Emosi dalam Gurat Pena Hitam di Atas Putih
Oleh Mentari*
Pameran “Never Mind the Borok” oleh Res Harris menempatkan “borok” bukan sekadar sebagai citra luka fisik, melainkan metafora bagi keretakan kecil yang menyusun pengalaman hidup kontemporer. Frasa “never mind” mengusulkan sikap pura-pura abai, namun kehadiran kata “borok” justru tampak menegaskan bahwa ada sesuatu yang terus-menerus mengganggu, menolak untuk benar-benar dilupakan.
Dalam konteks ini, pameran dapat dipahami sebagai ruang di mana dua kecenderungan bertemu: hasrat untuk menutupi dan kebutuhan untuk mengakui luka. Seni menjadi medium negosiasi antara keduanya, dan goresan pena Res Harris adalah jejak paling kasat mata dari negosiasi tersebut. Sebagai pengunjung yang melangkah masuk ke ruang pamer, saya merasa seolah sedang memasuki kepala seseorang yang memilih untuk tidak menyembuhkan lukanya sepenuhnya, tetapi juga tidak ingin terus-menerus dikuasai olehnya.
Goresan, Kepadatan, dan Pengalaman.
Saya pertama kali masuk ke ruangan dengan langkah yang pelan, berusaha memberi jarak antara hiruk-pikuk di luar dan apa yang menunggu di dinding. Dari jauh, karya-karya Res Harris itu tampak ringan: seperti catatan kecil yang dikerjakan sambil lalu, seperti doodle yang lahir di pinggir halaman buku catatan. Namun begitu mendekat, keringanan itu pelan-pelan berubah menjadi sesuatu yang lebih padat.
Secara visual, karya-karya yang dihadirkan Res Harris memang menampilkan karakter yang dekat dengan doodle dan komik. Garis-garisnya tampak spontan, tidak dibebani terlalu banyak tuntutan realisme anatomi atau perspektif, melainkan memprioritaskan ekspresi dan ritme. Ruang gambar sering kali terasa penuh: figur-figur manusia, fragmen teks, simbol kecil, dan objek keseharian saling berhimpitan, menciptakan kesan visual yang ramai walaupun dengan background yang seringkali dibiarkan kosong.
Berjalan dari satu karya ke karya lain, saya merasa ritme yang menarik. Mata seperti diarahkan terus bergerak, mencari hubungan antara satu figur dengan figur lain, antara satu kata dengan gambar di sebelahnya. Pilihan medium pena terasa penting. Goresan pena secara visual menghadirkan kualitas linear yang tegas namun sekaligus rapuh: setiap garis mengandung ketidakpastian kecil, getaran tangan, dan potensi “kesalahan” yang tidak bisa dihapus begitu saja. Alih-alih disembunyikan, “kesalahan” ini dibiarkan hadir; beberapa garis tampak dobel, beberapa area tampak dikerjakan berulang.

Foto Ruang Pamer “Never Mind The Borok” (Sumber: instagram @grongsociuss)
Kualitas ini tampak selaras dengan gagasan “borok” sebagai sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa dirapikan. Alih-alih menutupi, Res Harris justru memperlihatkan jejak proses pada karyanya. Dalam beberapa karya, figur-figur tersebut tampak terjebak dalam situasi absurd: ada yang seperti sedang melakukan sebuah kegiatan sehari-hari saja, ada yang seakan-akan berbicara tanpa lawan bicara yang jelas, ada pula yang sekadar hadir, menatap ke arah yang tidak kita mengerti. Narasi yang kabur ini membuka ruang interpretasi: alih-alih sebuah cerita tunggal, saya seperti dihadapkan pada kemungkinan banyak cerita kecil, seperti potongan-potongan monolog harian yang dipindahkan ke permukaan kertas.
Saat berdiri sedikit lebih lama di depan salah satu karya, saya merasa bukan hanya sedang “melihat gambar”, tetapi ikut masuk ke ritme kepala seseorang yang penuh catatan, keluhan kecil, lelucon, dan kekhawatiran yang menolak dirapikan. Di situ, saya mulai merasakan bahwa “borok” yang dimaksud bukan peristiwa besar, melainkan luka-luka kecil yang menumpuk—cukup kecil untuk sering diabaikan, tetapi cukup banyak untuk pelan-pelan melelahkan.
Humor, Satir, dan (Mungkin) Politik?
Bagian yang paling menarik dari pengalaman saya di pameran ini adalah bagaimana saya beberapa kali tertawa kecil. Dimensi jenaka dalam pameran ini memang tidak bisa dianggap sebagai pelengkap semata. Humor muncul melalui distorsi bentuk, situasi yang tidak masuk akal, dan kadang lewat tulisan singkat atau judul yang bermain-main dengan bahasa. Ada figur yang nampak berada di situasi yang salah, ada tulisan-tulisan yang tampak tidak memberikan konteks apapun, hingga irisannya dengan absurditas yang surealis.
Sebagai pengunjung, saya sesekali tersenyum: absurditasnya dekat dengan absurditas keseharian—lelucon soal kerja, soal hubungan, soal internet, soal rutinitas yang itu-itu saja. Namun di antara gambar-gambar yang tampak “sepele” itu, saya menemukan sosok-sosok yang terasa tidak sepenuhnya netral. Beberapa figur tampak mengingatkan pada tokoh publik, wajah yang disederhanakan tapi menyisakan ciri khas tertentu: gaya rambut, gestur , atau cara mereka ditempatkan di dalam komposisi.
