlihat pada motif parang yang memiliki arti nasehat berkelanjutan dari orang tua kepada anak, kemudian diperkuat juga dengan gambar lubang pohon yang berbentuk mirip mulut yang seakan sedang berbicara kepada perempuan yang bergelantungan.

Sarang yang didalamnya terdapat buku dan gong yang pada bagian luar sarang ditancapi tusuk konde. Pada bagian ini dapat diartikan bahwa sarang sebagai rumah. Rumah seakan berusaha menyembunyikan perempuan untuk mengakses mempelajari dunia luar, hal ini di simbolkan dengan buku dan gong. Hal ini diperkuat oleh perempuan pada lukisan tersebut menatap bagian luar sarang, ia menatap tusuk konde namun ia tak bisa menatap buku dan gong di dalam sarang. Hal ini dapat diartikan bahwa pandangan perempuan dibatasi sehingga ia hanya bisa melihat keperempuanan salah satunya yaitu pernikahan. Karena tusuk konde yang menancap pada sarang biasanya digunakan dalam pernikahan adat Jawa. Perempuan pada lukisan seolah tak bisa melihat pegunungan dan pemandangan lain ia hanya bisa melihat tusuk konde, sarang, dan manusia kecil yang sedang berbicara kepadanya. Manusia-manusia kecil juga dapat diartikan sebagai orang-orang yang suka memperingatkan perempuan untuk tetap menjadi perempuan sejati.

Pada tahap analisis mitis feminitas yang dibentuk oleh kultur telah mempersempit pandangan perempuan akan dunia menjadi form sedangkan concept adalah pendidikan perempuan ditutupi dengan feminitas. Significationnya adalah Pendidikan perempuan bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai feminitas.

Tahap denotasi dari deskripsi unsur-unsur lukisan mengeja kultur yang paling menonjol terletak pada tubuh perempuan telanjang yang sedang bergelantungan. Signifiernya terletak pada perempuan yang sedang menatap tusuk konde dan melihat dunia bagian bawah. Signified-nya adalah perempuan berusaha mempelajari kultur. Makna denotasinya adalah belajar melalui benda di sekitar. Pada tahap konotasi perempuan dalam lukisan Mengeja Kultur digambarkan jungkir balik namun ia menatap tusuk konde dan daratan di bawahnya. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan tersebut berusaha untuk mempelajari kultur lewat walau feminitas menghalanginya. Melihat dunia bawah dapat diartikan bahwa melihat dunia dari sisi yang lain.

Pada tahap analisis mitis form-nya adalah belajar melalui benda di sekitar. Concept-nya adalah belajar lewat sudut pandang yang bisa dilihat, sedangkan signification-nya adalah mempelajari kultur dari keterbatasan.

Setelah menganalisis simbol dengan Semiotika Roland Barthes pada lukisan Bround of Inspiration dan Mengeja Kultur maka di peroleh interpretasi untuk memperoleh gambaran jelas mengenai representasi tubuh pada lukisan Woro Indah Lestari. Pada kedua karya tersebut pengalaman yang diungkapkan oleh Woro adalah Krisis Kesetaraan Gender dan Pendidikan perempuan bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai feminitas. Melalui kedua hal ini dapat diperoleh jawaban bahwa Woro mengalami krisis kesetaraan gender akibat ia memperoleh pendidikan yang menanamkan nilai-nilai femininBerdasarkan analisis pada kedua lukisan maka imajinasi yang ingin disampaikan oleh Woro adalah kebebasan mengeksplorasi dunia diperoleh dengan bebas dari tubuh feminin dan mempelajari kultur dari keterbatasan. Melalui kedua hal ini diperoleh jawaban bahwa Woro ingin bebas mempelajari dunia walau kultur membatasinya.

