Kuda Api dalam Geopolitik dan Geoekonomi

Oleh Agus Dermawan T.*

 

Sejak Maret 2026 lalu – mungkin sampai beberapa bulan kemudian –  Indonesia ikut memamerkan gambar perlambang “Tahun Kuda Api” karya desainer terbaik dari seluruh dunia. Sangat menarik untuk diamati. Apalagi gambar-gambar perlambang itu berhubungan erat dengan soal-soal geopolitik dan geoekonomi masa kini.

————

MUNGKIN sudah banyak yang tahu, untuk mengisi Tahun Kuda Api – yang dimulai 17 Februari 2026 silam dan berakhir pada 6 Februari 2027 – manusia sedunia mencipta sekitar 163.000 gambar perlambang Tahun Kuda (Shutterstock.com).

Dan pasti juga sudah ada yang tahu, bahwa di antara yang ratusan ribu itu muncul gambar perlambang Tahun Kuda berpredikat juara. Gambar perlambang itu dilahirkan dari kompetisi besar yang diadakan oleh Beijing Overseas Cultural Exchange Center (BOCEC). Temanya tentu “Tahun Kuda Api”, atau “Year of The Fire Horse”.

Kompetisi ini mengajak para pelukis dan desainer grafis seluruh dunia. Termasuk para kreator seni invitational yang berada di naungan akademi seni di Tiongkok, yang dikategorikan dalam “junjungan khusus”. Penggambaran perlambang ini terbuka untuk berbagai kegunaan: sebagai logo, desain produk, karya murni multi media. Termasuk desain kemasan, sehingga bisa diterapkan sebagai sampul, kertas bungkus, amplop angpao dan sebagainya. Gambar juga boleh dikerjakan dengan bantuan Artificial Intelligence, meski diposisikan non kompetitif.

Pameran “Global Zodiac Design Competitian – Year of The Fire Horse” di Mal Kelapa Gading, Jakarta Utara. (Sumber: Agus Dermawan T)

Ada 4.544 karya yang diterima panitia. Dari situ ditemukan 96 karya terbaik dalam berbagai kategori, dan 36 yang dianggap menonjol secara simbolis dan artistik. Bersamanya dipilih juga puluhan karya yang pantas ditunjukkan kepada publik dunia. Kreasi itu lalu digelar dalam “Global Zodiac Design Competitian – Year of The Fire Horse” di gedung Beijing Overseas Cultural Exchange, Beijing, mulai 1 Januari 2026. 

Kemudian, seusai cap go meh yang jatuh pada 3 Maret 2026 lalu, ratusan gambar perlambang itu dipamerkan di mana-mana. BOCEC mencetak gambar-gambar itu dengan bagus, dan lantas secara serentak dipajang di ratusan ruang publik di puluhan negara. Di Jakarta aneka gambar tersebut terbentang di Mal Kelapa Gading, Jakarta Utara, dan akan dipajang dalam tempo cukup lama.

Kuda dan politik

Banyak yang pantas ditilik dari hasil kompetisi ini. Salah satunya adalah sang juara, ciptaan Fang Lefei, Tiongkok. Karyanya menggambarkan induk kuda – jantan dan betina – sedang berlari cepat dengan rona gembira, diikuti sepuluh ribu anak-anaknya. Pada versi lain ia menggambarkan sepuluh ribu ekor anak kuda itu sudah berderap-derap sendiri, tanpa dipandu “orang tua”nya. Kuda Api yang semustinya menyala-nyala ia gubah imut seperti boneka. Para kuda itu berlari cepat seraya tertawa riang. Fang menyebut bahwa gambarnya diilhami oleh prasasti 1.200 tahun silam, “Selaksa Kuda Musoleum Zhao” era Dinasti Tang.