Dalam kerangka teori, humor semacam ini dekat dengan tradisi satirikal. Ketika saya dapat tertawa melihat situasi absurd di dalam gambar, namun juga menyadari bahwa yang saya tertawakan menyentuh hal-hal yang nyata: mulai dari persoalan perasaan pribadi, kemasyarakatan, hingga sistem.

Instalasi dalam Pameran “Never Mind The Borok” (Sumber: instagram @grongsociuss)
Kejenakaan Res Harris di titik ini memperlihatkan bagaimana kritik sosial dapat bergerak tanpa retorika keras, tetapi tetap meninggalkan residu reflektif. Kita tidak dipaksa setuju dengan sebuah slogan; kita justru dibiarkan berada di posisi ambigu—antara tergelak dan terusik. Rasanya seperti bercanda dengan teman dekat soal hal yang sebenarnya membuat kita lelah: lucu, tapi juga pahit.
Meminjam Jacques Rancière, karya-karya ini bisa dibaca sebagai upaya mengatur ulang “pembagian yang dapat dirasakan” (distribution of the sensible). Dengan menyelundupkan keresahan dan kritik ke dalam bentuk visual yang tampak remeh, bahkan “receh”, Res Harris menggeser batas tentang apa yang dianggap layak untuk menjadi objek kontemplasi artistik. Hal-hal kecil, sepele, dan sehari-hari—yang sering diabaikan—ditarik ke pusat perhatian. Humor di sini menjadi cara untuk membongkar hierarki tersebut: yang tadinya tampak tidak penting, tiba-tiba berubah menjadi cermin yang cukup jelas untuk memantulkan kondisi sosial dan politik yang lebih luas.
Di beberapa titik, saya merasa gambar-gambar itu seperti mengatakan: “Ini cuma bercanda, kok.” Tapi semakin lama dilihat, justru terasa bahwa hanya dengan cara “bercanda” seperti itulah hal-hal tertentu bisa diucapkan tanpa langsung ditolak.
Membaca “Borok” dalam Konteks Sosial Kontemporer
Kata “borok” di judul pameran terasa semakin lekat dengan konteks sosial kontemporer. “Borok” yang dihadirkan dalam pameran dapat diperluas maknanya ke ranah sosial: luka-luka yang tidak spektakuler, tetapi persisten, dalam kehidupan masyarakat hari ini. Misalnya, kelelahan kerja kreatif di era ekonomi gig, tekanan untuk selalu tampil produktif di media sosial, atau rasa hampa yang muncul dari konsumsi informasi yang tidak berhenti.
Karya-karya Res Harris tidak memberi penjelasan langsung mengenai isu mana yang dimaksud. Tidak ada teks kuratorial yang memaksa kita membaca gambar sebagai kritik atas A atau B. Justru di situ letak kekuatannya: ia menyediakan medan refleksi yang cukup longgar untuk ditempati pengalaman masing-masing pengunjung. Saya bisa membaca “borok” sebagai kelelahan kolektif; orang lain mungkin membacanya sebagai frustrasi politik atau keresahan personal.
Kalau mengacu pada perbincangan tentang ranah afektif dalam studi budaya, karya-karya ini terasa lebih tertarik pada bagaimana perasaan-perasaan tertentu—cemas, lelah, bingung, geli—dihasilkan dan dialami bersama, daripada pada pesan politis yang eksplisit. “Borok” bukan slogan, melainkan resonansi afektif yang menyelinap pelan melalui bentuk-bentuk visual yang ringan. Kesan ringan itu penting: ia memungkinkan kita mendekat tanpa merasa dihakimi, lalu pelan-pelan menyadari bahwa kita ikut tersentuh oleh luka yang sama.
Dengan cara ini, pameran menjadi relevan bukan karena menawarkan solusi, tetapi karena menyediakan cermin yang cukup jujur, meski disampaikan dengan gaya yang jenaka. Saya keluar dari ruang pamer tanpa jawaban, tetapi dengan perasaan bahwa ada sesuatu yang tadi disentuh, sesuatu yang biasanya saya biarkan lewat begitu saja di tengah rutinitas.
Antara Jenaka dan Serius
Pameran “Never Mind the Borok” menawarkan satu pelajaran penting: bahwa keseriusan tidak selalu harus tampil dalam bentuk yang muram. Keresahan bisa dibicarakan sambil tertawa; luka bisa diakui melalui gambar yang tampak santai. Dalam goresan pena yang berulang, Res Harris memperlihatkan bagaimana seni dapat berfungsi sebagai praktik keseharian yang intens, sebagai cara untuk tetap waras di tengah dunia yang kian bising dan penuh distraksi.
Dari sudut pandang akademik, pameran ini menawarkan medan kajian yang kaya: hubungan antara humor dan kritik sosial, peran gambar sebagai jurnal afektif, serta bagaimana subjektivitas seniman dinegosiasikan dalam medan wacana yang lebih luas. Namun di luar itu semua, sebagai pengunjung yang kemarin berjalan pelan dari satu karya ke karya lain, saya merasakan pameran ini sebagai ajakan yang cukup sederhana: berani melihat “borok” yang biasanya kita lewati begitu saja, sambil tetap memberi ruang bagi tawa kecil—tawa yang mungkin justru membuat kita bertahan.
—–
*Mentari, Mahasiswa Program Pascasarjana ISI Yogyakarta.