4

Setelah membaca dua lukisan Woro dengan cara pandang Barthes, saya ingin melengkapi dengan cara pandang feminisme Simone de Beauvoir. Pada titik ini saya tertarik mendeskripsikan pembentukan eksistensi dan cara Woro untuk membebaskan dirinya. Woro merupakan perempuan yang berasal dari keluarga yang kental akan nilai-nilai Jawa. Sejak kecil keluarganya telah mengajarkan unggah-ungguh dalam bersikap yang baik dan benar. Kedua orang tua Woro merupakan orang yang demokratis, namun keluarga besarnya dan orang-orang disekitarnya memintanya bersikap sebagai perempuan dengan sikap-sikap feminin (Wawancara Woro (39 th) pada 9 Juni 2020, telepon).

Pada ajaran nilai-nilai budaya Jawa dipenuhi dengan mitos-mitos. Mitos bila mengalami kejadian serupa atau berusaha untuk mencegahnya maka mereka akan mengunakan mitos untuk menyelesaikan masalah. Mitos yang diajarkan kepada Woro dapat terlihat pada kedua lukisan tersebut. Seperti pada lukisan Bround of Inspiration yang ingin menyampaikan krisis kesetaraan gender. Hal ini ia gambarkan dengan perempuan yang sedang berada di jendela dapur. Dapur fungsinya  sebagai tempat untuk mengolah masakan. Dari fungsinya ini bila dikaitkan dengan dengan sifat perempuan, maka peran perempuan hanya berdasarkan kondisi biologis tubuhnya. Sifat pemelihara dikaitkan dengan rahim dan payudara perempuan. Namun faktanya saat  ini banyak sekali para ahli membuat masakan adalah laki-laki maka dari itu untuk menganggap bahwa tempat perempuan hanya di dapur merupakan mitos belaka. Lebih lanjut dapur juga menyimbolkan rumah yang pada lukisan Mengeja Kultur, simbol Rumah ditampilkan dengan gambar sarang.

Woro pada masa kecil dan mudanya hidup pada masa pemerintahan Orde Baru. Pemerintah Orde Baru membuat propaganda tentang kodrat perempuan yang bertujuan untuk mempertegas pembagian ruang sosial antara laki-laki dan perempuan. Kodrat dipergunakan untuk memperkuat norma tentang sesuatu yang seolah-olah situasi biologis perempuan yang tidak dapat diubah (Swastika, 2019: 34). Pembatasan ini menyebabkan terjadi konstruksi masyarakat tentang hal-hal yang dikerjakan oleh perempuan dan laki-laki. Hal ini dialami oleh Woro pada kaitannya di masyarakat. Woro merupakan perempuan yang suka untuk melakukan pendakian gunung dan membuat karya-karya yang membutuhkan kerja-kerja pertukangan seperti menggergaji, menatah dan lain sebagainya. Namun masyarakat sering memandang heran dan tidak percaya dengan yang dikerjakan oleh Woro. Mereka memandang remeh Woro karena ia adalah perempuan dan menuduh Woro bahwa ia dibantu oleh suaminya (Wawancara Woro (39) pada 9 Juni 2020, telepon). Hal ini terjadi karena hal-hal tersebut oleh masyarakat dianggap tidak lazim untuk dikerjakan oleh perempuan.

Dari kedua hal ini menunjukkan bahwa konsep menjadi perempuan beserta sikap-sikap keperempuanan (feminitas) bukan kodrati ada sejak lahir namun sikap feminin seperti kehalusan dalam bersikap dan berbicara merupakan serangkaian ajaran yang diajarkan kepada perempuan sejak dini (Beauvoir et al., 2016b). Berdasarkan Feminisme Simone de Beauvoir untuk bebas seseorang harus terlebih dahulu mengasumsikan dirinya sebagai makhluk yang memiliki kebebasan caranya dengan menerima atau menolak  feminitas (Beauvoir et al., 2016b). Pada tahap untuk memperoleh gambaran tentang cara Woro untuk membebaskan dirinya dapat dilihat pada imajinasi dan sikap Woro yang sebelumnya telah di analisais melalui Semiotika Rolad Barthes hasilnya menunjukkan bahwa Woro ingin bebas mempelajari dunia walau kultur membatasinya.