“Kuda sering dipaksa menjadi kendaraan perang. Namun sesungguhnya sejak dahulu kuda Tiongkok melawan mitos itu, dengan memosisikan dirinya sebagai simbol keluhuran peradaban. Kuda berlari dengan kegembiraan di tengah kompetisi menuju kemajuan dan kebahagiaan,” ujar Fang Lefei. Maka gambarnya mengatakan bahwa bangsa Tiongkok menolak ikut-ikutan perang, apa pun motif politiknya, apa pun motif ekonominya, di mana pun arenanya. Termasuk di palagan Persia!

Karya Fang Lefei (Tiongkok) “Derap Sepuluh Ribu Anak Kuda” Juara pertama.  (Sumber: Agus Dermawan T)

Karya Pisklakov Pavel (Rusia), “Kuda Api”. Juara kedua. (Sumber: Agus Dermawan T)

Juara lain adalah “Tahun Kuda Api” karya Pisklakov Pavel dari Rusia. Perlambangnya hadir minimalis, berupa bayangan kepala kuda dari depan, dengan menggunakan warna oranye dan kuning yang menggelorakan atmosfer negeri Tiongkok (dan pasti Rusia). Mata kuda berupa sinar putih matahari. Dalam penghayatan agak mendalam, gambar setengah horor ini mengandung makna politik: di Tahun Kuda Api Tiongkok dan Rusia sudah bersatu hati! Hayo, siapa yang berani?

Juara di kategori beda adalah karya Lia Vilahur dari Belgia. Profesor komunikasi digital ini menggambarkan kuda lucu sedang mendinginkan bara api, yang sejauh ini dilambangkan sebagai ledakan energi dan semangat membabi buta. Ciptaannya menuntun pelihat untuk menafsirkan Tahun Kuda Api sebagai warsa “penyesuasian ulang” diplomasi Belgia-Tiongkok dengan strategi tak terduga. Gambar itu mengisyaratkan, betapa Belgia yang anggota notabene pendiri NATO (North Atlantic Treaty Organization) diam-diam menolak dominasi Amerika Serikat, dan ke Tiongkok ia merapat-rapat. Kandungan politik karya Lia Vilahur jelas, lantaran pada tahun ini hubungan diplomatik Tiongkok dan Belgia berusia 55 tahun. 

Bukti dari semilir angin politik itu adalah munculnya karya grafik Zhang Yi dari Tiongkok, yang dengan indah menggambarkan stilisasi huruf 55 menjadi seekor kuda. Ada bayangan monumen budaya Menara Lonceng Belfries Flanders (Belgia) dan pagoda Kuil Langit, Beijing (Tiongkok) di kaki kuda yang sedang berlari. “China & Belgium” begitu logotype itu berjudul. Tiongkok dan Belgia jalan bareng di koridor budaya.

Sementara Martin Mendelsburg dari Amerika Serikat menggambarkan patung kuda kayu berukir, dengan raut bersahabat. Kuda gagah itu berjoged di belakang besutan kaligrafis aksara China yang terbaca ma (kuda). Dalam gambar menyenangkan ini Martin mengadaptasi politik kontemporer Tiongkok: menjauhi pertikaian dan peperangan, sambil menebarkan gairah memajukan ekonomi, budaya, dan industri. Dan itu jauh berbeda dibanding politik negeri asalnya, Amerika, yang selalu mencari dominasi dan kuasa.

Yang menarik, kuda berpolitik ini juga muncul dalam gambar perlambang ciptaan seniman Indonesia. Basnendar Hery P. merepetisi ilustrasi kuda karnaval yang sedang menari-nari. Kuda perdamaian itu digambarkan dengan hati bersuka. Sedangkan desainer Kata Kaldor mengaplikasi foto kuda kayu folklore Nusantara, yang di dalamnya mengandung doa: semoga di Tahun Kuda rakyat Indonesia tidak lagi diperkuda oleh kebijakan politik yang membuat gundah dan sengsara.