Keinginan Woro untuk bebas mempelajari dunia walau kultur membatasinya memperlihatkan bahwa Woro membebaskan dirinya dengan menolak namun tetap menerima feminitas-nya. Woro memilih jalan aman, ia tidak menunjukkan pemberontakan secara langsung dalam sikap dan karya seni yang diciptakan. Pada karya yang diciptakan oleh Woro memuat banyak misteri serta dibutuhkan pengamatan mendalam untuk dapat memahaminya. Bila ditanya soal karyanya Woro cenderung tidak mau untuk menjelaskannya bila pun mau hanya sebagian dan banyak hal-hal yang disembunyikan terutama saat diwawancarai oleh wartawan Woro hanya menjawabnya secara umum saja (Wawancara Winarno (46 th) pada 9 Juni 2020, telepon). Maka dari itu cara yang digunakan oleh Woro dalam memperoleh kebebasan adalah memaknai ulang konsep perempuan pada karya yang dibuatnya.

Sikapnya ini juga ditunjukkan saat Woro sedang diwawancarai. Saat ditanya Woro akan menceritakan bahwa karyanya menceritakan tentang alam namun persoalan tubuh tidak pernah dibahas bila ditanyakan secara langsung padahal objek tubuh merupakan objek paling menonjol pada karya ciptaan Woro. Hal ini juga peneliti temukan saat Woro sedang diwawancarai oleh wartawan pada pembukaan pameran Warna Perempuan #Kartinian. Dalam berkarya seni sikap ini ditunjukkan dengan pemilikan medium untuk berkarya. Woro bermain dengan medium seperti kawat, clay, semen, akar namun tidak terlepas dari dasar-dasar melukis

Sikap Woro tidak lain terjadi karena  ajaran nilai-nilai Jawa telah merasuk pada dirinya. Perempuan Jawa adalah perempuan yang cerdik dengan tidak melawan namun bermain dan mencari celah melalui sikap halus dengan memelihara keseimbangan emosi dan jiwa (Handayani & Novianto, 2004). Pada sikap Woro untuk menyampaikan pengalaman kehidupan dan keinginan dalam karya seni dapat diartikan bahwa Woro berusaha membebaskan dirinya. Seni mendorong perempuan untuk bersikap kreatif yang dapat digunakan untuk menyalurkan emosi dan ekspresi diri secara bebas sebagai bentuk perlawanan, membuat mimpi serta mempertahankan keberadaannya dalam wilayah imajinasi (Beauvoir et al., 2016b)

5

Pada karya Woro Indah Lestari tubuh merupakan bahasa visual yang digunakan untuk menyampaikan pesan tersembunyi akan pengalamannya sekaligus imajinasi atas keinginannya dalam menjalani kehidupan. Berdasarkan Semiotika Roland Barthes Woro mengalami krisis kesetaraan gender akibat ia memperoleh serangkaian ajaran dari keluarga dan masyarakat untuk menjadi perempuan yang sesungguhnya. Kemudian Woro berkeinginan untuk mempelajari dunia walau kultur membatasinya. Berdasarkan feminisme Simone de Beauvoir eksistensi Woro sebagai perempuan dibentuk sejak kecil dari keluarga yang kental dengan budaya Jawa serta kondisi sosial politik masa Orde Baru. Penelitian ini hanya sebagian kecil dari penelitian untuk memahami eksistensi perempuan melalui media seni. Saya berharap bahwa penelitian semacam ini dapat dilakukan untuk memahami narasi-narasi perempuan tentang tubuh yang cenderung disembunyikan masyarakat bahkan oleh perempuan itu sendiri.

*Penulis, alumnus jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya. Kurator progam Pada Bienalle Jatim 8, 2019.