(Dalam deret Indonesia, hadir pula karya Irwan Harnoko, Yudi Amboro, Nugroho Widya, Christopher Kenzo Harnoko, Alex Pracaya, Rafael Jonathan, Hari Sulastianto, Dodi Nursaiman.)

Karya Martin Mendelsburg dari Amerika Serikat, “Ma (Kuda) Budaya”.  (Sumber: Agus Dermawan T)

Karya Zhang Yi (Tiongkok), “China & Belgium: 55”. (Sumber: Agus Dermawan T)

Kuda di luar politik

Di luar yang dipredikati jagoan dan yang berpolitik, banyak gambar perlambang yang menarik dipandang dan dimaknai. Itu bisa dilihat pada buah cipta desainer dari Meksiko, Australia, Irak, Iran, Ukraina, Korea Selatan, Jepang, Saudi Arabia, Belarus, Hongaria, Taiwan. 

Uniknya, dalam deretan cipta pilihan ini sangat jarang karya perupa Tiongkok (dan Taiwan) yang menggambarkan stilisasi aksara China dalam gaya kaligrafis, serta kuda dalam gaya chinese painting. Padahal dunia tahu, penulisan aksara hanzi dan penggambaran satwa kuda adalah bagian pokok dari seni rupa China. Sejarah faham bahwa di Tiongkok seseorang baru disebut perupa ahli apabila sudah mampu menstilisasi hanzi, dan menggubah gambar seekor kuda, dalam keadaan diam atau berlari. Kuda memang dianggap sebagai satwa yang didudukkan sebagai “seni rupa semesta paling sempurna”. Satwa yang selalu diimbuhi mitos ma tao chen kung: begitu sang kuda sampai, semuanya akan beruntung.

Sementara jikalau mencari pelukisan aksara dan kuda chinese panting dalam pameran, mata justru tertumbur kepada beberapa kreasi seniman Barat, seperti goresan atraktif Arek Marcinkowski dari Polandia.

Karya Arek Marcinkowski (Polandia), “Berlari”. (Sumber: Agus Dermawan T)

Karya Dodi Nursaiman (Indonesia), “Pengantin Kuda Api”. (Sumber: Agus Dermawan T)

Hal menarik lain, karya seniman Turki banyak terpilih dalam ajang ini. Sebut nama Nihat Dursum, Yusuf Kes, Aysegul Gürdal Pamuklu, Suida Dursum, Busra Incirkus dan beberapa yang lain.

Keakraban warga Turki dengan kuda memang jadi mitos sejak berabad lampau. Keakraban itu akhirnya melekat dalam kalbu para perupa, dan jadi inspirasi niscaya. Kisah ihwal itu bisa diungkap lewat sejarah wilayah di Turki yang bernama Cappadocia. 

Di wilayah ini kuda merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari, dan simbol dari martabat tinggi. Sehingga pada ulang tahun raja dan keluarga raja, rakyat selalu berlomba menyiapkan kuda terbaik sebagai persembahan. Cappadocia sendiri berasal dari kata catpaducia, yang artinya “negeri kuda nan cantik”. Mitos kuda Turki ini ditegaskan lewat cerita Kuda Troya ciptaan Homerus, abad ke-8 sebelum Masehi. Perang yang berkait dengan kecintaan atas kuda itu berlangsung di Kota Canakkale, sebelah barat Istambul, Turki. Maka satwa kuda, orang Turki dan Tahun Kuda, adalah persekutuan yang niscaya.

Ujung kalam, pameran gambar perlambang Tahun Kuda Api di Mal Kelapa Gading terbilang penting. Karena itu mestinya hadir lebih lengkap. Dalam pagelaran ini tidak ada keterangan gambar mana yang jadi juara. Sementara pemajangannya hanya nebeng di dinding toko yang sedang tutup lantaran direvovasi. Padahal ini eksebisi agak istimewa yang layak didisplay dalam panil-panil khusus. ***

 

*AGUS DERMAWAN T., Kritikus. Penulis buku-buku budaya dan seni.